<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607</id><updated>2012-01-26T21:35:35.518-08:00</updated><category term='Catatan Pribadi'/><category term='Naskah Sunda Klasik'/><category term='Artikel Bahasa Sunda'/><category term='Naskah Keagamaan'/><category term='Kliping'/><category term='Ensiklopedi Naskah'/><category term='Akses'/><category term='Lembaga Penyimpanan'/><category term='Artikel Bahasa Indonesia'/><category term='Review Buku dan Penelitian'/><category term='Naskah Sunda Kuna'/><category term='Tokoh'/><category term='Katalog'/><category term='Sasana Maha Guru'/><category term='Berita'/><title type='text'>Naskah Sunda</title><subtitle type='html'>Blog yang memuat informasi tentang naskah Sunda</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>73</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-249012266658366264</id><published>2011-12-22T21:32:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:16:14.344-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akses'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Indonesia'/><title type='text'>Naskah Sunda: Khazanah, Akses, dan Identitas</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Urang buka tutungkusan&lt;br /&gt;Nu kahalang ku pipinding&lt;br /&gt;Dina gebang séwu lontar&lt;br /&gt;Dina tulis titis tulis&lt;br /&gt;Maca uga na waruga&lt;br /&gt;Atra sétra kanti sukma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal Juli tahun 2010, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), sebuah organisasi profesi di Indonesia yang bergelut di bidang pernaskahan, mengadakan Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara (SIPN) yang ke-13. Tema yang diangkat dalam simposium tersebut kiranya cukup strategis, yaitu “Akses dan Identitas”.  Dengan mengangkat tema tersebut, kondisi dunia pernaskahan Nusantara dewasa ini dapat terlukiskan dengan cukup jelas, sekaligus memunculkan persoalan-persoalan baru yang mendorong kita untuk merumuskan pemecahan masalah seputar dunia pernaskahan dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, naskah (manuskrip) sebagai benda yang memiliki nilai budaya masa silam, memberikan sumbangan informasi yang berharga bagi bangsa Indonesia, karena pada dasarnya naskah-naskah itu merupakan dokumen yang mengandung pikiran, perasaan, dan pengetahuan dari bangsa, suku bangsa, atau kelompok sosial budaya tersebut.[1] Perlahan tapi pasti, melalui penelitian-penelitian terhadap naskah nusantara, bagian-bagian informasi penting dari masa silam itu dapat terkumpulkan sehingga pada akhirnya membentuk identitas bangsa yang mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Langkah awal yang dapat membangkitkan gairah penelitian terhadap naskah Nusantara adalah dengan membuka akses yang seluas-luasnya terhadap keberadaannya yang tersebar di seluruh dunia, baik di lembaga penyimpanan naskah, maupun yang masih tersebar di kalangan masyarakat. Sebuah buku panduan susunan Henri Chambert-Loir dan Oman Fathurahman yang cukup komprehensif menuju khazanah naskah sedunia telah terbit pada tahun 1999.[2]  Karya yang luar biasa itu merupakan panduan yang mengantarkan pembacanya mengetahui kekayaan Naskah Nusantara yang tersimpan di berbagai negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut perkiraan, Naskah Nusantara berjumlah puluhan ribu, atau mungkin lebih, karena setelah memasuki milenium ketiga, berbagai proyek inventarisasi dan digitalisasi naskah yang belum tercatat dalam buku tersebut baru saja dimulai. British Library, misalnya, melalui program Endangerous Archive Program (EAP) telah meloloskan 12 program digitalisasi Naskah Nusantara sejak tahun 2006-2010, mencakup 12 tempat yang berbeda di seluruh Indonesia. Lebih dari seribu naskah telah dialih-mediakan, dan beberapa salinannya kini terdapat di lembaga-lembaga semisal Perpustakaan Nasional RI, Bayt Al-Qur’an, dan Museum-museum daerah tempat naskah tersebut ditemukan.[3] Demikian halnya dengan proyek yang didanai Centre for Documentation &amp;amp; Area-Transcultural Studies (C-DATS) di Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) Jepang yang telah menghasilkan beberapa katalog dan hasil digitalisasi yang memuat ratusan judul naskah. Melalui program ini, naskah-naskah yang terdapat di Palembang, Minang, dan Aceh (Ali Hasymi dan Tanoh Abee) dapat diakses dengan lebih mudah oleh masyarakat.[4] Hasil temuan-temuan mutakhir terhadap koleksi naskah yang belum tercatat sebelumnya itu meniscayakan kesempatan, sekaligus tantangan, bagi generasi pewaris kebudayaan saat ini untuk melakukan kajian-kajian secara lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana dengan keadaan naskah Sunda dewasa ini? Bagaimana akses kepada koleksi naskahnya? Dan sejauh mana sumbangan kajian naskah Sunda dalam membentuk identitas kesundaan? Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut secara mendalam, mengingat persoalan tersebut bukanlah persoalan sederhana, tetapi setidaknya, tulisan ini dapat dijadikan pengantar bagi siapa saja yang berminat mengkaji naskah Sunda secara lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Khazanah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Naskah Sunda merupakan salah satu warna dari bianglala naskah Nusantara.  Berdasarkan katalogus, laporan penelitian, dan lain-lain, jumlah naskah Sunda cukup banyak, meski jumlahnya tidak sebanyak naskah Jawa dan Melayu. Menurut catatan Edi S. Ekadjati, jumlah naskah Sunda mencapai ribuan, dan sekitar 2500 naskah telah diinventarisasi[5].&lt;br /&gt;Keberadaan Naskah Sunda saat ini tersebar baik di lembaga penyimpanan naskah maupun di masyarakat perorangan. Di lembaga penyimpanan naskah yang berada di luar negeri, dapat diketahui bahwa Universiteit Bibliotheek Leiden menyimpan 785 naskah, Inggris menyimpan 3 naskah, Swedia tercatat menyimpan 1 naskah. Sedangkan yang tersimpan di lembaga penyimpanan dalam negeri dapat diketahui bahwa Perpustakaan Nasional RI menyimpan 467 naskah, Museum Negeri Sri Baduga menyimpan sekitar 150 naskah, Museum Prabu Geusan Ulun-Sumedang 16 naskah, Museum Cigugur-Kuningan 18 naskah, Kabuyutan Ciburuy 27 naskah, dan Kraton Cirebon (Kasepuhan, Kanoman, Kaprabonan) sekitar 144 naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain naskah koleksi lembaga, naskah koleksi perorangan telah dicatat dalam berbagai katalog. Tim dari EFEO dan Puslit Arkenas, pada tahun 1970-1980an mencatat 955 naskah-naskah Islam koleksi perorangan di Jawa Barat. Ekadjati (1988) juga mencatat 554 naskah perorangan. Bahkan boleh jadi, masih banyak lagi naskah yang masih tersimpan di masyarakat dan belum terinventarisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran naskah Sunda di lembaga-lembaga penyimpanan baik di dalam maupun luar negeri menunjukkan data yang cukup menarik. Naskah Sunda yang berada di luar negeri kebanyakan beraksara Jawa, di samping aksara Latin dan Arab pégon. Tetapi, naskah-naskah yang masih tersebar di masyarakat pada umumnya beraksara Arab Pégon dan tidak ada yang beraksara Jawa. Mikihiro Moriyama, ahli literasi Sunda dari Jepang, menjawab hal ini dengan cukup meyakinkan. Menurutnya, naskah-naskah dalam aksara Jawa dikumpulkan oleh orang Belanda karena pandangan mereka tentang bahasa Sunda.[6] Aksara Jawa atau biasa dikenal dengan istilah cacarakan dianggap sebagai aksara orang Sunda. Mereka rupanya mengesampingkan aksara Pégon, padahal aksara ini digunakan secara luas oleh masyarakat Sunda waktu itu. Keadaan demikian yang membuat Edi S. Ekadjati berkesimpulan, bahwa naskah yang berada di Leiden tidak dapat menerangkan dinamika kebudayaan sesungguhnya yang terjadi pada masyarakat Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik dari segi fisik maupun isinya, khazanah naskah Sunda cukup kaya. Naskah Sunda Kuna ditulis diatas daun lontar, daun gebang, bambu, dan kertas daluwang; sementara naskah Sunda periode klasik ditulis di atas kertas daluwang, kertas Eropa dan kertas pabrik. Jumlah naskah kertas lebih banyak dari naskah-naskah daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata lontar merupakan bentukan metatesis dari ron ‘daun’ dan tal ‘tal’. Dalam Sanghyang Sasana Maha Guru, teks Sunda Kuna dari abad ke 16, tulisan diatas daun lontar disebut carik ‘goresan’ dan fungsi bagi pembacanya yaitu untuk mendapatkan keutamaan. Sebagian besar teks-teks yang tertera dalam alas tulis ini berbentuk puisi berpola delapan suku kata.[7] Daun lontar ditulis dengan cara digores menggunakan pengutik (péso pangot). Untuk memunculkan warna hitam, ruang yang telah digores tersebut kemudian dilumuri dengan minyak dari kemiri yang telah ditumbuk dan dipanaskan. Sulit menentukan sejak atau sampai kapan naskah lontar dipergunakan sebagai alas tulis naskah Sunda, karena sejauh ini tidak ada satupun naskah lontar yang berangka tahun. Tetapi, dari kandungan isi naskah-naskah tersebut kita dapat mengetahui bahwa naskah lontar setidaknya dihasilkan dari masa periode pra-Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daun lontar, alas tulis daun yang digunakan menuliskan naskah Sunda (Kuna) adalah gebang. Dalam teks Sunda Kuna Sanghyang Sasana Maha Guru (bagian ke-3), tulisan diatas daun gebang (sastra munggu ring gebang) disebut ceumeung ‘hitam’. Jelas kiranya, bahwa yang dimaksud gebang ini adalah apa yang disebut oleh para ahli kemudian sebagai nipah. Tulisan diatas gebang ditulis menggunakan tinta hitam. Menurut Holle, tinta tersebut merupakan tinta organik yang berasal dari hasil olahan tumbuhan nagasari dan damarsela, sementara alat tulisnya berupa pena dari lidi pohon aren (harupat).[8] Naskah tertua yang ditulis dalam media ini adalah Arjunawiwaha (kropak 641 koleksi Perpustakaan Nasional RI) yang berangka tahun 1256 saka (±1334 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan daluang (Broussonetia papyryfera Vent) sebagai alas tulis nakah Sunda telah terjadi setidaknya dari abad ke-18. Hal tersebut berdasarkan pada naskah Waruga Guru yang ditulis dengan menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuna. Naskah WG ditulis diatas kertas daluang. Dalam tradisi penulisan Sunda Kuna, kata daluang disebutkan dalam teks Sanghyang Swawar Cinta[9]. Dalam teks tersebut, pengertian daluang merujuk pada ‘kulit kayu’ (daluwang kulit ning kayu). Dengan demikian, daluang bukan berarti pohonnya, melainkan kulit kayunya. Pohonnya sendiri oleh masyarakat Sunda disebut saéh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sejarahnya, aksara yang diterakan dalam naskah Sunda ada 5 jenis aksara, yaitu aksara Sunda Kuna dan aksara Buda (Gunung) untuk naskah Sunda periode pra-Islam, serta aksara Arab Pégon, aksara Cacarakan (Sunda-Jawa), dan aksara Latin untuk naskah-naskah Sunda klasik. Bahasa yang digunakan dalam naskah Sunda ialah bahasa Sunda, Sunda Kuna, Jawa, Jawa Kuna, Arab, dan Melayu. Bahasa Sunda Kuna dan Jawa Kuna digunakan pada naskah-naskah daun lontar, nipah, dan bambu atau dari periode Kuna (Abad 14-18). Sementara bahasa Sunda (baru), Jawa (baru), Arab, dan Melayu digunakan pada naskah-naskah dari periode Klasik (Abad 18 - awal abad 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi naskah Sunda bermacam-macam. Beberapa penyusun katalog telah berupaya melakukan pengelompokan isi naskah. Ekadjati membagi naskah berdasarkan isinya ke dalam kelompok agama, etika, hukum/adat-istiadat, mitologi/legenda, pendidikan, pengetahuan, primbon, sastra, sastra sejarah, sejarah, seni.[10] Sementara Darsa dan Ekadjati mengelompokkan naskah Sunda yang terdapat di lima lembaga di Jawa Barat berdasarkan isi, meliputi: Sejarah, Islam, Sastra, Primbon dan Mujarobat, Adat Istiadat, dan Lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Akses&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kedatangan Belanda di Indonesia, naskah Sunda tersimpan di lembaga-lembaga tradisional seperti pesantren dan kabuyutan. Belanda lalu membentuk lembaga ilmiah Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen (BGKW) pada tahun 1778, tetapi baru pada tahun 1845, dibawah kepemimpinan van Hoevel, naskah-naskah dari wilayah Nusantara, termasuk Sunda, dikumpulkan dan diakuisisi oleh lembaga tersebut demi kepentingan Kolonial.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengumpulan naskah pada waktu itu rupanya tidak selalu mudah, bahkan sering harus dilakukan melalui pejabat-pejabat Pribumi di wilayah priangan yang memiliki hubungan baik dengan elite Belanda. Wiranatakusumah IV (Bupati Bandung), R.A.A Kusumadiningrat (Bupati Kawali), Muhammad Moesa (1822-1886), Hasan Mustapa (Penghulu Bandung), R.A.A. Kusumaningrat (Bupati Cianjur) adalah beberapa penyumbang naskah Sunda dalam jumlah yang cukup banyak. Kesulitan mendapatkan naskah, demi mendapatkan gambaran tentang kebudayaan Sunda, itu pernah diungkapkan Van der Tuuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“…Saya percaya tetap tidak banyak yang bisa kita katakan selama kaum Muslim yang beradab itu (lazimnya mereka sangat saleh) tidak sudi memperlihatkan kepada kita, orang kafir, jenis sastra yang mereka miliki karena takut miliknya berpindah tangan atau dinodai.”[12]&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20, melalui usaha para cendikiawan Belanda yang memiliki kedekatan dengan pejabat pribumi seperti K.F. Holle, C.M. Pleyte, J.L.A. Brandes, Snouck Hurgronje, naskah-naskah Sunda mulai terkumpul di Batavia (BGKW) dan Leiden (Universitet Bibliotheek). Setiap naskah yang diakuisisi BGKW dapat diikuti dalam laporan tahunan Notulen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen.&lt;br /&gt;Selain dari laporan tahunan tersebut, naskah-naskah Sunda juga diidentifikasi dan diperikan dengan lebih rinci, terutama dalam terbitan-terbitan Belanda. K.F. Holle mengumumkan tiga naskah Sunda Kuna pemberian Raden Saleh dalam artikelnya yang berjudul Vlugtig Berigt omtrent Eenige Lontar-Handschriften Afkomstig uit de Soenda-landen, door Radhen Saleh aan het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ten Geschenke gegeven met toepassing of de inscriptie van Kawali (1867). Tentu, yang diupayakan Holle waktu itu sebenarnya merupakan upaya awal pendeskripsian naskah yang diakuisisi BGKW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1872, Cohen Stuart, kurator sekaligus anggota eksekutif BGKW, untuk pertama kalinya menyusun sebuah katalog naskah yang dimiliki lembaga tersebut secara lengkap. Ia menyusun daftar seluruh naskah yang tersimpan di lembaga tersebut, termasuk sekitar 21 naskah Sunda Kuna yang tersimpan di peti.[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sekitar 56 tahun setelah terbit katalog Cohen Stuart, R. Memed Sastrahadiprawira, sastrawan Sunda terkemuka, menjadi orang Sunda pertama yang menyenaraikan 186 naskah Sunda yang dimiliki oleh BGKW. Katalognya yang ditulis dalam bahasa Belanda itu terbagai menjadi dua bagian, yaitu daftar naskah dan keterangan dari daftar naskah tersebut.[14] Memed juga mencatat keterangan dan rujukan naskah pada terbitan atau katalog-katalog lain yang berkaitan dengan daftar naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukanya akses terhadap naskah Sunda dalam jumlah yang cukup banyak tidak terlepas atas jasa Edi S. Ekadjati, seorang pakar Sejarah Sunda. Sejak tahun 1980-an ia telah mulai menginventarisasi naskah-naskah Sunda, baik yang tersimpan di lembaga penyimpanan naskah maupun masyarakat perorangan di Jawa Barat. Hasil inventarisnya pada tahun 1983 kemudian ditebitkan pada tahun 1988.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi naskah Sunda mulai memburuk dan mulai menuju kerusakan. Karena itu, pada tahun 1990-an, naskah-naskah Sunda yang telah dicatat dan diinventarisasi delapan tahun sebelumnya itu kemudian dibuatkan salinan dalam bentuk mikrofilm. Proyek ini menghasilkan 51 rol mikrofilm, mencakup kurang lebih 1800 naskah. Naskah-naskah yang dimikrofilmkan tersebut dibuat juga daftarnya dalam katalog yang disusun oleh Edi. S. Ekadjati &amp;amp; Undang A. Darsa[15]. Tetapi dari 50 rol itu, hanya 30 rol atau sekitar 1040 naskah saja yang didaftarkan. Mikrofilm tersebut dapat diakses di Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI, EFEO Paris, dan di Southeast Asian Project Microform, Chicago, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki Milenium ketiga, era mikrofilm digantikan oleh era digital. Sejak tahun 2003, lembaga-lembaga penyimpanan naskah seperti Perpustakaan Nasional RI melaksanakan kegiatan digitalisasi naskah, termasuk di antaranya naskah Sunda. Sementara dari kalangan akademisi, tercatat ada dua proyek kegiatan digitalisasi yang disponsori oleh British Library, yaitu digitalisasi naskah Ciburuy (27 naskah) dan naskah Cirebon (13000 halaman naskah). Selain di lembaga donor, salinan hasil digitalisasi naskah Ciburuy saat ini terdapat di Perpustakaan Nasional RI, sementara hasil digitalisasi naskah Cirebon terdapat di Bayt Al-Qur’an dan masyarakat pemilik naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah naskah Sunda yang cukup melimpah itu ternyata tidak berbanding lurus dengan jumlah penelitian yang dihasilkan. Sampai tahun 2000, hanya sekitar 292 judul naskah yang telah diteliti[16]. Artinya, terlepas dari belum lengkapnya data jumlah penelitian naskah pada waktu itu, tetapi secara kuantitatif, kesempatan penelitian atas naskah Sunda masih sangat terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Identitas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah era otonomi daerah menggantikan era sentralistik, orang Sunda dan suku-suku lain di Indonesia mulai menunjukkan perhatian pada etnisitasnya. Dan persoalan pertama yang sering diperbincangkan dalam berbagai seminar atau diskusi belakangan ini adalah ‘pencarian kembali’ akar-akar kebudayaan Sunda yang selama ini seolah-olah tercerabut oleh berbagai persoalan pusat. Tentu, upaya pencarian sekitar identitas ini perlu mengindahkan sumber-sumber tulisan dan sumber-sumber lisan yang selama ini belum sempat dikaji lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya dalam keadaan inilah, naskah sebagai salah satu sumber pengetahuan kolektif masyarakat Sunda dalam bentangan sejarah masa lalu, memiliki peranan yang sangat penting. Dalam perkembangannya, kajian-kajian terhadap naskah telah memberikan sumbangan yang cukup penting dalam membentuk identitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal demikian setidaknya terjadi pada tahun 1957, ketika Rukasah S.W (1928-1995) dengan mempergunakan nama Sungkawa menulis karangan “Ari Urang Sunda bogaeun aksara sorangan?” (Apakah orang Sunda memiliki aksara sendiri?) dalam majalah “Kiwari” yang dipimpinnya[17]. Artikel tersebut ditulis setelah membaca artikel Pleyte yang berjudul “Een Pseudo–Padjadjaransche Kroniek” dalam&lt;i&gt; Tijdschrift voor Indische Taal, Land-en Volkenkunde&lt;/i&gt; (TBG) pada tahun 1914 yang dilampiri edisi facsimile naskah Waruga Guru. Nada pertanyaan yang disampaikan dalam artikelnya itu menggambarkan situasi kebingungan yang dialami oleh penulis, atau bahkan masyarakat Sunda, karena sampai saat itu yang dianggap aksara Sunda dan dipelajari di sekolah-sekolah di Jawa Barat adalah aksara Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini membuktikan bahwa sampai pertengahan abad ke-20 orang Sunda sendiri masih diselimuti keraguan tentang aksara sebagai bagian dari identitas budayanya. Hal ini cukup mengherankan, mengingat penelitian terhadap naskah Sunda Kuna yang menggunakan aksara tersebut telah dimulai oleh Holle pada pertengahan abad ke-19[18]. Holle sendiri menyebut aksara yang digunakan pada naskah-naskah lontar sebagai oud Sundanesche sementara para sarjana Belanda yang lain ragu-ragu untuk menyebutkan bahwa naskah-naskah daun itu ditulis menggunakan aksara Sunda Kuna, padahal aksara yang digunakan pada naskah-naskah pra-Islam dari skriptorium Jawa Barat jelas dapat dibedakan dari naskah Jawa Kuna dan Bali serta memiliki ciri paleografis yang cukup menonjol. Seiring dengan semakin banyaknya penelitian naskah Sunda Kuna, maka anggapan yang ditanamkan ahli-ahli Belanda bahwa orang Sunda tidak memiliki aksara sendiri dan meminjam aksara carakan dari Jawa, dipatahkan secara definitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan kesusastraan Sunda, terutama berkaitan dengan konsepsi kesusastraan. Pada jaman kolonial, orang Belanda menganggap Sunda tidak memiliki kesusastraan. Sementara, konsepsi-konsepsi kesusastraan Sunda belum terumuskan secara komprehensif dan masih meneruskan konsepsi yang ditanamkan Belanda. Keadaan demikian meniscayakan kita untuk menggali lebih jauh sumber dari periode yang lebih gelap dalam sastra Sunda. Periode gelap ini penulis kira dapat dirunut dari periode sebelum arus modernisasi yang dibawa oleh Belanda. Sumber-sumber yang perlu digali dari periode tersebut tiada lain berupa tradisi lisan dan tradisi manuskrip. Upaya Zoetmulder dalam mengkaji sastra Jawa Kuna[19] kiranya patut ditiru oleh para akademisi Sunda, sehingga benang merah periodisasi dan konfigurasi kesusastraan Sunda dapat dieksplorasi lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya J. Noorduyn, yang dilanjutkan oleh sobatnya, A. Teeuw pada gilirannya telah membukakan cakrawala baru tentang kesusastraan Sunda (Kuna).[20] Melalui telaahnya atas tiga puisi Sunda Kuna: Kisah Para Putera Rama dan Rahwana, Pendakian Sri Ajnyana, dan Perjalanan Bujangga Manik, A.Teeuw berani menegaskan bahwa:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Yet I dare to say that these poem in many place are high value. I think that no present-day reader can fail to be struck by the poetic quality of certain fragments an (sequences of) verses[21]&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran singkat di atas, jelaslah bahwa naskah bukan semata-mata sumber dari periode masa lalu, tetapi dapat menjadi sumber “baru” dalam membuka dimensi pengetahuan kita akan kebudayaan Sunda masa lalu. Pada akhirnya, melalui hasil jerih payah pengkajian naskah, kita dapat – meminjam motto majalah Sunda Cupumanik – &lt;i&gt;nyungsi Sunda nu mandiri&lt;/i&gt; “mencari Sunda yang mandiri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, beberapa saran untuk merevitalisasi naskah kiranya dapat diajukan. Pertama, jika kita percaya bahwa naskah tidak hanya warisan leluhur, melainkan titipan anak cucu di generasi mendatang, maka perlu dilakukan upaya yang berkelanjutan untuk mengidentifikasi, menginventarisasi, dan membuka akses terhadap keberadaan naskah-naskah Sunda. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Chaedar Al-Wasilah, bahwa salah satu kelemahan pewarisan budaya adalah dokumentasi budaya.[22] Mungkin seperti itulah gambaran yang terjadi dengan naskah Sunda. Masyarakat pemilik dokumentasi budaya, dalam hal ini naskah, masih ragu untuk membukanya pada orang lain, meski pemilik tersebut tidak dapat membaca isinya. Pada akhirnya, naskah-naskah itu tersimpan sebagai ‘benda’ warisan, bukan pengetahuan yang diwariskan. Perhatian utama kiranya perlu diarahkan kepada naskah-naskah yang masih tersimpan di kalangan masyarakat perorangan di Jawa Barat. Upaya inventarisasi naskah per-kabupaten di Jawa Barat seperti yang terjadi pada periode 80-an, perlu diteruskan. Upaya inventarisasi tersebut dapat disandingkan dengan upaya digitalisasi naskah melalui pemindaian atau pemotretan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, upaya-upaya mengungkap isi dan kandungan naskah melalui studi filologi perlu terus ditingkatkan. Kondisi kekinian juga menuntut kajian-kajian interdisipliner naskah. Kajian naskah perlu disandingkan dengan ilmu-ilmu terapan semisal kedokteran, pertanian, arsitektur, seni, bahasa, sastra dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, perlu adanya pewarisan ilmu pernaskahan, terutama berkenaan dengan naskah Sunda, kepada generasi muda. Ini juga persoalan yang cukup serius, karena profesi filolog boleh jadi dianggap sebagai profesi yang ‘tidak menjanjikan’. Filolog hanya dibutuhkan oleh museum, perpustakaan, perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penyimpan naskah. Di sisi lain, beban yang dipikul para filolog tentu cukup berat apabila melihat jumlah naskah yang sangat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, perlu adanya pusat dokumentasi naskah Sunda yang terintegrasi. Dalam hal ini, lembaga-lembaga penyimpanan naskah, lembaga-lembaga pendidikan tinggi, dan pemerintah daerah perlu duduk bersama untuk mewujudkan hal tersebut. Hal ini diperlukan untuk menghimpun data naskah berikut hasil penelitiannya, sehingga pada akhirnya dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang naskah Sunda sekaligus membukakan jalan bagi para peneliti baru yang hendak mengkaji naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat yang penulis kutip di atas adalah isi lirik Kidung Pajajaran, salah satu di antara sekian banyak judul tembang Cianjuran. Meski tidak mengetahui secara pasti siapa pengarangnya, tetapi penulis sangat mengagumi lirik itu. Pastilah penulisnya seorang Sunda yang memiliki visi dan kesadaran sejarah yang tinggi. Secara keseluruhan isi lirik di atas adalah ajakan untuk membuka apa yang selama ini tertutupi pada helaian daun gebang atau lontar (baca: naskah), sebab itulah karya leluhur kita sendiri yang ditulis untuk dikaji generasi sepeninggalnya.&lt;br /&gt;Pun. Leuwih luangan, kurang wuwuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Aditia Gunawan&lt;br /&gt;Depok, Februari-Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Edi S. Ekadjati, Naskah Sunda, (Bandung: LKUP dan Universitas Padjadjaran, 1988) halaman 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Henri Chambert-Loir dan Oman Fathurahman, Khazanah Naskah; Panduan Koleksi Naskah-naskah Indonesia Sedunia (Jakarta: Ecole française d’Extrême-Orient dan Yayasan Obor Indonesia, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Salinan digitalisasi naskah proyek EAP yang terdapat di PNRI di antaranya naskah lontar dari Ciburuy-Jawa Barat, Minang, Palembang, dan Riau. Informasi lebih lengkap mengenai program tersebut dapat diakses melalui situs http://www.bl.uk/about/policies/endangerdarch/, diakses tanggal 25 Februari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Mengenai program CDATS-TUFS dapat dilihat di http://www.tufs.ac.jp/21coe/area/eng/, diakses tanggal 03 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Lihat Ekadjati, Edi. S, “Naskah Sunda: Sumber Pengetahuan Budaya Sunda” dalam Prosiding Konferensi Internasional Budaya Sunda, Jilid I (Yayasan Kebudayaan Rancagé, 2006) halaman 198.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Lihat Mikihiro Moriyama, Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2003) hlm. 35.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Aditia Gunawan (Peny), Sanghyang Sasana Maha Guru dan Kala Purbaka: Suntingan dan Terjemahan (Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] K.F. Holle, 1882, Tabel van Oud-en Nieuw-Indische Alphabetten. Bijdrage tot de Paleographie van Nederlandsch-Indie (Batavia: s’Hage, 1882) hlm. 12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Naskah lontar kropak 626 koleksi Perpustakaan Nasional RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Edi S. Ekadjati, Naskah Sunda, (Bandung: LKUP dan Universitas Padjadjaran, 1988).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Tim Behrend (Ed), Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara: Jilid IV, Perpustakaan Nasional RI, 1998) hlm. xi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Van der Tuuk dalam Mikihiro Moriyama, Op. cit., halaman 45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] [Cohen Stuart], Eerste Vervolg Catalogus der Bibliotheek en Catalogus der Maleische, Javaansche en Kawi Handschriften van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia, ‘s Hage: Bruining &amp;amp; Wijt &amp;amp; M. Nijhoff, 1872)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Memed Sastrahadiprawira, Lijst van de in de bibliotheek van het BGKW; dan Korte Inhoud van enkele in de lijst voorkomende Soendase HSS, (Batavia, 1928), stensilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Edi S. Ekadjati &amp;amp; Undang A. Darsa, Jawa Barat: Koleksi Lima Lembaga (Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 5A) (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Ecole française d’Extrême-Orient dan Yayasan Obor Indonesia, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Lihat Edi S. Ekadjati (peny), Direktori Edisi Naskah Nusantara (Jakarta: Manassa dan Yayasan Obor Indonesia, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Lihat Pengantar Ajip Rosidi dalam Tutur Bwana dan Empat Mantra Sunda Kuna (Jakarta: Perpustakaan Nasional RI dan Pusat Studi Sunda, 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Lihat artikel Holle, “Vlugtig Berigt Omtrent Eenige Lontar-Handschriften afkomstig uit de Soenda-landen” dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (TBG) No. 16 tahun 1867 hlm. 450-70.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] Lihat P.J. Zoetmulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang (Penerbit Djambatan, 1983)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20] Lihat J.Noorduyn dan A. Teeuw, Three Old Sundanese Poems, (Leiden: KITLV Press, 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21] Lihat A. Teeuw “Old Sundanese Poems” (2001) dalam prosiding Konferensi Internasional Budaya Sunda 2001 hlm. 15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22] Lihat Chaedar Al-Wasilah “KIBS: Upaya Revitalisasi Jatidiri” dalam Prosiding Konferensi Internasional Budaya Sunda (Yayasan Kebudayaan Rancagé, 2006) halaman. xi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-249012266658366264?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/249012266658366264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/12/naskah-sunda-khazanah-akses-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/249012266658366264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/249012266658366264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/12/naskah-sunda-khazanah-akses-dan.html' title='Naskah Sunda: Khazanah, Akses, dan Identitas'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-9210527844045291286</id><published>2011-09-20T21:22:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T22:14:51.451-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Sistim Sora Basa Sunda Buhun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sanajan bari éra parada, sawadina urang nganuhunkeun kana sumbangan pamikiran Noorduyn jeung Prof. A.Teeuw, anu sacara gemet geus narékahan nalungtik basa Sunda buhun. Ulikan kabasaan Sunda buhun nu dipigawé ku Noorduyn jeung A.Teeuw ngawengku 51 kaca tina 554 kaca dina bukuna “Tiga Pesona Sunda Kuna” (édisi Inggrisna: Three Old Sundanese Poems, KITLV, 2006) wedalan Pustaka Jaya, 2009. Keur saayeunaeun mah, éta ulikan téh mangrupa ulikan anu panglengkepna ngeunaan basa Sunda buhun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulikan kabasaan Sunda buhun Noorduyn jeung Teeuw ngawengku dua aspék basa, nyaéta fonologi (sora basa) jeung morfologi (wangun parobahan kecap). Teu nepi kana ulikan sintaksis mah. Munasabah, da téks nu dijadikeun dasar ulikanana téh winangun puisi anu hésé dijadikeun dasar pikeun ngaguar kalimah alatan kauger ku metrum dalapan engang téa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ieu pedaran baris museur kana sistim sora nu aya dina kaca 35 bukuna Noorduyn jeung Teeuw. Éta dua sarjana nyatet yén, aya parobahan sora palatal tan soraan c dina basa Sunda buhun (BSb) jadi t dina Basa Sunda kiwari (BSk). Upamana dina kecap mauc dina BSb jadi maut ‘metot’ dina BSk, imuc (BSb) jadi imut (BSk), maracan (BSb) jadi maratan (BSk), jsté. Éta sora c nu jadi t téh méh sakabéhna aya dina tungtung kecap atawa morfém. Tegesna, dina basa Sunda buhun mah sora c téh bisa diteundeun dina tungtung kecap, padahal urang terang yén sora c téh teu bisa diteundeun dina tungtung kecap basa Sunda kiwari. Ana kitu mah, fénoména kabasaan ieu jadi ciri anu mandiri dina basa Sunda buhun nu béda jeung basa Sunda kiwari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanjakalna, Noorduyn jeung Teeuw teu ngabahas naon anu jadi sabab ayana parobahan éta sora téh. Bawirasa, aya dua perkara anu bisa jadi panyababna (najan ieu ogé ukur hipotésis). Saperkara, éta dua konsonan téh kaasup konsonan anu cara artikulasina sarua, nyaéta mandeg (stop). Ku kawengku dina hiji sora konsonan nu sarua, robahna sora téh leuwih ngamungkinkeun. Kadua perkara, wangun aksara ca jeung ta dina naskah ogé méh sarimbag deuih. Aksara ca saupama oval di handapna diganti ku siku sarta ditambahan tukangna ku gurat siku tangtu jadi ta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conto kasus nu méh sawanda nyaéta saupama niténan robahna sora d (BSb) jadi j (BSk) (anu teu kabahas ku Noorduyn &amp;amp; Teeuw), upamana dina kecap deung (BSb) jadi jeung (BSk), diga (BSb) jadi jiga (BSk), jsté. Dua alesan anu diajukeun di luhur bisa dilarapkeun ogé dina kasus ieu. Sora d jeung j mangrupa konsonan anu cara artikulasina sarua turta wangun aksarana sarimbag deuih. Sora d jeung j kaasup kana konsonan mandeg. Aksara da saupama ditambahan gurat béh katuhuna tangtu jadi ja. Moal boa sora anu jadi tinimbangan utama karuhun urang ngréasikeun aksara Sunda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasualan séjén anu muncul nyaéta ngabédakeun sora e jeung eu anu simbol grafis aksarana dina naskah sarua. Para ahli umumna nyieun transkipsi pikeun ngabédakeun éta aksara téh dumasar kana kasaksian kamus Sunda kiwari baé, henteu dumasar kana wangun aksarana. Pon kitu deui kateuajegan éjahan sora wa, ua, o saperti dina pwah aci, puah aci, pohaci jeung sora ia, ya, éa saperti dina rahasia, rahasya, rahaséa. Ieu pasualan mémang can meunang jawaban anu nyugemakeun, sarta masih perelu dipaluruh ku cara mariksa deui sakabéh naskah Sunda buhun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asana aya nu kaliwat ku Noorduyn jeung Teeuw ogé deuih, nyaéta sora ña jeung n(i)ya. Nu disebut mimiti contona nyampak dina kecap nyabok, Banyakcatra. Sedeng nu disebut pandeuri mah husus pikeun gaganti panuduh ‘éta, itu’ saperti dina kecap ngaranya, byaktanya. Dina édisi naskah anu geus terbit, ilaharna cara nuliskeun éta dua sora téh sarua, nyaéta nya. Ti dinya jadi panasaran, naha enya kitu? Sabab saupama ngilikan naskah mah, aksara nu digunakeun pikeun sora nya (dina kecap nyabok) sacara ajeg maké aksara nya ngalagena. Sedeng nya dina kecap ngaranya ‘ngaranna, hartina (tina éta)’, byaktanya ‘écésna (tina éta)’ sacara ajeg ditulisna ku aksara na diwuwuhan pasangan (pamingkal) ya, samalah sok diwuwuhan ku panghulu i. Ku mindengna diwuwuhan panghulu i, nu nulis nambah kayakinan, yén nya nu kadua dibacana n(i)ya lain nya (nyabok) téa. Cindekna, saupama bisa ditarima, aya dua cara pikeun nuliskeun dua gejala di luhur, nyaéta ña (pikeun nuliskeun ñabok) jeung nya atawa niya (pikeun nuliskeun ngaranya, byaktanya, silokanya), anu temahna, ngalapalkeunana ogé tinangtu béda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nepi ka kiwari urang teu apal kumaha urang Sunda baheula ngedalkeun hiji kecap. Tapi tétéla, enggoning nangtukeun sistim sora dina basa Sunda buhun téh teu bisa leupas tina pasualan éjahan nu nyampak dina naskah. Mugia baé ku ngimeutan naskah bari tabah mah, haréwos karuhun téh kakuping ku urang kiwari, bari hawar-hawar ogé.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nu nulis, filolog naskah Sunda di Perpustakaan Nasional RI.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-9210527844045291286?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/9210527844045291286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/09/sistim-sora-basa-sunda-buhun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/9210527844045291286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/9210527844045291286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/09/sistim-sora-basa-sunda-buhun.html' title='Sistim Sora Basa Sunda Buhun'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-3866302809567472766</id><published>2011-08-18T19:02:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T22:11:47.496-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Naskah Waruga Guru Ditulis dina Kertas Éropa atawa Daluwang?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saenyana tanda tanya dina judul di luhur téh teu perelu aya, saupama urang teu talobéh dina ngarumat banda pakaya karuhunna. Da ana seug aya téa mah wujudiah naskahna (Waruga Guru, saterusna disingget WG), teu kudu papanjangan nulis atuh. Cukup ku ningali naskahna, dibulak-balik sabalikan, rada kerung saeutik, bawirasa bakal katohyan, naha éta naskah ditulis dina kertas Éropa atawa daluwang. Peun saheulaanan mah, anggap baé naskahna nuju ‘nyumput di nu caang’ téa. Keur pribadi anu saumur nyunyuhun hulu can kungsi ningali naskahna, ukur bisa nyukcruk galur mapay béja, ceuk itu ceuk éta, bari nimbang-nimbang kamungkinan anu leuwih asup akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu mimiti ngagulanggapér naskah WG téh C.M. Pleyte, ahli Walanda nu neundeun minat kana kabudayaan Sunda. Garapanna kana naskah WG dimuatkeun dina artikelna ‘De Patapaan Adjar Soeka Resi: ander gezegd de kluizenarij op den Goenoeng Padang: Tweede bijdrage tot de kennis van het oude Soenda’ (TBG 55). Dina artikelna, Pleyte geus hasil ngalih-aksarakeun sarta narjamahkeun (kana basa Walanda) téks WG sagemblengna. Ceuk Pleyte mah éta naskah téh ditulis antara taun 1705-1709 M (awal abad ka-18 M). Hanjakalna, teu kapanggih katerangan ngeunaan kaayaan fisik naskahna, kayaning alas naskahna, ukuran, jumlah kaca, jsté. Pleyte ngan ngalampirkeun édisi facsimile naskahna, éta gé ngan sakaca, nyaéta kaca 1 tina naskah WG. Lebah juru kénca béh luhur katémbong aya tulisan ‘Jav. Ms. No. 74’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;Saterusna, suwargina Pa &lt;a href="http://naskah-sunda.blogspot.com/2008/11/atja.html"&gt;Atja&lt;/a&gt; ogé kungsi nyabit-nyabit naskah WG nalika anjeunna ngabandingkeun aksara dina &lt;a href="http://naskah-sunda.blogspot.com/2009/01/carita-parahyangan.html"&gt;Carita Parahyangan&lt;/a&gt; jeung aksara dina téks WG. Saurna gé: “Ngeunaan ‘wangun aksarana’, para ahli sapuk nyaéta aksara Sunda-Buhun, anu wujudna béda deui jeung aksara Kawi atawa aksara Jawa. Wangun aksara Sunda anu mandiri téh digunakeun nepi ka kira-kira abad ka-18 M; saperti anu dina Waruga Guru”. Tah dina tungtung kalimah éta diémbohan catetan kaki (nomor 11) nu ngarahkeun nu maca pikeun mukaan buku Tabel Aksara Holle sarta mariksa naskah BG. No. 74.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwargina Pa &lt;a href="http://naskah-sunda.blogspot.com/2008/10/edi-s-ekadjati_12.html"&gt;Edi S. Ekadjati&lt;/a&gt; (1996) ngawuwuhan katerangan tambahan kana téks WG. Katerangan anu ditambahkeunana téh nyaéta réana kaca (24 kaca), ukuran naskah (20x15 cm), sarta cenah ditulis ngagunakeun mangsi hideung. Nya dina tulisan Pa Édi aya katerangan yén naskah WG téh ditulis dina kertas Éropa. Ieu pamadegan sigana dituturkeun ku sawatara ahli sapandeurieunana, malah sok aya émbohna ‘kertas berwatermark’, cenah. Tulisan-tulisan anu nyebutkeun téks WG téh ditulis dina kertas Éropa, hanjakalna, méh sadayana teu nyantumkeun rujukan anu écés deuih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertasna: Éropa atawa Daluwang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamun téa mah enya naskah WG téh ditulis dina kertas  Éropa, hartina naskah WG téh jadi hiji-hijina naskah Sunda-Buhun (anu aksara jeung basana Sunda Buhun) anu ditulis dina éta média. Ari kertas Éropa ilaharna sok aya cap kertasna (watermark). Nepi ka kiwari, can aya anu bisa nerangkeun cap kertas naon nu nyampak dina naskah WG deuih, padahal éta téh bisa jadi pituduh anu penting pikeun nangtukeun umur naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadéna Pleyte jeung Pa Atja masihan pituduh. Pleyte méré facsimile naskah WG nu ngandung tulisan ‘Jav. Ms. No. 74’, sedeng Pa Atja (1968) miwarang mariksa naskah BG.No. 74. Anu dimaksud téh tangtu ngarujuk kana nomor naskah KBG 74 koléksi Perpustakaan Nasional (PNRI). BG téh singgetan tina Bataviaasch Genootschaap. Ti taun 1923 Bataviaasch Genootschap téh ditambahan ku kecap ‘Koninklijk’ di hareupeunana (jadi KBG), rada guménak, da pihartieunana koninklijk téh ‘Kagungan Dalem’. Kiwari KBG téh kaasup salasahiji sub koléksi diantara 55 sub koléksi PNRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegesna, naskah WG téh koléksi PNRI kalayan nomor koléksi KBG 74. Baheula. Tapi, Behrend (1998) anu nyusun katalog naskah di PNRI méré tanda bintang (*) meneran KBG 74 téh. Hartina, éta naskah geus teu nyampak deui dina tempat koléksi nu samistina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku panasaran, ngahaja muka naskah gigireunana, nyaéta naskah KBG 73, KBG 75, jeung KBG 76. Tétéla éta tilu naskah téh naskah Sunda Buhun anu ditulis dina kertas daluwang. Aksarana ogé Sunda Buhun deuih. Ieu hal beuki ngayakinkeun nu nulis, yén naskah WG téh baheulana aya di PNRI kalayan nomor koléksi KBG 74. Gedé pisan kamungkinan, naskah WG ogé ditulis dina kertas daluwang, lain kertas Éropa. Modél aksara dina WG jeung naskah KBG 73, KBG 75 atawa KBG 76 téh sarimbag pisan deuih, moal boa disalin ku jalma nu sarua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecap ‘daluwang’ sorangan mimiti kapanggih dina téks Sunda Buhun Sanghyang Swawar Cinta (koropak 626) lambaran ka-9: “Daluwang kulit ning kayu, upakara ning busana” (daluwang kulit kai, bagian/bahan tina busana). Dina périodeu kabudayaan Sunda pra-Islam, daluwang dimangpaatkeun jadi bahan baku busana. Tapi dina jaman Islam di Jawa, ceuk Pigeaud (Literature of Java, 1967), fungsi daluwang ngalegaan, nyaéta dijadikeun ogé alas tulis. Buktina di Tatar Sunda, nya naskah-naskah Sunda-Buhun tina – nambut istilah Pa Édi S. Ekadjati – périodeu ‘peralihan’, saperti nu ditataan di luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Numutkeun Cohen Stuart (1872), naskah Waruga Guru téh kacatet jadi koléksi BG tanggal 7 Oktober 1866, pamasihan ti bupati Galuh harita, R.A.A. Kusumahdiningrat (1839-1886). R.A.A. Kusumahdiningrat mémang dipikawanoh minangka bupati anu jembar wawasan sarta micinta kabudayaan. Kawilang réa naskah Sunda Buhun nu kiwari diteundeun di PNRI téh kawitna nya ti anjeunna pisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sok sanajan ieu tulisan dipanjangan, keukeuh baé anggapan naskah WG ditulis dina daluwang téh semet susuganan, ukur ngalelebah, wuwuh naskahna ogé parantos taya dikieuna kapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun, leuwih luangan, kurang wuwuhan.&lt;br /&gt;(Dimuat dina Cupumanik bulan Juni 2011)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-3866302809567472766?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/3866302809567472766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/08/naskah-waruga-guru-ditulis-dina-kertas.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/3866302809567472766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/3866302809567472766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/08/naskah-waruga-guru-ditulis-dina-kertas.html' title='Naskah Waruga Guru Ditulis dina Kertas Éropa atawa Daluwang?'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-8095574644607545386</id><published>2011-07-01T00:44:00.001-07:00</published><updated>2011-12-22T22:11:26.842-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedi Naskah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katalog'/><title type='text'>Sanghyang Jati Maha Pitutur</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-OgvC1NN-N4U/Tg17m9QgeCI/AAAAAAAAAMc/ByiGJ1SC0_Q/s1600/426.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 264px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-OgvC1NN-N4U/Tg17m9QgeCI/AAAAAAAAAMc/ByiGJ1SC0_Q/s400/426.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624287418864662562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sanghyang Jati Maha Pitutur merupakan Naskah Sunda Kuna yang kini disimpan di Perpustakaan Nasional RI, dengan nomor koleksi L 426 C Peti 16. Ditulis diatas 6 bilah bambu tanpa pengapit berukuran 31,5 x 3 cm, setiap bilah terdiri dari 5 baris tulisan. Ditulis menggunakan aksara dan Bahasa Sunda Kuna serta berbentuk prosa. Naskah pertama kali dideskripsikan oleh Cohen Stuart dalam sebuah katalog. Menurut katalog tersebut, naskah ini berasal dari Bupati Galuh, R.A.A. Kusumadiningrat (1839-1886). Berisi risalah keagamaan singkat tentang sifat-sifat ketuhanan, yaitu: acintya (tak terkirakan), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;adrasya &lt;/span&gt;(tak terlihat), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;abyapadésa&lt;/span&gt; (tak diketahui tempatnya), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;adwaya &lt;/span&gt;(tak ada duanya), dll. Jika sifat-sifat tersebut terus-menerus dipelajari dan diamalkan oleh seseorang dengan sungguh-sungguh niscaya sifat-sifat itu akan ditemukan dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bibliografi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Wartini, Tien dkk., 2010. &lt;a href="http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/04/tutur-bwana-dan-empat-mantra-sunda-kuna.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tutur Bwana dan Empat Mantra Sunda Kuna&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Jakarta: Perpustakaan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Sunda.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Deskripsi Naskah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;[Stuart, Cohen], 1872, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Eerste Vervolg Catalogus der Bibliotheek en Catalogus der Maleische, Javaansche en Kawi Handschriften van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen&lt;/span&gt;. Batavia: ‘s Hage, Bruining &amp;amp; Wijt, M. Nijhoff.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Holil, Munawar dan Aditia Gunawan, 2010, 'Membuka Peti Naskah Sunda Kuna di Perpustakaan Nasional RI: Upaya Rekatalogisasi' dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sundalana IX&lt;/span&gt;. Bandung: Pusat Studi Sunda. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-8095574644607545386?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/8095574644607545386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/07/sanghyang-jati-maha-pitutur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/8095574644607545386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/8095574644607545386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/07/sanghyang-jati-maha-pitutur.html' title='Sanghyang Jati Maha Pitutur'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-OgvC1NN-N4U/Tg17m9QgeCI/AAAAAAAAAMc/ByiGJ1SC0_Q/s72-c/426.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-8753188707786024980</id><published>2011-06-30T23:47:00.000-07:00</published><updated>2012-01-01T05:09:21.146-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedi Naskah'/><title type='text'>Hayam Canggong</title><content type='html'>&lt;span id="result_box" class="long_text" lang="en"&gt;&lt;span class="hps"&gt;Hayam&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Canggong&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;is a&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;character in&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;old &lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt;Sundanese&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;poem&lt;/span&gt; &lt;span class="hps atn"&gt;'&lt;/span&gt;&lt;span class=""&gt;The&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Son of&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Rama&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;and&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Rawana&lt;/span&gt;&lt;span&gt;'&lt;/span&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;or&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;better known as&lt;/span&gt; "&lt;span class="hps"&gt;Pantun&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Ramayana&lt;/span&gt;&lt;span&gt;".&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;He was an&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;old&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;hermit&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;who finds&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Deuwi&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Sita&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;who&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;had been&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;discharged into the&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;river&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;by&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Ramadewa &lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt;for allegedly&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;committing adultery&lt;/span&gt; &lt;span class="hps atn"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span&gt;sida&lt;/span&gt;&lt;span&gt;)&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;with his father&lt;/span&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Rawana&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;He was living in&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;his hermitage, Batur &lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt;Manggu&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;After&lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt; finding&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Deuwi Sita&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;in a basket &lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt;by the river&lt;/span&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;he then&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;care for and&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;make it as a&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;nun&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;in&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;his hermitage&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;When&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Deuwi&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Sita&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;gave birth&lt;/span&gt;&lt;span&gt;, he gave &lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt;the name of&lt;/span&gt;  &lt;span class="hps"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt;Deuwi Sita&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;son &lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt;Bujangga&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Lawa&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;At one time&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;he read&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;a book&lt;/span&gt; &lt;span class="hps atn"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Watang&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Ageung&lt;/span&gt;&lt;span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span&gt;, bouncing&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Bujangga&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Lawa&lt;/span&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt;without&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;realizing that Bujangga Lawa&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;disappeared from the&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;swing&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;He was &lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt;feeling guilty&lt;/span&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;so he&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;changed&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;"Watang&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Ageung&lt;/span&gt;" become a&lt;span class="hps"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;boy who&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;is very&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;similar to&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Bujangga&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Lawa&lt;/span&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;then gave him&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;the name&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Puspalawa&lt;/span&gt;&lt;span&gt;. &lt;/span&gt;Based on A.Teeuw an Noorduyn (2006), the name &lt;span class="hps"&gt;Hayam&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Canggong&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;in this story&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;is unique&lt;/span&gt; from Sundanese tradition and it&lt;span class="hps"&gt; is not&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;found on &lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt;the Ramayana story&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;from other regions&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Hayam Canggong adalah tokoh dalam puisi Sunda kuna ‘Para Putera Rama dan Rawana’, atau lebih dikenal dengan Pantun Ramayana. Dia adalah seorang kakek petapa yang menemukan Deuwi Sita yang telah dibuang ke sungai oleh *RAMADÉWA karena diduga telah berzina (sida) dengan ayahnya, Rawana. Tinggal di petapaan Manggu. Setelah menemukan Deuwi Sita dalam sebuah peti di tepi sungai, ia kemudian merawat dan menjadikannya sebagai biarawati di petapaannya. Ketika Deuwi Sita melahirkan, dialah yang memberi nama putera Deuwi Sita Bujangga Lawa. Pada suatu waktu ia membacakan sebuah kitab (Watang Ageung) sambil mengayun-ayun Bujangga Lawa, tanpa disadarinya Bujangga Lawa menghilang dari ayunan. Karena merasa bersalah, ia mengubah Watang Ageung yang dipegangnya menjadi bocah yang sangat mirip dengan Bujangga Lawa, kemudian memberinya nama Puspalawa. Nama Hayam Canggong dalam kisah ini menurut A. Teeuw dan Noorduyn bersifat khas Sunda karena tidak ditemukan dalam tradisi kisah Ramayana dari daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="result_box" class="long_text" lang="en"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-8753188707786024980?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/8753188707786024980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/06/hayam-canggong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/8753188707786024980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/8753188707786024980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/06/hayam-canggong.html' title='Hayam Canggong'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-3916203562270593586</id><published>2011-04-18T19:57:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T22:10:42.087-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kliping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>"Pengobatan Tradisional dalam Naskah Nusantara": Call for Papers Seminar Nasional Naskah Nusantara</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-jgFN09VRM1s/TbZDRnk1M5I/AAAAAAAAAMQ/ywQy95hZLCw/s1600/Poster%2BSeminar%2B2011..jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 441px; height: 635px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-jgFN09VRM1s/TbZDRnk1M5I/AAAAAAAAAMQ/ywQy95hZLCw/s400/Poster%2BSeminar%2B2011..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599737156642091922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ageMaC0yABU/Taz7R-XFOII/AAAAAAAAAMI/cZsXdHAGlBc/s1600/Poster%2BSeminar%2B2011..jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seminar Nasional Naskah Nusantara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perpustakaan Nasional RI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Call for Papers&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“PENGOBATAN TRADISIONAL DALAM NASKAH NUSANTARA”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Jakarta, 27-28 September 2011&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai saat ini, masyarakat tradisional di berbagai daerah di Indonesia masih memanfaatkan potensi sumber daya alam di sekitarnya dalam mengelola masalah kesehatan. Namun, pesatnya aplikasi teknologi dalam hampir semua aspek kehidupan modern, mengakibatkan semakin berkurangnya ketersediaan dan kearifan pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia. Pada akhirnya, keanekaragaman pusaka alam, budaya dan saujana terkait dengan pengelolaan kesehatan masyarakat mengalami degradasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Nusantara sebagai warisan budaya membawa informasi berharga bersumber  dari kearifan masa lalu. Salah satu informasi berharga yang terkandung dalam warisan leluhur itu adalah pengobatan tradisional. Teks “Usada” dari Bali, “Husada” dari Jawa, “Lontarak Pabura” dari Bugis, “Kitab Tibb” dari Melayu, dan “Ngurus Panyakit Talari Karuhun” dari Sunda adalah sebagian kecil dari contoh-contoh naskah yang mengandung informasi tentang pengobatan tradisional. Di dalam teks-teks lama tersebut, terkandung informasi mengenai jenis obat-obatan, metode pengobatan, mantra dan jampi-jampi, yang kiranya tetap menarik untuk dikaji pemanfaatannya dalam era modern kini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGIRIMAN ABSTRAK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami mengundang para peneliti, pengkaji, dan pemerhati pengobatan tradisional dan naskah nusantara untuk menjadi pemakalah dalam kegiatan ini, dengan mengirimkan abstrak makalah terlebih dahulu. Semua abstrak yang masuk akan diseleksi oleh tim dari Perpustakaan Nasional, dan dipilih sejumlah makalah yang sesuai dengan tema “Pengobatan Tradisional dalam Naskah Nusantara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abstrak makalah dikirim ke Panitia melalui e-mail dengan alamat: jumantara@pnri.go.id, dan diterima selambat-lambatnya tanggal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1 Juni 2011&lt;/span&gt;. Semua abstrak yang masuk akan diseleksi oleh panitia, dan hasilnya akan diumumkan pada tanggal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;15 Juni 2011&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang diterima sebagai calon pemakalah diharuskan mengirimkan makalah lengkapnya paling lambat sebulan sebelum acara Seminar berlangsung, yakni tanggal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;27 Agustus 2011&lt;/span&gt;. Panitia menyediakan fasilitas akomodasi, konsumsi, dan insentif sewajarnya kepada calon pemakalah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RUANG LINGKUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ruang lingkup seminar meliputi berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan Tema yang terbagi dalam topik:&lt;br /&gt;1. Tanaman obat dalam naskah nusantara;&lt;br /&gt;2. Mantra pengobatan dalam naskah nusantara;&lt;br /&gt;3. Praktek pengobatan dalam naskah nusantara;&lt;br /&gt;4. Ritual penyembuhan dalam naskah nusantara;&lt;br /&gt;5. Tanaman obat khazanah nusantara budidaya masyarakat;&lt;br /&gt;6. Praktek pengobatan tradisional di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MAKSUD DAN TUJUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seminar Naskah Nusantara ini bertujuan untuk:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mengidentifikasi, mendokumentasikan dan mengkaji berbagai jenis obat-obatan tradisional yang terdapat dalam Naskah Nusantara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengidentifikasi, mendokumentasikan dan mengkaji berbagai mantra pengobatan  tradisional yang terdapat dalam Naskah Nusantara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengidentifikasi, mendokumentasikan dan mengkaji berbagai praktek pengobatan  tradisional yang terdapat dalam Naskah Nusantara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengidentifikasi, mendokumentasikan dan mengkaji berbagai jenis ritual penyembuhan tradisional yang terdapat dalam Naskah Nusantara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengupayakan strategi ke arah pengakuan hak intelektual masyarakat tradisional Indonesia berkaitan dengan pengobatan tradisional.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMBICARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Keynote Speaker: Jaya Suprana (Direktur Jamu Jago, Budayawan)&lt;br /&gt;• Pemakalah terpilih dari call for papers.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;INFORMASI LAIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semua informasi lain berkaitan dengan Seminar Naskah ini akan diinformasikan kemudian melalui situs Perpustakaan Nasional RI dengan halaman &lt;a href="http://www.pnri.go.id/"&gt;http://www.pnri.go.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekretariat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jl. Salemba Raya No. 28A&lt;br /&gt;Jakarta 10002&lt;br /&gt;Telp/Faks: 021-3103554&lt;br /&gt;E-mail: jumantara@pnri.go.id&lt;br /&gt;Web: &lt;a href="http://www.blogger.com/www.pnri.go.id"&gt;www.pnri.go.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Contact Person&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rifa: 081399772354&lt;br /&gt;Dian: 082124361085&lt;br /&gt;Didik: 08156874754&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-3916203562270593586?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/3916203562270593586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/04/call-for-papers-seminar-nasional-naskah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/3916203562270593586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/3916203562270593586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/04/call-for-papers-seminar-nasional-naskah.html' title='&quot;Pengobatan Tradisional dalam Naskah Nusantara&quot;: Call for Papers Seminar Nasional Naskah Nusantara'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-jgFN09VRM1s/TbZDRnk1M5I/AAAAAAAAAMQ/ywQy95hZLCw/s72-c/Poster%2BSeminar%2B2011..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-1951019862480496605</id><published>2011-04-13T21:07:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T22:10:20.547-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review Buku dan Penelitian'/><title type='text'>Tutur Bwana dan Empat Mantra Sunda Kuna</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-BIRmqrEt7to/TaZz1t9yq-I/AAAAAAAAAMA/j-5m30dgmf4/s1600/Cover%2BTutur%2BBwana_Cetak..jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 269px; height: 191px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-BIRmqrEt7to/TaZz1t9yq-I/AAAAAAAAAMA/j-5m30dgmf4/s200/Cover%2BTutur%2BBwana_Cetak..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595286953763449826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;JUDUL: Tutur Bwana dan Empat Mantra Sunda Kuna&lt;br /&gt;PENYUNTING: Tien Wartini, Ruhaliah, Rahmat Sopian, Mamat Ruhimat, Aditia Gunawan&lt;br /&gt;Kata Pengantar oleh Ajip Rosidi&lt;br /&gt;PENERBIT: Perpustakaan Nasional RI dan Pusat Studi Sunda&lt;br /&gt;TAHUN TERBIT: 2010&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku disajikan teks Sunda Kuna Tutur Bwana dan empat Mantra Sunda Kuna.  Teks prosa "Tutur Bwana" (kropak 620) mengisahkan Sang Kalasakti (sebagai wujud keburukan), mendatangi kahyangan menemui Sang Darmajati (sebagai wujud kebaikan). Keduanya kemudian berkelahi. Sementara empat teks lainnya berupa mantra, yang menunjukkan sesuatu yang menarik, karena menampilkan persinggungan agama pribumi, bukan hanya dengan Hindu Budha, tetapi juga dengan Islam. Teks Mantra yang disunting adalah: Mantra (kropak 409), Mantra dan Pakeling (kropak 413 dan 414)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-1951019862480496605?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/1951019862480496605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/04/tutur-bwana-dan-empat-mantra-sunda-kuna.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1951019862480496605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1951019862480496605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/04/tutur-bwana-dan-empat-mantra-sunda-kuna.html' title='Tutur Bwana dan Empat Mantra Sunda Kuna'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-BIRmqrEt7to/TaZz1t9yq-I/AAAAAAAAAMA/j-5m30dgmf4/s72-c/Cover%2BTutur%2BBwana_Cetak..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-2381001317740779815</id><published>2011-04-13T20:58:00.000-07:00</published><updated>2011-04-13T21:03:18.678-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sasana Maha Guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Bagian 10 - Pañcabyakta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagian ieu ogé dimimitian ku siloka. Sok sanajan judul pedaranna pañcabyakta (lima bukti, lima kanyataan), tapi istilah-istilah nu dijéntrékeunna mah lain lima, tapi aya 11 kecap. Istilah-istilah éta téh kacida héséna ditarjamahkeun sacara harfiah, tapi, copélna bisa dipikaharti maksudna tina pedaranana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Téks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nihan sinangguh pañcabyakta ngaranya, silwakanya nihan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“sélajanem surawilé, panatarga sudyacawa,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;prayagamanem cégamaswa céwamibah krermawidu,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;céwayudé (da)nakalem ma supregrahasta“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;/siloka 5/&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka: sélajanem ngaranya, ñapira ngahanteu-hanteu , lamun  lémék matingtim /8v/ di hareupeun nu kwalwat. Surawilé ngaranya, ñapirakeun manguni lémék mati(ng)tim, hanteu maké pangabakti, ka sang pandita, deung hanteu ngeunah wedak-wedakan, kaambeu ku nu réya. Aswagatah kunang panatarga ngaranya, hanteu ngeunah ñusutk(eu)n hu(n)tu, deung  masa(ng)géréng di hareupeun nu réya. Sudyacawa  ma ngaranya, hanteu ngeunah urang niru-niru kaulinan hempul murus. Praya sang magamata ma, hanteu ngeunah urang padeuleu-deuleu deung sang hya(ng) kalih, mangka nguni padu na muka, padeuleu-deuleu beungeut, ka nu karolwat, mangka nguni mupulihkeun manéh nyatu nginum di hareupeun nu réya. Céwamaswatéh ngaranya, téka salah dipihdip dipiange(n)-angen, ka pada janma. Céwamibuh ngaranya, gwacé rua, gwacé tuah, hamwa nurut pamagaha/8r/n. Karmawidu ngaranya, kesit tungi haseum barungut, rungsang-ru(ng)sing na pibudieun janma. Céwayudé ngaranya, gwacé rua, gwacé tuahna, gwacé pupu [ci/cu] na, sinangguh kanistra ning janma.  Céwayudé ngaranya, surang pragwajak, bwagwah ñwacwao sabda pariambul ka sakalih. Danakalem ta ma ngara(n)na, hanteu dé(k) haat karuña, héman pada  janma, na angen-angen gedé kaceuceub. Suprigrehasta ngaranya, gedé nu dipikahayang, dipilémék ange(n)-angen, dibaan lémék dimangké ma(ng)ké, geus ma hanteu kaswarang. Nihan sinangga pañcabyakta ngaranya, hayu(a) pinintuhu ika (5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarjamahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ieu nu disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pañcabyakta &lt;/span&gt;(lima kanyataan) téh. Ieu silokana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sélajanem surawilé panatarga sudyacawa,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;prayagamanem cégamaswa céwamibah krermawidu,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;céwayudé danakalem ma supregrahasta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;/siloka 5/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Maksudna, nu disebut selajanem téh, nyapirakeun jeung ngahenteu-henteu, upama keur nyarita atawa babadamian hareupeun nu kolot. Nu disebut surawile, nyapirakeun dina nyarita, teu dibarengan ku tatakrama, ka sang pandita. Ogé teu hadé maké wedak (dangdan kaleuleuwihi), laju kaambeu ku jalma lian. Aswagatah kunang panatarga disebutna, teu hadé ngosokkan huntu, jeung nyanggéréng di hareupeun jalma réa. Nu disebut sudyacawa, henteu hadé urang niru-niru kaulinan Sang Empul Murus. Nu disebut Praya Sang Magama, henteu hadé urang paadu teuteup jeung jalma lian, utamana nalika paamprok, silih teuteup pameunteu, ka nu leuwih kolot, sumawonna wawanianan nyaritakrun yén dirina enggeus dahar jeung nginum hareupeun jalma réa. Nu disebut cewamaswateh téh, salah dina pikiran jeung kahayang, ka papada manusa. Nu disebut céwamibuh, goréng rupana, goréng kalakuanana, teu daék gugon kana piwuruk. Karmawidu disebutna, jamedud buad-baeud, teu daék nanya ka batur, haseum budi, murang-maring dina parangina. Céwayudé disebutna, goréng rupa, goréng kalakuanana, goréng ogé hasil (pagawéanana), nya ieu kanista dina manusa téh. Nu disébut Céwayude, beuki heureuy, beuki ngaheureuykeun, pada-pada ngomong ka jalma lian. Danakalem disebutna, teu daék miduli, mikaasih, tur mikahéman ka pada jalma, dina haténa ukur pinuh ku kaceuceub. Suprigrehasta disebutna, gedé kahayang, gedé omong dina kahayang, dina nyarita sok kadalon-dalon, padahal saenyana teu kahontal. Nya ieu nu disebut pañcabyakta (lima kanyataan) téh, ulah diturutan hal nu kawas kitu téh (5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kabeungharan Kecap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• ka singgetan tina kalinganna ‘maksudna, hartina’.&lt;br /&gt;• ñapira tina ‘sapira + -n’ ‘nyapirakeun’ dina SdM kecap – henteu ilahar.&lt;br /&gt;• ngahanteu-hanteu ‘mungkir, ngahenteu-henteu’&lt;br /&gt;• matingtim ‘nyarita, babadamian’&lt;br /&gt;• kwalwat ‘kolot’&lt;br /&gt;• manguni ‘utamana, sumawonna’ il. mangka nguni. JwK ‘id’ (Z 717), teu kapaluruh dina SdM.&lt;br /&gt;• wedak-wedakan ‘dangdan, maké wedak’ jigana maké sarupaning seuseungitan, ku sabab dina kalimah satuluyna aya kecap kaambeu.&lt;br /&gt;• masanggéréng ‘nyanggéréng?’, némbongkeun huntu bari ngaherengan, tanda ambek (KUBS 451).&lt;br /&gt;• niru-niru ‘niru-niru’ = JwK jeung SdM.&lt;br /&gt;• hempul ‘ahli kaulinan’ band. SSKK.XVI.&lt;br /&gt;• murus ‘ceuyah, euyeub’, jigana nu dimaksud hempul murus ‘ahli kaulinan anu euyeub pangaweruhna’&lt;br /&gt;• padeuleu-deuleu ‘paadu teuteup’ SdM ‘id’.&lt;br /&gt;• sanghyang kalih ‘jalma lian’, diwuwuhan sanghyang pikeun ngahormat, saperti istilah ki silah.&lt;br /&gt;• mangka nguni ‘kitu ogé, sumawonna’ JwK ‘id’. Il. manguni.&lt;br /&gt;• paadu na muka ‘paamprok jonghok, patepung wajah’&lt;br /&gt;• mupulihkeun manéh ‘ngomongkeun atawa nyaritakeun dirina sorangan’&lt;br /&gt;• dipihdip ‘dipikir’ id. JwK. Teu kapaluruh dina SdM.&lt;br /&gt;• dipiangen-angen ‘dirasa, dilenyepan jero haté’.&lt;br /&gt;• gwacé ‘goréng, goté’, ngalaman parobahan sora c dina SdK jadi t dina SdM.&lt;br /&gt;• rua ‘rupa’, dina SdM sarua ‘sarupa’. Béda harti jeung sarwa ‘sagala, sakabéh’.&lt;br /&gt;• tuah ‘kalakuan, tingkah polah’&lt;br /&gt;• hamwa = hamo ‘henteu’, dina SdM ogé ngandung harti ‘moal’&lt;br /&gt;• pibudieun ‘parangi’&lt;br /&gt;• kanistra ‘kanista, kagoréngan’, tina Skt. kaniṣṭha ‘id.’ Tingkatan panghandapna tina hiji kualitas: nista – madya – utama.&lt;br /&gt;• sabda pariambul ‘pada-pada ngomong, ngomong babarengan?’&lt;br /&gt;• dibaan ‘dibawa’ dina SdM dipikawanoh kecap dibahanan nu sigana lain tina kecap bahan, tapi baan, maksudna mah ‘dibawaan, dibéré babawaan’. Dina KUBS kecap baan dianggap tina bawaan?&lt;br /&gt;• hayua imp ‘ulah, entong’ dina SdM dipikawanoh wangun rundayan rarangkén tengah –um- humayua. Kasus nu sarupa saperti dina kecap tembey ‘mimiti, awal’ (tina JwK), nu dina SdM ngan dipikawanoh kecap mitembeyan ‘ngamimitian’.&lt;br /&gt;• pinintuhu pass ‘dituturkeun, diturutan’ = JwK. Teu kapaluruh dina SdM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katerangan&lt;br /&gt;JwK = basa Jawa Kuna; SdM = basa Sunda Modéren; Skt = basa Sansekerta; SSKK= Sanghyang Siksa Kandang Karesian (Danasasmita, spk., 1987); Z: Zoetmulder (Kamus Jawa Kuna-Indonesia, 2006); KUBS (Kamus Umum Basa Sunda, LBSS 1978).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hanca&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-2381001317740779815?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/2381001317740779815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/04/bagian-10-pancabyakta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/2381001317740779815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/2381001317740779815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/04/bagian-10-pancabyakta.html' title='Bagian 10 - Pañcabyakta'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-7360474786056651448</id><published>2011-03-31T22:23:00.000-07:00</published><updated>2011-03-31T22:24:27.416-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Klasik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katalog'/><title type='text'>SD 99 - Babad Kawung Baduy</title><content type='html'>Naskah Kertas Eropa, berukuran 21,5 x 33 cm; Ukuran Sampul 21,5 x 33 cm; Ukuran Blok Teks 10,5 x 29,5cm. ; 9 halaman; 14-35 baris/hlm. Judul dalam teks: Babad Kawung Badui (h.1); Aksara Latin, Bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI TEKS: Uraian mengenai jenis-jenis Enau, cara menanam, berikut cara mengolah menjadi gula di daerah Baduy.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRANSLITERASI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babad Kawoeng Badoej&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kadjerowan sareng kaloewaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parijosyannana Raden Kandoeroewan Atmakoesoema wedana distriek Lebak ka wasta Sarmah djaro desya Kanekes djeung wasta Djasmah Tasiněm Taméng kokolot lěmboer Tjibeo djeung Djaéni kokolot lěmboer Kadoekětoeg desya Kanekes pihatoerna: --&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaajaan kawoeng di dijeu tiloe roepa: --&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;no.1. Dingaranan kawoeng běněr roepana tangkalna gěde loehoer daoenna pandjang roebak, indjoekna kandel moengkoes tangkal, haroepatna gedé pandjang, leungeunna gědé pandjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;no.2. Dingaranan kawoeng Saéran tangkalna leutik loehoer, palapahna pandjang, indjoekna ipis tepoeng, haroepatna leutik pandjang bobo leungeunna leutik pandjang, boewahna /tjaroeloek/ leutik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;no.3. Dingaranan kawoeng Banén, tangkalna leutik handap, indjoekna kandel djembet sarta leutik ngan oekoer nakop saroebakna palapah, palapahna pondok leutik, leungeunna leutik pondok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari di dijeu (Kanekes) kawoeng henteu biasa dipelak aja kawoeng djadi oge asal tahi tjareuh baé, saha djělěma noe heula manggih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toeloej ditjaangan di handapna sarta noe ngabogaan teu beunang diala koe sedjén djelema, sarta eta kawoeng tara dipindahkeun djeung tangkalna henteu dipiara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari seboetanana kawoeng mimiti djadi diseboetna pětét di mana geus opat palapahna diseboetna tjoemangkok geus kitoe heuleut 10-12 taoen sakira tangkalna eta kawoeng geus teu ngagedéan deui diseboetna tjatjawénéan, ti dinja di mana geus bidjil bareng 4 poetjoek sarta papak djat jang ka loehoer diseboetna mepet, sanggeus mepek/t bidjil tongkol, eta tongkol kira-kira saboelan toeloej moeraj nja eta djadi langgari tjaroeloek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari oemoerna kawoeng nepi ka bidjil tjaroeloek kira-kira koerang leuwih henteu djaoeh tina 20 taoen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina bidjil tjaroeloek nepi ka bidjil leungeun Djeunah nja éta noe pangheulana djeung panghadéna disadap lilana ngan saboelan satengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina leungeun Djeunah kana bidjil leungeun Béngkel lilana 6 boelan, aja noe těpi ka sataoen oepama noe bentoet mah, sabab disadap djadi meunang gěring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajeuna njaritakeun bab njadap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari njadap di dijeu (Kanekes) atoeranana dua roepa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;no.1. njadap baris wajoe inoemeun woengkoel, kijeu atoeranana eta kawoeng di mana geus moeraj leungeun Djeunah satengah bulan oemoerna toeloej disigajan koe awi sarta ditaékan diboekaan palapah-palapahna eta kawoeng, dipasian dipitjeun tjangkangna eta leungeun Djeunah, sanadjan kawoeng handap, atawa ngaréndéng djeung kai oge koedoe make sigaj baé.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geus kitoe toeloej ditinggalkeun, oemoer dalapan powé ti mentas dioméan toeloej ditéang deui ditinggaran lamoen ngoméannana powe Senen, ninggoerna ogé koedoe powe Senen deui datang ka tiloe kali Senen tilu kali minggoe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari djadjawokannana kijeu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poen kawoeng kengkeng kawoeng bingkeng diteunggoer koe boedak kereng pakěrěng-kěrěng doek tjereleng-doek tjereleng-doek tjereleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakarak eta leungeun kawoeng dipeupeuhan /ditinggar/ koe paninggoer, naon baé kaina mah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari geus anggeus dipeupeuh toeloej dipaoet eta leungeun kawoeng bari diajoenkeun tiloe kali, kijeu djangjawokannana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itoe laoet ijeu dano. Tiloe kaliannana ngajoenkeun. Geus kitoe toeloej ditinggalkeun deui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari geus meunang tiloe Senen ditéang deui, toeloej dihajar dipotong leungeunna koe gobang /bedog/ anoe seukeut toeloej dipokok, diboengkoes koe daoen tjariang di djerona dieusian koe palapah salémpak beunang ngabebek. Geus kitu ditinggalkeun deui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ti dinja oenggal isoek soré ditéang sarta dikeureutan oenggal-oenggal néang dioelasyan koe palapah solempat noe beunang ngabebek téa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamoen geus tjaian/lahangan kakara disadap/ditandean koe lodong awi/lamoen teu tjaian di djero dalapan powé dipitjeun baé. Ari lodongna noe dipake nandean di djerona make laroe koelit sjajoer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari néangna sapowe sakali oenggal wantji tengah powé.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lodongna henteu dibawa, dieurihkeun baé kana kemploeng /lodong pondok/ anoe geus dibakoekeun geusan neang eta sadapan wajoe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebah dinja eta lahang dingarannan wajoe, nja eta lahang noe geus semoe haseum, woengkoel inoemeun, oerang Kanekes Kadjerowan [Badoej Djero] hanteu kongan ngagoela, sabab boejoet/ tjadoe/.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Di Kanekes kaloewaran meunang ngagoela atoerannana ninggoer atawa magas saroewa baé djeung noe geus kaseboet di no. 1 ngan ngalana lahang 2 kali, nja éta isoek-isoek djeung soré, sarta lodongna diganti-ganti tapi dina 3-4 kali ngala eta lahang tara ditaheur diinoeman bae karana tatjan réa lahangna sarta lodongna henteu dipoepoet. Di mana geus djoeoeh lahangna toeloej lodongna dipoepoet heula atawa dikoengkoerahan koe tjipanas djeung makae laroe daoen moro beunang ngagélang saban isoek-soré eta lahang djeung lodongna dibawa ka imah toeloej ditjitjikeun kana kekentjeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangnaheuran dina liang hama toeloej diseuneuan. Ari lodongna toeloej dikoengkoerahan koe tjai. Sanggeus bersih toeloej dipoepoet atawa dikoengkoerahan koe tjipanas di mana rek dipake nandean deui lahang djadi sateroesna kitoe baé.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari moepoetna lodong koedoe tepi ka haneut sarta bidjil kesangna oepama koe tjai panas mah soepaja lantis baé dikoengkoerahannana, djadi dina hidji leungeun kawoeng sakoerang-kaoerangna koedoe aja 2 lodong awi baris baganti nandéan sore isoek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari lilana dina hidji leungeun Djeunah anoe hade disadapna nepi ka saboelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anoe goréng mah ngan oekoer 8 powe geus saat. Kitoe deui lahangna dina saban-saban powé hanteu angger reana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djadina goela dina hidji leungeun Djeunah noe hadé ngan meunang 60 hoeloe gedé /120 batok/, dikira saroewa djeung 120 hoeloe noe biasa di sedjen desya, sabab di Kanekes kaitoeng kawoeng dina leuweung sarta henteu dipiara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djadi kawoengna hapa. Ana kawoengna goréng mah ngan oekoer meunang 10 hoeloe / 20 batok/.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kanekes tara njadap tjoeroeloek sabab langka anoe djoeoeh tjaina – di mana geus njadap Djeunah, ngadago bidjilna leungeun Béngkél baé di mana leungeun Béngkél geus sěděng disadap toeloey njadap leungeun Béngkél baé atoeran migawéna atawa magasna saroewa baé djeung migawé leungeun Djeunah. Tapi tjaiannana dina hade ogé ngan oekoer 8 powé. Ari dina goréng mah ngan 2-3 powé baé.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djadina goela dinoe hadé hidji leungeun Béngkél ngan meunang 20 hoeloe, (40 batok), ari dinoe goréng mah 4-5 hoeloe baé.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djadi beubeunangannana dina hidji tangkal kawoeng diitoeng rata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. tina Djeunah 35 hoeloe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. tina Bengkel 12½ hoeloe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djoemblah 47½ hoeloe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hargana salawasna tetep dina sahoeloe doewa doewit, sabab goelana hideung sarta kotor, djadi dina hidji tangkal kawoeng ngan meunang 47½ hoeloe [95 batok].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hargana 95 doewit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari atoeran noeroenkeun lodong tina loehoer kawoeng salawasna disorendang baé kana taktak toeloej dibawa ka imah lahangna ditaheur dina kekentjeng [katil] oepama lahangna geus ngagolak bidjil boedak diseboetna roewab kembang /boedak bohong/.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari geus bidjil boedah anoe bodas semoe lemes diseboet goemaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari geus beukah boeboerijalan diseboetna tjatjaahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari geus pepeletoesyan sarta ana disioek-sioek semoe ngenja diseboetna roemamat, toeloej dipépés koe moentjang. Oepama teu aja moentjang koe geutah hambérang di mana geus saloehoer toeroet sisina toeloej didjait dikotjek ari geus srék-srékan toehoer toeloej dibatokan [ditjitak] kana batok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari oemoerna kamoengkinan entas disadap nepi ka paéh gantjangna sataoen, elatna sataoen satengah sabab lamoen eta tangkal kawoeng dina tempat tedoeh eta rada lila oemoerna nja eta tepi ka sataoen satengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajeuna njaritakeun tangkal kawoeng sakabéh ogé aja gawena (hasilna) tapi di dijeu Kanekes tina tempat leuweung réa kai djeung tara oedoer (?) anoe sok diala ngan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;no.1. Indjoekna dipake woewoeng djeung rangkep hateup imah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. haténa didjieun sagoe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. hoemboetna ditareda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. daoenna didjijeun tjajoet, nadah heutjak paré.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. njéréna didjijeun boeboe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diparijos koe poen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wedana distric Lebak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/… / Atmakoesoema&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-7360474786056651448?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/7360474786056651448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/03/naskah-kertas-eropa-berukuran-215-x-33.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7360474786056651448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7360474786056651448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/03/naskah-kertas-eropa-berukuran-215-x-33.html' title='SD 99 - Babad Kawung Baduy'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-5267093412885684164</id><published>2011-03-30T00:28:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T22:09:25.938-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Klasik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katalog'/><title type='text'>SD 7 - Wawacan Papatah Pranatana ka Carogé</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Naskah kertas Eropa, 16 x 20 cm, 25 halaman, 6-13 baris/halaman; aksara Pégon, bahasa Sunda dan Melayu. Penomoran halaman angka Arab, menggunakan pensil.&lt;br /&gt;Cap Kertas: Lion in Medallion dengan tulisan CONCORDIA PESPARVAE CRESCUNT&lt;br /&gt;Titimangsa: Sabtu, 20 Siam/ Agustus 1882.&lt;br /&gt;Pemilik naskah: Muhammad Ilyas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;ISI TEKS: Nasihat Sunan Solo kepada kaum wanita dalam memilih jodoh.&lt;br /&gt;File digital tersedia di &lt;a href="http://opac.pnri.go.id/UploadedFile/SD007.pdf"&gt;http://opac.pnri.go.id/UploadedFile/SD007.pdf&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-5267093412885684164?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/5267093412885684164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/03/sd-7-wawacan-papatah-pranatana-ka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/5267093412885684164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/5267093412885684164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/03/sd-7-wawacan-papatah-pranatana-ka.html' title='SD 7 - Wawacan Papatah Pranatana ka Carogé'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-1638577397093036802</id><published>2011-03-30T00:17:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T22:21:33.916-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Klasik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katalog'/><title type='text'>SD 04 - Wawacan Amongsari - Lembusari</title><content type='html'>Naskah kertas Eropa, 21 x 32,2 cm, 109 hlm., 20-22 baris. Aksara Pegon, Bahasa Sunda&lt;br /&gt;. Tahun penulisan 17 Mulud 1889. Penomoran halaman menggunakan angka Arab. Bentuk Puisi (tembang). Kondisi naskah kokoh, lengkap, bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI TEKS: Cerita mengenai persahabatan antara anak harimau dan anak sapi. Mereka kemudian menjelma menjadi manusia serta mengikuti sayembara. Mereka kemudian menjadi raja.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-1638577397093036802?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/1638577397093036802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/03/sd-04-wawacan-amongsari-lembusari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1638577397093036802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1638577397093036802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/03/sd-04-wawacan-amongsari-lembusari.html' title='SD 04 - Wawacan Amongsari - Lembusari'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-1081131517807730211</id><published>2011-03-13T19:46:00.000-07:00</published><updated>2011-03-30T21:37:36.459-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Indonesia'/><title type='text'>Naskah-naskah Islam Sunda Kuna</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-eKEYmrIQ6DY/TZQFCIrg7LI/AAAAAAAAAL4/_iRyrpigsu4/s1600/daluang.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-eKEYmrIQ6DY/TZQFCIrg7LI/AAAAAAAAAL4/_iRyrpigsu4/s200/daluang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5590098571721501874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam periodisasi sejarah kebudayaan Sunda, masa-masa peralihan selalu menampilkan sisi menarik untuk dikaji lebih jauh. Tengok saja, misalnya, studi Mikihiro Moriyama tentang perubahan konfigurasi tulisan dari budaya naskah (manuskrip) ke budaya cetak di Tatar Sunda pada abad ke-19. Dalam hasil kajiannya itu dapat diperoleh gambaran bahwa pada periode tersebut terjadi ketegangan, tarik-menarik kepentingan, antara yang lama dan yang baru. Fenomena menarik misalnya ketika kegiatan membaca dengan didaraskan yang populer di Tatar Sunda waktu itu perlahan digantikan oleh kegiatan membaca dalam hati. Atau pengarang teks yang sebelumnya ‘malu-malu’ menunjukkan dirinya di era manuskrip, mulai menorehkan identitasnya yang jelas di sampul buku. Dengan kata lain, aktifitas sosial digantikan oleh aktifitas individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula halnya jika kita melihat dinamika perubahan yang terjadi pada masa yang jauh lebih lampau, ketika pengaruh Islam pertama kali masuk ke Tatar Sunda menggantikan, di sisi lain meneruskan, tradisi Hindu-Budha yang sebelumnya telah mengakar kuat di Tatar Sunda. Tradisi yang penulis maksud adalah tradisi menulis (menyalin) naskah di kabuyutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengkajian-pengkajian mutakhir atas naskah Sunda Kuna yang ditulis diatas daun dan daluang, mulai mengungkapkan informasi bahwa naskah-naskah itu tidak hanya berisi ajaran agama yang dianut masyarakat Sunda Pra-Islam (sinkretisme Pribumi-Hindu-Budha), tetapi juga berisi teks-teks Keislaman dari masa peralihan. Secara paleografis cirinya menyolok: aksara yang digunakannya bukan aksara Arab atau Arab Pégon, melainkan aksara Sunda Kuna. Ciri yang hampir sama juga terjadi di Merapi-Merbabu yang memiliki khazanah naskah keislaman yang cukup kaya. Di wilayah tersebut naskah Islam ditulis diatas lontar dengan menggunakan aksara Buda (Setyawati dkk., 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Naskah-naskah Islam Sunda Kuna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari puluhan naskah Sunda Kuna yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI (PNRI), terdapat beberapa di antaranya berisi teks-teks keislaman yang, meski jumlahnya tidak banyak, penting untuk dikaji. Teks “Carita Waruga Guru” (CWG) yang diumumkan oleh C.M. Pleyte (1913) adalah salah satu contohnya. Dalam sejumlah detail, kita menemukan istilah Arab yang mulai memperkaya bahasa Sunda Kuna dalam teks, seperti istilah kitab yang menggantikan istilah apus atau pustaka dalam naskah-naskah sebelumnya. Atau istilah-istilah Arab yang bertalian dengan konsep keislaman yang kuat seperti gaib (mungkin mengganti niskala?), Jamalullah (ungkapan atas sifat-sifat Allah Yang Agung serta nama-nama-Nya yang erat akan keindahan), dan Jabalkap (Gunung Kaf).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dipastikan bahwa penulis teks CWG beragama Islam, serta memahami tauhid dengan baik. Hal ini terlihat jelas ketika pengarang menggambarkan manusia di Nusa Jawa yang menyembah gunung dan menjadikannya tempat pemujaan “Mangka urang Nusa Jawa pada su(ju)d ka gunung antég dijieun pamujaan. Mangka katingallan ku malékat yén ruksak umatna kabéh sujud ka kayu ka batu, mangka dipanah ku gugutuk batu.” (Lalu orang Nusa Jawa semua sujud kepada gunung, dijadikan pemujaan. Lalu terlihat oleh malaikat (yang menganggap) bahwa akan rusak semua umatnya karena sujud kepada batu, lalu dipanahlah oleh bebatuan). Dari batu-batu yang berserakan itulah, dalam pandangan pengarang, kabuyutan tercipta. Pengarang seolah-olah ingin menegaskan bahwa batu-batu (situs) yang terdapat di gunung adalah anak panah berupa batu yang dihujamkan Malaikat (baca: Islam) yang marah dengan kebiasaan masyarakat Nusa Jawa yang musyrik. Dengan menciptakan mitos ini, secara tersirat, kabuyutan telah dilegitimasi oleh Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya Tauhid, Syare’at pun rupanya telah dipahami oleh masyarakat Sunda Kuna. Hal itu tampak pada salah satu teks dari kropak 421 (Undang A. Darsa &amp;amp; Edi S. Ekadjati, 2004) yang berisi bacaan sholat, dengan keunikan transkipsi dari bahasa Arab ke dalam aksara Sunda Kuna. Umpamanya kata Arab walhamdulillah ditulis walkamdu lilahhi, attahiyat menjadi atasiyat, dll. Teks yang berisi bacaan shalat ini didasarkan pada risalah Kangjeng Pangeran Sumanagara. Melihat kentalnya pengaruh bahasa Jawa (baru) pada teks ini, agaknya Pangeran Sumanagara adalah seorang penyebar Islam di Tatar Sunda ketika Mataram menguasai Priangan. Uniknya lagi, teks ini diawali dengan dua kalimat syahadat. Mungkin teks ini merupakan teks tertua di Jawa Barat yang menuliskan dua kalimat syahadat dan bacaan shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kropak 413 dan 414 yang berjudul “Pakéling dan mantra” pun diterangkan tentang bab fiqih, termasuk iman dan amal, bab halal dan haram, makruh, sunat dan wenang. Teks ini berisi peringatan kepada manusia yang hendak menjalankan daulat Allah. Menariknya, teksnya sendiri ditulis dalam bentuk puisi yang terdiri dari delapan suku kata, meneruskan tradisi lisan pantun Sunda yang telah berakar jauh sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Islam dan Kabuyutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah dikemukakan, teks-teks yang terselamatkan dan dapat sampai kepada kita saat ini pada umumnya berasal dari sebuah kabuyutan di Tatar Sunda. Untunglah ada kabuyutan Ciburuy yang masih menyimpan naskah peninggalan karuhun. Walaupun ahli warisnya tidak dapat membacanya, tetapi naskahnya dapat terawat melalui ritual pada bulan Maulud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa dahulu, kabuyutan memiliki seorang sarjana yang cukup dikenal sebagai penyalin produktif teks-teks Sunda Kuna. Ia bernama Kai Raga. Bukan hanya teks-teks bernafaskan Hindu Budha saja yang ditulisnya, teks keislaman pun ditulisnya. “Tapel Adam”, teks yang mengisahkan kejadian terciptanya alam dunia dan nabi Adam (Naskah KBG 75 koleksi PNRI) adalah goresan dari peso pangot-nya. Hal ini menimbulkan beberapa kemungkinan. Pertama, Kai Raga berpindah agama menjadi Islam. Kedua, Kai Raga hanya bertugas menyalin naskah-naskah dari sumber yang lain, baik naskah Pra-Islam maupun Islam. Ketiga, nama-nama Kai Raga itu hanyalah istilah untuk juru tulis, yang boleh jadi merupakan orang yang berbeda. Tetapi kemungkinan itu hanya melahirkan hipotesis belaka. Satu yang pasti, Kai Raga dari Gunung Cikuray membuka dirinya untuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa kabuyutan pada masanya tidak hanya difungsikan sebagai sarana pendidikan agama jaman Pra-Islam. Lebih dari itu, kabuyutan menjadi lembaga akademis sekaligus skriptorium yang mampu ngigelan jaman, tidak menutup dirinya pada anasir baru yang datang dari luar, terutama Islam. Para sarjana kabuyutan seperti Kai Raga giat menulis dan menyalin naskah, serta mempelajari segala pengetahuan – termasuk Islam – yang tertera di atas daun lontar, gebang, dan kertas daluang itu. Hal ini setidaknya terjadi sampai Netscher, pada tahun 1853 memberitakan bahwa tradisi ini tidak lagi hidup di masyarakat, dan ketika ditemukan, tidak ada seorang pun yang dapat membacanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dimuat dalam TRIBUN JABAR, Sabtu, 12 Maret 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis, Filolog Naskah Sunda di Perpustakaan Nasional RI&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-1081131517807730211?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/1081131517807730211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/03/naskah-naskah-islam-sunda-kuna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1081131517807730211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1081131517807730211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/03/naskah-naskah-islam-sunda-kuna.html' title='Naskah-naskah Islam Sunda Kuna'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-eKEYmrIQ6DY/TZQFCIrg7LI/AAAAAAAAAL4/_iRyrpigsu4/s72-c/daluang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-4581645718141551179</id><published>2011-03-02T23:57:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:20:29.155-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sasana Maha Guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Bagian 9 - Caturupaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://blog.smpn2semarapura.sch.id/wp-content/uploads/2010/02/sembah11.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 98px; height: 131px;" src="http://blog.smpn2semarapura.sch.id/wp-content/uploads/2010/02/sembah11.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Caturupaya hartina opat tarékah atawa opat usaha pikeun ngahontal tujuan. Tujuan nu rék dihontalna taya lian pikeun jadi manusa nu sampurna ngajalankeun tugasna di alam dunya. Pedaran ngeunaan caturupaya téh dimimitian ku siloka nu diwangun ku dua padalisan. Dina sapadalisanna ngandung dua kalimah nu ditandaan ku ayana tanda baca (fungtuasi) dina naskahna. Sanajan dina pedaranna mah aya dalapan istilah nu ditétélakeun, tapi bawirasa nu dimaksud ku istilah ‘catur’ (opat) nya dumasar kana jumlah kalimah nu aya dina siloka éta, nyaéta (1) alékiem sitem getem, (2) jrebanem kadaranem, (3) sudem palaharasiem, jeung (4) nakabatéh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;Aya sawatara nu perlu dicatet tina istilah-istilah Sansekerta nu ditataan di luhur téh,&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;alékiem téh tina basa Sansekerta ālekhana nu hartina ‘gambaran, lukisan’ (Z 24). Harti ieu téh luyu jeung pedaran dina téks nyaéta henteu hadé murid nu hayang séwaka darma nyokér taneuh, nulis-nulis padung, jeung panglungguhan saré.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sitem tina sita ‘bodas?’ (Z 1105). Ma’nana henteu jelas, ningali konteksna naha nu dimaksud téh huntu anu bodas? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;getem tangtu tina gīta (Skt) ‘nyanyian, lalaguan’ (Z 300), nu matak narik téh dina bagian ieu disebutkeun kecap ngawih jeung ngidung. Naha ngawih jeung ngidung nu dimaksud téh ngandung harti lalaguan sacara umum, atawa ngandung harti téknis, saperti aturan wirahma (métrum), jsté? Pedaran nu leuwih jéntré kungsi dimuat dina Cupumanik No. 79 kaca 25-29.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;jrebanem tina Skt jrmbana ‘heuay?’ tapi dina konteks ieu mah patali jeung kaayaan beuteung. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;kadaranem tina Skt dharana ‘kasangsaraan’, luyu jeung pedaran yén jalma téh teu meunang humaregung ogoan, némbongkeun katuna jeung kasangsaraan dirina.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sudem tina sudha ‘suci, beresih’, maksudna kaayaan haté jeung pikiran kudu diusahakeun beresih, teu meunang api-api, beungeut nyanghareup ati mungkir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;palaharasiem tina Skt phalāhāra (Z 736) ‘ngadahar bungbuahan’, dumasar konteksna mah jigana nu dimaksud téh dahar saperluna, jeung nu didahar nyaéta naon anu jadi hakna,  lain ngadahar hakna batur. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;nakabatéh ma’nana teu jelas, tapi tina pedaranna mah nuduhkeun paripolah teu sopan ka nu jadi guru. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Téks&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nihan sinangguh caturupaya ngaranya. Artanya nihan: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Alékiem sitem getem, jrebanem kadaranem,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;sudem palaharasiem, nakabatéh guru mwatéh.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;/siloka 4/&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ka:&lt;b&gt; &lt;/b&gt;alékiem&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; ngaranya, hanteu ngeunah urang ñwakér taneuh, nulis-nulis padung, panglungguhan saré di hareupeun sang guru. Sitem&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ngaranya, hanteu ngeunah sumeuri sumarembah di hareupeun sang guru sañarah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ñiar&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;" lang="IN"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; pikaulinan[na]eun di sang pandita, di nu réya. Getem ngaranya, hanteu ngidung ngawih, humaleuang, mangka nguni mikwanwakeun manéh bisa, preña wijaksana, di nu réya. Jrebanem&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;" lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; ngaranya, hanteu&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;" lang="IN"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ngeunah mikwanwakeun manéh hanaang poño, ageus ma weureu seubeuh, di hareupeun sang pandita, mang&lt;b&gt;/9r/&lt;/b&gt;ka nguni di nu réya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kadaranem ngaranya, hanteu ngeunah&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;" lang="IN"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; urang ngwagan humanderu, mangka nguni kumuliat, di hareupeun nu réya. Sudem ngaranya, hanteu ngeunah hura-hura, bwabwahwangan, na geui(ng) lémék. Palaharasiem ngaranya, hanteu ngeunah bwagwah mupulihkeun bwabwagaan sakalih. Nakabatéh ngaranya, hanteu ngeunah rumagwadéh, na geui(ng) lémék, di hareupeun Sang Pandita. Nihan sinangguh catur-upaya ngaranya, kayatna-yatna sang séwaka darma&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;, haywa pinintuhu! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tarjamahan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nya ieu nu disebut &lt;i style=""&gt;catur upaya &lt;/i&gt;(opat usaha) téh. Ieu hartina:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Alékiem sitem getem, jrebanem kadaranem,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;sudem palaharasiem, nakabatéh guru mwatéh.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;/siloka 4/&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Maksudna: nu disebut &lt;i style=""&gt;alékiem &lt;/i&gt;téh, henteu hadé nyokér-nyoér taneuh, nulisan padung, jeung pangsaréan hareupeun guru. Sitem kasebutna, henteu hadé sura-seuri sabot ngahaturkeun sembah hareupeun Sang Guru sumawonna ngaheureuykeun ka Sang Pandita, (atawa) di hareupeun jalma réa. &lt;i style=""&gt;Getem &lt;/i&gt;ngaranna, henteu ngidung, ngawih, ngahaleuang, sumawonna akon-akon manéh bisa, adil wijaksana hareupeun jalma réa. &lt;i style=""&gt;Jrebanem &lt;/i&gt;ngaranna, henteu hadé bébéja yén dirina hanaang tur lapar, padahal mah geus weureu seubeuh hareupeun sang Pandita, komo deui hareupeun jalma réa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kadaranem &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;ngaranna, henteu hadé urang jejeritan ogoan, atawa nguliat di hareupeun jalma réa. &lt;i style=""&gt;Sudem &lt;/i&gt;ngaranna, henteu hadé hirup hura-hura, pura-pura, dina pikiran jeung ucapan. &lt;i style=""&gt;Palaharasiem &lt;/i&gt;ngaranna, henteu hadé resep ngaku-ngaku kana barang batur. &lt;i style=""&gt;Nakabatéh &lt;/i&gt;ngaranna, henteu hadé &lt;i style=""&gt;rumagodéh&lt;/i&gt; dina rasa jeung caritaan hareupeun sang Pandita. Ieu satemenna nu disebt &lt;i style=""&gt;catur upaya &lt;/i&gt;téh. Perhatikeun sang séwaka darma, ulah diturut (hal nu kitu téh)!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kabeungharan Kecap&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;caturupaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Skt ‘opat usaha id. JwK, teu kapaluruh dina SdM.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;sañarah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘sumawonna, kitu ogé’. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;ñiar pikaulinaneun &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘ngaheureuykeun’. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;ngidung&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; ‘ngalagukeun kidung, ngidung’&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;, tina &lt;i&gt;kidung.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;ngawih&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; ‘ngalagukeun kawih, ngawih’&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;, tina &lt;i&gt;kawih.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;humaleuang &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘ngahaleuang’, kecap asalna &lt;i style=""&gt;haleuang&lt;/i&gt; nu masih dipikawanoh dina SdM, tapi rarangkén tengah –um- dina kecap haleuang teu ilahar dina SdM. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;mikwanwakeun manéh &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;‘ngomongkeun y&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;é&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;n dirina sorangan …, abong-abong’.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;preña &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;tina &lt;i&gt;prana &lt;/i&gt;(Skt) ‘haté, jiwa’ (Z 844) – wijaksana ‘jiwa nu wijaksana’.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;hanaang &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;‘haus’ = SdM, dina SdK sok disandingkeun jeung &lt;i style=""&gt;ponyo.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;poño&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;‘lapar’, dina SdM ngalaman parobahan ma’na jadi ‘segut’, sabalikna tina caman-cémén dina dahar.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;ageus ma &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘padahal’&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;ngwagan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘ogoan, rungsing?’ tarjamahan dumasar kontéks, naha aya patalina jeung &lt;i style=""&gt;ogoan &lt;/i&gt;dina SdM? Tina teks Sunda Kuna nu lian ngandung harti ogé ‘ngondang’ nu sarua jeung dina SdM. &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;humanderu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;tina handeru&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; ‘ngajerit, ngagoak’ band. SdM &lt;i&gt;handaru&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;kumuliat &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘nguliat’ tina &lt;i style=""&gt;kuliat&lt;/i&gt;, dina SdM mah kuliat nu dirarangkén-tengahan &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;-um- &lt;/i&gt;téh teu ilahar. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;hura-hura &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘roroyalan, ngahambur-hambur harta’ id. SdM, band. Mal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;bwabwahwangan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘api-api, pura-pura’&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;geuing &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘rasa, nafsu’&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;lémék &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘omongan, ucapan’ id. SdM.&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;mupulihkeun &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘ngomongkeun, ngaku-ngaku’ ma’na nu sarua dina SdM ukur dina wangun rajékan &lt;i style=""&gt;pupulih &lt;/i&gt;‘bébéja’&lt;i style=""&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;bwabwagaan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘barang nu dipimilik’ id. SdM,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;sakalih &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;‘jalma lian, batur’ &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;rumagwadéh &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;ma’nana teu kapaluruh. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;haywa &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;kecap panyarék ‘ulah, entong’ dina SdM aya parobahan harti ‘omat, kahadé’? (D 252) dipikawanoh ogé rundayan &lt;i style=""&gt;humayua &lt;/i&gt;‘matak cua’&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;pinintuhu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;kecap pagawéan pasif,&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;tina pi - + &lt;i style=""&gt;tuhu &lt;/i&gt;+ -in- ‘diturutan’, JwK ‘id.’&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                                                &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-indent: -1cm;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Katerangan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;JwK = basa Jawa Kuna; SdM = basa Sunda Modéren; SdK = basa Sunda Kuna; Skt = basa Sansekerta; Z: Zoetmulder (Kamus Jawa Kuna-Indonesia, 2006).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Hanca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:12pt;"&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;" width="33%" size="1"&gt;    &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:8pt;" lang="IN"&gt; Nskh: &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;atékyem,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; teks dibenerkeun dumasar siloka 4. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:8pt;" lang="IN"&gt; Nskh: sudem&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:8pt;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:8pt;" lang="IN"&gt; Nskh: ñŷir&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:8pt;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:8pt;" lang="IN"&gt; Nskh: &lt;span style=""&gt;jrabanem, disunting berdasarkan siloka 5.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:8pt;" lang="IN"&gt; Nskh: hanta&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:8pt;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4581645718141551179#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:8pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:8pt;" lang="IN"&gt; Nskh: nginah&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:8pt;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-4581645718141551179?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/4581645718141551179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/03/bagian-9-caturupaya_02.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4581645718141551179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4581645718141551179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/03/bagian-9-caturupaya_02.html' title='Bagian 9 - Caturupaya'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-1901751891839882914</id><published>2011-02-17T22:03:00.000-08:00</published><updated>2011-02-17T22:08:40.857-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kliping'/><title type='text'>Penelitian Mutakhir Naskah Sunda Kuna</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-G6MxCZVtdOc/TV4M4RcX19I/AAAAAAAAALw/QW3MCl60sTU/s1600/small.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-G6MxCZVtdOc/TV4M4RcX19I/AAAAAAAAALw/QW3MCl60sTU/s200/small.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574907549625866194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh. ATEP KURNIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa naskah Sunda kuna (NSK)yang “hadir” belum lama ini. Tentu saja, “hadir” di sini maksudnya dihadirkan karena telah dan sedang diteliti dari sisi filologi, ilmu yang memang bergerak di bidang transliterasi, transkripsi, rekonstruksi, translasi dan interpretasi naskah kuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Paling tidak ada 13 NSK yang diteliti. Naskah yang dimaksud sebagai berikut: Carita Raden Jayakeuling (CRJ, L 407), Kaleupasan (K, L 426 B), Sanghyang Jati Maha Pitutur (SJMP, L 426 C), Kala Purbaka (KP, L 506), Sanghyang Sasana Maha Guru (SSMG, L621), Warugan Lemah (WL, L 622), Bimaswarga (B, L 623), Sanghyang Swawar Cinta (SWC, L 626), Kisah Putra Rama dan Rawana (KPRR), dan empat versi naskah Sewaka Darma.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;Dari sisi peneliti naskah, paling tidak dapat digolongkan menjadi dua golongan. Pertama, datang dari kalangan staf Perpustakaan Nasional RI, yakni Aditia Gunawan. Peneliti muda ini meneliti SSMG, KP, SJMP, K, WL, dan SSC. Dari jumlah tersebut yang telah dipublikasikan baru dua, yakni yang dibukukan menjadi Sanghyang Sasana Maha Guru dan Kala Purbaka: Suntingan dan Terjemahan (2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara yang kedua berasal dari kalangan akademisi, baik mahasiswa maupun dosen yang tengah menyelesaikan studi lanjutannya. Dari kelompok ini tercatat Undang A. Darsa (pengajar di Unpad), Mamat Ruhimat (pengajar di Unpad), Rahmat (pengajar di Unpad), dan Reza Saeful Rachman (mahasiswa UPI Bandung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari sisi bahan ada yang menarik kita perhatikan. Dari ke-13 NSK, ada dua di antaranya yang ditulis di atas bilah bambu. Keduanya, SJMP dan K. Penggarapan NSK bilah bambu ini merupakan kali pertama yang dilakukan oleh peneliti, karena sebelumnya yang banyak diteliti adalah naskah-naskah yang berbahan tulis lontar dan nipah.&lt;br /&gt; Sedangkan dari asal usulnya pun tidak jauh berbeda dengan yang telah dilakukan pada penelitian-penelitian NSK sebelumnya: kebanyakannya berasal dari koleksi Perpustakaan Nasional dan Kabuyutan Ciburuy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah-naskah dari Perpusnas adalah SSMG, KP, SJMP, K, B, WL, CRJ, dan satu versi Sewaka Darma (L 408) yang pernah diteliti sebelumnya. Sementara dari Kabuyutan Ciburuy, adalah KPRR dan tiga versi naskah Sewaka Darma yang dua di antaranya telah ditranskripsi oleh Partini dan Edi S. Ekadjati (1988).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari sisi isinya memang mengetengahkan keragaman, meskipun kebanyakannya disemangati oleh suasana keagamaan baik agama Hindu-Budha maupun agama wiwitan. Dari ke-13 naskah tersebut, di antaranya ada naskah yang berkaitan dengan kosmologi (KP), pantun Sunda (CRJ), rajah pantun (SSWC), dan topografi (WL).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Naskah KPRR yang mula-mula dianggap uniqum (tidak ada salinannya) pada penelitian J. Noorduyn dan A. Teeuw (2006), ternyata satu versi lagi ditemukan tercecer di tiga kropak NSK yang ada di Kabuyutan Ciburuy. Naskah ini kini ditangani oleh Mamat Ruhimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain itu, yang layak juga dicatat adalah SSMG. Dari naskah berisi etika para pengabdi hukum (sang sewakadarma) yang diformulasikan dalam bentuk numerik dan dibagi menjadi 46 bagian ini, kita diperkaya dengan khazanah pengetahuan literasi yang dulu hadir di kalangan orang Sunda, khususnya di kalangan para resi, biku, atau pendeta sebagai pembaca dan penyalin naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pengetahuan tersebut berkaitan dengan penyebutan Dewa Gana yang dipercayai sebagai prima causa tulisan. Dewa inilah yang dipercayai melahirkan lontar dan gebang sebagai bahan tulis. Selain itu, juga disebut-sebut dewa ini pun melahirkan tangan, air, kuas, dan tinta atau disatukan dengan istilah Asta Gangga Wira Tanu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Demikian pula penyebutan 10 media tulis, yakni emas, perak, tembaga, baja, besi, batu, papasan kayu, bilah bambu, daun lontar, dan daun gebang, berikut pembagian pihak yang berhak menggunakan medianya. Ke-10 media tersebut diistilahkan sebagai dasawredi (sepuluh tanda kemajuan). Hal tersebut, jelas, mengungkapkan bahwa di kalangan kaum agamawan-cendikiawan Sunda di masa lalu telah tumbuh kesadaran akan kekuatan yang ditimbulkan bacaan, oleh tulisan. Dengan kata lain, literasi memang memegang kekuatan sebagai pendorong kemajuan sebuah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Naskah WL pun menarik untuk disimak. Dengan permulaan, “Ini warugan lemah. Inge(t)keun di halana, di hayuna. Na pidayeuhheun, na pirembulleun, na piuballeun”, NSK ini mengungkap 16 karakteristik tanah yang akan dijadikan pemukiman, konsekuensi pememakaiannya, serta penolak balanya. Meski mirip primbon, NSK ini tapi sebenarnya membuktikan kearifan lokal orang Sunda tempo dulu ketika dihadapkan pada pemilihan tanah yang dinilai baik bagi pemukiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu contohnya, “lamunna témbong ka laut ma ngarana Tuyang Laya na dayeuh. Pamalina /2r/ paéh ku bajra dayeuhan dayeuh. Panyudana nyawung di tengah lemah poéna tupek kaliwon” (Bila menghadap ke laut, namanya Tuyang Laya. Akibatnya daerah tersebut akan hangus terkena petir. Penawarnya, membuat pondok di tengah tanah, harinya kliwon).&lt;br /&gt;  Naskah lainnya yang juga dapat memperkaya referensi kita atas sastra Sunda di masa lalu adalah CRJ. Berikut bagian awal NSK yang bernuansakan pantun Sunda yang berhasil dibaca dan ditransliterasi oleh Reza, “pineuh sareureuh neut hudang/dipeureumkeun ha(n)teu beunang/reuwas ku i(m)piyan/ai eta ngaranna/ carek di jeuro i(m)piyan/sada cucu midang bulan/sada careuh ngalaherang/sada walik dina nangsi/sada poneh di kiraway/sada cangcarang di rangrang/sada titiran disada/sada taliktikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sebenarnya, dari fakta-fakta di atas,  jelas penelitian NSK masih eksis hingga kini. Dari komposisi para penelitinya, saya kira, kita patut gembira dengan hadirnya para peneliti muda, yang diwakili Aditia, Reza, Rahmat, dan Mamat. Dengan demikian, baik disengaja atau tidak,  pewarisan literasi atas NSK kepada generasi muda telah berjalan. Juga menambah daftar orang yang literate di bidang NSK, yang sebelumnya dikhawatirkan tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain itu, yang tak kalah pentingnya, dengan terungkapnya kandungan NSK di atas mengisyaratkan urgennya upaya pembacaan, pengalih-aksaraan, dan penerjemahan NSK lainnya, mengingat jumlah NSK yang belum terungkap itu masih banyak yang belum tersentuh.&lt;br /&gt;Aditia (2009) mencatat 55 NSK yang ada di Perpusnas. Belum yang ada di kabuyutan, seperti Kabuyutan Ciburuy, Kabuyutan Jasinga, dan yang masih tersebar di masyarakat. Semuanya harus segera “diselamatkan” dan ditangani secara filologis, mengingat kondisi NSK yang kian rapuh dimakan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sebagaimana yang terungkap dari sebagian hasil penelitian-penelitian NSK di atas, ternyata sangat memperkaya pengetahuan kita pada kebudayaan Sunda di masa lalu. Dengan penanganan yang masif dan rinci atas NSK-NSK yang belum diteliti, bisa kita harapkan munculnya beragam pengetahuan baru dari perikehidupan orang Sunda di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan upaya demikian barangkali kita takkan kena kutuk sebagai generasi yang pareumeun obor. Tidak menjadi generasi yang membiarkan warisan budaya dibiarkan musnah dimangsa zaman. Karena warisan itu dapat dijadikan kekuatan berupa cerminan untuk menghadapi kehidupan masa kini dan membuat strategi untuk membaca masa yang akan datang.&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;*ATEP KURNIA, penulis lepas, bergiat di Pusat Studi Sunda (PSS), Rumah Baca Buku Sunda, dan Komunitas Sasaka UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-1901751891839882914?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/1901751891839882914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/penelitian-mutakhir-naskah-sunda-kuna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1901751891839882914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1901751891839882914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/penelitian-mutakhir-naskah-sunda-kuna.html' title='Penelitian Mutakhir Naskah Sunda Kuna'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-G6MxCZVtdOc/TV4M4RcX19I/AAAAAAAAALw/QW3MCl60sTU/s72-c/small.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-7370868383368064018</id><published>2011-02-17T21:34:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:22:22.788-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review Buku dan Penelitian'/><title type='text'>Cerita Dari Gedung Arca</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/181546_1800339924321_1114480586_32123446_7816066_a.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 180px; height: 273px;" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/181546_1800339924321_1114480586_32123446_7816066_a.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini saya beli dari Kantor Penerbit Komunitas Bambu yang terletak di Beji Timur, Depok. Tempatnya cukup ‘tersembunyi’, sehingga, menurut pegawainya, saya bukan orang yang pertama kali tersesat untuk sampai ke sana. Buku “Cerita dari Gedung Arca” ini ditulis oleh Wahyono Wartowikrido, pensiunan pegawai Museum Pusat dan diberi pengantar oleh S.J.H Damais, sahabatnya. Ketertarikan saya pada buku ini muncul setelah membaca bagian belakang sampul buku. Di situ terdapat catatan, bahwa istilah “gedung arca” adalah nama julukan Museum Nasional, Jakarta dan pernah populer tempo doeloe. Sebagai seorang pegawai perpustakaan, saya menganggap buku ini penting, karena bagaimanapun, koleksi yang kini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional tempat saya bekerja, dahulunya merupakan koleksi Perpustakaan Museum Pusat juga. Ternyata informasi yang ada dalam buku ini sangat berharga. Dengan gaya penulisannya yang segar, penulis merekam pengalamannya selama menjadi kurator di Museum Pusat Jakarta (kini Museum Nasional).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal menarik yang dapat diperoleh dengan membaca buku ini, terutama untuk pegawai perpustakaan nasional seperti saya. Ada cerita tentang Ibu Mastini, yang ketika itu menjadi pemimpin perpustakaan museum, sampai mengatakan “Kalau malu mengembalikan sendiri, kirimkan saja kepada kami tanpa membayar dendanya yang sudah bertumpuk-tumpuk, daripada orang lain tidak bisa ikut memanfaatkan isinya.” Hal itu dikatakannya akibat kesal dengan pengunjung – biasanya peminjamnya pun bukan orang sembarangan – yang tidak juga mengembalikan buku yang dipinjamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memperlihatkan keluasan sudut pandang penulis yang mampu merekam berbagai peristiwa di Museum, baik dari sudut pandang orang-orangnya maupun koleksinya. Ada kisah Ghazali, pegawai museum yang jujur dan memiliki pengetahuan luas tentang koleksinya. Muncul juga sosok Naiman, saksi sekaligus korban perampokan Museum yang pernah terjadi tahun 1963, yang meski tidak mengenyam pendidikan, tetapi sangat hapal tentang koleksi museum dan menjaganya mati-matian. Ironisnya, apa yang didapatkan Naiman tidak berbanding lurus dengan pengabdiannya. Ia menjadi sakit-sakitan akibat perampokan itu, dan tidak ada yang memperhatikan nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Dulloh sang pedagang barang antik juga tidak kalah serunya. Ia adalah penjual “berkala” barang antik untuk museum. Proses jual beli barang antik untuk museum kala itu berlangsung unik dan menarik. Meski setelah kemerdekaan barang-barang yang dijualnya lebih murah dibandingkan ketika dijualnya pada orang Belanda, tetapi selalu pada akhirnya ia rela menjual barang-barang antik yang didapatnya dari komplek Buni-Bekasi ke pihak museum. Melalui sosok-sosok yang ditampilkan dalam buku ini, sepertinya penulis sengaja ingin mengingatkan kembali nilai-nilai kejujuran, ketulusan, dan pengabdian, nilai-nilai yang mungkin selalu merah dalam rapot kita sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukunya tidak terlalu tebal, hanya memuat 161 halaman, berisi kumpulan artikel yang ditulis dengan gaya humanis, populer, dan enak dibaca. Beberapa tulisannya kebanyakan telah dimuat dalam majalah Intisari, antara tahun 1964 - 1975. Wahyono  Wartowikrido bekerja di Museum Nasional sejak tahun 1964-1998. Jabatan terakhirnya di Museum Nasional adalah Kepala Bidang Pembinaan Koleksi Sejarah dan Arkeologi. Dari tahun 2003 hingga sekarang beliau bekerja sebagai Kurator Museum Bank Indonesia. Buku ini menampilkan sisi-sisi humanis dari museum yang selama ini terkesan angker, sepi, dan kaku. Pokoknya, sangat disayangkan kalau kita tidak membaca buku ini, apalagi yang sekarang bekerja di museum dan perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aditia Gunawan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-7370868383368064018?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/7370868383368064018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/cerita-dari-gedung-arca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7370868383368064018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7370868383368064018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/cerita-dari-gedung-arca.html' title='Cerita Dari Gedung Arca'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-1647832473419270533</id><published>2011-02-17T00:16:00.001-08:00</published><updated>2011-12-22T22:09:51.563-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Urang Sunda Ngababakan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;Di Kanékés Kajeroan mah, taneuh téh teu meunang dilelemah. Upama taneuhna henteu rata, tihangna dijieun jangkung sabeulah. Jadi, tataban imah mah tetep rata. Enya, kapan ceuk urang Kanékés mah “Gunung teu beunang dilebur, lebak teu beunang diruksak, larangan teu meunang dirempak, buyut teu meunang dirobah, lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung”. Prinsip nu basajan tapi patri. Saayana. Teu maké rékayasa. Kumaha Gusti wé nu ngajadikeun alam. Alam jeung manusa minangka dadamelan Anjeunna mah, teu kedah seueur ceta, sumawonna nepi ka ngaruksak dadamelanna mah. Geuning dina Siksa Kandang Karesian (XIV) prinsip hirup manusa mah cukup ku: “héés tamba tu(n)duh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajo(ng)jonan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papagon kitu téh dicekel ku urang Sunda baheula, salasahijina dina raraga ngababakan muka pilembureun, sakumaha nyampak dina téks Warugan Lemah (naskah lontar koropak 622 koléksi Perpustakaan Nasional RI). Ceuk Agus, tokoh dina carpon Ahmad Bakri ‘Miceun Balas’ mah, sagala nu kumelip di alam dunya téh taya nu teu eusian, teu sabongbrong. Kitu jigana mah kaayaan lemah sakumaha nu nyampak dina téks Warugan Lemah ogé. Rupa-rupa waruga atawa dedegan lemah katut rupa-rupa mahala-mahayuna, dibéjérbéaskeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rupa-rupa Waruga Lemah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saupama taneuh téh bahé ka kénca (kalér), talaga hangsa disebutna. Nurub cupu. Taneuh lir talagana, imah lir soangna (hangsa). Merenah keur kuriak atawa ngababakan mah. Mawatna matak dipikanyaah batur cenah. Sarat pikeun nyampurnakeunna mah melak pacar baé di pasajén. Dumasar rékonstruksi Saleh Danasasmita suwargi mah, topografi taneuh Pakuan téh umumna bahé ngalér. Kitu deui upama urang ningali kampung-kampung di wewengkon Baduy. Sabab kalér téh dianggap profan, ari kidul dianggap sakral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamun taneuhna bahé ka tukang (kulon), banyu metu ngaranna. Kurang éndah perbawana, sabab sagala nu dipiasih hamo ngajadi. Panulakna mah teundeunan papatong di padaleman. Lamun taneuhna bahé ka hareup (wétan), ngaranna purba tapa, matak teu dipikaresep batur, mamalana. Sarat pikeun nyucikeunana mah, tawurkeun sirung lanten (awi leutik) waktu janari, rada karancang awurkeunana. Lemah nu bahé ka katuhu (kidul) disebut ambek pataka, mawatna réa nu nganyenyeri ati nu boga imah. Pikeun nyingkahanana, melak usar (akar wangi, Andropogon zizanioidesUrb) di pasajén.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu dianggap alus deui téh nyaéta lemah nu ngalingga manik. Jiga puncak manik meureun wangunna mah. Perbawana matak diperhatikeun ku déwata. Jigana mah taneuh modél kieu nu dipaké jadi tempat kaagamaan (kabuyutan) mangsa baheula téh. Bujangga Manik dina tungtung lalampahanana miharep nimu taneuh modél kieu pikeun tempat pangreureuhanna nu pamungkas ‘momogana téka waya, nemu lemah kabuyutan, na lemah ngalingga manik’ (muga baé bakal aya, nimu lemah kabuyutan, lemah nu ngalingga manik) (baris 1404-1406). Lemah anu motong pasir gé kaasup lemah nu alus, singha purusa disebutna. Teu weléh unggul dina juritan, perbawana. Boa topografi lemah modél kieu nu dijadikeun sarana pertahanan mangsa baheula téh. Tempat Sri Baduga Maharaja nyusuk (nyieun parit) di Pakuan pikeun ngajaga wilayah karajaanana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiji deui lemah nu dianggap alus téh nyaéta lemah nu datar. Disebutna sumara dadaya. Kiwari mah meureun disebut galudra ngupuk. Mawatna bakal kaanjangan ku kokolot lembur, ku rama ceuk basa Sunda buhun dina téks mah. Atuh ari kitu mah bisa disurahan, yén topografi lemah nu datar téh mangrupa lahan patempatan ajangkeuneun somah, rahayat biasa. Nu matak rama kersa lumungsur gé. Lemah datar biasana mah lega upluk aplak. Masarakat tumplek di dieu. Légégna mah, tingkat konséntrasi massa-na leuwih gedé.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajaba ti nu disebut di luhur mah, kaasup lemah nu kurang alus. Lemah nu dicapit ku walungan leutik béh kénca jeung walungan badag béh katuhu mah disebutna téh sri madayung. Teu hadé, matak dicandung ku wanoja. Wewengkon nu léngkob disebut luak maturun. Ulah dijieun pilemburan nu kieu mah, matak katalangsara padumukna. Wewengkon nu sumalipat (lemah gunting disebutna ayeuna mah), mamalana matak apes deuih, hésé boga banda pakaya. Lemah nu nyanghareup ka laut sarua jeung nu tunggang kana papatén, kana tempat pangeureunan, nu matak disebut tunggang laya. Mawatna picilakaeun, bisa kabéntar gelap éréng-éréngan. Urut kuburan ogé teu meunang dijieun pilemburan, mawa tiis, geueumeun, wewengkon jadi ilang dangiangna, nu matak disebutna gé mrega hiding (kidang nu teu bisa ingkah). Kitu deui lemah nu bungangang, matak taya aweuhan wewengkonna, disebutna jagal bahu. Wewengkon nu motong walungan gé teu hadé, bisi padumukna nemahan pati ku pakarang bangsa deungeun. Wewengkon modél kieu disebutna talaga kahudanan. Wewengkon nu nukangan gunung atawa pasir ogé matak cilaka, keunana ka kulawarga, matak burakrakan. Mun lemah katunjang ku cai, disebutna si bareubeu, keuna ku bebendon déwa, mamalana. Lamun lembur geus kakurung ku imah, ulah rék kuriak deuih, kuriak mawa balangsak, cenah mah padumukna bakal dijadikeun budak beulian. Nu pamungkas, wewengkon nu asalna pikarujiteun gé hadéna mah ulah dijieun lembur, bisi teu weléh meunang tunggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitu nu kaunggel dina téks Warugan Lemah téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Naskahna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Naskah WL téh kiwari diteundeun di Perpustakaan Nasional RI (PNRI), kalawan nomor koléksi L 622. Diteundeun dina peti nomor 88. Jumlah lambaranana ngan tilu lambar, opat jajar unggal lambaranana, turta ditulisna bolak-balik (recto-verso). Ukuran naskahna mah 28,5 x 2,8 cm. Téks WL ditulis dina wangun prosa.  Aksara nu digunakeun dina ieu naskah téh aksara Sunda buhun, nu wangunna sarupa jeung aksara nu digunakeun dina prasasti Kawali. Ciri mandiri nu ngabédakeun jeung naskah-naskah Sunda buhun nu séjén nyaéta lebah tanda payukuna (vokalisasi u). Dina naskah WL mah panyukuna téh ditulis ku tanda (.) di handapeun aksara ngalagena, lain ku tanda sisiku handapeun aksara ngalagena sakumaha nu ilahar dina téks-téks Sunda buhun nu lian. Ieu téh nimbulkeun pasualan dina macana, angot mun manggih lambaran naskah nu rada barolong mah. Basa nu digunakeunana basa Sunda buhun, sok sanajan aya sawatara istilah anu raket patalina jeung basa Jawa buhun atawa Sansekerta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah WL saméméhna can didéskripsikeun kalawan lengkep dina katalog-katalog nu geus terbit. Cohen Stuart (1872), kurator di lembaga Bataviaassch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen (BGKW) nu ngamimitian nyusun katalog naskah BGKW, teu ngadaptarkeun ieu naskah. Déskripsina ngan ngawengku naskah Sunda buhun ti Bupati R.A.A Kusumadiningrat baé, nyaéta koropak nomor 406 nepika nomor 426. Kitu ogé dina katalog yasana almarhum Pa Edi S. Ekadjati (1988), naskah WL téh teu kadaptarkeun. Jigana mah ieu naskah teu kadaptarkeun téh pédah diteundeunna dina peti nomor 88, nu papisah tina gundukan naskah Sunda buhun nu séjén (peti 15 dan 16). Nu ngadaptarkeun ieu naskah téh ukur Béhrend (ed.,1998). Hanjakalna, kateranganana téh kurang bisa dipiandel, sabab naskah nomor 622 peti 88 téh dijudulan ‘wariga’, turta ditulis ku aksara jeung basa Bali (Behrend, 1998: 383).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katarimana naskah jadi koléksi BGKW téh kira-kira taun 1875. Asalna ieu naskah téh ti Bupati Bandung Wiranatakusumah IV (1846-1874) (Krom, 1914: 41; NBG XIII, 1875). Dina éta laporan disebutkeun yén koropak no. 620 nepi ka no. 626 jeung koropak no. 633 nepi ka no. 642 téh paméré ti bupati Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina kolofon naskah, nu kaunggel téh ngan poé ditulis (disalin?) naskahna baé, nyaéta poé Rebo Manis (poé na buda na manis), teu diémbohan katerangan bulan jeung taun. Tapi ditilik eusina mah, karasa pisan suasana pra-Islamna téh. Gedé kamungkinan ieu naskah ditulis atawa disalin méméh abad ka-17, samalah bisa jadi méméh karajaan Pajajaran runtag (±1578 M). Ieu dugaan téh didadasaran ku euweuhna kecap nu bisa dirujuk kana basa Arab. Sajaba ti éta, eusi téks WL téh karasa kuat pisan anasir Hindu nu pacampur jeung agama pribumina, sakumaha nu nyampak dina mantra-mantra nu aya dina téks. Nepi ka kiwari can kapanggih salinanana ieu naskah téh. Boh salinan dina daun lontar, boh salinan-salinan hasil transliterasi sarjana Walanda. Saheulaanan bisa disebutkeun, yén naskah WL téh mangrupa naskah tunggal.&lt;br /&gt;Pun, leuwih luangan, kurang wuwuhan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dimuat dina Cupumanik Januari 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-1647832473419270533?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/1647832473419270533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/urang-sunda-ngababakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1647832473419270533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1647832473419270533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/urang-sunda-ngababakan.html' title='Urang Sunda Ngababakan'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-8759426585977662239</id><published>2011-02-13T23:36:00.001-08:00</published><updated>2011-12-22T22:17:43.923-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedi Naskah'/><title type='text'>Sajarah Bandung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teks cerita dan silsilah keluarga para bupati Bandung yang dikemukakan sejak Prabu Siliwangi hingga bupati Bandung Adipati Kusumadilaga yang hidup sezaman dengan pengarangnya serta cerita-cerita lain yang bertalian dengan kaum ménak Bandung. Dalam mengungkapkan silsilah itu diutarakan satu persatu bupati-bupati Bandung itu secara kronologis beserta isteri-isteri dan anak-anak mereka. Karangan ini terdapat dalam dua naskah (manuskrip) yaitu yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta (Koleksi Pleyte peti 121) dan di Leiden, Belanda (LOr. 6455), yang ditulis dengan memakai aksara Latin dan bahasa Sunda dalam bentuk prosa. Pengarangnya ada 4 orang, masing-masing mengerjakannya sebagian demi sebagian hingga selesai seluruhnya pada akhir abad ke-19. Pengarang terakhir bernama Raden Rangga Sastranagara (lahir di Bandung tahun 1824), seorang bangsawan dari Bandung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, Budaya (Termasuk Budaya Betawi dan Cirebon). 2000. Jakarta: Pustaka Jaya.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-8759426585977662239?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/8759426585977662239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/sajarah-bandung.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/8759426585977662239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/8759426585977662239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/sajarah-bandung.html' title='Sajarah Bandung'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-7424056201723585210</id><published>2011-02-10T23:16:00.000-08:00</published><updated>2011-02-10T23:24:49.923-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedi Naskah'/><title type='text'>Memed Sastrahadiprawira</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raden Memed Sastrahadiprawira. (Manonjaya, 18 Mar 1897 - Bandung, 5 Juli 1932) adalah orang Sunda pertama yang menyusun daftar naskah Sunda yang berada di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen (Masyarakat Batavia Pencinta Seni dan Ilmu Pengetahuan). Ia juga dikenal sebagai sasterawan Sunda. Bakat kepengarangannya terlihat sejak sekolah HIS di Ciamis (tamat 1913). Ketika masih bersekolah, konon ia senang bercerita di hadapan teman-temannya. Tamat dari Sakola Menak (OSVIA) di Bandung tahun 1919 ia diangkat menjadi Kandidat Ambtenar di Ciranjang, Cianjur, kemudian menjadi Mantri Polisi di Bandung (1922), dan tahun 1925 diangkat menjadi Camat di Bojongloa, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Y0Pfmep6ue0/TVTjuRqtSxI/AAAAAAAAALo/H_myXfPEhSg/s1600/Katalog%2BMemed.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 148px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Y0Pfmep6ue0/TVTjuRqtSxI/AAAAAAAAALo/H_myXfPEhSg/s200/Katalog%2BMemed.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5572329023120165650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalog Naskah Sunda Susunan Memed Sastrahadiprawira (1929)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walaupun menjadi pegawai pamongpraja, minat dan perhatiannya terhadap bahasa dan sastera Sunda sangat besar. Ia aktip mengadakan ceramah-ceramah bahasa Sunda, dan menulis artikel- artikel kebahasaan Sunda pada surat kabar atau majalah berbahasa Sunda. Pada tahun 1922, di samping jabatan resminya ia menjadi redaktur majalah Obor. Pada tahun 1923 ia mengarang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wawacan Enden Sari Banon&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wawacan Sajarah Tanah Jawa&lt;/span&gt;, yang kemudian diterbitkan oleh toko buku M.I. Prawirawinata di Bandung. Tahun 1928, ia mengarang roman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mantri Jero&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lalakon Ekalaya&lt;/span&gt; sempalan dari Mahabarata, kemudian ia menganggit wawacan berdasarkan epos Hindu Mahabarata, sampai 7 jilid diterbitkan oleh Bale Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 1929 ia pindah bekerja ke Bale Pustaka di Jakarta menjadi pembantu ahli bahasa. Mula-mula ia diberi tugas mempelajari kepustakaan Sunda yang berupa naskah-naskah di Museum Pusat, Jakarta. Hasil penelitian itu kelihatan pada kedua romannya (Mantri Jero dan Pangéran Kornél) dan dalam artikel yang banyak ditulisnya untuk majalah, a.l. berupa karangan bersambung" Kasusastraan Sunda" dimuat dalam majalah Parahiangan (1929). Ia mengkritik tulisan yang dimuat dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Encyclopedie van Nederlansch lndie&lt;/span&gt; (1905) yang menyatakan bahwa orang Sunda tidak mempunyai kesusasteraan. Sayangnya, pendapatnya tentang kesusastraan berdasar pada konsepsi Belanda, tidak berdasar konsepsi orang Sunda sendiri mengenai kesusastraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ensiklopedi Sunda: Alam Manusia dan Budaya. 2000. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-7424056201723585210?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/7424056201723585210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/memed-sastrahadiprawira.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7424056201723585210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7424056201723585210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/memed-sastrahadiprawira.html' title='Memed Sastrahadiprawira'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Y0Pfmep6ue0/TVTjuRqtSxI/AAAAAAAAALo/H_myXfPEhSg/s72-c/Katalog%2BMemed.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-4438236992729114144</id><published>2011-02-09T20:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:08:25.733-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sasana Maha Guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Bagian ka-8 - Pancaiyatna</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagian kadalapan Sanghyang Sasana Maha Guru téh nerangkeun perkara pañcaiyatna. Pañcaiyatna téh hartina lima perkara anu kudu diperhatikeun enya-enya ku murid anu rék nyampurnakeun baktina kana darma. Ieu bagian dimimitian ku siloka. Éta siloka téh mangrupa parafraseu anu satuluyna dipedar dina eusina. Dina bagian ieu, urang hésé pikeun nangtukeun maksud kecap panca (lima), sabab dina pedaranana jumlah istilah Sansekerta anu diterangkeun maksudna téh ukur aya tilu. Tapi, dina pedaranna mah kapanggih aya lima laku lampah nu dipahing pisan pikeun nu ngarabdi kana hukum, di antarana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ulah sohor némbongkeun banda milikna di hareupeun nu kolot atawa jalma réa. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Henteu sura-seuri nalika ngahaturkeun sembah pangabakti, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Henteu dahar jeung nginum hareupeun Sang Pandita (guru), &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Api lain nalika batur ménta tulung, jeung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Henteu daék merhatikeun dirina sorangan ngeunaan hal nu mawa kahadéan pikeun dirina.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Jigana lima laku lampah nu ditataan di luhur nu kaasup kana pancaiyatna téh.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEKS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pañcaiyatna &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Nihan sinangguh pañcaiyatna ngaranya. Ndih ya nihan silwakanya :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Akwa badwa guru suci, amara lagawame,&lt;br /&gt;hana pramadaswaté, na imah pari ri kita.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;/siloka 3/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ka: akwa badwa ngaranya, tan dadi ikang sang séwaka darma. Mitwannakeun kwa ba(n)danya ning hareupeun sang matuha, mangka nguni di nu réya . (Am)ara lagaweg ngaranya, téka sumeuri  sumarembah, hanteu ngeunah basa ñatu basa nginum, di hareupeun sang pandita. Ahana premadaswaté ngaran(ya), aya ta nu dipikeun ku sakalih , kesit tungi diturutan. Pituaheunnana, hanteu dék meunang /9v/ [minang] mitineungkeun manéh, deung hanteu dék ñ(i)yar na pirampéseunnana. Nihan sinangguh pañca-iyatna ngaranya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TARJAMAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pañcaiyatna &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Nya ieu nu disebut pancaiyatna (lima perkara nu kudu diperhatikeun) téh. Nya ieu silokana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Akwa badwa guru suci, amara lagawame,&lt;br /&gt;hana pramadaswaté, na imah pari ri kita.”&lt;br /&gt;/siloka 3/&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maksudna, akwa badwa téh, tacan sampurna jadi nu bakti kana hukum. Némbongkeun banda pakaya dirina hareupeun nu kolot, ogé hareupeun jalma réa. Amara lagaweg kasebutna, nyaéta arangah-éréngéh nalika ngahaturkeun sembah. Teu hadé ogé urang barang dahar barang inum, di hareupeun sang Pandita. Ahana Premadaswaté téh, aya nu dipikabutuh ku batur, urangna kalah gancang api lain. Paripolahna téh, teu maliré kaayaan dirina sorangan, jeung teu daék néangan perkara nu mawa kahadéan pikeun dirina. Nya ieu nu disebut pancaiyatna téh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KABEUNGHARAN KECAP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pañcaiyatna &lt;/span&gt;(Skt) ‘lima perkara nu kudu diperhatikeun’&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;akwa badwa&lt;/span&gt; dibaca akwa banda ‘banda milikna’, tingali kwa III (Z: 552) jeung banda Skt &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bhāṇḍa&lt;/span&gt; ‘banda, pakaya’ (Z 103).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;guru suci &lt;/span&gt;‘guru anu suci, Sang Pandita’.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;amara lagawame/amara lagaweg&lt;/span&gt; ‘nyempad ka nu luhung élmu’, dina kontéks ieu mah ka Pandita. Tina amarah ‘nangtang, nyempad’, jeung laghawa ‘kapinteran’.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pramadaswaté &lt;/span&gt;‘talobéh ku laku lampahna sorangan’, tina pramāda (skt) ‘kagégéloan, mabok, talobéh’ (Z 842), jeung swatah ‘dirina pribadi, dirina sorangan’ (Z 1171)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;imah &lt;/span&gt;‘imah’ id. SdM&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pari &lt;/span&gt;‘paré’ id. JwK&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mitwannakeun &lt;/span&gt;= mi- + ton + - aken ‘némbongkeun, ningalikeun’ id. JwK, band SdM mintonkeun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;matuha &lt;/span&gt;‘kolot’, kecap sandang sang digunakeun pikeun ngahormat, band. SdM mitoha.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sumeuri &lt;/span&gt;= seuri ‘sura-seuri, arangah-éréngéh’, rarangkén tengah –um- dina kecap seuri geus teu digunakeun dina SdM.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sumarembah &lt;/span&gt;‘ngahaturkeun sembah’. Tina sembah + -ar- + -um-&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dipikeun &lt;/span&gt;‘dituju’ ? atawa dibaca dibikeun? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kesit &lt;/span&gt;‘gancang’, dina SdM ngandung konotasi positif sarua jeung ‘tangginas’ (D 346), band Mal gesit.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tungi &lt;/span&gt;‘(parangi) haseum budi, api lain’ id. SdM. (D 716). Teu kapaluruh dina JwK.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pituaheunnana &lt;/span&gt;‘laku lampahna’ &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mitineungkeun manéh&lt;/span&gt; ‘mikirkeun diri sorangan’&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pirampéseunnana &lt;/span&gt;‘perkara nu mawa kahadéan’&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dimuat dina Majalah Cupumanik Bulan Desember 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-4438236992729114144?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/4438236992729114144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/bagian-ka-8-pancaiyatna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4438236992729114144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4438236992729114144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/bagian-ka-8-pancaiyatna.html' title='Bagian ka-8 - Pancaiyatna'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-7380457494613676566</id><published>2011-02-06T20:50:00.000-08:00</published><updated>2011-02-16T00:28:50.641-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Klasik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katalog'/><title type='text'>SD 3 - Opat Carita Pantun Sunda</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;Kertas Eropa; 59 hlm. ; 21,5 x 33,5 cm. ; Sampul 21,5 x 33,5 cm.  Blok Teks 19 x 31 cm. ; 32 baris/hlm.; Judul luar teks: PANTOENVERHALEN BADOEWI; Aksara Latin, bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;td&gt;Judul&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Opat Carita Pantun Sunda&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;td&gt;Nomor Panggil&lt;/td&gt; &lt;td&gt;SD 03&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;td&gt;Alas Tulis&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Kertas Eropa&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;td&gt;Ukuran&lt;/td&gt; &lt;td&gt;21,5 x 33,5 cm.&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Naskah ini merupakan kumpulan carita Pantun, yaitu: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pantun Kudawangi&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Langgasari&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raden tegal&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kidang Panandri&lt;/span&gt;. Pantun-pantun yang terdapat dalam naskah ini dikumpulkan oleh J.J. Meijer dari daerah Baduy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Deskripsi naskah sebelumnya&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ekadjati, Edi. S,  1988. Naskah Sunda. Bandung: Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Toyota Foundation.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ruhaliah, 2004. Fisik Naskah Sunda di Perpustakaan Nasional RI (Stensilan). Bandung: Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah UPI. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penelitian terkait&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kitlv-journals.nl/index.php/btlv/issue/view/847"&gt;Meijer, JJ, 1891 "Badoejsche Pantoen Verhalen" dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bidjragen tot de Taal-,Land- en Volkenkunde &lt;/span&gt;(BKI) Vol. 40 No.1 Hlm. 45-105.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-7380457494613676566?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/7380457494613676566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/sd-3-opat-carita-pantun-sunda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7380457494613676566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7380457494613676566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/sd-3-opat-carita-pantun-sunda.html' title='SD 3 - Opat Carita Pantun Sunda'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-7501555413982617141</id><published>2011-02-06T19:53:00.000-08:00</published><updated>2011-02-06T20:28:04.482-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Penyimpanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedi Naskah'/><title type='text'>Museum Sri Baduga Bandung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gX8Oz5mKLQs/S8mpeK9Lz0I/AAAAAAAAAmY/TNzhMF6fu2M/s1600/4287181866_0b26205cec_b.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 285px; height: 189px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gX8Oz5mKLQs/S8mpeK9Lz0I/AAAAAAAAAmY/TNzhMF6fu2M/s1600/4287181866_0b26205cec_b.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Museum ini mulai dibangun tahun 1974, dan baru pada tahun 1980  diresmikan penggunaannya untuk masyarakat umum. Nama "Sri Baduga" diberikan pada tahun 1990, dan sampai saat ini tetap digunakan. Museum Sri Baduga menyimpan sekitar 145 naskah Sunda, termasuk koleksi naskah "Wangsakerta".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.sribadugamuseum.com/assets/profil/lokasi.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 315px; height: 222px;" src="http://www.sribadugamuseum.com/assets/profil/lokasi.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;- &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peta lokasi Museum Sri Baduga&lt;/span&gt; -&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat Museum:&lt;br /&gt;Jl. BKR No. 185 Bandung Jawa Barat     &lt;br /&gt;Telp: 022-521-0976&lt;br /&gt;Fax: 022-522-3214&lt;br /&gt;Layanan buka dari hari Senin-Minggu pul 08.00-15.30&lt;br /&gt;Hari libur TUTUP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil  lengkap Museum Sri Baduga dapat diakses melalui situs resminya: &lt;a href="http://www.sribadugamuseum.com/"&gt;http://www.sribadugamuseum.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-7501555413982617141?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/7501555413982617141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/museum-sri-baduga-bandung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7501555413982617141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7501555413982617141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/museum-sri-baduga-bandung.html' title='Museum Sri Baduga Bandung'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gX8Oz5mKLQs/S8mpeK9Lz0I/AAAAAAAAAmY/TNzhMF6fu2M/s72-c/4287181866_0b26205cec_b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-4277222660444666220</id><published>2011-02-01T22:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:07:45.115-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedi Naskah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katalog'/><title type='text'>Kala Purbaka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/TUjzz1dzfzI/AAAAAAAAALY/2TitpCOhmSg/s1600/7.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 283px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/TUjzz1dzfzI/AAAAAAAAALY/2TitpCOhmSg/s320/7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568969011094585138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;- DOK. ADITIA GUNAWAN&lt;/span&gt; -&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;NASKAH SUNDA KUNA koleksi Perpustakaan Nasional RI dengan nomor koleksi L 506 disimpan dalam peti 13, ditulis di atas daun lontar, berukuran 24, 5 cm. x 2,8 cm., terdiri dari 10 lempir, diapit oleh kayu berwarna hitam berukuran 25 cm x 3 cm, blok teks berukuran 21,5 cm x 2,2 cm., tiga baris tulisan tiap lempir, kecuali lempir akhir hanya satu baris, ditulis secara timbal balik (recto-verso) kecuali lempir awal hanya ditulisi bagian belakang (verso) dan lempir akhir yang ditulisi hanya bagian mukanya (recto). Penomoran halaman menggunakan angka asli, kemungkinan besar ditulis oleh penulis, terletak di sebelah kanan atas teks, ditulis secara vertikal (rotasi 90o dari teks) mulai dari halaman 1 sampai 8. Berbeda dengan aksara Sunda kuna yang biasa digunakan pada naskah Sunda kuna pada umumnya, aksara yang digunakan dalam naskah ini adalah aksara Buda atau aksara Gunung yang mirip dengan corak aksara Buda yang digunakan di wilayah Merapi-Merbabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt; Bahasa yang digunakan dalam naskah ini adalah bahasa Sunda kuna, yang sedikitnya masih dapat dikenali oleh sebagian pembaca awam orang Sunda. Kondisi naskah dalam keadaan baik dan dapat terbaca jelas, meskipun beberapa lempir berlubang dan rompang. Naskah berasal dari pemberian Dr. R. H. Th. Friederich, seorang pemerhati kebudayaan asal Jerman yang diberikan kepada lembaga Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen pada tahun 1869, naskahnya sendiri ia dapatkan dari sebuah wilayah di Pekalongan. Dalam label yang tertempel pada penjepit naskah tertera judul ‘Oud Sundanesche’. Agaknya, Dr. Friederich yang memberi judul pada naskah ini mengetahui bahwa naskah tersebut berbahasa Sunda kuno, tapi tidak menelaah lebih lanjut kandungan naskah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah berisi kisah kelahiran Batara Kala yang terlahir dari kama (sperma) Batara yang tidak tertahankan ketika mengejar-ngejar Batari. Dari kama tersebut lahirlah seorang anak yang sangat buruk rupa. Anak tersebut dibekali dengan berbagai kesaktian oleh Batara dan para dewata. Ketika suatu hari anak tersebut mendatangi Batara, sang ayah tercengang melihat anaknya yang buruk rupa. Setelah Batara meminta maaf atas kelakuannya yang dulu, sang ayah kemudian memberinya kesaktian dari semua golongan dewa, yaitu Iswara (putih), Brahma (merah), Mahadéwa (kuning), Wisnu (hitam). Batara kemudian memberikan nasehat pada anaknya sekaligus memberinya nama, yaitu Sang Bangbang, Sang Kama Salah, Sang Keteriti, Sang Buta Tuwa. Sang Kama Salah dinasehati tentang tempat-tempat yang semestinya menjadi tempat tinggalnya, yaitu tempat-tempat yang buruk. Teks diakhiri dengan jampé (mantra) yang menyebutkan nama-nama Ratu dan tempat berdiamnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-4277222660444666220?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/4277222660444666220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/kala-purbaka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4277222660444666220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4277222660444666220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/kala-purbaka.html' title='Kala Purbaka'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/TUjzz1dzfzI/AAAAAAAAALY/2TitpCOhmSg/s72-c/7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-7600214499124924208</id><published>2011-02-01T19:39:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:07:22.976-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Mahapawitra Skriptorium Naskah Sunda Kuna</title><content type='html'>&lt;a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT3UcKGhHMD8g03GSuPamYmDO53z72cEm97O3g0Qa6f7dM5xjJlyg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 639px; height: 719px;" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT3UcKGhHMD8g03GSuPamYmDO53z72cEm97O3g0Qa6f7dM5xjJlyg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dina kolofon naskah-naskah Sunda kuna nu kiwari diteundeun di Perpustakaan Nasional RI (PNRI), kawilang réa nu nyebutkeun Mahapawitra minangka tempat ditulis (disalin)na naskah. Naskah-naskah nu ditulis di Mahapawitra téh diantarana baé: Sanghyang Hayu (kropak 634 jeung 637), Sanghyang Sasana Mahaguru (kropak 621), jeung Siksaguru (kropak 642). Kabéhanana ogé mangrupa téks prosa, eusina kaagamaan. Iwal ti Siksaguru, nu dua deuina mah geus ditalungtik. Koropak 634 jeung 637 ditalungtik ku Undang A. Darsa, dijadikeun tésis. Demi koropak 621 geus diumumkeun ku nu nulis dina buku Sanghyang Sasana Maha Guru dan Kala Purbaka: Suntingan dan Terjemahan (Perpustakaan Nasional RI, 2010). Nu jadi kapanasaran téh nyaéta lebah-lebahna Mahapawitra. Disalusur tina peta mah can kapanggih, hartina, ngaran tempat Mahapawitra téh tangtu ngaran heubeul. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sacara harfiah mah Mahapawitra hartina ‘kalintang suci-na, kalintang murni-na’, asalna tina basa Sansekerta maha jeung pawitra. Bisa jadi, ieu téh tempat anu kacida disucikeun ku urang Sunda baheula. Ras inget ka karesian Pawitra nu aya di Jawa Timur, nu jadi pangjugjugan nu nyaluprih élmu agama jaman Majapait. Pawitra téh ngaran heubeul tina gunung Penanggungan. Gunungna mah teu luhur teuing, ngan 1659 Méter luhur beungeut laut. Nu jadi kapunjulanana ieu gunung téh pédah dikurilingan ku opat pasir nu leuwih leutik (bukit Bekel, Gajah Mungkur, Jambé, jeung Kemuncup) meneran pisan di opat arah mata-angin. Pawitra jadi pancerna. Keur urang Jawa mangsa harita mah, ieu gunung téh dipercaya minangka Mahaméru (Agus Aris Munandar, 2010: 114). Sakumaha nu dipercaya tina kitab Brahmana yén ieu alam téh titik puseurna Mahaméru, nu dikurilingan ku gunung-gunung nu leuwih leutik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina mangsa Majapait, Pawitra téh jadi salasahiji karesian nu dianggap penting. Nya di acala (gunung) Pawitra, dina taun taun 1359, Hayam Wuruk ngadongdon biara nu aya di lebah mumunggangna, sakumaha nu kacatet dina Nagarakrtagama (canto 57: 2).&lt;br /&gt;Kitu deui jeung Bujangga Manik, urang Sunda nu ngalalana dina abad ka-16 teu kaliwat ngadongdon ka Karesian Pawitra, sakumaha ditétélakeun ku inyana:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;806. Sadatang ka Pali(n)tahan,&lt;br /&gt;samu(ng)kur ti Majapahit,&lt;br /&gt;na(n)jak ka gunung Pawitra,&lt;br /&gt;rabut gunung Gajah Mu(ng)kur.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Bisa jadi, Mahapawitra nu kacatet dina sababaraha naskah Sunda Kuna téh idéntik jeung Gunung Penanggungan. Tapi engké heula, aya sababaraha perkara anu nimbulkeun kapanasaran. Kahiji, dina téks disebutna Mahapawitra, lain Pawitra. Tegesna, bisa waé éta téh mangrupa dua tempat anu béda. Kadua, naskah-naskah nu ditulis di Mahapawitra, iwal ti Sanghyang Sasana Maha Guru, kabéhanana ditulis dina daun gebang (atawa nipah ceuk para ahli mah). Kapan naskah nipah mah pajar ngan diproduksi di Jawa Barat. Ceuk istilah Peageaud mah ‘old treatise mostly from west Java’. Kitab Arjunawiwaha nu pangkolotna (1256 Saka/l.k 1334 M) ogé ditulis dina daun nipah. Sok sanajan eusina basa Jawa Kuna, tapi tempat ditulis (disalin)na mah di Kabuyutan Sanghyang Mandala Katyagan di Gugur nu ceuk Poerbatjaraka mah ayana téh di wewengkon tatar Sunda. Tegesna, leutik kamungkinan naskah nipah ditulis di luar wewengkon Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamungkinan séjén lebah-lebahna Mahapawitra, nyaéta dumasar kana katerangan ti Bujangga Manik, basa anjeunna aya di mumunggang gunung Papandayan. Ti dinya, Sang Ameng Layaran nyérangkeun ka jauhna, bari nataan ngaran-ngaran gunung nu katempo. Bujangga Manik nyatet (baris 1260-1262): Itu ta na gunung Raksa, Gunung Sri Mahapawitra, tanggeran na Panahitan (Tuh itu Gunung Raksa, Gunung Sri Mahapawitra, tihangna Panaitan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina éta katerangan écés yén Mahapawitra téh ngaran séjén Gunung Raksa. Raksa téh hartina nangtayungan, ngaraksa. Gunung ieu nu jadi panangtayungan Panaitan, nu dianggap tihangna Pulo Panaitan. Panaitan téh pulo nu ngahubungkeun Banten jeung Sumatera Kidul. Ku urang Walanda mah sok disebut “Prinsen-eiland”. Nu jadi pananya, naon buktina Panaitan jadi hiji wewengkon nu disucikeun ku urang Sunda mangsa bihari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya tapakna, di Panaitan, meneran di Gunung Raksa, kapanggih arca Siwa jeung Ganesha. Para ahli arkéologi boga kacindekan yén éta arca téh ayana ti abad ka-7 nepi ka 8 Maséhi. Arca nu kapanggih di Panaitan ogé boga ciri mandiri deuih, nu bisa dibédakeun jeung arca anu sarua ti Jawa Tengah atawa Jawa Timur. Ari Batara Gana atawa Ganésha, disebut deuih dina manggala téks Sanghyang Sasana Maha Guru. Batara Gana téh dianggap déwa nu méré panangtayungan, sabab ti Batara Gana gelarna lontar jeung gebang nu dipaké pangarang pikeun nuliskeun éta kitab téh (SSMG. III).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak séjénna nyaéta tina Naskah Sunda Kuna Carita Radén Jayakeling (koropak 407) jeung Tutur Bwana (koropak 620). Dina koropak 407, Panaitan dianggap kabuyutan. Dina bagian awal karyana, nu nulis (atawa nyalin) naskah téh perlu nganyahokeun ka nu maca, yén karyana téh lain karya nu tambuh laku, tapi hasil capé gawé nyiar élmu, tatanya ka ditu ka dieu. Salasahiji nu jadi pangjugjuganna téh nyaéta Panaitan, sakumaha nu kaunggel dina téksna: “Panaitan eusi pikabuyutan, susuhunan Hujungkulan. Akiing bagawat Sang Gasri, beunanging nanya tilu lawé, ti nu séda ti patala, beunang[h]ing nyiar ti Jampang, beunanging ti Pulasari, beunanging ti Jakah Barat (koropak 407 lambaran 6v)”. Ditingali tina ngaran-ngaran tempat nu ditatan dina téks di luhur, gedé kamungkinan koropak 407 téh dihasilkeun di wewengkon kulon di Tatar Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitu deui upama ningali téks Tutur Bwana (koropak 620) nu kiwari keur digarap ku sadérék Rahmat ti UNPAD. Dina bagian awal téks Tutur Bwana, dicaritakeun prosés diciptakeunna alam dunya ku Haro (ngaran séjén déwa Wisnu?). Nu matak narik, aya tilu tempat nu dianggap bagian tina alam dunya, nya éta Hujung Kulan, Panahitan, jeung Bukit langlayang. Hujung Kulan téh dianggap minangka huluna dunya, Panaitan minangka buukna dunya, Gunung Langlayang minangka halisna dunya, sakabéhna mangrupa beungeut dunya: “huluna bwana inya na Hujungkulan, buuk na inya na Panahitan, halis na bwana inyana bukit Langlayang (koropak 620 lambar ka 37r).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedé kamungkinan Mahapawitra nu ditulis dina sababaraha kolofon naskah Sunda Kuna téh idéntik jeung Gunung Raksa nu perenahna di Panaitan. Ku kituna, perlu aya panalungtikan nu leuwih jero ngeunaan Panaitan patali jeung kabudayaan Sunda mangsa bihari, utamana tina jihat arkéologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pun. Leuwih luangan, kurang wuwuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nu nulis, kurator naskah Sunda di Perpustakaan Nasional RI&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimuat dina Majalah Mingguan Basa Sunda 'Manglé' No.2307. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-7600214499124924208?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/7600214499124924208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/mahapawitra-skriptorium-naskah-sunda.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7600214499124924208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7600214499124924208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/02/mahapawitra-skriptorium-naskah-sunda.html' title='Mahapawitra Skriptorium Naskah Sunda Kuna'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-5145738182846103886</id><published>2011-01-24T00:16:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:04:47.104-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Indonesia'/><title type='text'>Pemukiman Sunda Kuna</title><content type='html'>&lt;a href="http://standardberita.com/wp-content/uploads/2010/09/Pemukiman-Baduy.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 340px; height: 254px;" src="http://standardberita.com/wp-content/uploads/2010/09/Pemukiman-Baduy.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga helai naskah lontar yang kini disimpan di Perpustakaan Nasional RI (PNRI) dengan judul Warugan Lemah (selanjutnya disingkat WL), dengan jelas mengisyaratkan pernah adanya pola hunian yang mapan pada masyarakat Sunda masa lalu. Teks WL berbahasa dan beraksara Sunda kuna. Penanggalannya dapat dirunut pada masa periode pra-Islam, atau ketika agama pribumi, Hindu, dan Budha masih menjadi pegangan hidup orang Sunda. Dengan kata lain, teks ini mungkin berasal dari masa ketika Pakuan Pajajaran masih eksis (sampai 1578 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks WL adalah sejenis paririmbon, atau petunjuk ketika akan mendirikan dayeuh, lembur, atau umbul (na pidayeuheun, na pirembuleun, na piumbuleun). Di dalamnya tercatat delapan belas pola pemukiman disertai kepercayaan akan pengaruh dari pola tersebut. Pembagian pola pemukiman didasarkan pada kontur tanah (lemah) dan keadaan wilayah (dayeuh atau lembur). Ada empat lahan yang dianggap baik, yaitu talaga hangsa (tanah condong ke utara), singha purusa (tanah memotong bukit), ngalingga manik (berada di puncak bukit), dan sumara dadaya (tanah yang datar). Sementara 14 lainnya yang dianggap kurang baik, yaitu banyu metu (tanah condong ke barat), purba tapa (tanah condong ke timur), ambek pataka (tanah condong ke selatan), sri madayung (tanah berada di antara dua aliran sungai, yaitu sungai kecil di sebelah kiri dan sungai besar di sebelah kanan), luak maturun (tanah berceruk karena di tengah wilayah terdapat lembah, mungkin menyerupai luak yang turun dari pohonnya), wilayah melipat, tunggang laya (wilayah pemukiman menghadap laut), mrega hideng (wilayah bekas kuburan), jagal bahu (tanah terpisah sehingga terdapat celah yang memisahkan wilayah pemukiman), talaga kahudanan (wilayah pemukiman membelah sungai), wilayah membelakangi bukit atau gunung, si bareubeu (wilayah berada di bawah aliran sungai), wilayah kampung dikelilingi oleh rumah, dan bekas tempat kotor (picarian) dikelilingi oleh rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Topografi Yang Baik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;Satu diantara empat topografi tanah yang dianggap baik adalah talaga hangsa (tanah yang condong ke utara). Topografi ini konon mampu mendatangkan kasih sayang orang sejagat. Berdasarkan hasil rekonstruksi terakhir yang dilakukan Saleh Danasasmita dalam artikelnya ‘Mencari Gerbang Pakuan’ (2006), pola pemukiman inilah yang digunakan oleh kerajaan Sunda di wilayah ibu kotanya, Pakuan. Pun jika kita melihat kampung-kampung di wilayah Baduy, pada umumnya kontur tanahnya condong ke utara. Demikian pula dengan kampung tetangganya, Cibedug dan Citorék. Hal tersebut meniscayakan anggapan bahwa teks WL memang dianut oleh masyarakat Sunda masa lalu ketika membuka huniannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontur tanah yang juga dianggap baik adalah tanah yang memotong pasir (motong pasir). Topografi ini dinamakan singha purusa. Secara etimologi, singha purusa berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ‘lelaki singa, pahlawan’. Topografi tanah ini dipercaya mendatangkan kemenangan dalam peperangan (awét juritan). Agaknya, inilah lahan yang digunakan sebagai wilayah pertahanan di wilayah kerajaan Sunda, untuk menjaga wilayah inti kerajaan yang terletak lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontur tanah yang juga dianggap baik adalah tanah datar atau yang disebut sumara dadaya. Sumara dadaya berarti juga ‘mampu mendatangkan simpati’. Konon, tanah ini dipercaya membuat Rama (tetua kampung), salah satu dari trias penguasa Sunda selain Prabu dan Resi, senantiasa mau berkunjung. Lahannya berupa dataran luas. Artinya, sangat mungkin kontur tanah ini digunakan sebagai pemukiman bagi masyarakat umum, bukan wilayah elit pemerintahan masyarakat Sunda masa lalu. Wilayah ini memungkinkan membentuk sebuah pemukiman penduduk yang cukup padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang dianggap baik adalah tanah yang ngalingga manik, yang membentuk puncak seperti permata. Agaknya topografinya perbukitan, dengan puncak wilayahnya sebagai tempat pemukiman. Bujangga Manik dalam catatannya menyebutkan bahwa topografi inilah yang dijadikan untuk wilayah kabuyutan, sebagaimana diungkapkannya: “nemu lemah kabuyutan, na lemah ngalingga manik”. Inilah tempat yang dijadikan petualang Sunda itu sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir ‘geusan aing nunda raga’. Mungkin pola ngalingga manik adalah pola yang digunakan sebagai kabuyutan, wilayah keagamaan bagi masyarakat unda masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulak Bala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya empat jenis topografi wilayah yang dianggap baik, tidak serta merta keempat belas topografi yang lain buruk dan tidak layak huni. Topografi tanah yang dianggap kurang baik dapat dihuni dengan catatan empunya lahan memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, antara lain dengan menanam jenis pohon tertentu seperti pacar, dangdeur, usar, haur geulis, dan lain-lain. Tempatnya ditentukan, antara lain di wilayah dalam dari pemukiman (dalem) atau di tempat sesaji (pahoman). Waktunya pun ditentukan, antara lain hari Anggara Manis (Selasa Manis), Buda Hireng (Rabu Legi), Tumpek Kaliwon (Sabtu Kliwon), dll. Ritual penyucian tanah dari berbagai pengaruh buruk dipimpin oleh seorang ahli yang disebut pandita, yang memohonkan agar tanah yang hendak dihuni tidak diganggu. Sang pandita memohon perlindungan kepada Batara Guru dan Batari Sri, terutama dari gangguan batara Kala. Hal tersebut tersirat jelas dalam mantra yang terdapat pada teks WL: “Ong paksa ma Guru pun. Pasaduan kami di na lingga Si Jaja, lingga Si Jantri. Bawa tamah batara Kala. Tinggalkeun sari ning lemah, apan gawé sang pandita” (Ong! pemilik kehendak adalah Guru, maafkan, kami mohon izin pada lingga si Jaja, lingga si Jantri, bawa pergi kegelapan batara Kala, meninggalkan sari dari tanah, Sebab hasil pekerjaan sang pandita). Bahkan sampai saat ini, di beberapa wilayah Sunda, kepercayaan kepada batara Guru, Sri, dan Kala, masih bertahan dalam rajah-rajah ruatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam teks WL terlihat jelas, bahwa masyarakat Sunda masa lalu memilih kontur-kontur tanah tertentu untuk dihuni berdasarkan kondisi alam yang ada di sekelilingnya. Tanah yang condong ke utara ‘talaga hangsa’, umpamanya, dianggap baik karena kodrat Sunda yang hulu airnya kebanyakan terdapat di selatan; mengalir dari dataran tinggi menuju dataran yang lebih rendah. Inilah adaptasi jenius masyarakat Sunda pada masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, pola-pola pemukiman yang terkandung di dalam teks WL mengisyaratkan kearifan ekologis masyarakat Sunda masa lalu dalam mengelola wilayah yang dihuninya. Persoalannya, pola manakah yang digunakan sebagai pemukiman kita sekarang? Tentu jawabannya cukup sulit, karena mungkin kita bermukim tanpa pola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿Dimuat di Rubrik OPINI Tribun Jabar, Sabtu, 1 Januari 2011.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-5145738182846103886?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/5145738182846103886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/01/pemukiman-sunda-kuna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/5145738182846103886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/5145738182846103886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/01/pemukiman-sunda-kuna.html' title='Pemukiman Sunda Kuna'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-6147868143702046667</id><published>2011-01-07T00:57:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:04:15.643-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sasana Maha Guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Bagian ka-7 -  Dasanaraka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;Dasanaraka téh sacara harfiah mah hartina sapuluh naraka. Tina ieu bab mah harti tina dasanaraka leuwih lega, nyaéta sapuluh kaayaan tina sapuluh indera (dasaindriya) anu bisa jadi cukang lantaran hiji jalma tigebrus ka naraka. Sapuluh indera nu dipiboga ku unggal jalma nyaéta ceuli, panon, irung, létah, sungut, kulit, leungeun, dubur, purusa (bobogaan), jeung suku teu dimangpaatkeun dina kahadéan, tapi dipaké milampah jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upama dititénan tina pedaran-pedaran satuluyna dina téks SSMG, saperti dasasila, dasamarga, dasaindria, dasapangaku, dasautama, dasawisésa, dasamahawisésa, jeung dasa-tan kawisésa bakal écés yén aci-acining ajaran nu nyangkaruk dina SSMG téh, neueul kana dasaindria, fitrah nu dipibanda ku manusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi nu kawilang penting dina bagian ieu nyaéta ngaran rupa-rupa kasakit nu nyampak dina téks. Leuwih kurang aya opat puluh ngaran kasakit nu ditataan. Sawaréh kasakit nu ditataan masih kénéh dipikawanoh ku urang Sunda kiwari, saperti: congé, torék, pécak, bolor, buta lorongeun (kiwari buta rorongeun), mata kotokeun, pireu, pétal, cadang, tibar, bolongeun, cadél, béngo, bisul, radang, kuris, béang, balas, galigata, kékéd, rémpéng, buntung, kengkeng, kalingsir, burut, pétot, peluh, jeung pateuh. Demi ngaran kasakit nu teu dipikawanoh deui diantarana: putikeun, céang, bilas susuheun, mékmék, deda, béang, kabeuratan, tuju pancar, uireun, lanjo, halang wisaya, lisuh, anjingeun, jeung caniran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nihan ta muwah sinangguh dasana(ra)ka, nga. Ini byaktana: ceuli, mata, irung, létah, sungut, kulit, leungeun, payu, purusa, suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka: ceuli ngara(n)na, mulah salah déngé, téréh wangwang kapireungeu. Byaktanya: ha/11v/war, cwangé, twarék, cadang. Sakitu pipapaeunnana, dina talinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata ngara(n)na, mulah sajeueung jeueungna, lamun ka hula(ñ)jar sakalih, astri larangan sakalih, lamun lai(n) bwaga urang. Byaktana ma: pécak, bwalwar, putikeun, céang, buta lwarongeun, mata kwatwakeun, bilas susuheun. Sakitu pipapaeunnana, di mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irung ma ngara(n)na, geura bwagwah saa(m)beu-a(m)beuna, lamun ngambeu [ki] ku biuk hapeuk ku biuk ku hañir, ku hangit, téka dipaké bumaresin, ngahubus. Byaktana ma, mékmék. Sakitu pipapaeunnana dina irung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Létah ma ngarasa, geura bwagwah sarasa-rasana, lamun ku bira ku tiis, ku bacin, ku haseum ku lada, ku pangsét, téka dipaké usuh-asahan. Byaktana ma: pireu, pétal cadél. Sakitu /11r/ pipa(pa)eunana, di létah ngara(n)na.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungut ma ngara(n)na, bwagwah dipaké kumapang-kapang, héngan dipaké sacarék-carékna, mangka nguni dipaké ñumpah madahkeun, ngajak ngapus ka sakalih. Byaktana ma: swa(m)béng, béngwa, deda. Sakitu pipapaeunana, di sungut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit ma ngara(n)na, bwagwah saprasa-prasana, lamun ku panas ku tiis, ku mérang ku ateul, dipaké gulanggaséhan. Byaktana ma: tibar, bisul, bwalwangeun, radang, kuris béang, saukar balas galigata. Sakitu pipapaeunana, di kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leungeun ma ngara(n)na, bwagwah dipaké sacokot-cokotna, manguni bwaga sakalih, ka tataneman sakalih, sañarah dipaké meureup newek, nwatwak mwakwal, nampar, ngajambak, ñiwit nga/10v/getil. Byaktana ma: kékéd ré(m)péng, bu(n)tung, kengkeng. Sakitu pipapaeunana, dina leungeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbung ngara(n)na, bwagwah sahetut-hetutna, ngising sageusan-geusanna, di pigir imah sakalih, sañarah dipaké muak. Byaktana: kabeuratan, tuju pañcar, kalingsir, uireun. Sakitu pipapaeunana, di tumbung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purusa ma ngara(n)na, bwagwah sakiih-kii(h)na, sañarah  tu dipaké ngambah lanang wadwan, papa(ñ)jingan, kapiadi kapilañceuk, kapisuan, kapwanakan. Byaktana ma: burut pétwat, lañjwa, halang wisaya, peluh. Sakitu pipapaeunana, di (pu)rusa ngara(n)na.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku ta ma ngara(n)na, bwagwah dipaké sati(ñ)cak-ti(ñ)cakna, saleumpang-leumpangna, mangka nguni lamun ngalér ngidul ngulwan ngétan, lamun titarum tipagut, tuluy /10r/ dipaké néjéh. Byaktana ma: lisuh, pateuh, añjingeun caniranan, sakitu pipapaeunana, di suku ngaranya.&lt;br /&gt;Nihan si(n)angguh dasanaraka ngaranya, kayatnakeu(n) na sang séwaka darma, hayua pinintuhu ika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarjamahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ieu ogé nu disebut dasanaraka (sapuluh naraka). Ieu écésna: ceuli mata, irung, létah, sungut, kulit, leungeun, dubur, bobogaan, (jeung) suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudna: nu ngaranna ceuli, ulah salah déngé, gancang hariwang tina naon nu kadéngé. Balukarna: hawar, congé, torék, cadang. Sakitu nu matak sangsara tina ceuli téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panon ulah saténjo-ténjona, upama ka hulanjar batur, istri larangan batur, lamun lain milik urang. Balukarna mah: pécak, bolor, putikeun, céang, buta lorongeun, mata kotokeun, bilas susuheun. Sakitu nu ngajadikeun sangsara dina mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu disebut irung, resep dipaké saambeu-ambeuna, upamana ngambeu bau hapeuk bau hanyir, hangit, éta laju kalah bersin atawa ngahubus. Balukarna mah: mékmék. Éta nu matak sangsara dina ceuli téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Létah mah ngarasa, resep sarasa-rasana, ku rasa bira atawa tiis, ku asin, haseum, ku lada, ku pangsét, éta laju dipaké asal ngasaan. Éta nu matak sangsara dina létah téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu disebut sungut, sok dipaké ngomong kaleuleuwihi, ngan dipaké sacarék-carékna, ogé dipaké nyumpahan tur nuduh, atawa ngajak nipu ka batur. Balukarna mah: suing, béngo, deda. Éta nu ngajadikeun sangsara, di sungut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu ngaranna kulit, sok dipaké asal ngarasa, upama keuna ku panas jeung tiis, ku mérang ku ateul, dipaké gulinggasahan. Balukarna mah: tibar, bisul, bolongeun, radang, kuris, béang, kaasup balas galigata. Sakitu nu nyababkeun kasangsaraan dina kulit téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu disebut leungeun, sok dipaké sacokot-cokotna, ogé nyokot banda batur, atawa ka pepelakan batur, sumawonna dipaké meureup, newek, notok, nakol, nampiling, ngajenggut, nyiwit, nyintreuk. Balukarna mah: kékéd, rémpéng, buntung, kengkeng. Sakitu nu nyababkeun kasangsaraan dina leungeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu disebut dubur, dipaké hitut sakarepna, ngising sangeunahna, di pipir imah batur, ogé dipaké muak. Balukarna: kabeuratan, tuju pancar, kalingsir, uireun. Sakitu picilakaeunana dina dubur.&lt;br /&gt;Nu disebut purusa (kelamin), sok dipaké sakiih-kiihna, sumawonna dipaké ngambah jajaka jeung wanoja, salingkuh, ka kapiadi, kapilanceuk, kapisuan, kapialo. Balukarna mah: burut, pétot, lanjo, halang wisaya, peluh. Sakitu picilakaeunana dina purusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu disebut suku, sok dipaké satincak-tincakna, leumpang sakarepna, sumawonna upama leumpang ngalér ngidul ngulon ngétan, upamana titajong, laju dipaké néjéh. Balukarna mah: lisuh, pateuh, anjingeun, caniran. Sakitu picilakaeunana dina suku.&lt;br /&gt;Ieu saenyana nu disebut dasanaraka téh, nu kudu diperhatikeun ku nu ngabdi kana darma, ulah diturutan perkara anu kitu téh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimuat dina CUPUMANIK EDISI DESEMBER 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-6147868143702046667?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/6147868143702046667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/01/bagian-ka-7-dasanaraka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/6147868143702046667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/6147868143702046667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2011/01/bagian-ka-7-dasanaraka.html' title='Bagian ka-7 -  Dasanaraka'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-6516917918232292432</id><published>2010-12-12T19:24:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:03:35.381-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Indonesia'/><title type='text'>Purwadaksina</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada sebuah ungkapan bahasa Sunda yang berbunyi ‘lali ka purwadaksina’. Ungkapan ini bermakna lupa kepada tempat asalnya. Mungkin sama dengan peribahasa kacang lupa kulitnya. Biasanya diungkapkan kepada seseorang yang menjadi OKB alias orang kaya baru yang melupakan keadaan dirinya sebelum menjadi kaya. Seperti Malin Kundang barangkali. Dalam kamus bahasa Sunda karya Danadibrata (2006) dan Hardjadibrata (2003), keduanya memaknai purwadaksina dengan ‘awal-akhirnya, dari permulaan hingga penghabisan, from beginning to the end’. Kiranya makna tersebut menimbulkan tanda tanya, jika diterapkan dalam peribahasa lali ka purwadaksina. Seseorang terbiasa melupakan tempat asalnya, bukan tempat terakhirnya. Dalam Kamus Umum bahasa Sunda susunan LBSS (Lembaga Basa jeung Sastra Sunda) tahun 1978 maknanya lain lagi. Orang yang lali ka purwadaksina ialah: poho mana wétan, mana kidul, poho ka asal cara nu ‘linglung’, lantaran pangkat luhur atawa kabeungharan nu teu wajar (lupa mana timur mana selatan, lupa kepada asal seperti orang linglung, karena pangkat yang tinggi atau kekayaan yang tidak wajar). Semua kamus yang telah disebutkan di atas mencantumkan purwadaksina di bawah entri purwa yang berarti ‘timur’. Sementara daksina di seluruh kamus itu diartikan ‘selatan’. Baik purwa maupun daksina, berasal dari bahasa Sansekerta dengan arti yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dari sana muncul pertanyaan, apa hubungan antara purwa-daksina (timur-selatan) dengan asal muasal atau wiwitan? Jika merujuk kepada kamus LBSS yang menyatakan bahwa lali ka purwadaksina berarti lupa arah timur dan selatan seperti orang ‘linglung’, layaknya orang yang melancong ke daerah lain, jawabannya tentu cukup sederhana: tidak ada kaitannya. Tetapi kiranya makna purwadaksina lebih dari itu. Oleh sebab itu, makna purwadaksina perlu dikaji lebih lanjut dengan melihat kosmologi Sunda pada masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Makna Purwadaksina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologi, purwa berasal dari bahasa Sansekerta. Artinya bermacam-macam: ‘awal, permulaan, depan, bagian depan; timur; yang terdahulu, paling terdahulu.’ (Zoetmulder 2006: 887). Semua pemaknaan itu terikat dalam satu objek, yaitu matahari. Matahari terbit di sebelah timur. Ia merupakan awal dimulainya hari. Bagian bumi paling timur adalah bagian yang paling terdahulu terkena matahari. Contoh bagaimana matahari dianggap sebagai permulaan masih nampak pada masyarakat Kanékés. Ladang (huma) tempat dilaksanakannya upacara siklus pertanian adalah di huma sérang, huma yang posisinya paling timur dibanding huma-huma yang lain. Mengapa demikian? Karena secara simbolik huma sérang adalah huma yang paling depan, huma yang terlebih dahulu terkena sinar matahari. Jika upacara ritual di huma sérang telah selesai, barulah huma-huma yang lain memulai kegiatan pertaniannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan teks Warugan Lemah, naskah lontar Sunda kuna dari abad ke-16 yang menguraikan tentang pola pemukiman Sunda kuna, tanah yang condong ke timur disebut purba tapa.  Secara harfiah purba tapa berarti ‘berada di sebelah timur orang yang bertapa’, termasuk topografi tanah yang tidak baik untuk dihuni. Dapat dibayangkan, seseorang yang berada di sebelah timur orang yang sedang bertapa tentu mengganggu pelaksanaan tapa, karena orang tersebut menghalangi sinar matahari. Hal ini mengisyaratkan bahwa timur adalah tempat yang disucikan oleh masyarakat Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika depan sama dengan timur, tentu kanan sama dengan selatan. Selain bermakna selatan, ternyata daksina juga bermakna ‘kanan’ (Zoetmulder, 2006: 188). Upacara pradaksina dalam kepercayaan hindu adalah berputar dengan menganankan objek yang dikelilinginya. Berputarnya pun berdasarkan arah jarum jam. Objek yang dikelilinginya adalah arca atau api suci yang disebut ‘daksināgni’, api yang selalu berada di sebelah kanan orang yang mengitarinya.&lt;br /&gt;Dalam konsep tata ruang Sunda kuna sebagaimana tercantum dalam teks Warugan Lemah, kontur tanah yang baik adalah tanah yang condong ke kiri (sebagai lawan dari kanan), atau dengan kata lain, ke utara. Kontur tanah demikian disebut talaga hangsa yang secara harfiah berarti telaga (dan) angsa. Makna ini mengisyaratkan keharmonisan. Tanah ibarat telaganya, sementara penghuninya adalah angsa-angsa yang berenang di telaga itu. Konon, pengaruhnya dapat menjadikan empunya lahan menjadi dikasihi banyak orang. Itulah kenapa sebabnya kampung-kampung di Baduy, termasuk kampung di sekelilingnya seperti Citorék dan Cibedug, kebanyakan kontur tanahnya condong ke utara. Di Bandung pun demikian, kampung adat Mahmud dan Kampung adat Cireundeu kontur tanahnya condong ke utara, dan kuburan leluhur selalu ditempatkan sebelah selatan di hutan larangan (leuweung tutupan). Demikian juga keadaan di Pakuan Pajajaran pada jaman pertengahan. Berdasarkan rekonstruksi mutakhir Saleh Danasasmita (2006), stereotip lahannya condong ke utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana letak huma paling sakral adalah huma paling timur, kampung di wilayah Baduy pun semakin selatan semakin sakral. Seorang wanita Baduy harus menghadap selatan ketika menumbuk padi huma, arca domas yang disakralkan berada di sebelah selatan wilayah Kajeroan. Bahkan orang Kanékés menganggap cikal bakal ‘pancer’ manusia berasal dari kampung Cikeusik, kampung yang letaknya paling selatan di wilayah Baduy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian diatas dapat dimaknai bahwa timur dan selatan dianggap sakral, sementara barat dan utara dianggap profan. Para tamu yang hendak berkunjung ke daerah Baduy, harus melalui jalur utara dan keluar melalui barat atau kembali ke utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kodrat alam yang disediakan Tuhan bagi masyarakat Sunda, selatan merupakan tempat hulu cai. Ciliwung yang hulunya berasal dari lereng Gunung Pangrango, mengalir dari selatan menuju utara. Cisadané yang hulunya berada di Gunung Salak mengalir dari selatan ke utara. Citarum juga hulunya di selatan. Ciujung yang hulunya terletak di Desa Kanékés juga mengalir dari selatan ke utara. Di bagian hulunya (baca: selatan) air masih jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, lali ka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;purwa-daksina&lt;/span&gt; berarti lupa terhadap azalinya, wiwitan-nya, lupa kepada timur dan selatan yang disucikan, lupa pada arah depan sebagai tujuan, lupa terhadap kanan sebagai tempat yang mestinya diikuti (katuhukeuneun), dan lupa terhadap matahari dan air sebagai sumber kehidupan. Lupa terhadap kearifan leluhurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elok tulisan ini ditutup dengan mengutip wejangan dari teks Sunda Kuna abad ke-16, Sanghyang Sasana Maha Guru, yang mengingatkan kita akan keutamaan air dan matahari: “P&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aksa ma cai, alaeunana ma, basana bijil ti huluna. Téka bwar hérang tiis rasana. Geus ma hanteu kawurungan, teka ri sagara… Daék éka ma ngaranya, Sanghyang Aditya, basana metu ti bwana wétan, hanteu kawurunganan, ku méga ku hujan, ku kukus ku sanghub, teka ring kulwan, ku geuing éka laksana&lt;/span&gt;.” Yang artinya: “Maksud itu adalah air, manfaatnya itu, ketika muncul dari hulunya, terasa mengalir jernih dan sejuk. Lagipula tidak terhalangi sampai ke lautan… kemauan itu adalah matahari, ketika terbit dari dunia sebelah timur, tidak terhalangi, oleh awan dan hujan, oleh asap dan kabut, sampai terbenam di sebelah barat, karena kesadaran akan satu perbuatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila memang demikian makna &lt;span style="font-style: italic;"&gt;purwadaksina&lt;/span&gt;, tak heran jika banyak orang yang lali. Bukankah perjuangan sebuah bangsa, meminjam istilah Milan Kundera, adalah perjuangan melawan lupa?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic; "&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis, kurator naskah Sunda di Perpustakaan Nasional RI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bergiat di Rumah Baca Buku Sunda&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span&gt;Dimuat di Rubrik OPINI Tribun Jabar, Sabtu, 11 Desember 2010&lt;/span&gt;&lt;br style="font-style: normal; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-6516917918232292432?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/6516917918232292432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/12/purwadaksina.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/6516917918232292432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/6516917918232292432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/12/purwadaksina.html' title='Purwadaksina'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-4166405584553439953</id><published>2010-11-28T22:38:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:02:58.461-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sasana Maha Guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Bagian 6: Dasamala</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Arial;  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dasamala&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; téh hartina méh sarua jeung &lt;i style=""&gt;dasakalésa&lt;/i&gt; (bagian 5 S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;anghyang &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;asana &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;aha &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;G&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;uru&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;), nyaéta sapuluh ceda atawa sapuluh kaayaan kotor dina diri manusa. Dina téks-téks Sunda kuna nu lainna, biasana konsép &lt;i style=""&gt;dasamala&lt;/i&gt; téh sok disebutkeun babarengan jeung &lt;i style=""&gt;dasakalésa &lt;/i&gt;(upamana dina &lt;i style=""&gt;Séwaka Darma&lt;/i&gt;: 32 g-h). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ngan dina SSMG wungkul &lt;i style=""&gt;dasamala &lt;/i&gt;téh diwincik hiji-hiji. D&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;ina téks Jawa Kuna &lt;i style=""&gt;Kuñjarakarna &lt;/i&gt;edisi Kern (1901)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, &lt;i style=""&gt;dasamala &lt;/i&gt;gé &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;kungsi kacatet&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, ngan eusina aya nu béda jeung naon nu kaunggel dina SSMG&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;. Babandinganna mah bisa ditingali di handap:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="margin-left: 118.8pt; border-collapse: collapse; border: medium none; font-family: arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 1cm; border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt;" valign="top" width="38"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 106.35pt; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; border-style: solid solid solid none;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="142"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;SSMG&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 92.1pt; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; border-style: solid solid solid none;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="123"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kuñjarakarna&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 1cm; border-width: medium 1pt 1pt; border-style: none solid solid;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="38"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;6.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;7.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;8.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;9.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 106.35pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="142"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sukta&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;baya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;tandri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kaléda&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;lanya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ragastri, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;paladarah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;baksya bwajñana&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kutila &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;wiwéka&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 92.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="123"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;tandri, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kléda, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;leja, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kuhaka, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;metraya, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;mégata, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ragastri, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kutila, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;bhaksabhuwana, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kimburu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sakabéh istilah-istilah nu kaunggel dina &lt;i style=""&gt;dasamala &lt;/i&gt;téh bisa dicukcruk kana basa Sansekerta, ngan palebah nerangkeun éta istilah basa Sansekerta téh ngagunakeun basa Sunda buhun. Boh &lt;i style=""&gt;dasakalésa&lt;/i&gt; atawa &lt;i style=""&gt;dasamala &lt;/i&gt;nuduhkeun yén dina abad ka-16 masarakat Sunda bihari leuwih katangén sipat &lt;i style=""&gt;budistis­&lt;/i&gt;-na. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;TEKS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Nihan ta muwah sinangguh dasamala ngaranya, nihan silwakanya: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“wigatah mala duken&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, kurwanti kusalah mahat,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;gawayaken sutem citem, budi hiyeum maguh narakem,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kananga taka ri kita, sami batang marakarma.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;/siloka 2/&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Yan datang ri kita, mara[g]karma, ngaranya: sukta, baya, t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;ndri&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, kaléd[r]a, (laña), ragastri, paladarah, bak&lt;b&gt;/12v/&lt;/b&gt;sya&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; bwajñana, kutila, wiwéka&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Ka:&lt;b&gt; &lt;/b&gt;sukta ngaranya, beuki héés, kalipikeun&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; mitañakeun pirampéseun, deungeun na piutamaeunnana swarangan, kalipian miguna na ngeunah tineung, deung micarék na rampés di nu réya, yata sinangguh&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sukta ngaranya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Baya ngaranya, bwarang mitañakeun manéh, bwarang naña ja ngarasa&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; manéh kwalwat, bwarang micarék na rampés, yata baya ngaranya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Tandri ngaranya, mumulan naña ja ngarasa manéh ireg, mumul miguna na ngeunah hdap deungeun micarék na rampés ka nu réya, ya tandri ngaranya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kaléda ngaranya, takut miguna na ngeunah tineung&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ka nu réya, takut mitañakeun manéh, ya kaléda&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ngaranya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Laña ngaranya, supen naña ja ngarasa manéh ireg, supen bakti ja ngarasa manéh kwalwat, supen bakti ja ngarasa manéh beu(ng)har, &lt;b&gt;/12r/ &lt;/b&gt;(ya)ta laña ngaranya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Ragastri ngaranya, bwagwah dék suka swanita deung hayang dék beu(ng)har, ragastri ngaranya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Paladarah ngaranya, hayang di rara hulanjar, astri larangan sakalih, ya paladarah ngaranya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Baksya&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; bwa(j)ñana ngaranya, tan hana magaway hayu, ya bwa(j)ñana, nga&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;bwagwah ñatu, bwagwah nginum, deung hje(?) kéna kabeukina&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dituwukan na sadrasa, yata baksya&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; bwa(j)ñana ngaranya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.6pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kutila wiwéka ngaranya, dimangké-mangké dék miguna na ngeunah&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; hdap deungeun micarék na rampés ka nu réya. Yata sinangguh dasamala ngaranya, ling sang pandita. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;TARJAMAHAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Ieu ogé nu disebut &lt;i&gt;dasamala &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;(sapuluh ceda)&lt;/span&gt;. Nya ieu silokana:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Indit tina kasangsaraan, nepika jadi jalma nu suci,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Milampah niat nu hadé. Budi goréng tempatna di naraka,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anjeun lir ibarat kembang kananga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;,&lt;/i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;jeung&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;catang &lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sami nu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;katalangsara.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;/siloka 2/&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Sabab geus datang ka aranjeun, paripolah jahat, nu disebut: &lt;i&gt;sukta&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;baya&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;tandri&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;kaléda&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;lanya&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;ragastri&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;paladarah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;bak&lt;/i&gt;&lt;b&gt;/12v/&lt;/b&gt;&lt;i&gt;sya&lt;/i&gt; &lt;i&gt;bwajñana&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;kutila&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;miwédéka&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Maksudna, nu disebut &lt;i&gt;sukta&lt;/i&gt; (poho) téh, beuki héés, mopohokeun pikeun nanyakeun perkara nu mawa kahadéan, ogé dina perkara nu panghadéna pikeun dirina. Poho pikeun milampah hiji perkara kalawan pikiran nu alus, jeung ngomongkeun kahadéan ka jalma réa. Éta nu disebut &lt;i&gt;sukta &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;téh&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Baya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;(sieun) hartina&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;, sieun tatanya ngeunaan kaayaan dirina sorangan, sieun tatanya sabab ngarasa dirina kolot, sieun nyarita perkara kahadéan, nya éta nu siebut &lt;i&gt;baya &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;téh&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tandri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; (mumul) hartina, teu daék tatanya da ngarasa dirina bodo, mumul barang gawé kalawan niat nu hadé, kitu deui mumul nyarita perkara kahadéan ka nu lian, nya éta nu disebut &lt;i&gt;tandri &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;téh&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;K&lt;span style=""&gt;aléda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; (asa-asa) hartina, sieun milampah hiji perkara kalawan pikiran nu hadé ka nu lian, sieun nanya perkara dirina sorangan, nya éta nu disebut &lt;i&gt;kaléda &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;téh&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lanya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; (sulit) hartina, hésé tatanya sabab ngarasa dirina bodo, hésé ngabakti tina rumasa dirina kolot, hésé ngabakti sabab rumasa dirina beunghar ku pakaya. Nya éta nu disebut &lt;i&gt;lanya&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ragastri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(nafsu) &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;hartina, kagégéloan ku wanoja, ogé upama hayang jadi jelma beunghar. Nya éta nu disebut &lt;i&gt;ragastri&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Paladarah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(nafsu ka awéwé) &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;hartina, mikahayang awéwé nu geus dicangcang, pamajikan larangan batur, nya éta nu disebut &lt;i&gt;paladarah &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;téh&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Baksya bwajñana&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(nafsu kana kadaharan) &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;hartina, teu daék milampah kahadéan, &lt;i&gt;baksya bwajñana&lt;/i&gt; ngaranna. Beuki dahar, beuki nginum, tina sabab kabeukina wungkul kana dahareun nu sarwa ngeunah. Nya éta nu disebut &lt;i&gt;baksya bwajñana &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;téh&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kutila wiwéka&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(kaputusan licik) &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;kasebutna, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;diengké-engké&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;upama &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;rék milampah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;perkara &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;nu hadé, ogé dina nyarita nu bener ka jalma lian. Nya éta nu disebut &lt;i style=""&gt;dasamala &lt;/i&gt;téh, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ucap&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; sang pandita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;KABEUNGHARAN KECAP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dasamala&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; ‘sapuluh céda, sapuluh kaayaan kotor’ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kurwanti &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;meuseuh diri, sacara harfiah hartina ‘teu weléh begang, katutuluyan begang’, tina &lt;i&gt;kuru &lt;/i&gt;jeung &lt;i&gt;wanti.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kusala &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;(Skt) &lt;i&gt;kuśala&lt;/i&gt; ‘bener, murni, hadé’ (Z: 545)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;mahat &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘jalma suci’ (Z 634)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sutem citem ‘&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;haté nu hadé&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, hadé haté&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;budi hiyeum &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘goréng budi’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;narakem &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘naraka’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sami &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Skt ‘ngaran sarupaning tatangkalan nu kembangna beureum &lt;i&gt;Prosopis spicigera &lt;/i&gt;(Z 1005)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;marakarma&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; Skt ‘katalangsara, cilaka’ (Z 653)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sukta&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; ‘poho’, tarjamahan dumasar konteks.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;baya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Skt&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;‘sieun’ (Z 116)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;tandri &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Skt ‘mumul, males’&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;(Z 1200)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kaléda &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Skt &lt;i style=""&gt;kleda &lt;/i&gt;‘bingbang, asa-asa, teu panceg’ (Z 509)&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;laña &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘hésé’ tarjamahan dumasar kontéks, teu kapaluruh dina sumber.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ragastri &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘nafsu ka awéwé’ tina Skt &lt;i style=""&gt;raga &lt;/i&gt;‘nafsu’&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;jeung &lt;i style=""&gt;stri&lt;/i&gt; Skt ‘awéwé’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;paladarah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Skt &lt;i style=""&gt;paradāra &lt;/i&gt;‘pamajikan batur, jinah’ (Z 762)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;baksya bwajñana &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘nafsu kana kadaharan’, &lt;i style=""&gt;bhaksya &lt;/i&gt;Skt ‘kadaharan’ (Z 98) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kutila wiwéka &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘kaputusan licik’ JwK ‘id.’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;bwarang &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘sieun’, dina SdM nu dipikawanoh wangun rundayan &lt;i style=""&gt;borangan &lt;/i&gt;‘sieunan’.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;takut &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘sieun’, id. Mal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;supen &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘ngarasa sulit’ (Z 1152)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;rara hulanjar &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘randa béngsrat’ SdM. Band. SSKK: VIII &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sadrasa &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘kani’matan (dina kadaharan)’, id. JwK (Z 974), teu kapaluruh dina SdM.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dimangké-mangké &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;‘diengké-engké’, &lt;i style=""&gt;mangké&lt;/i&gt; ngandung harti ‘ayeuna’, ogé ‘engké’, bawirasa nu leuwih merenah dumasar kontéks mah harti ‘engké’, JwK ‘id.’ (Z 4: 651)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Katerangan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt;JwK = basa Jawa Kuna; Mal = basa Malayu; SdM = basa Sunda Modéren; Skt = basa Sansekerta; SSKK= Sanghyang Siksa Kandang Karesian (Danasasmita, spk., 1987); Z: Zoetmulder (Kamus Jawa Kuna-Indonesia, 2006).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-family: arial;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-family: arial;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hanca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style="height: 3px;font-size:78%;" align="left" width="33%"&gt;    &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;dakneh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; &lt;span style=""&gt;Nskh: tindri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: sŷi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: &lt;span style=""&gt;miwédéka&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: kalipikin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: sinigu&lt;s&gt;h&lt;/s&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: ηasara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: &lt;span style=""&gt;ti hning&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: tandři&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: baķsŷi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: &lt;span style=""&gt;kabikina&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: baķsŷi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8117188495499292607&amp;amp;postID=4166405584553439953#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN"&gt; Nskh: nginah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-4166405584553439953?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/4166405584553439953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/11/bagian-6-dasamala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4166405584553439953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4166405584553439953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/11/bagian-6-dasamala.html' title='Bagian 6: Dasamala'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-4215458082994096623</id><published>2010-11-25T22:50:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:02:20.750-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kliping'/><title type='text'>TINJAUAN NAPAS KEAGAMAAN HINDU-BUDDHA DALAM BEBERAPA NASKAH SUNDA KUNO (ABAD KE-14—16 M)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/TT04Y1VfE9I/AAAAAAAAAKs/_SPeemT38m0/s1600/small.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 191px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/TT04Y1VfE9I/AAAAAAAAAKs/_SPeemT38m0/s320/small.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565666713785013202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tatar Sunda didapatkan sejumlah naskah kuno, ada yang sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan, namun lebih banyak lagi yang masih berupa manuskrip yang belum diteliti oleh para filolog naskah Sunda yang memang jumlahnya masih terbatas. Umumnya naskah-naskah Sunda Kuno digubah antara abad ke-14 hingga termuda dalam awal abad ke-16 M. Data kronologi tersebut dapat diketahui secara pasti melalui pencantumkan angka tahun di bagian akhir naskah oleh penggubahnya dahulu. Hal seperti misalnya terdapat dalam kitab Sang Hyang Siksakanda ng Karesian yang mencantumkan angka tahun 1440 Saka atau 1518 M, atau dalam masa pemerintahan raja Sri Baduga Maharaja yang berkuasa antara tahun 1482—1521 (Danasasmita dkk.1987: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga kronologi naskah yang ditentukan secara relatif, karena naskah itu sendiri tidak mencantumkan angka tahun yang pasti. Contohnya adalah naskah Fragmen Carita Parahyangan, berdasarkan uraian isinya naskah tersebut diidentifikasikan berasal dari abad ke-16, mungkin kitab itu ditulis beberapa waktu sebelum runtuhnya Sunda Pajajaran dalam tahun 1579 M, atau beberapa tahun sesudahnya (Darsa &amp;amp; Edi S.Ekadjati 2003: 175).  Dengan demikian naskah-naskah Sunda Kuno ada yang secara jelas mencantumkan kronologi diselesaikannya karya, ada juga yang tanpa kronologi, namun berdasarkan perbandingan isim, bahasa, dan aksara dengan naskah-naskah lain dapat diketahui berkisar dari periode perkembangan Kerajaan Sunda di Jawa bagian barat yang juga disebut Tatar Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa naskah Sunda kuno tersebut ada yang seringkali dijadikan bahan acuan atau dikutip uraiannya oleh para ahli ketika mereka memperbincangkan masalah kebudayaan Sunda Kuno, misalnya kitab Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ada juga naskah Sunda kuno yang telah dialihaksarakan dan diterjemahkan, namun para ahli langka menggunakan sebagai acuan, naskah seperti itu misalnya Serat Dewa Buda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan itu disebabkan terdapatnya uraian yang berbeda dalam naskah-naskah tersebut, ada yang isinya mudah dipahami, mengandung beraneka data kebudayaan Sunda Kuno, dan masih berhubungan dengan keadaan masyarakat Sunda masa sekarang. Kitab Sang Hyang Siksa Kanda ng Karesian memang bersifat “ensiklopaedis”, kaya dengan uraian kebudayaan Sunda Kuno, dan jelas dalam penyampaiannya, sehingga acapkali diacu oleh para sarjana yang mempelajari sejarah kebudayaan Tatar Sunda. Lain halnya dengan Serat Dewa Buda, dari judulnya saja dapat disiratkan betapa isi dari naskah tersebut. Ternyata memang isi naskah Serat Dewa Buda merupakan uraian alam metafisika yang penuh dengan metafora hingga sukar untuk diartikan. Para ahli sangat kesulitan untuk memahami isinya, oleh karena itu hanya mereka yang berminat mendalami keagamaan Sunda Kuno saja yang akan menelisik kitab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan naskah-naskah Sunda Kuno digolongkan ke dalam naskah keagamaan, karena memang banyak yang menguraikan tentang hakekat tertinggi, kuasa alam semesta, tujuan akhir kehidupan, cara melakukan pemujaan dan sebagainya. Oleh Karena itu layak jika para ahli filologi menggolongkan naskah-naskah tersebut sebagai naskah keagamaan. Kajian ringkas ini sebenarnya berkehendak untuk mengetahui lebih lanjut perihal “nafas keagamaan” yang terdapat dalam naskah-naskah Sunda Kuno. Dalam masa itu agama besar yang sedang berkembang di Pulau Jawa, baik dalam masyarakat  Jawa Kuno atau pun Sunda Kuno adalah dua agama besar, yaitu agama Hindu dan Buddha, oleh karena itu kajian ini berupaya untuk mengungkapkan lebih lanjut perihal peranan ajaran atau konsep kedua agama besar itu dalam naskah-naskah keagamaan Sunda Kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mungkin selain adanya ajaran dua agama besar Hindu-Buddha, terdapat pula ajaran lain yang lebih bersifat religi Sunda Kuno yang tidak bisa dikembalikan ke dalam konsepsi dan ajaran Hindu atau Buddha. Hipotesa tersebut agaknya dapat dibuktikan dalam kajian selanjutnya, mengingat beberapa naskah Sunda Kuno jusutru mendudukkan peranan Hyang lebih tinggi dari pada dewa-dewa Hindu-Buddha yang telah dikenal dalam kitab-kitab Jawa kuno. Hyang sangat mungkin adalah superhuman beings lokal yang telah dimuliakan sejak sebelum kedatangan pengaruh agama-agama India. Dengan demikian agaknya telah terjadi suatu pembauran dan juga redefinisi lagi ketika agama Hindu dan Buddha berkembang dalam masyarakat Sunda Kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan seperti itulah yang dicoba untuk ditelusuri dan dijelaskan dalam kajian ini, walaupun hanya menggunakan sejumlah naskah Sunda Kuno saja, namun diharapkan hasilnya dapat mencerminkan gambaran sesungguhnya dari isi napas keagamaan dalam kitab-kitab Sunda Kuno. Sebagaimana diketahui bahwa kitab-kitab yang disebut bernapaskan keagamaan tersebut pastinya dihasilkan oleh kaum agamawan, oleh karena itu juga ditelusuri masyarakat kegamaan Sunda Kuno yang mungkin menghasilkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kitab Sunda kuno berikut ini ditinjau bagian-bagian ajaran yang bernafaskan agama Hindu dan Buddhanya, sehingga dapat diketahui resapan kedalaman kesapan kedua agama itu di dalamnya. Kitab pertama yang dibicarakan adalah Sang Hyang Siksa Kanda ng Karesian, sebagaimana telah dikemukakan bahwa kitab tersebut seringkali diacu oleh para peneliti Sunda Kuno karena sarat dengan berbagai informasi yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Sang Hyang Siksa Kanda ng Karesian dinamai juga dengan Kropak 630, telah dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh Saleh Danasasmita dan kawan-kawan dalam tahun 1987, lewat Proyek Penelitian dan pengkajian kebudayaan Sunda (Sundanologi). Mengenai nafas agama Hindu di dalamnya antara lain menyebutkan adanya nama-nama dewa  dalam kaitannya dengan arah mata angin sebagai berikut:&lt;br /&gt;Purba, timur kahanan Hyang Isora, putih rupanya;&lt;br /&gt;Daksina, kidul. kahanan Hyang Brahma, mirah rupanya,&lt;br /&gt;Pasima, kulon kahanan Hyang Mahadewa, kuning (rupanya),&lt;br /&gt;Utara, lor,  kahanan Hyang Wisnu, hireng rupanya;&lt;br /&gt;Madya, tengah kahanan Hyang Siwah, [aneka] aneka warna rupanya (Danasasmita dkk. 1987: 75).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bahwa napas agama Hindu-saiwa dikenal dalam Sang Hyang Siksa. Diuraikan bahwa Hyang Siwah (Śiwa) berkedudukan di tengah dan darinya memancar penjelmaannya di berbagai arah mata angin. Dalam konsep Jawa Kuno dinamakan dengan ajaran Nawasanga yang juga masih dikenal hingga sekarang di Bali. Dalam ajaran tersebut tempat kedudukan utama Wisnu di utara, Śiwa di tengah dan Brahma di arah selatan selatan masih dipertahankan, dan sama keadaannya dengan keadaan agama Hindu di Jawa bagian tengah dalam masa pembangunan percandian Prambanan. Di percandian Prambanan, Candi Wisnu berada di utara Candi Śiwa, dan Candi Brahma berada di selatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain dari Sang Hyang Siksa dijumpai pula adanya napas lainnya dari agama Hindu-Śaiwa, misalnya dinyatakan:&lt;br /&gt;Sakala Batara jagat basa ngretakeun bumi niskala. Basana: ‘Brahma, Wisnu, Isora, Mahadewa, Siwah, bakti ka Batara ! Basana: Indra, Yama, Baruna, Kowera, Besawarma, bakti ka Batara !’ (Danasasmita 1987: 86).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pesan Batara Jagat ketika menciptakan alam semesta. Ujarnya: ‘Brahma, Wisnu, Isora, Mahadewa, Siwah, berbaktilah kepada Batara. Ujarnya lagi: Indra, Yama, Baruna, Kowera, Besawarma berbaktilah kepada Batara !).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini dinyatakan bahwa dewa-dewa Hindu itu harus berbakti dan memuja Batara Jagat, namun tidak dijelaskan siapa jatidirinya, artinya kedudukan dewa-dewa Hindu itu lebih rendah daripada Batara Jagat. Sepintas dewa-dewa Hindu itu memang disebutkan namun tidak berada dalam posisi yang penting, sebab kedudukannya lebih rendah dari Batara Jagat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab lainnya adalah Kawih Paningkes yang juga disebut Kropak 419, kitab ini telah dialihaksarakan dan diterjemahkan  dalam tahun 1995 oleh Ayatrohaedi dan Munawar Holil. Napas keagamaan Hindu dalam Kawih Paningkes sukar untuk ditelusuri, namun setelah disimak dengan baik terdapat pula unsur kehinduannya, antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Samangkana hali[h](w)u[s](w)us haliwawar kulem kalawan rahina bulan bentang aditiya ku[w]wung-kuwung kawang-kawang katumbiri teja mentrang kalawan lwah halilar ahening nirawarana laget genina sri yama…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Demikianlah topan dan badai tidur bersama siang, bulan, bintang, matahari, pelangi, teja, bianglala, lembayung senja dengan keadaan segalanya hening (tenang), jernih terang apinya Sri Yama…”)(Ayatrohaedi &amp;amp; M.Holil 1995: 15 dan 35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kawih Paningkes disebutkan nama Dewa Yama, dewa itu dalam Hinduisme dikenal sebagai dewa maut yang menjaga neraka. Yama dalam sistem Astadikpalaka (delapan dewa penjaga mata angin) berada di arah mata angin selatan. Tidak ada lagi nama dewa lain yang disebutkan di dalamnya, hanya ada istilah sansekerta yang bercirikan Hindu disebut dalam kitab itu, yaitu Mahāpuruśa (Paningkes 21b: 2) yang dapat diartikan adalah “makhluk yang paling agung”, diterjemahkan sebagai Tuhan (Ayatrohaedi &amp;amp; Holil 1995: 37).  Mahāpuruśa walaupun diartikan sebagai Tuhan, dalam kitab itu tidak dapat diartikan sebagai dewa tertinggi dalam Hinduisme, yaitu Śiwa Mahādewa. Agaknya konsep tersebut justru mengacu kepada superhuman being yang bukan dari dewa India, melainkan mengacu konsep keIllahian tertinggi Sunda kuno asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Amanat Galunggung atau juga disebut Kropak 632, malahan tidak ada penyebutan nama dewa-dewa Hindu. Jejak kehinduan pun tidak dapat ditemukan dalam Kropak 632, mungkin kitab tersebut memang bukan dimaksudkan sebagai kitab ajaran keagamaan. Kitab tersebut dapat dianggap pesan  yang disampaikan oleh kaum agamawan di Kabuyutan Galunggung kepada mereka yang mampu dan menaruh perhatian,  agar menjaga keberlangsungan kehidupan agama di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab lainnya yang mungkin mengandung ajaran agama Hindu dan Buddha adalah Sewaka Darma atau Kropak 408. Kitab ini sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan juga oleh Saleh Danasasmita dan kawan-kawan dalam tahun 1987,  melalui Proyek Penelitian dan pengkajian kebudayaan Sunda (Sundanologi). Kitab tersebut ternyata tidak hanya menyimpan konsep-konsep Hindu, melainkan juga Buddha dan penyatuan Sewa-Sogata (Śiwa-Buddha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan adanya Dewa Aditya/Surya (Sewaka, 29:12) dan Yama (Sewaka, 35: 3), lalu juga dinyatakan tentang kahiyangan para dewa Hindu sebagai berikut:&lt;br /&gt;51…&lt;br /&gt;Di timur Batara Isora&lt;br /&gt;kahiyangan perak putih&lt;br /&gt;tiangnya perak berukir&lt;br /&gt;bahannya serba perak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52…&lt;br /&gt;Rumah bertabur permata&lt;br /&gt;bermacam-macam ukiran&lt;br /&gt;ditata meniru bunga&lt;br /&gt;tempat tinggal hiyang Isora&lt;br /&gt;tujuan mereka yang lulus tapa&lt;br /&gt;dalam kebahagiaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di utara Batara Wisnu&lt;br /&gt;kahiyangan meru hitam&lt;br /&gt;tiangnya besi berukir&lt;br /&gt;bahannya serba besi&lt;br /&gt;beratap besi Cina&lt;br /&gt;berlantai baja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53. …&lt;br /&gt;tempat tinggal Batara Wisnu&lt;br /&gt;tujuan mereka yang sempurna perbuatannya&lt;br /&gt;dalam kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di barat Batara Mahadewa&lt;br /&gt;kahiyangan meru  kuning&lt;br /&gt;tiangnya emas berukir&lt;br /&gt;bahannya serba emas&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54. …&lt;br /&gt;Di selatan Batara Brahma&lt;br /&gt;kahiyangan warna merah&lt;br /&gt;tiangya tembaga berukir&lt;br /&gt;bahannya serba tembaga&lt;br /&gt;beratap tembaga bening&lt;br /&gt;berlantai tembaga Cina&lt;br /&gt;berdinding tembaga Keling&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55. …&lt;br /&gt;Di tengah Batara Siwa&lt;br /&gt;kahiyangan yang terang benderang&lt;br /&gt;tiangnya baja berukir&lt;br /&gt;bahannya aneka macam&lt;br /&gt;beratap perak&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56…&lt;br /&gt;Rumah bertabur permata&lt;br /&gt;bermacam-macam ukiran&lt;br /&gt;diukir meniru bunga&lt;br /&gt;tempat tinggal Batara Siwa&lt;br /&gt;tujuan mereka yang sarat dengan amal baik&lt;br /&gt;menyelesaikan tugasnya&lt;br /&gt;tak urung mendapat kebahagiaan…&lt;br /&gt;(Danasasmita dkk.1987: 64—67).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Sewaka Darma itu, tidak seluruh dewa jelmaan Śiwa dalam Nawasanga disebutkan satu persatu. Dewa yang diungkapkan hanya Isora (Iswara) di arah Timur, Wisnu di arah utara, Brahma di selatan, dan Śiwa di titik tengah. Hanya dewa-dewa itulah yang disebut dalam Sewaka Darma, sementara itu dewa-dewa Nawasanga lainnya seperti Sambhu (timur laut), Maheśwara (tenggara), Rudra (barat daya), Mahādewa (barat), Sangkhara (barat laut) tidak disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengenai napas agama Buddha, hanya sedikit  saja didapatkan dalam uraian kitab tersebut. Uraiannya pun bersifat perumpamaan, jadi tidak lugas menyatakan sifat Bauddhanya, sebagai berikut:&lt;br /&gt;“sampangan mangregat lima&lt;br /&gt;Na jalan pa[da]ti ageung” (Sewaka, 28: 8—9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Simpang jalan terbagi lima, itu jalan pedati besar”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan tersebut sebenarnya merupakan perumpamaan bagi Panca Tathagata (lima Tathagata) yang terdiri dari Amitabha (barat), Amoghasiddhi (utara), Aksobhya (timur), Ratnasambhawa (selatan), dan Wairocana (tengah). Merekalah yang telah memperoleh jalan keBuddhaan, para Buddha tersebut hanya dikenal dalam ajaran Mahayana yang artinya pedati besar,  atau juga golongan Mahasanghika yang menyetujui adanya perubahan-perubahan (Hadiwijono 1982: 67), oleh karena itu disebut dengan na jalan padati ageung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Serat Dewabuda (SDB) atau dengan nama lain Serat Sewakadarma telah dialihaksarakan dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ayatrohaedi dalam tahun 1988. Naskah tersebut pada waktu itu disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta, sebagai salah satu koleksi naskah kuna yang diwariskan oleh J.L.A.Brandes kepada Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang menjadi lembaga Museum Nasional, namun naskah tersebut sekarang telah menjadi khasanah koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam uraian-uraiannya disebutkan adanya napas Hindu dan Buddha, namun hanya sekedar pelengkap saja dari ajaran tentang konsep kekuatan tertinggi masyarakat Sunda Kuno.&lt;br /&gt;Keunikan SDB adalah menyatakan dengan jelas bahwa konsep kuasa tertinggi yang dijuluki Sanghyang (Taya) kedudukannya jauh lebih tinggi dari panteon dewa Hindu ataupun Buddha.SDB 26v : 1—2 menyatakan:&lt;br /&gt;1.“…sanghyang tidak tergantung, siwa buddha tidak diajarkan, batara batari tidak dinamai, sunyata tidak diunggulkan. tidak ada&lt;br /&gt;2.gelar puja, tidak dikaji yang serupa dengan teratai besar itu. tidak ada semuanya itu sebelumnya, hingga pada nafas, ujar, dan tujuan sampai berjumpa dengan kearifan” (Ayatrohaedi 1988: 163).&lt;br /&gt;Demikianlah bahwa Sanghyang Taya lebih dirincikan lagi dalam SDB, bahwa pada akhirnya dapat ditafsirkan bahwa sanghyang tertinggi itu adalah kearifan yang mestinya harus dicapai dan dimiliki oleh setiap manusia. Dewa Śiwa, Buddha, Brahma, Wisnu, Raksasa, dan Pitara menurut SDB hanyalah gambaran yang dikeluarkan oleh manusia dari panca paramarta dan panca indranya belaka. Perhatikan uraian SDB 39r: 2—4 dan 39v: 1—2 berikut ini:&lt;br /&gt;39r.&lt;br /&gt;2.“…Ditemukannya tujuan namanya; apakah yang menjadi ukuran tujuan?, yaitu sebagai raga dalam&lt;br /&gt;3.mimpi, tubuh kita pada waktu bermimpi; diwujudkan sebagai tujuan dalam impian, sebagai tempat berenang di danau, seperti melayang&lt;br /&gt;4.di angkasa, sebagai parakul (?) di gunung, sebagai suami, sebagai istri, terjadi dalam impian. Demikianlah bermacam keluarnya tujuan dalam impian, diwujudkan semuanya&lt;br /&gt;39v.&lt;br /&gt;1.oleh tujuan ketika itu, dikeluarkan semuanya gambaran itu, meragakan Siwa, Buddha, Brahma, Wisnu, raksasa, pitara, ditempatkan dalam puspalingga dan&lt;br /&gt;2.arca. Itulah sebabnya terdapat hyang dalam tujuan dunia seluruhnya dalam waktu…” (Ayatrohaedi 1988: 176).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SDB menyatakan bahwa prana adalah indra, adalah kehidupan adalah tujuan (acuan), dan acuan hidup itu ialah Hyang (Sang Hyang Taya). Dalam lingkungan seluruh dunia selalu terdapat Hyang sebagai acuan. Dewa-dewa Hindu dan Buddha dinyatakan hanyalah visualisasi dari tubuh (raga) dalam mimpi, jadi semu agar menjadi konkret kemudian “ditempatkan dalam puspalingga dan arca”. Berdasarkan uraian tersebut dapat ditafsirkan bahwa, (1) Sang Hyang Taya adalah kekuatan adikodrati tertinggi yang diseru dalam SDB, (2) Sang Hyang Taya sebenarnya terdapat di dalam setiap diri manusia apabila ia menyadarinya dan juga hadir diseluruh dunia, (3) Sang Hyang Taya harus menjadi tujuan (acuan) bagi semua makhluk, (4) Lingga dan arca dewa-dewa adalah wujud yang semu belaka, bagai raga yang tampil dalam mimpi.&lt;br /&gt;Demikianlah dari beberapa kitab keagamaan dari masa Sunda Kuno dapat diketahui bahwa memang terdapat anasir agama Hindu dan Buddha di dalamnya, akan tetapi tidak dominan. Anasir agama Hindu-Buddha tersebut hanya disebutkan saja, tidak menjadi materi utama yang menjadi bahan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab-kitab keagamaan Jawa Kuno, seperti Arjunawiwaha, Arjunawijaya, Sutasoma, Kŗşnayana, dan Śiwaratrikalpa, walaupun di dalamnya dikisahkan tentang petualangan para ksatrya, namun ajaran keagamaan Hindu atau Buddhanya tetap masih dirasakan. Misalnya ketika Arjuna diminta tolong para dewa untuk memusnahkan Niwatakawaca yang akan merebut kahyangan dalam Arjunawiwaha, Śiwa Mahādewa sendiri yang turun ke dunia dan menjelmakan dirinya menjadi ksatrya bernama Kirata. Kisah tersebut sarat dengan metafora pertemuan antara dunia manusia dan dewa-dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun dalam kitab Sutasoma dikisahkan upaya sang pangeran untuk memusnahkan musuh-musuhnya, dan pada akhirnya dapat bertemu dengan hakekat keBuddhaan tertinggi, ia merasa berbahagia mencapai dan memahaminya. Dalam kitab tersebut juga dinyatakan dengan metafora narasi kisah tentang upaya pencapaian ajaran agama Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Śiwaratrikalpa sangat jelas membeberkan konsep keagamaan tentang pemujaan Lingga dalam malam Śiwa. Lubdhaka pemburu yang sangat berdosa karena pekerjaannya membunuh makhluk lain, pada akhirnya dapat masuk surga. Sebab Lubdhaka melakukan puja --walau secara tidak sengaja--  kepada Śiwa Mahādewa di malam keramat yang sangat disukai oleh dewa tertinggi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada naskah-naskah keagamaan Sunda Kuno, ternyata tidak ada kandungan cerita tertentu di dalamnya. Tidak dijumpai adanya ajaran keagamaan yang dipadukan atau dibalut dengan rangkaian cerita yang berkenaan dengan tokoh-tokoh ksatrya, raja, atau brahmana. Uraian naskah-naskah tersebut apabila berkenaan dengan keagamaan, maka akan langsung menuturkan tentang hakekat tertinggi, atau upaya pertemuan dengan hakekat tertinggi, atau dinyatakan bahwa hakekat tertinggi Sunda Kuno (Hyang) lebih tinggi dari dewa-dewa India (Hindu dan Buddha).  Sang Hyang Siksa menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nihan sinangguh Dasa Prebakti ngaranya. Anak bakti di bapa, ewe bakti ka laki, hulun bakti kapacandaan, sisya bakti kaguru, wang tani bakti ka wado, wado bakti ka mantra, mantra bakti di nu nangganan, nu nangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang. Ya ta sinangguh Dasa Prebakti” (Siksa II).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Ini yang disebut Dasa Prebakti. Anak tunduk kepada bapak; istri tunduk kepada suami; hamba tunduk kepada majikan, siswa tunduk kepada guru, petani tunduk kepada Wado; Wado tunduk kepada mantri; mantri tunduk kepada nu nangganan, nu nangganan tunduk kepada mangkubumi, mangkubumi tunduk kepada raja; raja tunduk kepada dewata, dewata tunduk kepada Hyang. Ya itulah yang disebut Dasa Prebakti”) (Danasasmita dkk 1987: 74 dan 96).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kutipan tersebut terdapat peringkat dalam hal pengabdian, dimulai dari seorang anak yang mengabdi kepada ayahnya, lalu ada mangkubumi (penguasa daerah) yang tunduk kepada raja, hingga akhirnya dinyatakan bahwa para dewa mengabdi kepada Hyang. Jelas sekali dinyatakan bahwa kitab Sang Hyang Siksa menjelaskan tentang tingginya kedudukan Hyang dari pada para dewa yang mengacu kepada dewa-dewa Hindu dan Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Kawih Paningkes  tidak menjelaskan tentang konsep dewa-dewa Hindu-Buddha, justru yang diuraikan dengan segala perumpamaannya adalah upaya diri seseorang untuk mencapai pengetahuan yang sempurna. Pengetahuan atau keadaan yang sempurna itu dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Jika cantik tidak cantik, ada ucapan tak berucap, tak ada tekad tanpa tekad, tidak ada ujar tanpa ujar, tidak ada ketunggalan, tidak ada perasaan yang tunggal tanpa rasa. Tak ada raga tanpa kelihatan apa yang terjadi. Tidak ada orang yang terdengar, tak terbelai, tak tergarap. Tidak ada hidup yang terjangkau, tanpa cipat, tanpa warna… demikian yang menguasai hasil keutamaan yang sejati…” (Paningkes 2—3, Ayatrohaedi &amp;amp; M.Holil 1995: 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pernyataan lain yang mengarah kepada ajaran Hindu atau Buddha, kecuali yang telah dikemukakan adanya penyebutan Dewa Yama sebagai penguasa neraka, dan Mahapurusa yang bukan Śiwa. Konsep tertinggi dalam Kawih Paningkes disebutkan dengan julukan Batara Tunasaranta,  konsep tersebut bukan Śiwa, bukan pula Buddha, karena dijelaskan lagi sebagai “pemburu agung yang menurunkan raga, menghadirkan kilat dan hujan, memberitahukan tentang awan yang bergulung-gulung,..di balik angkasa tersamarkan oleh cahaya, matahari, bulan, jika dipandang terlihat lenyap…”(Ayatrohaedi &amp;amp; M.Holil 1995: 45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sungguh menarik adalah apa yang diuraikan dalam kitab Bujangga Manik, kitab langka yang sangat penting bagi pengetahuan kebudayaan Sunda Kuno, sebab menyebutkan gunung-gunung dan berbagai tempat keramat di Pulau Jawa pada waktu kitab itu disusun. Kronologi naskah merupakan salah satu masalah yang menarik untuk diperbincangkan, oleh karena itu peneliti pertama naskah Bujangga Manik, yaitu J.Noorduyn menyatakan:&lt;br /&gt;“More specifically the mention Majapahit, Malaka and Demak allow us, as we shall see, to date the writing of the story in the 15th century, probably the latter part of this century, or the early 16th century at latest” (1982: 414).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noorduyn hanya memberikan kisaran waktu penulisan naskah itu dalam abad ke-15 atau paling akhir pada permulaan abad ke-16 M. Kisaran itu memang mungkin benar karena didasarkan pada penyebutan tempat-tempat yang secara politis sedang berkembang atau masih berkuasa dalam periode yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Bujangga Manik memang menguraikan data topografi Jawa dalam masanya, dan dapat dipandang sebagai uraian perjalanan ziarah, namun tidak semata-mata tentang hal itu belaka. Bujangga Manik tentunya bersusah payah menyusun naskahnya untuk tujuan yang lebih mendalam bukan sekedar catatan perjalanan. Mengenai hal tersebut sebenarnya telah dikemukakan oleh Noorduyn sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“In this sense our story belongs to the category of religious literature and must have emanated from a religious community, even though it contains hardly any direct lessons on special religious topics, and in this way clearly differs from well-known Javanese stories of travelling mystics” (1982: 438).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noorduyn dan A.Teeuw memang telah mengemukakan lebih lanjut tentang bagian-bagian mana yang memperbincangkan tema-tema keagamaan dalam Bujangga Manik. Dalam kitab itu diperbincangkan tentang kunjungan sang Bujangga Manik ke berbagai pertapaan, tempat-tempat keramat (sasakala), tempat pendidikan agama (mandala), bertemu dengan para guru-guru keagamaan yang tinggi ilmunya (mahapandita), berdiskusi dengan tokoh-tokoh bijak, akhirnya ketika Bujangga Manik kembali ke tatar Sunda ia membuat tempat suci, dan bertapa (Noorduyn &amp;amp; Teeuw 2006: 162—8). Menurut Noorduyn naskah perjalanan Bujangga Manik yang menyebutkan berbagai tempat keagamaan di Jawa  mungkin dimaksudkan sebagai panduan bagi para pembaca yang ingin mengikuti jejak Bujangga Manik berkunjung ke pusat-pusat keagamaan di wilayah Jawa bagian tengah dan timur (Noorduyn 1982: 438). Dapat juga dipandang bahwa uraian naskah Bujangga Manik tersebut merupakan pengalaman pribadi dari tokoh penulisnya, namun perlu pula dipertimbangkan sebagai suatu bentuk karya fiksi yang bertujuan pendidikan, contohnya terlihat pada bagian akhir naskah terdapat deskripsi penyerahan diri tokoh penulis yang  terangkat jiwanya melayang menuju surga. Apapun bentuknya --karya nyata pengalaman pribadi atau fiksi--, jelas naskah tersebut dapat menyenangkan bagi para pembacanya (Noorduyn &amp;amp; Teeuw 2006: 171).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Bujangga Manik yang cukup panjang dan melelahkan untuk ukuran masa itu memang bukanlah pengembaraan  yang biasa. Mungkin Bujangga Manik menghabiskan waktu selama puluhan tahun, hanya saja tidak disebutkan secara jelas. Pada bagian awal naskah dinyatakan bahwa dia hendak dinikahkan dengan seorang perempuan pilihan ibundanya namun ia menolak, dapat ditafsirkan bahwa waktu itu usianya masih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian melakukan perjalanan keliling Jawa dan kembali lagi ke Jawa bagian barat,  mungkin pada waktu ia kembali usianya sudah relatif tua, karena ia menyatakan bahwa “nyiar lemah pamutian, nyiar cai pamorocoan, pigeusaneun aing paeh, pigeusaneun nu(n)da raga” (Bujangga.1320: 1—4), agaknya ia telah merasa mendekati akhir hayatnya. Naskah yang disusunnya bukanlah catatan perjalanan biasa, melainkan Bujangga Manik bermaksud membuat “perbuatan baik” yang diwujudkan dalam bentuk kitab yang dapat menjadi titik tolak perjalanan selanjutnya di alam kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Bujangga Manik menarik untuk diperbincangkan, mungkin itu bukan nama dirinya, melainkan epitet yang dipilihnya setelah ia mengambil jalan keagamaan. Kata bujangga atau bhujangga berarti brahmana pendeta, khususnya brahmana muda yang masih belajar (Zoetmulder 1995, I: 139), adapun kata mani atau manik artinya intan permata. Tetapi kata bujangga manik dapat dibaca juga menjadi pu + janggama + manik. Kata janggama + manik mengalami proses bahasa sandi luar, maka tercipta kata janggamanik dengan tidak perlu mengulang suku kata ma dua kali dalam janggama dan manik. Dalam hal ini pu atau mpu adalah kata Jawa Kuno yang berarti orang yang dihormati, janggama adalah kata dari bahasa sansekerta yang artinya bergerak, berpindah-pindah (Liebert 1976: 111) dan mani atau manik telah dijelaskan berasal dari kata Sansekerta yang artinya intan permata. Dengan demikian tokoh tersebut cukup cerdas dengan memadukan berbagai arti dalam epitetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Bujangga Manik dapat diartikan “permata pendeta yang masih belajar”, adapun kata Pu Janggamanik artinya kurang lebih “Pengelana yang dihormati”, atau dapat diartikan secara luas  menjadi “Sang Pengelana Terhormat”. Arti kata pertama atau pun kedua sesuai dengan keadaan dirinya dan juga aktivitasnya. Ia berasal dari lingkungan istana Pakuan, artinya kerabat dekat raja, mungkin seorang pangeran atau putra raja. Aktivitasnya yang melakukan pengembaraan keliling  Jawa dimetaforakan dengan kata janggama yang artinya selalu berpindah tempat, sesuai dengan pengembaraan yang dilakukannya mengunjungi tempat-tempat keagamaan dan melalui berbagai wilayah, ia berpindah-pindah tempat atau melakukan pengembaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam uraian kitab Bujangga Manik terdapat pula tata cara ritual dalam melaksanakan agama Sunda Kuna yang memuja adi kodrati berjuluk Jati Niskala, Sang Hyang Taya, Sang Hyang Manon atau lainnya. Diuraikan bahwa sang bujangga melakukan kegiatan keagamaan di suatu tempat bernama Gunung Sembung,&lt;br /&gt;1280&lt;br /&gt;“Sacu(n)duk ka gunung Se(m)bung,&lt;br /&gt;eta hulu na Citarum,&lt;br /&gt;di inya aing ditapa,&lt;br /&gt;sa(m)bian ngeureunan palay,&lt;br /&gt;Tehering puja nyangraha,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1285&lt;br /&gt;puja (nya)pu mugu-mugu.&lt;br /&gt;Tehering na(n)jeurkeun li(ng)ga,&lt;br /&gt;tehering nyian hareca,&lt;br /&gt;teher nyian sakakala.&lt;br /&gt;Ini tu(n)jukeun sakalih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1290&lt;br /&gt;tu(n)jukeun ku na pa(n)deuri,&lt;br /&gt;maring aing pa(n)teg hanca //O//&lt;br /&gt;A(ng)geus aing puja nyapu,&lt;br /&gt;Linyih beunang aing nyapu,&lt;br /&gt;Ku/macacang di buruan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1295&lt;br /&gt;Nguliling asup ka wangun, ngadungduk di palu(ng)guhan,&lt;br /&gt;Dibiwi samadi&lt;br /&gt;Ku ngaing dirarasakeun,&lt;br /&gt;Ku ngaing dititineungkeun&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sampailah ke Gunung Sembung,&lt;br /&gt;itu merupakan hulu Sungai Citarum,&lt;br /&gt;di tempat itu aku bertapa,&lt;br /&gt;seraya menghentikan segala keinginan.&lt;br /&gt;Kemudian aku membangun pemujaan&lt;br /&gt;puja nyapu dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;Lalu kudirikan lingga,&lt;br /&gt;terus membuat arca, kemudian membuat bangunan suci.&lt;br /&gt;Ini untuk menunjukkan kepada mereka&lt;br /&gt;pertanda untuk mereka kelak&lt;br /&gt;bahwa aku telah menyelesaikan tugas.&lt;br /&gt;Setelah kutuntaskan puja nyapu,&lt;br /&gt;bersihlah sudah kusapu,&lt;br /&gt;bolak- balik di halaman,&lt;br /&gt;berkeliling masuk ke dalam bangunan,&lt;br /&gt;lalu berdiam diri di tempat duduk,&lt;br /&gt;berdoa sambil tafakur.&lt;br /&gt;Kuhayati semua itu,&lt;br /&gt;Kurenungi segalanya&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;(Noorduyn &amp;amp; A Teeuw 2009: 309).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain urain tersebut terdapat juga pemerian lain bahwa Bujangga Manik juga melakukan kegiatan ritual keagamaan dengan membangun tempat peribadatan. Menurutnya sesampainya di hulu Sungai Cisokan, di kaki Gunung Patuha, Bujangga manik menemukan lokasi yang keramat, lalu:&lt;br /&gt;“menghadap ke Bahu Mitra&lt;br /&gt;Telah kubangun sebagai pedusunan,&lt;br /&gt;disusun  batu berundak-undak&lt;br /&gt;disusun batu sekelilingnya,&lt;br /&gt;dari bawah dengan batu datar,&lt;br /&gt;menjulang ke atas dengan batu tegak,&lt;br /&gt;di puncaknya dengan batu putih,&lt;br /&gt;ditaburi batu permata indah,&lt;br /&gt;Gemerlap berderet-deret&lt;br /&gt;tujuh bangunan untuk keperluanku,&lt;br /&gt;tempat makan dan kayu bakar,&lt;br /&gt;dan juga tempat menumbuk,&lt;br /&gt;terapian menyala-nyala,&lt;br /&gt;Dua lumbung berdampingan,&lt;br /&gt;taman mengapit pintu gerbang&lt;br /&gt;…”&lt;br /&gt;(Norrduyn &amp;amp; A.Teeuw 2009: 313)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya jelas bahwa melalui uraian kitab Bujangga Manik dapat diketahui bahwa bangunan keagamaan dan tata cara ritual keagamaan masa Sunda Kuno cukup berbeda dengan yang dikenal dalam ajaran Hindu-Buddha dalam masyarakat Jawa Kuno. Bujangga Manik menyatakan bahwa ia tidak membangun candi yang lengkap dengan bilik dan relungnya, tidak ada kemuncak dan candi-candi perwaranya, justru yang dibangun olehnya adalah punden berundak-undak, dengan batu tegak atau batu putih di puncaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga melakukan upacara keagamaan Puja Nyapu yang kegiatannya mungkin menyapu sekeliling bangunan berundak tersebut sambil menghadapkan diri kepada kekuatan adi kodrati. Setelah melakukan puja nyapu, kemudian ia duduk bermeditasi, namun tempat bermeditasi tersebut tidak dijelaskan di arah mana dari punden. Dapat juga diketahui bahwa terdapat bangunan-bangunan lain jumlahnya 7 di dekat punden, dinyatakannya sebagai tempat untuk menyimpan kayu bakar, perapian, lumbung, dan juga tempat tinggalnya sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Sanghyang Raga Dewata (Ekajati &amp;amp; Undang A.Darsa 2004) terdapat pernyataan yang menjelaskan tentang siapa adi kodrati dalam masa Sunda Kuno.&lt;br /&gt;16.“Tidak ada yang menjadikan aku ,&lt;br /&gt;tidak ada yang menciptakan aku,&lt;br /&gt;Aku menamai diri sendiri,&lt;br /&gt;Sanghyang Raga Dewata,&lt;br /&gt;Mengapa menamakan diri sendiri,&lt;br /&gt;(sebagai) Sanghyang Raga Dewata ?&lt;br /&gt;(karena) nama dewata juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu terdengarlah ucapan sesungguhnya,&lt;br /&gt;Perkataan yang benar,&lt;br /&gt;(bahwa) dia adalah bayu, sabda, hedap&lt;br /&gt;Karena dirinya berbeda,&lt;br /&gt;Karena dirinya sakti,&lt;br /&gt;Karena dirinya dewata,&lt;br /&gt;Ucapannya senantiasa benar,&lt;br /&gt;Itulah sebabnya sempurna,&lt;br /&gt;Itulah sebabnya sakti,&lt;br /&gt;Itulah sebabnya dewata…&lt;br /&gt;(Ekadjati &amp;amp; Undang A.Darsa 2004: 165).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam uraian tersebut justru yang dijelaskan adalah hakekat adi kodrati Sunda Kuno sendiri yang berjuluk Sanghyang Raga Dewata, bukannnya dewa tertinggi dalam Hinduisme atau pun Buddhisme. Kitab yang sama juga menyebut bahwa Sanghyang Raga Dewata tersebut dijuluki juga Sanghyang Manon dan Sanghyang Tunggal. Dewa-dewa lainnya ada yang dikenal dari ajaran Hindu dan ada juga dewa yang bukan dari Hindu, sebenarnya hanya pancaran saja dari Sanghyang Tunggal. Ia memancarkan dirinya menjadi Batara Mahadewa, Wisnu, Isora, Brahma (Ekadjati &amp;amp; Undang A.Darsa 2004: 177-178). Kiranya uraian seperti itu sama dengan yang diajarkan oleh berbagai kitab keagamaan Sunda kuno lainnya yang telah diperbincangkan di bagian terdahulu dalam kajian ini. Bahwa dewa-dewa dari kebudayaan India memang dikenal, namun konsep adi kodrati tertinggi Sunda Kuno bukanlah salah satu dewa India, melainkan Sanghyang tertinggi menurut kepercayaan masyarakat Sunda Kuno sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kebudayaan Sunda Kuno dikenal sejumlah karya sastra, sekarang ada yang masih tersimpan di masyarakat, dikoleksi Perpustakaan Nasional, dan beberapa lagi disimpan oleh perpustakaan-perpustakaan luar negeri. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan selama ini dapat diketahui bahwa karya sastra keagamaan Sunda Kuno mempunyai ciri tersendiri yang membedakannya dengan karya sastra keagamaan sezaman dari kebudayaan Jawa dan Bali.  Beberapa ciri tersebut antara lain adalah:&lt;br /&gt;1.Menggunakan bahasa Sunda Kuno, namun ada yang berbahasa Jawa Kuno, sejauh ini yang baru diketahui adalah Serat Dewa Buda.&lt;br /&gt;2.Penuh dengan kalimat-kalimat yang sukar untuk dimaknai, metafora yang sangat dalam sehingga pembacanya harus orang-orang yang paham betul dengan konsep tersebut.&lt;br /&gt;3.Di dalamnya banyak yang menguraikan langsung ajaran pertemuan antara manusia dan konsep adi kodrati.&lt;br /&gt;4.Tidak pernah ada deskripsi tentang sifat-sifat dewa Hindu atau Buddha, artinya tidak kental bernapaskan agama Hindu dan Buddha.&lt;br /&gt;5.Tidak ada uraian data ikonografi dari dewa-dewa  Hindu dan Buddha. Artinya tidak ada penggambaran tentang wujud sesosok arca dewa Hindu atau Buddha, misalnya dewa X harus bertangan 4, membawa benda apa saja, menaiki hewan tertentu, dan sebagainya. Bentuk lingga yang kerapkali disebutkan dan ditegakkan sebagai tanda pemujaan, juga tidak dirinci wujud sebenarnya, temuan arkeologis memperlihatkan bahwa bentuk lingga yang dimaksudkan hanya batu alami lonjong yang ditancapkan di permukaan tanah, jadi tidak sama dengan lingga Hindu yang dibagi menjadi Brahma bhaga, Rudra bhaga, dan Wisnu bhaga.&lt;br /&gt;6.Berulangkali dinyatakan bahwa dewa-dewa Hindu dan Buddha hanya dewata yang kedudukannnya lebih rendah dari konsep adi kodrati Sunda Kuno. Dewata Hindu hanya disebutkan menjaga surge tertentu di arah tertentu, namun mereka adalah penjelmaan dari Sanghyang tertinggi, bukan dewata utamanya.&lt;br /&gt;7.Berdasarkan uraian isinya agaknya  karya-karya sastra Sunda kuno dibagi ke adalam dua jenis, yaitu (a) ditujukan untuk kalangan masyarakat luas, sehingga siapapun dapat mudah memahami uraiannya, walaupun tidak gambling benar, misalnya kitab Sang Hyang Siksakandang Karesian dan Amanat Galunggung; (b) kitab yang ditujukan bagi kalangan kaum agamawan belaka, bukan untuk masyarakat awam, oleh karena itu tidak mudah untuk dipahami secara lugas, misalnya kitab Sewaka Darma, Kawih Paningkes, Serat Dewa Buda, dan Sang Hyang Raga Dewata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kajian terhadap beberapa naskah Sunda Kuno yang disebut-sebut sebagai kitab keagamaan ternyata menghasilkan temuan yang menarik.  Berdasarkan telaah yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa religi yang berkembang dalam masa Kerajaan Sunda, bukan agama Hindu atau Buddha dan juga bukan perpaduan Hindu-Buddha, melainkan suatu bentuk religi tersendiri yang mengagungkan Sanghyang tertinggi dengan berbagai julukannya.  Akibat dari temuan kajian ini agaknya akan membuka peluang lebih lanjut dalam hal penelisikan masyarakat Sunda Kuno di bidang sejarah politik dan sejarah kebudayaannya, sebab telah menjadi aksioma bahwa religi adalah dasar utama dari perkembangan kebudayaan  masyarakat tertentu dalam  era tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Ayatrohaedi, 1988. Serat Dewabuda: Alihaksara dan Terjemahan. Laporan Penelitian untuk Bagian Proyek Penelitian dan Pengajian Kebudayaan Sunda, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayatrohaedi &amp;amp; Munawar Holil, 1995. Kawih Paningkes: Alihaksara dan Terjemahan Naskah K.419, Khasanah Perpustakaan Nasional Jakarta. Laporan Penelitian Dibiayai oleh Proyek DIP-OPF 1994/1995, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danasasmita, Saleh, Ayatrohaedi, Tien Wartini, Undang Ahmad Darsa, 1987. Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632), Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi), Direktorat Jendral Kebudayaan, Depdikbud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darsa, Undang A. &amp;amp; Edi S.Ekadjati, 2003. “Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Prahyangan (Kropak 406)”, dalam Tulak Bala: Sistim Pertahanan Tradisional Masyarakat Sunda Kuno dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda. Sundalana 1. Bandung: Pusat Studi Sunda. Halaman173--208.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekadjati, Edi S.&amp;amp; Undang A.Darsa, 2004. “Sang Hyang Raga Dewata”, dalam Sundalana 2: Fatimah in West Java, Moral Admonitions to Sundanese Gentlewomen dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda. Bandung: Pusat Studi Sunda. Halaman 133--179.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiwijono, Harun, 1982. Agama Hindu dan Buddha. Jakarta: BPK.Gunung Mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NOORDUYN, J., 1982, ”Bujangga Manik’s Journeys Through Java: Topographical data from an old Sundanese source”, dalam Bijdragen tot de taal, land,-en volkenkunde. Deel 138 4e Aflevering. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff. Halaman 413—442.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------ &amp;amp; A.Teeuw, 2006, Three Old Sundanese poems. Leiden: KITLV Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noorduyn, J &amp;amp; A.Teeuw, 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agus Aris Munandar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Departemen Arkeologi&lt;br /&gt;Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia&lt;br /&gt;dimuat dalam Jurnal Manuskrip Nusantara (JUMANTARA) Vol.1 No.1 terbitan Perpustakaan Nasional RI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-4215458082994096623?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/4215458082994096623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/11/tinjauan-napas-keagamaan-hindu-buddha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4215458082994096623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4215458082994096623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/11/tinjauan-napas-keagamaan-hindu-buddha.html' title='TINJAUAN NAPAS KEAGAMAAN HINDU-BUDDHA DALAM BEBERAPA NASKAH SUNDA KUNO (ABAD KE-14—16 M)'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/TT04Y1VfE9I/AAAAAAAAAKs/_SPeemT38m0/s72-c/small.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-1121457381373206448</id><published>2010-11-25T20:47:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:01:46.209-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kliping'/><title type='text'>Naskah Sunda Kuno di Garut Terancam Musnah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;TEMPO Interaktif, Garut - Puluhan naskah kuno di situs Kabuyutan Ciburuy di Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terancam musnah. Kondisi ini diakibatkan oleh tidak adanya biaya perawatan. “Kondisi naskah cukup mengkhawatirkan,” ujar Kepala Seksi Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata Kabupaten Garut, Warjita, di ruang kerjanya siang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Warjita, selama ini pemerintah daerah tidak pernah mengalokasikan biaya pemeliharaan naskah. Padahal pihaknya telah berulang kali mengajukan biaya perawatan naskah dalam setiap penyusunan anggaran pendapatan dan belanja daerah setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warjita menyatakan, dalam anggaran tahun 2011 mendatang pihaknya telah mengajukan biaya pemeliharaan sebesar Rp150 juta, namun sampai saat ini belum ada kepastian apakah dana tersebut akan disetuji atau tidak. “Anggaran yang diajukan selalu dicoret, itu karena perhatian terhadap sejarah ini sangat kurang,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini pemeliharaan naskah masih dilakukan dengan cara tradisional. Naskah ini diperkirakan dibuat pada abad ke-16 periode Hindu atau masa Kerajaan Padjadjaran. Teks naskah kuno ditulis pada daun lontar dengan menggunakan bahasa Sunda dan Jawa Kuno dengan cara ditoreh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah naskah yang tersimpan di Kabuyutan Ciburuy. Saat ini sebanyak 27 kropak yang tersimpan dalam tiga peti. Setiap kropak jumlahnya bervariasi, antara 15 sampai 30 lempir (lembar). Tiap lempir naskah berukuran 28,5 x 3 sentimeter dengan ukuran ruang tulisan 25,5 x 2,5 sentimeter. Tiap halaman memuat empat baris tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jumlah tersebut, hanya tinggal 10 kropak yang masih dapat dikatakan utuh. Sedangkan sisanya, tidak lengkap karena sudah terlepas dari masing-masing ikatannya. Ditambah lagi banyak lempiran yang patah dan hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warjita menambahkan, naskah lontar yang berada di wilayahnya itu perlu dilakukan pengkajian ahli filolog. Soalnya hingga saat ini isi naskah lontar tersebut belum sepenuhnya terungkap. Padahal tidak menutup kemungkinan isi naskah tersebut mengandung unsur kearifan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Garut, Helmi Budiman, membantah bila pihaknya telah mencoret anggaran pemeliharaan naskah lontar. Menurutnya, pemeliharan terhadap benda sejarah dan budaya harus dilakukan dengan baik. “Kami tidak pernah mencoret anggaran tapi hanya menggembalikannya untuk mengefesiensikannya lagi,’ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, dia meminta pemerintah daerah untuk secepatnya membuat aturan tentang benda sejarah dan cagar budaya. Hal itu untuk melindungi keberadaan benda tersebut. “Kalau tidak ada aturan, tidak menutup kemungkinan benda sejarah dan budaya di kita ini bisa hilang,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIGIT ZULMUNIR&lt;br /&gt;sumber:&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/sastra_dan_budaya/2010/10/25/brk,20101025-287098,id.html"&gt;http://www.tempointeraktif.com/hg/sastra_dan_budaya/2010/10/25/brk,20101025-287098,id.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-1121457381373206448?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/1121457381373206448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/11/naskah-sunda-kuno-di-garut-terancam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1121457381373206448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1121457381373206448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/11/naskah-sunda-kuno-di-garut-terancam.html' title='Naskah Sunda Kuno di Garut Terancam Musnah'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-3301146560604699898</id><published>2010-11-15T21:03:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:01:16.216-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Naskah Sri Ajnyana Henteu 'Leungit'</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimuat dina Mangle No. 2092&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadéna aya Noorduyn (pupus taun 1994), sarjana Walanda nu leukeun ngeusian luangna waktu ku nalungtik naskah Sunda buhun. Pamianganana mah Noorduyn téh diutus ku Nederlandsch Bijbel Genootschap (NBG, Jama’ah Alkitab Walanda) pikeun digawé di Sulawesi Kidul. Ngan satutas disertasina ngeunaan téks sajarah Bugis réngsé, anjeunna meunang pancén anyar: mantuan proyék révisi kana tarjamahan Alkitab Injil basa Sunda yasana Coolsma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keur kapentingan éta proyék, anjeunna dipaparin kasempetan nu salega-legana pikeun ngabaladah basa, sastra, katut sajarah Sunda, tangtuna pikeun jadi pangrojong tanggung jawabna téa. Tina éta hal jigana anjeunna macaan téks Sunda buhun téh, boh nu aya di Jakarta (Perpustakaan Nasional RI) boh nu di Bodleian, Inggris. Sakurang-kurangna aya tilu téks nu dibaca ku Noorduyn téh, nyaéta Para Putera Rama jeung Rahwana (RR), Pendakian Sri Ajnyana (SA), jeung Bujangga Manik (BM). Dua nu disebut mimiti mah naskahna kaasup koléksi Perpustakaan Nasional: RR dikodeuan kropak 1102, ari SA dikodeuan kropak 625. Demi Bujangga Manik mah, mangrupa koléksi Perpustakaan Bodleian di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Naskah Sri Ajnyana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Sri Ajnyana (SA) taun 2006 dimumkeunna ku A. Teeuw, nu nuluykeun hanca garapan Noorduyn nu kabujeng dipundut ku Nu Kagungan. Hanca garapan Noorduyn kana naskah SA nu ‘teu kungsi kalisankeun’ téh ngawujud draft tulisan anu eusina aya dua rupa. Nu kahiji, draft transliterasi jeung tarjamahan dina basa Walanda nu can lengkep katut sawatara catetan jeung rujukan. Demi nu kadua mah, transliterasi jeung tarjamahan dina basa Inggris nu geus lengkep, tapi can dieuyeuban ku catetan tarjamahan katut analisisna. Éta hancana nu can réngsé pisan téh dituluykeun ku Prof. A. Teeuw, nepi ka ngajanggélék jadi buku "Three Old Sundanese Poem" wedalan KITLV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina éta buku aya catetan, yén naskah SA (kropak 625) téh teu kapaluruh deui raratanana dina koléksi Jakarta. Nu nyebutkeun ieu naskah ‘leungit’ téh tangtu A. Teeuw, sabab jigana Teeuw teu maluruh sacara langsung ka Perpustakaan Nasional RI (PNRI). Saupama Teeuw maluruh kropak 625 ngagunakeun katalog-katalog naskah koléksi PNRI, tangtu bakal hésé kapanggihna. Dina katalog susunan  suwargina Bapa Edi S. Ekadjati (1988), naskah SA téh teu didaptarkeun. Jigana, naskah SA teu kadaptar dina Katalog Sunda yasana Pa Edi téh, alatan ieu naskah diteundeunna pacampur jeung naskah-naskah lontar nu ti Jawa jeung Bali (peti 88), henteu dina peti naskah-naskah Sunda buhun sakumaha ilaharna (peti 15 jeung 16). Nu ngadaptarkeun naskah ieu mah ukur Behrend dina Katalog Naskah-naskah Nusantara Jilid 4: Koléksi PNRI (1998) jeung sténsilan daftar naskah nu disusun ku PNRI. Tapi dina dua katalog éta mah, kropak 625 téh dijudulan Serat Pangruwatan, turta cenah ditulis maké aksara tur bahasa Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggeus disalusur kana petina, singhoréng naskah nu dijudulan Serat Pangruwatan dina katalog Behrend téh nyaéta naskah SA. Aksarana atra pisan, Sunda buhun. Dibaca hareupna saliwatan nu unina: ‘sakit geui ngareungeuheun, cicing hanteu dék matingtim, jst.’ leuwih ngayakinkeun nu nulis yén ieu naskah téh eusina téks SA. Kropak 625 ditulis dina daun lontar ukuran 28 x 3,2 cm., kandelna 27 lambar, 4 jajar unggal lambar, aksara jeung basana mah, Sunda buhun. Dina téksna mah taya judulan. Judul ‘Lalampahan Sri Ajnyana’ diusulkeun ku Noorduyn jeung Teeuw, dumasar kana ngaran tokoh utamana. Dumasar laporan purbakala nu disusun N.J. Krom jeung F.D.K. Bosch (1914) jeung Notulen Bataviaasch Genootschap (1875) mah, naskah SA téh pamasihan bupati Bandung Wiranatakusumah IV (1846-1874).  Dina éta laporan kacatet yén koropak 620 nepi ka koropak 626 téh meunang ngumpulkeun Bupati Bandung. Ti wewengkon mana naskah téh dikumpulkeun ku Bupati Bandung, can kapaluruh, ngan jigana mah ti wewengkon kabuyutan nu aya di Priangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah SA téh naskah nu kawilang penting, da nepi ka kiwari ngan kapanggih hiji naskah atawa can kapanggih salinanana. Jadi, saupama kajadian éta naskah téh leungit, mana teuing ngenesna. Kapunjulan eusining caritana mah bisa ditingali dina bukuna Teeuw jeung Noorduyn nu disebutkeun di luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ilang tanpa Karana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Éta mah béja pikabungaheunana. Pikasediheunana mah, tina 63 naskah nu aya di PNRI téh, lima di antarana ilang tanpa karana. Duka naon sababna, duka saha nu gaduh hadasna. Naskah anu ceuk lagu Mang Koko mah ‘ngahiang duka ka mana’ téh nya éta KBG 74 (Waruga Guru) L 410 (Ratu Pakuan), L 411 (Ratu Pakuan), L 419 (Kawih Paningkes), jeung L 639 (Serat Buana Pitu). Nu perlu dicatet, naskah nu ditataan di luhur téh, hadéna deui baé, kungsi ditalungtik. Teu kabayang mun seug éta naskah téh can katalungtik, lapur tah catetan titipan ti karuhun téh. Bujangga Manik geus ngélingan perkara ieu téh, cenah gé: “Tehering nanjeurkeun lingga, tehering nyian hareca, teher nyian sakakala. Ini tu(n)jukeun sakalih,  tu(n)jukeun ku na pa(n)deuri.” (Laju ngadegkeun lingga, laju nyieun arca, laju nyieun tanda pangéling-éling. Ieu téh tuduhkeuneun ka jalma réa, tuduhkeuneun ka jalma isuk jaga) (baris 1286-1291).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku disebutkeunana naskah ‘leungit’ atawa teu kapanggih deui dina tempat nu samistina téh tangtu lain pasualan énténg, sumawonna lamun naskah dianggap sumber sajarah mah. Kapan ngan sakitu-kituna naskah Sunda buhun titinggal karuhun téh. Kumaha mun baring supagi anak-incu téh panasaran, aya hojah hayang maca naskah? Leungitna naskah Sunda (buhun) téh sarua jeung leungitna tapak nu jadi tuduh jalan pikeun panaratas sangkan nepi ka tempat nu dituju, jati dirina. Jadi ras kana jargon UNDEP 1978: “Alam dunya téh lain warisan karuhun, tapi titipan anak incu”. Mun kecap ‘alam dunya’-na diganti ku kecap ‘naskah’, turta dima’naan ku nu boga tanggung jawab ngajagana, asana mah moal kajadian aya naskah anu ilang tanpa karana téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nu nulis, filolog, kurator naskah Sunda di Perpustakaan Nasional RI&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-3301146560604699898?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/3301146560604699898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/11/naskah-sri-ajnyana-henteu-leungit_8180.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/3301146560604699898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/3301146560604699898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/11/naskah-sri-ajnyana-henteu-leungit_8180.html' title='Naskah Sri Ajnyana Henteu &apos;Leungit&apos;'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-1086137352061237051</id><published>2010-10-11T21:01:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T22:00:58.919-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sasana Maha Guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Trimala &amp; Trimala Wisésa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dina bagian ieu, pangarang téks Sanghyang Sasana Maha Guru (SSMG) museurkeun pangajaranana kana ucap, lampah, jeung tékad nu aya dina diri manusa. Éta tilu poténsi manusa téh kudu dijaga kalawan enya-enya. Ucap, lampah, jeung tékad jadi cicirén kapribadian jalma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu kaasup kana trimala téh nyaéta ucapan (sabda), paripolah (ulah), jeung maksud (ambek) nu teu merenah. Ucapan nu teu merenah di antarana: nyarékan tanpa sabab, ngahina, nyumpahan, nyela omongan, neluh, ngupat guru, sakur omongan nu teu merenah. Paripolah nu teu merenah di antarana:  notok, nakol, newek, neunggeul, ngadagorkeun, nampiling, katut sakur paripolah hampang leungeun. Ari nu kaasup maksud (pikiran) nu teu merenah di antarana: ngira-ngira, nipu, mitnah, neluh, nganyenyeri haté, jeung goréng sangka. Sakabéh nu teu merenah éta nu ngotoran tilu poténsi manusa téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saupama trimala keuna ka jalma nu nyekel kakawasaan (prabu, rama, resi, jeung tarahan) disebutna trimala wisésa. Temahna, nu nyekel kakawasaan bakal sangeunahna dina ngajalankeun kakawasaannana. Aya nu keur susah kalah dijual atawa dijieun budak beulian, dirampas hakna, nepi ka dipaéhan.  Nu kitu cenah nu jadi bibit buit kasangsaraan sarta jadi cicirén datangna mangsa kaancuran (kaliyuga) téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TÉKS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Carékna Sanghyang Tu(ng)gal: “Na naha piangeneunana[1], sang hya(ng) pustaka ini? Kéna karah aing dék ngab(e)jalkeun carita, metuna sanghya(ng) siksa guru, ti sanghya(ng) siksa.” [Ndeh nihan sang hya trikaya madala parisuda ngaranya Trika]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ma na timpalkeuneun, mulah dék mitemen[2] iña sang séwaka darma. Na puhun awah-awuh, tangkal ning /14v/ papa (ka)lésa, wwit ning kaliyuga, hétu ning papa ning (na)raka. Ngara(n)na, trimala, guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nihan lwirnya[3]: ika sinangguh trimala ngaranya, kadyangganing gangsa lawan malam, tambaga lawan timah. Apa ta kangken[4] tambaga lawan timah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ning kang tridusta: (sabda tan yukti), ulah tan yukti, ambek tan yukti. Ginawayaken sabda mahala, ulah mahala, ambek mahala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini byaktana, ulah mahala: notok mokol, newek meureup, ngadeudeul, no(ñ)jok ñakétro(k), nampar na(m)pélang, sakwéh[5] ning lekas tangan, ya ulah mahala, ngaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda mahala ngara(n)na: torong gasong tanpa karana, campe(la)k sabda, ñumpah madahkeun, ngadudu, neluh, ngupat guru, sakwa(é)h ning sabda tan yukti, ya sabda mahala ngaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambek mahala ma ngaranya: kira-kira, budi-budi, ngajerum, ngagunaan, mijaheut[a] /14r/ [t]an, nganeluh[6], ngaracun, hiri paywagya. Ageus ma nu mupu maling papa(ñ)jingan[a] méda rungahadang. Sing sawatek tan ywagya, dipitwah dipih(e)dap, ya éta ambe(k) mahala. Yata sinangguh trimala ngaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nihan sinangguh trimala wisésa ngaranya. Hana ya di sang prabu, rama, resi, mwang tarahan. Ini byaktana, aya ta kajeueung nu duka, dijual dihulunkeun, dirampas dipihéhan. Yata sinangguh pañca kapataka ngaranya, sinangguh trima(la) wisésa ngaranya, ling sang pandita (3).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TARJAMAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Carékna Sang Hyang Tunggal: “Naon atuh lenyepaneunana, tina ieu buku suci téh? Ah, sababna alatan kami dék ngagelarkeun carita, gelarna sanghyang siksa guru (ajaran suci guru), tina ‘sanghyang siksa’ (ajaran suci).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ieu pikeun babandingankeuneun. Ulah dék ngukuhan nu kitu wahai nu ngarabdi kana darma! Tanwandé jadi sumber tina bancang pakéwuh, sumber tina/14v/ kasangsaraan tur kahinaan, awal tina jaman burakrakan, cukang lantaran kasangsaraan di naraka. Éta disebutna téh, trimala (tilu kaayaan kotor), (dina) laku lampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nya ieu wujudna téh. Ieu nu disebut trimala, lir ibarat gangsa jeung lilin, tambaga jeung timah. Naon nu diibaratkeun tambaga jeung timah téh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ieu tilu kajahatan téh: ucapan nu teu merenah, paripolah nu henteu merenah, maksud nu teu merenah; ngalakukeun ucapan nu jahat, laku lampah jahat, maksud yang jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ieu tegesna paripolah jahat: notok, nakol, newek, meureup, neunggeul, nonjok, nenggarkeun, nampiling, jeung sakur laku lampah tina hampangna leungeun, nya éta nu disebut laku lampah jahat téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu disebut ucapan jahat: nuduh jeung nyarékan tanpa sabab, ngalélécé dina omongan, nyumpahan sarta moyok, nyela, neluh, ngupat guru, katut sakur omongan nu teu pantes, nya éta nu disebut sabda mahala (ucapan jahat) téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu disebut maksud jahat: ngira-ngira, nipu, mitnah, nyihir, nganyenyeri ati, /14r/ neluh, ngaracun, hiri dengki jeung goréng sangka. Kitu deui nu ngala pepelakan batur, maling, asup tanpa idin, napsu pikeun ngarogahala. Sakur nu henteu pantes, dilakonan sarta diniatan, nya éta nu disebut maksud jahat téh. Nya éta nu disebut trimala téh (tilu kaayaan kotor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nya ieu nu disebut ‘trimala wisésa’ (tilu ceda dina kakawasaaan). Ayana di sang prabu, rama, resi jeung tarahan. Ieu écésna mah: aya nu katingali keur susah, kalah dijual dijieun budak beulian, atawa dirampas jeung dipaéhan. Nya éta nu disebut ‘pancakapataka’ (lima kasangsaraan), disebut ogé ‘trimala wisesa’ (tilu kaayaan kotor dina kakawasaan), omongan Sang Pandita (3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KABEUNGHARAN KECAP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;piangeneunana ‘lenyepaneunana (dina haté)’, angen ‘haté’ = SdM &amp;amp; JwK.&lt;br /&gt;sanghyang siksaguru ‘ajaran suci guru’&lt;br /&gt;sanghyang siksa ‘ajaran suci’&lt;br /&gt;timpalkeuneun ‘babandingankeuneun’ = SdM timpal ‘banding, tanding’ satimpal ‘sabanding’.&lt;br /&gt;mitemen ‘ngukuhan’. Teuuw &amp;amp; Noorduyn (2006: 476) ‘nganggap serius?”&lt;br /&gt;awah-awuh ‘kakacowan, pakéwuh’. Tarjamahan dumasar kontéks.&lt;br /&gt;papa Skt pāpa ‘kasusahan, kasangsaraan’ = JwK.&lt;br /&gt;kalésa Skt kleśa ‘kasangsaraan’. JwK ‘id.’ (Z 509)&lt;br /&gt;hétu Skt ‘sabab, cukang lantaran’. JwK ‘id.’ (Z 353). Teu kapaluruh dina SdM.&lt;br /&gt;gangsa Skt kamsa ‘kuningan, logam’ SdM ‘id.’&lt;br /&gt;tridusta ‘tilu kajahatan’ JwK ‘id.’&lt;br /&gt;trimala ‘tilu kaayaan kotor’ JwK ‘id.’&lt;br /&gt;sabda Skt śabda ‘ucapan, omongan’ JwK ‘id.’ (Z 970)&lt;br /&gt;ulah ‘paripolah’ dina SdM – kecap panyarék ‘entong’ = Ind jangan.&lt;br /&gt;ambek ‘tékad, maksud, paniatan’ dina SdM ambek = Ind marah.&lt;br /&gt;yukti Skt ‘pantes, matut’, JwK ‘id.’ Teu kapaluruh dina SdM (Z.II:1495).&lt;br /&gt;mahala ‘jahat’ JwK ‘id.’ (Z 327). Teu kapaluruh dina SdM.&lt;br /&gt;mokol ‘nakol’ (kontekstual) band SdM takol&lt;br /&gt;ngadeudeul ‘neunggeul’ = JwK (Z 206). Dina SdM – ‘nyumbang, mantuan ku tanaga at. harta’ (KUBS 110)&lt;br /&gt;nyakétrok ‘nenggar, ngagédorkeun’. SdM pakétrok ‘paadu’ (KUBS 225)&lt;br /&gt;nampélang ‘nampiling, nyabok’ band. SdM nampiling.&lt;br /&gt;lekas tangan ‘gerakan leungeun, hampang leungeun’. Lekas dina JwK ‘gerakan’ (Z 583)&lt;br /&gt;torong gasong ‘nuduh bari nyarékan’&lt;br /&gt;campelak sabda ‘culangung dina omongan’ = SdM&lt;br /&gt;nyumpah ‘nyumpah(an)’ = SdM&lt;br /&gt;madahkeun ‘moyok’ = SdM (D s.v mada) band Jw mada ‘id.’, dina JwK ‘nafsu, adigung’ (Z 623).&lt;br /&gt;ngadudu ‘nyela (nuduhkeun teu-panuju)’&lt;br /&gt;kira-kira ‘ngira-ngira’, jigana ngandung harti négatif ‘ngarencanakeun kajahatan?’&lt;br /&gt;budi-budi ‘nipu’ band SdM buda-budi atawa ngabudian ‘némbongkeun pasemon ngéwa’ (D 108)&lt;br /&gt;ngajerum ‘nuduh, mitnah’ = SdM (D 291)&lt;br /&gt;ngagunaan ‘neluh, ngaguna-guna?’ Danadibrata (kaca 237) nganggap kecap – serepan tina Ind. guna-guna. Band ogé kecap budi-budi nu sarua hartina jeung ngabudian.&lt;br /&gt;mijaheutan ‘nganyenyeri (ati)’&lt;br /&gt;hiri payogya ‘hiri dengki, sirik pidik’&lt;br /&gt;mupu ‘ngala kabéh’, biasana bubuahan atawa kekembangan. Dina kontéks kecapna nuduhkeun ‘ngala nu lain hakna’.&lt;br /&gt;papanjingan ‘asup ka imah awéwé larangan?’ kecap – dina JwK ‘kalangan awéwé di karaton’&lt;br /&gt;méda ‘nafsu (nu teu kaampeuh)’ JwK ‘id.’ (Z 665)&lt;br /&gt;rungahadang ‘ngahadang’, naha dibaca ngahadang?&lt;br /&gt;dipitwah ‘dipilampah, dilakonan’&lt;br /&gt;dipihedap ‘diniatan’&lt;br /&gt;dihulunkeun ‘dijieun hulun, dijieun budak’&lt;br /&gt;dipihéhan ‘dipaéhan’&lt;br /&gt;pañcakapataka Skt ‘lima kasangsaraan’&lt;br /&gt;trimala wisésa Skt ‘tilu kaayaan kotor dina kakawasaan’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kat: SdM = Sunda Modéren (basa)– JwK=Jawa Kuna (basa)– Skt=Sangskreta (basa)–Mal=Malayu (basa) – Z = Zoetmulder (Kamus Jawa Kuna Indonesia, 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanca&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[Aditia Gunawan]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Nskh: pieungnana&lt;br /&gt;[2] Nskh: metemen&lt;br /&gt;[3] Nskh: lwarnya&lt;br /&gt;[4] Nskh: yangken&lt;br /&gt;[5] Nskh: sakwah&lt;br /&gt;[6] ‏‏Nskh: nganiluh &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-1086137352061237051?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/1086137352061237051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/10/trimala-trimala-wisesa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1086137352061237051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1086137352061237051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/10/trimala-trimala-wisesa.html' title='Trimala &amp; Trimala Wisésa'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-2073013369245396807</id><published>2010-09-27T19:35:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T22:00:18.232-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Sagelar Sanghyang Wayang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://hirzithariqi.files.wordpress.com/2010/01/wayang.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 319px; height: 206px;" src="http://hirzithariqi.files.wordpress.com/2010/01/wayang.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://hirzithariqi.files.wordpress.com/2010/01/wayang.jpg&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Boma deungeun Ramayana, Korawa deung Adiparwa, Angdégaparwa Dornaparwa Santiparwa Satyaparwa, Karnaparwa Sorgaparwa, kalawan Agasti Sarwatuti, deung Cakrawati, kalawan na Sowéra Patra, Salakat deung Sarwatuti, Kontara jeung Rajanata, Tanjali deung Cakra Rohawati, Punggawa deung Bima Sorga, Wiwaha deung Pandawa Jaya, Kangkus deung Aci Puresanapala, kalawan Ratu Asihan, pauitan Parama Demit, Danansri ugan pagoyan, tunduk lawan pakedut /10r/han.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Caca(n)dén deung Kararangsén, tahampékan babaheuman, pangeusi binaya panti, patikrama madang kulan, isiraja kapankapa,  tataan sang hyang medang. Kalawan warugan na pakwa, Patra deung Darmasona, Rudamala deung Askara, mangleuwi darma přetuti, darma wéya padonaan, pageni mangbang kamalé, prebokta putera wisésa, kukumba mahapawitra, bubuksah parahyangan, maha bungku medang tangtu, darining deung candra geni, sumineung darma sasana, deung pagagadan, bantis ti purba jati, /10v/ sri wanodri ma kusumah sri manggala maha padma, kalawan Tatwa Añjana, budi keling gagang aking, budi cipta i(n)dranata, kalawan Kunjayakarna, manguni Hurip-Huripan, kalawan Sri Maha Guru, sagelar sang hyang wayang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[kropak 626, lambaran ka-10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina Cupumanik édisi Fébruari 2009, maca tulisan beunang Wa Sas (Mamat Sasmita) nu judulna ‘Nyawang Kalangkang Wayang’. Dina nyukcruk sajarahna, cenah “Dina naskah Sunda kuna Sanghyang Siksakandang Karesian (SSK, 1518 M) disebutkeun lamun hayang nyaho carita Damarjati, Sanghyang Bayu, Jayasena, Sédamana, Pu Jayakarma, Ramayana, Adiparwa, Korawasarma, Bimasorga, Ranggalawé, Boma, Sumana, Kala Purbaka, Jarini, Tantri, tanya ka mémén. Mémén di dieu ku Saléh Danasasmita dihartikeun ‘dalang’. Ngan kecap wayang teu kasabit-sabit, naha cara nyaritakeun éta lalakon téh kumaha, naha siga mantun atawa aya alat peraga atawa kumaha euweuh kateranganana.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina SSK mah kecap wayang téh teu kapanggih, kapanggihna kecap wayang téh nyaéta dina lambaran ka-10 téks Sunda kuna Sanghyang Swawar Cinta (Koropak 626) koléksi Perpustakaan Nasional RI. Rupa-rupa carita nu dipikawanoh ku urang Sunda mangsa harita (leuirna abad ka-17) ditataan hiji-hiji, ditungtungan ku kalimah ‘sagelar sanghyang wayang’. Cindekna, carita nu ditataan téh sakabéhna sok digelarkeun dina wayang. Kecap sagelar ngandung harti ‘sakabéh anu dipagelarkeun’. Kecap wayang ditambahan kecap sandang sanghyang deuih. Cindekna, wayang téh suci tur disucikeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geura wé, urang Sunda dina mangsa ieu téks dijieun geus wawuh jeung carita Boma. Boma nu dimaksud tangtu sarua jeung Bhomakawya (Bhomantaka), ngalalakonkeun peperangan antara Kresna jeung Boma (anak Déwa Bumi). Ramayana, lalakon nu dianggap pangkahotna, tangtu dipikawanoh ogé. Nepi ka lalakon para puterana (Manabaya vs Bujanggalawa) dianggit deui dina wangun puisi Sunda buhun, mangrupa bukti résépsi ti nu maca Ramayana nepi ka nyieun kréasi anyar nu orisinal. Adiparwa, nu nyaritakeun silsilah katut kahirupan Pandawa jeung Korawa, ti mimiti lahir, mangsa barudakna, nepi ka sawawa, dipikawanoh deuih ku urang Sunda mangsa harita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korawa, jigana teu béda jeung Korawasrama, ogé dipikawanoh. Najan Andégaparwa teu kapaluruh, ngan tangtu mangrupa lalakon sempalan tina Mahabarata ogé. Santiparwa mah kitab ka-12 tina lalakon Mahabharata. Tapi ieu kitab téh teu kapanggih dina téks Jawa Kuna. Santiparwa ngalalakonkeun piwejang ti bagawan Bisma nalika geus teu walakaya dina saratalpa (ranjang panah) sanggeus kajamparing ku Arjuna. Demi Karnaparwa mangrupa kitab ka 8 tina lalakon Mahabharata, nyaritakeun Salya nu jadi kusir kareta Karna. Karna antukna nemahan pati ku Arjuna sanggeus perang tanding. Parwa ieu ogé teu kapanggih dina téks Jawa kuna deuih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salyaparwa (dina téks Satyaparwa) mangrupa kitab kasalapan tina wiracarita Mahabarata. Nyaritakeun ngeunaan klimaksna perang rongkah antara Pandawa jeung Korawa, Baratayuda téa, utamana nincak poé ka-18, nalika Salya diangkat jadi panglima perang. Tungtung caritana mah, Salya gugur ku Yudistira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dornaparwa, kitab katujuh tina Mahabarata, teu kapanggih deuih dina téks-téks buhun di Indonésia. Nyaritakeun bagawan Drona dina perang Baratayuda. Gugurna Drona alatan ditipu ku Yudistira, nu méré iber yén Aswatama, putrana Dorna, gugur. Padahal nu dimaksud ku Yudistira mah gajah nu ngaranna sarua Aswatama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorgaparwa (dina tradisi Jawa Kuna Swargaroharaparwa) nyaritakeun Yudistira di sawarga nu diuji kaimananana ku para Dewa. Korawa diperenahkeun di tempat nu éndah di Sawarga, sabalikna, Pandawa diperenahkeun di tempat anu kacida hinana. Yudistira disina nangtukeun, tempat mana nu rék dipilihna. Kalawan haté nu sabil, Yudistira milih hirup katalangsara jeung dulurna di naraka batan babarengan jeung musuhna di sawarga. Saharita para Déwa lumungsur, naraka salin rupa jadi sawarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patra jigana sarua jeung Partayajnya. Ngalalakonkeun Pandawa nu diusir ti istana Hastina, hirup sakaparan-paran di leuweung Amarta salila 12 taun tina sabab Yudistira éléh maén dadu, jadi lenyepaneun pikeun urang Sunda baheula, yén hirup ulah ngalajur napsu nepi ka nandonkeun naon nu dipicinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimaswarga nyaritakeun lalampahan Bima ka kahiangan, nu boga paménta ka Batara Guru sangkan bapana, Pandu, dibéré anugerah sawarga. Batara Guru nyanggupan kalawan sarat Bima sanggup ngajawab unggal pertanyaan ti manéhna. Saban pananya sanggup dijawab ku Bima nepi ka Batara Guru kawalahan. Antukna paménta Bima sangkan bapana asup sawarga, dikabulkeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiwaha téh hartina kawin. Teu apal tah, naha nu dimaksud téh Arjunawiwaha atawa Abimanyuwiwaha. Ngan nu leuwih populér, copélna di Jawa, nya Arjunawiwaha. Demi Pandawa Jaya, carita ngeunaan meunangna Pandawa dina perang rongkah Baratayuda, kapan jadi kitab nu dibaca ku Bujangga Manik basa nyuprih pangarti agama di Rabut Pasajén di wewengkon Jawa (tengah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carita Séjén&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajaba carita wayang anu huluwotanana tina tradisi klasik India, carita-carita tina téks-téks sapandeurieunana nu dipikawanoh tina tradisi lokal ogé ditataan deuih. Upamana Darmasona (tangtu sarua jeung Darmasunya) nu eusina pangajaran ngeunaan yoga, pikeun manunggal jeung parama Siwa, ti mimiti tataran-tataran wujud siwa, prosés ngajadina alam dunia jeung manusa, bagbagan ngalaksanakeun yoga, nepi ka ngungkab jati diri sang wiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacandén (Élmu nu patali jeung taun), kararasén (élmu palintangan), teu kaliwat élmuning lelembutan dina carita Ratu Asihan jeung Parama Demit ogé dipikanyaho ku masarakat Sunda buhun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cindekna, sagala rupaning carita wayang (sagelar sanghyang wayang) nu ditataan di luhur téh geus jadi bahan apréasiasi masarakat Sunda bihari. Malah dina Siksa Kandang Karesian mah disebutna ogé guru panggung, guru dina papanggungan, geusan pangbeubeurah manah bari meunang hikmah. Hanjakalna, sawatara carita wayang bihari di luhur, aya nu teu (acan?) kaaprésiasi ku, atawa kawariskeun ka, seuweu-siwina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leuwih luangan, kurang tinabeuhan. Pun.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nu nulis, Filolog naskah Sunda di Perpustakaan Nasional RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimuat dina Mangl&lt;/span&gt;é&lt;span style="font-style: italic;"&gt; No. 2289&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-2073013369245396807?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/2073013369245396807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/09/sagelar-sanghyang-wayang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/2073013369245396807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/2073013369245396807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/09/sagelar-sanghyang-wayang.html' title='Sagelar Sanghyang Wayang'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-9011696842578597913</id><published>2010-08-23T22:11:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T21:59:58.879-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sasana Maha Guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Bagian ka-3 (Manggala)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img style="width: 230px; height: 274px;" src="http://www.ammakids.org/Images/coloring/la-saraswati.jpg" id="il_fi" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagian ka tilu dina Sanghyang Sasana Maha Guru (SSMG) téh nyaéta pedaran ngeunaan dasawredi. Pedaranna bisa dibagi jadi dua bagian. Nu kahiji nyaéta manggala (bubuka) ti pangarang kana hasil karyana, dibarung sasambat ka para déwa nu disembahna sangkan meunang anugerah. Bagian nu kadua ngabahas Dasawredi, nyaéta sapuluh wangun tulisan dina rupa-rupa média (pedaran ringkesna tiasa diaos dina Cupumanik Edisi 75 bulan Oktober 2009). Dina pedaran ayeuna mah nu rék dibahas téh ngan bagian kahijina baé.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Déwa-déwa kapercayaan Hindu nu disebut dina bagian manggala di antarana: Batara Gana (Ganésa), Batari Durgi, jeung Déwi Swaraswati. Batara Gana téh putrana Siwa. Disebut Gana téh tina Ganapati (gana= gajah; pati = pamingpin), ku sabab wujud sirahna mangrupa gajah. Dumasar Ādiparwa (I.74-78) nya Batara Gana nu mangnuliskeun kitab Mahābhārata téh, bagawan Wyasa nu ngadiktékeunana. Batara Gana disambat dina manggala ieu téks ku sabab dianggap bisa nyingkahan halangan harungan sajeroning pangarang nyieun karyana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Durgi atawa Durga téh déwi satungkebing alam. Batari Durga dipuja ku nu nulis pikeun ménta panangtayungan. Dina kitab Mahābhārata Déwi Durga ogé sababaraha kali némbongan, di antarana nalika Durga méré anugerah ka para Pandawa nalika nyamur di kota Wirata (Wirataparwa VI), jeung nalika Arjuna jeung Kresna muja ka Déwi Durga méméh perang Bhāratayudha (Bhismaparwa XXIII).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Swaraswati (Saraswati) téh déwi pangaweruh jeung kawijaksanaan dina kapercayaan Hindu. Dina kitab-kitab Purana, déwi Saraswati téh saktina (pamajikanna) déwa Brahma. Rupana déwi Saraswati geulis, kulitna beresih, sipatna daréhdéh deuih. Raksukan nu dianggona sarwa bodas ngaplak bari lungguh dina kembang padma (taraté) . Pananganna aya opat, masing-masing nyepengan: wina (kacapi), aksamala (tasbéh), damaru (kendang leutik) jeung pustaka (buku/koropak lontar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina bagian manggala ieu aya catetan penting patali jeung kalungguhan nu nulis jeung nu maca. Tina kalimah “tinulis dé sang pandita, pinaca dé sang apunggung” (ditulis ku pandita dibaca ku nu teu ngarti/bodo) katitén yén ieu karya téh ditulis ku sang pandita pikeun sang apunggung sangkan nambahan pangaweruhna. Diwuwuhan ku ungkara winaleran dé sang kawi (diuger ku sang kawi/bujangga). Kecap winaleran ngandung harti pasif ‘diwatesan, diuger’, naha nu dimaksud téh sang kawi boga pancén nganggit hiji karya kana wangun ‘puisi kauger’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEKS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Niha/6r/ n kayatna-yatna sang séwaka darma, pawuitan sanghya(ng) sastra, mala murtinya nguni, katekan mangké.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ndah ta pawuitan sanghya(ng) sastra. Nihan lwirnya: sasurup sanghya(ng) sriwar Aditya, gumenti sanghya(ng) ratri (Nskh: ratsi). Trepti treptwa pagawé wéwa laksana. Tatwa kala Batari Durgi.&lt;br /&gt;A(ng)regu ta jantra Sri Batara Gana, sina(m)buratkeun ri(ng) manusa madyapada, matemahan ta ya gebang lawan lwa(n)tar, tipuk diwasa pupus gebang lawan lwa(n)tar. Tinut pinada pada, lwané lawan dawané, tinitisan asta gangga wira tanu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ta sinangguh (asta) gangga wira tanu? Asta ngaraning tangan, gangga ngaraning bañu, wira ta ngaraning panurat lawan panuli, tanu ngaraning mangsi. Tinulis dé sa(ng) pandita, pinaca dé sang apunggung /6v/ tambah uni uningana, winaleran dé sang kawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nguniwéh cinaritakeun ta dasapurwa.&lt;br /&gt;ONG Swaraswati Tarajñana Cintamanik! Katuna ma ta na bayu, pamutyan Batara Guru, batara sang sida panta titira lemah, sang sida pandata tita(h) ring langit, Kusika Garga Méstri Purusya Pata(ñ)jala, mwang bayu sabda hdap, nguniwéh ikang sang manwan, apan sang hya(ng) itung ika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TARJAMAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ieu nu kudu diperhatikeun ku nu ngabdi kana darma, asal usul tulisan suci, wangun cedana ti baheula, nepi ka kiwari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nya ieu asal usul tulisan suci téh. Ieu sasaruaanana: sasurupna panon poé, digantikeun ku peuting. Ngarasa sugema tur bagja sabab sagala pancén bisa kalaksanakeun. Hakékat waktu (anugerah ti ) Batari Durgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil tina benduna Sri Batara Gana, nu nyalabarkeun manusa di madyapada. Ngajadikeun gebang jeung lontar, ngajadikeun témbong waktuna pupus, gebang katut lontar. Dituturkeun tur diturutan, rubakna katut panjangna, dititisan asta gangga wira tanu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naon saenyana asta gangga wira tanu téh? Asta hartina leungeun, gangga hartina cai, wira hartina kalam jeung koas, tanu hartina mangsi. Ditulis ku sang pandita, dibaca ku nu bodo (sangkan) nambahan pangaweruhna, diuger ku sang kawi (bujangga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saperkara dicaritakeun dasapurwa (sapuluh awal).&lt;br /&gt;ONG Swaraswati Tarajñana sang mutiara pikiran! Kakurangan ayana dina tanaga. Tempat mutiara (ayana di) Batara Guru, batara ti golongan nu sampurna utusan lemah, sang pandita nu sampurna utusan langit: Kusika, Garga, Méstri, Purusya, Patanjala; ogé bayu (napas), sabda (ucap), jeung hedap (pikiran); kitu deui Sang Manon (Nu Maha Ningali), sabab Anjeunna nu nyieun balitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KABEUNGHARAN KECAP&lt;br /&gt;• pawuitan ‘asal-muasal’ = wwit JwK (Z 1481) atawa wiwit SdM.&lt;br /&gt;• sastra ‘tulisan, teks’ = JwK (II. Z 1052).&lt;br /&gt;• mala ‘céda, kotor’ = Skt &amp;amp; JwK (Z 638) SdM mamala ‘cilaka’. nu dimaksud ceda dina konteks ieu nyaéta ceda dina tulisan (alatan mangsi jst).&lt;br /&gt;• murtinya = murti + nya = ‘wujud (jasmani) na’&lt;br /&gt;• nguni nuduhkeun waktu nu geus kaliwat ‘tadi at. baheula’ dina konteks kalimah nu leuwih merenah harti ‘baheula’&lt;br /&gt;• katekan = teka + [ka- -n] ’nepi ka’&lt;br /&gt;• mangké ‘kiwari, ayeuna’. dina SdM mah – hartina ‘engké’, lain ayeuna.&lt;br /&gt;• lwirnya tina lwir + nya = ‘sasaruaan’ = JwK (Z 622)&lt;br /&gt;• sasurup ‘(sanggeusna) surup’ = SdM &amp;amp; JwK (Z 1158)&lt;br /&gt;• sriwar Aditya tina sri ‘cahya’ + wara ‘anugerah’ + aditya ‘panon poé’ --- ‘panon poé nu méré cahya jeung anugerah’&lt;br /&gt;• gumenti = genti + -um- = ‘ngaganti’. Dina SdM kecap genti kalawan rarangkén tengah –um- henteu ilahar.&lt;br /&gt;• ratri ‘peuting’ = Skt &amp;amp; JwK rātri (Z 931). Teu kapaluruh dina SdM.&lt;br /&gt;• trepti ‘sugema, bagja’ – treptwa hartina éta-éta kénéh. treptwa dina Skt trepta (Z 1273).&lt;br /&gt;• pagawé ‘pancén, pagawéan’&lt;br /&gt;• wéwa ?&lt;br /&gt;• laksana ‘cumpon, laksana’ = SdM&lt;br /&gt;• tatwa ‘hakékat’, dina JwK katattwan ‘hakékat abstrak tina objek konkrit’ (Z 1233)&lt;br /&gt;• kala (Skt) ‘waktu’&lt;br /&gt;• angregu ‘ambek’ = JwK (Z 936)&lt;br /&gt;• sinamburatkeun = samburat + -in- ‘nyalabarkeun’ = JwK&lt;br /&gt;• madyapada ‘buana tengah, alam dunia’&lt;br /&gt;• matemahan ‘ngabalukarkeun’. SdM temahna ‘balukarna’.&lt;br /&gt;• gebang ‘gebang’ Corypa gebanga, ngaran tatangkalan sarupaning palem.&lt;br /&gt;• lawan (panyambung) ‘jeung, kalawan’.&lt;br /&gt;• lwantar ‘lontar’ (Borassis flabelliformis). Kecap lontar jeung taal babarengan digunakeun dina téks. Naha kecap lontar éta mangrupa métatésis tina ron taal?&lt;br /&gt;• tipuk ‘muncul, témbong’ JwK tapuk? (Z 1213)&lt;br /&gt;• diwasa ‘waktu’ = Skt &amp;amp; JwK (Z 221).&lt;br /&gt;• pupus ‘daun cau?’ (Z 882)&lt;br /&gt;• tinut = tut + -in- ‘dituturkeun, dibarengan’&lt;br /&gt;• pinada-pada ‘disaruaan, diturutan’ (Z 725)&lt;br /&gt;• lwané jigana tina lwa = JwK ‘lega, rubak’ (Z 605)&lt;br /&gt;• dawané jigana tina dawa = JwK ‘panjang (ukuran ruang jeung waktu) (Z 204)&lt;br /&gt;• tinitisan passif ‘dititisan (ku)’&lt;br /&gt;• asta Skt ‘leungeun’ = SdM &amp;amp; JwK (Z 341)&lt;br /&gt;• gangga Skt ‘cai’ (Z 274)&lt;br /&gt;• wira Skt ‘wani(an), pahlawan’, patalina jeung kalam katut koas rada teu kaharti.&lt;br /&gt;• tanu ‘tulisan, surat’ = JwK (Z 1203)&lt;br /&gt;• apa ‘naon’ = Mal &amp;amp; JwK&lt;br /&gt;• tangan ‘leungeun’ = Mal &amp;amp; JwK&lt;br /&gt;• bañu (Skt) ‘cai’&lt;br /&gt;• panurat ‘kalam’ = JwK&lt;br /&gt;• panuli ‘koas, alat tulis’ = JwK (Z 747)&lt;br /&gt;• mangsi ‘mangsi’ = SdM&lt;br /&gt;• tinulis (pass) ‘ditulis’&lt;br /&gt;• dé ‘ku’ tina JwK&lt;br /&gt;• pinaca (pass) ‘dibaca’ naha tina kecap maca? Ku sabab kapanggih kecap sang amaca.&lt;br /&gt;• apunggung ‘bodo, belet, teu ngarti’ = JwK (Z 879)&lt;br /&gt;• tambah ‘tambah, nambahan’ = SdM&lt;br /&gt;• uni ‘sora, eusi’, dina konteks ieu jigana hartina ‘eusi’ = JwK &amp;amp; SdM&lt;br /&gt;• uningana ‘pangaweruhna’ = uninga SdM&lt;br /&gt;• winaleran (pass) diwatesan = JwK. Dina SdM waler ‘jawab’&lt;br /&gt;• sang kawi ‘bujangga, panyajak’ = JwK&lt;br /&gt;• cinaritakeun tina carita[-keun] + -in- ‘dicaritakeun’&lt;br /&gt;• dasapurwa (Skt) ‘sapuluh awal’&lt;br /&gt;• Swaraswati ‘Déwi Pangaweruh’&lt;br /&gt;• Tarajñana tina Tara ‘ngaran déwi (istri Budha)+ jñana (pangaweruh)’&lt;br /&gt;• cintamanik Skt cintāmaņi ‘mutiara pikiran’&lt;br /&gt;• katuna (Skt) ‘kakurangan, kahéngkéran’ = SdM &amp;amp; JwK (Z 1293)&lt;br /&gt;• pamutyan ‘tempat mutiara’ mutya (Skt) ‘mutiara’&lt;br /&gt;• sida ‘sampurna’&lt;br /&gt;• panta ‘golongan, kelompok’ = JwK &amp;amp; SdM. Dina SdM dipikawanoh wangun rajékan panta-panta.&lt;br /&gt;• lemah ‘taneuh’ = JwK &amp;amp; SdM&lt;br /&gt;• titah ‘utusan, paréntah’ = JwK &amp;amp; SdM&lt;br /&gt;• mwang (panyambung) ‘jeung, kaasup’ = JwK. Teu kapanggih dina SdM.&lt;br /&gt;• bayu ‘napas, tanaga’&lt;br /&gt;• sabda ‘ucap, ucapan’&lt;br /&gt;• hdap ‘pikiran’&lt;br /&gt;• nguniwéh ‘kitu deui, kitu ogé’&lt;br /&gt;• Sang Manwan ‘Nu Maha Ningali’&lt;br /&gt;• apan ‘sabab, ku sabab’ = JwK&lt;br /&gt;• itung ‘itung’ = SdM&lt;br /&gt;• ika (panuduh) ‘itu, éta’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kat: SdM = Sunda Modéren (basa)– JwK=Jawa Kuna (basa)– Skt=Sangskreta (basa)–Mal=Malayu (basa) – Z = Zoetmulder (Kamus Jawa Kuna Indonesia, 2006) – pass (passif)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt;hanca&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt;[Aditia Gunawan]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-9011696842578597913?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/9011696842578597913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/08/bagian-ka-3-manggala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/9011696842578597913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/9011696842578597913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/08/bagian-ka-3-manggala.html' title='Bagian ka-3 (Manggala)'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-4146221580260582845</id><published>2010-06-30T20:36:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T21:59:32.236-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sasana Maha Guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Siksa Kandang, Siksa Kurung, Siksa Dapur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img style="width: 250px; height: 286px;" alt="http://wb5.itrademarket.com/pdimage/53/220953_31.mainan.jpg" src="http://wb5.itrademarket.com/pdimage/53/220953_31.mainan.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Nepi ka kiwari masih kénéh aya nu ngabédakeun, cara ngéjah kecap kandang dina kecap ‘siksa kandang karesian’ téh. Sawaréh aya nu dihijikeun kandang, sawaréhna deui dipisahkeun kanda ng. Nu ngéjahna dipisahkeun boga anggapan, yén kecap kandang téh asal kecapna tina kanda (Jawa kuna) nu hartina ‘bagian’ diwuwuhan ku kecap pangantét –ng. Cindekna Siksa Kanda ng Karesian téh cenah mah ‘bagian aturan nu aya di karesian’. Ana kitu mah, kadituna tangtu bakal manggih siksa-siksa nu lain, siga kanda ng kadatuan (bagian di karaton), kanda ng kahulunan (bagian di rahayat leutik) jst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina téks Sunda Kuna Sanghyang Sasana Maha Guru (SSMG) bagian kadua, écés yén kecap kandang lain tina kecap kanda ng, tapi kecap kandang, nu hartina méh sarua jeung dina basa Sunda kiwari ‘kandang, kurung’. Bédana, dina basa Sunda kiwari mah kecap kandang téh leuwih heureut nyaéta tempat neundeun sasatoan. Kecap kandang, kurung, jeung dapur sakabéhna nuduhkeun hiji diménsi, hiji wengkuan. Nya siksa kandang, siksa kurung, jeung siksa dapur ieu, nu nguger masyarakat Sunda mangsa harita sangkan gugon kana tetekon.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aturan anu wengkuanana pangheureutna nyaéta siksa kandang. Da ayana ogé cenah di sakuliling salira, di sabudeureun diri urang, dina lingkungan sapopoé nu pangdeukeutna jeung urang. Tegesna, siksa kandang ngatur étika antara manusa jeung papadana. Kumaha hubungan jeung tatangga, deungeun-deungeun, atawa nalika urang indit-inditan diatur dina siksa kandang. Nu jadi catetan penting pangarang dina siksa kandang mah pangpangna teu meunang ngala nu lain alaeunana, nu lain hakna. Sabab, keuna ku paribasa kolot baheula ‘hiris meubeut ceuli lamun kacang meubeut tarang’, hartina, lamun nyieun kagorengan bakal aya rambat kamaléna ka balaréa tur ka diri sorangan. Sajaba ti aturan nu ditataan di luhur, étika papakéan nu merenah atawa étika nalika paamprok jeung nu lian diatur deuih dina siksa kandang téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi siksa kurung wengkuanana leuwih jembar deui, nyaéta saréngkak saparipolah jeung ahli agama (pandita). Sabab sagala rupa aturan kapan geus dipasinikeun ti bihari, ngaliwatan téks téks dina kitab suci. Saupama manusa geus paham kana eusining éta kitab-kitab téa, hartina éta manusa téh kudu nyaho kana sipat, guratan, watesan, katut jawaban tina laku lampah kahirupanana sorangan. Ana geus kitu mah, éta manusa geus hasil enggoning napak lacak tapak Déwa Brahma jeung Wisnu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undak deui ti dinya aya siksa dapur. Siksa dapur mah hakékat tina sagala ajaran-ajaran saméméhna. Mangrupa aci-aciningna manusa nu geus bisa meuseuh kahirupan profanna, nujul kana kahirupana nu transenden, ku baktina nu satia ka guruna, sang pandita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagian ka-2 - Siksa Kandang, Siksa Kurung, Siksa Dapur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TÉKS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini siksa ka(n)dang ngaranya, siksa kurung, siksa dapur. Kalinganya: na siksa kandang ma ngara(n)na, sakuliling sarira. Jeujeueung ma na halwaan, halwaan si panghawanan, na ni(ng) panglu(ng)guhan, iña éta na ingetkeuneun deung urang. Maka iyatna-yatna! Sugan urang asup tepas, asup dalem, hanteu ngeunah lamun hanteu dayeuhanana. Ya siksa kandang ngara(n)na.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa urang paparan, hanteu ngeunah palar cidera ku pangeusi huma sakalih, ku pangeusi kebwan sakalih.  Mangka nguni hiris meubeut ceuli, lamun kacang meubeut tarang, ngala tu(n)da ngala ka(n)tenan, nurunkeun sadapan sakalih. Hanteu ngeunah ngising di pi(ng)gir jalan, sugan kaa(m)beu ku nu bangah, bisi kasumpah kapadakeun, ambu, /5r/ ayah, pangguruan. Mulah mwa maké cangcut pangadua, sugan urang pajeueung deung gusti deung mantri, mulah mwa ngidal, pangadwakwakwa(ng)keun. Ya siksa k(an)dang ngaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siksa kurung ma, sakarma deung sang pan(di)ta. A(ng)geus ma hanteu ngeunah ngareuseuh beunang diheueum, ngarumpak sanghya(ng) siksa. Lamun a(ng)geus ñahwa diwuku-wuku dina leukeur-leukeur, dangda-dangdi sipat geuing, pangguratan, pangguritan, pangwaleran, pangwatesan. Satapak Hya(ng) Bra(h)ma Wisnu, basa ngawatesan bwana. Yata siksa kurung ngaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Na siksa dapur ma ngara(n)na, ngadapetkeun puhun, ngahusir tangkal ku geui(ng) na bakti satia, di sang pandita. Ya siksa dapur ngara(n)na. Nihan sinangguh siksa kandang, ngaranya ling maha pandita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TARJAMAHAN:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nya ieu nu disebut siksa kandang, siksa kurung jeung siksa dapur téh. Maksudna, siksa kandang téh, aya disakuliling diri anjeun. Ningali rupa-rupa gogoda, gogoda dina perjalanan, atawa dina panglungguhan, nyaéta nu kudu diinget ku urang. Mangka perhatikeun sing iyatna! Sugan urang asup ka buruan, ka imah, moal ngeunah lamun urang lain nu dumuk di dinya. Éta nu disebut siksa kandang téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangsa urang indit-inditan, teu hadé boga niat deleka, ka batur nu boga ‘huma’, atawa batur nu boga kebon. Ku kituna, hiris meubeut ceuli lamun kacang meubeut tarang. Nyokot teuteundeunan atawa nu geus puguh nu bogana, nurunkeun sadapan batur. Teu hadé urang ngising di sisi jalan, bisi kaambeu ku nu balangah, engkéna bisi disumpahan jeung disalahkeun: ku indung, bapa, jeung paguron. Sawadina urang maké calana jangkep, bisi urang panggih jeung raja jeung mantri, urang kudu aya di kéncaeunana turta dongko. Éta nu disebut siksa kandang téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siksa kurung mah, saréngkak saparipolah jeung para pandita. Jeungna deui hanteu hadé ngaganggu naon nu geus disapukan babarengan, ngarempak sanghyang siksa. Lamun enggeus mikanyaho sagala buku dina gulungan-gulungan (kitab), hukuman tina arah nu geus ditangtukeun, guratna, susunanna, jawabanna, watesanana. (Hartina urang geus) nuturkeun tapak Dewa Brahma jeung Wisnu, nalika ngawatesanan alam dunia. Nyaéta nu disebut siksa kurung téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari nu disebut siksa dapur mah, ngahontal sumberna, meunangkeun inti ku kasadaran kana bakti jeung satia ka sang pandita. Nya éta nu disebut siksa dapur. Nya ieu nu yang disebut siksa kandang, piwuruk ti Maha Pandita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KABEUNGHARAN KECAP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• kandang ‘kandang, kurung’ = SdM&lt;br /&gt;• kurung’kurungan’ = SdM&lt;br /&gt;• dapur ‘wewengkon, wilayah, kelompok’ band. SdM dapuran&lt;br /&gt;• sakuliling ’sakuriling, sabudeureun’ = SdM&lt;br /&gt;• sarira ‘diri, awak sorangan’ SdM salira ‘(diri) anjeun’&lt;br /&gt;• jeujeueung = jeueung + rajekan dwi purwa = ‘ningali’&lt;br /&gt;• halwaan ‘gangguan, gogoda’ dina JwK ‘godaan birahi, jinah’&lt;br /&gt;• panghawanan = hawan + paN-an = ‘perjalanan’&lt;br /&gt;• panglungguhan = lungguh ‘diuk, cicing’ + paN-an = ‘tempat diuk, geusan cicing’&lt;br /&gt;• iña ‘(panuduh) éta, itu’= SdM&lt;br /&gt;• ingetkeuneun = (inget + keun )+ eun = ‘pikeun diinget’&lt;br /&gt;• deung ‘jeung’. Sora d dina SdK ngalaman parobahan jadi j dina SdM. Dua hal nu bisa jadi kasang tukangna nyaéta (1) sora foném nu deukeut jeung (2) wangun aksarana nu méh sarimbag.&lt;br /&gt;• dalem ‘imah’&lt;br /&gt;• dayeuhanana ‘padumukna, warga, nu nyicingan (dayeuh)na’ Ind. penduduk&lt;br /&gt;• masa ‘mangsa, nalika’&lt;br /&gt;• paparan ‘indit-inditan, leuleumpangan’&lt;br /&gt;• palar cidera = SdM ‘cidra, deleka’&lt;br /&gt;• pangeusi ‘nu ngeusian, nu ngabogaan’ = SdM&lt;br /&gt;• sakalih ‘salian ti urang (jalma kadua), batur’. kalih ti éta dina SdM = lian ti éta. JwK kalih = karwa ‘kadua’&lt;br /&gt;• mangka nguni ‘kitu deui’ = JwK.&lt;br /&gt;• hiris ‘sarupa kacang polong’ = SdM&lt;br /&gt;• meubeut = beubeut + N = ‘ninggang (kana)’. hiris meubeut ceuli lamun kacang ninggang tarang jigana mangrupa paribasa buhun nu nuduhkeun kausalitas (sabab-akibat) tina hiji kalakuan.&lt;br /&gt;• ngala = ala + N ‘ngala’ = SdM&lt;br /&gt;• tunda ‘teundeun, teuteundeunan’. ngala – jigana ‘ngala teuteundeunan’&lt;br /&gt;• ngala = ala + N = ‘ngala’. SdM ‘id’.&lt;br /&gt;• kantenan ‘geus puguh, geus jelas’ = SdM &amp;amp; JwK&lt;br /&gt;• sadapan ‘sadapan, nu disadap’, biasana kawung atawa kalapa = SdM.&lt;br /&gt;• bangah ‘balangah’ dina SdM nu dipikawanoh ngan kecap balangah (bangah + -al-).&lt;br /&gt;• kasumpah ‘kasumpah’&lt;br /&gt;• kapadakeun ‘kasalahkeun, kacarékan?’ tarjamahan ukur dugaan.&lt;br /&gt;• ambu ‘indung’&lt;br /&gt;• ayah ‘bapa’, di baduy jero kecap ayah masih dipaké pikeun nyebut bapa.&lt;br /&gt;• pangguruan= guru + PaN-an = ‘paguron’&lt;br /&gt;• cangcut pangadua ‘raksukan jangkep, sasetél’ tingali oge SSKK bag.&lt;br /&gt;• pajeueung ‘papanggih, paamprok’ = SdM&lt;br /&gt;• gusti ‘raja’&lt;br /&gt;• mantri ‘mantri’ jabatan pembantu raja mangsa baheula.&lt;br /&gt;• ngidal  ‘(aya di) kénca, kéncaeun’&lt;br /&gt;• pangadwakwakwangkeun ‘nagog’ band. Mal jongkok&lt;br /&gt;• sakarma = sa+ karma Skt ‘paripolah’ =  ‘saréngkak, saparipolah’&lt;br /&gt;• ngareuseuh JwK angrěsěhi ‘ngaganggu, nyababkeun kasulitan, ingkar, ngarempak’ teu kapanggih dina SdM (Z 944)&lt;br /&gt;• beunang ‘hasil’= SdM&lt;br /&gt;• diheueum ‘disapukan babarengan’. Dina PRR:224 heueuman ‘sawala, pajemuhan’. Dina JwK höm ‘kumpul, pajemuhan, rundingan’ (Z 349)&lt;br /&gt;• ngarumpak  ‘melanggar’&lt;br /&gt;• sanghyang siksa ‘ajaran suci’&lt;br /&gt;• wuku-wuku ‘buku-buku, kitab-kitab’ = JwK&lt;br /&gt;• leukeur-leukeur ‘gulungan, lulunan’ = JwK&lt;br /&gt;• dangda-dangdi jigana sarua jeung JwK danda ‘kakawasaan, hukuman, siksaan’ dangda-dangdi jigana nuduhkeun harti ‘rupa-rupa hukuman’&lt;br /&gt;• sipat geuing ‘arah emosi, arah pikiran (nu geus ditangtukeun)’&lt;br /&gt;• pangguratan ‘nu digurat’&lt;br /&gt;• pangguritan ‘nu digurit’.&lt;br /&gt;• pangwaleran ‘jawaban’ SdM lemes waleran.&lt;br /&gt;• pangwatesan ‘watesan’&lt;br /&gt;• bwana ‘dunia’&lt;br /&gt;• ngadapetkeun ‘meunangkeun’ Mal. mendapatkan&lt;br /&gt;• puhun ‘hakékat, inti, sumber’&lt;br /&gt;• ngahusir ‘nuju, ngajugjug (ka)’&lt;br /&gt;• tangkal ‘sumber, hakékat’ sinonim jeung puhun&lt;br /&gt;• geui(ng) ‘émosi, kasadaran’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kat: SdM=Sunda Modéren (basa)– JwK=Jawa Kuna (basa)– Skt=Sangskreta –Ind=Indonésia (basa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;hanca&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[Aditia Gunawan]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-4146221580260582845?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/4146221580260582845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/06/siksa-kandang-siksa-kurung-siksa-dapur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4146221580260582845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4146221580260582845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/06/siksa-kandang-siksa-kurung-siksa-dapur.html' title='Siksa Kandang, Siksa Kurung, Siksa Dapur'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-7054063654071326369</id><published>2010-05-25T20:53:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T21:59:04.800-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sasana Maha Guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Pancawédani</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img style="width: 461px; height: 321px;" alt="http://areeavicenna.files.wordpress.com/2009/06/embun.jpg" src="http://areeavicenna.files.wordpress.com/2009/06/embun.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SANGHYANG SASANA MAHA GURU (SSMG) mangrupa téks Sunda kuna nu kawilang penting pikeun urang Sunda, ku sabab di jerona euyeub ku ajaran kaagamaan masarakat Sunda dina abad ka-16. Teu kurang ti 48 konsép kaagamaan nu diagem ku urang Sunda mangsa saméméh Islam sakumaha nu kaunggel dina SSMG téh. Ti mimiti Cupumanik édisi ayeuna, bagian-bagian dina SSMG téh baris dideres ti awal nepi ka ahir, pikeun méré lolongkrang guneman diskusi nu leuwih jembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian awal SSMG dimimitian ku pedaran ngeunaan pañcawédani. Pancawédani téh mangrupa jalan pikeun manusa enggoning mersihkeun jiwana tina rupa-rupa pangaruh goréng. Nu jadi jalan pikeun nyucikeun jiwana téh suméndér kana lima perkara, nyaéta bwah (hasil), paksa (maksud), huning (pangaweruh), temen (enya-enya), jeung daék (kahayang) nu teu kapalang. Saenyana lima perkara ieu geus jadi poténsi dasar manusa. Dina ieu bab, pañcawédani téh dibéjér béaskeun deui kekecapanana. Pañca hartina lima, wé hartina cai, jeung dani hartina sapu nyéré.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cai jeung sapu nyéré dianggap bisa dijieun sarana pikeun ngabersihkeun. Kapan cai nepi ka kiwari dipaké pikeun mandi mersihan awak. Sapu nyéré ogé sok dipaké pikeun mersihkeun runtah di buruan. Dina téks-téks Sunda kuna, kaayaan bersih haté mindeng dibandingkeun jeung kaayaan buruan nu geus disapukeun. Sanggeus nyieun arca, Bujangga Manik nuluykeun puja nyapu, tepak deku muja ka nu kawasa mersihkeun pikiran jeung haténa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggeus aing puja nyapu,&lt;br /&gt;linyih beunang aing nyapu,&lt;br /&gt;kumacacang di buruan.&lt;br /&gt;(Bujangga Manik 1292-1294)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangkan bisa ngabersihan jiwana, sang séwaka darma kudu bisa ngungkab tur ngamangpaatkeun poténsi dirina. Ngaguar poténsi diri téh bisa ku cara ningali sabudeureun alam. Manusa ngalaman prosés diajar ngaliwatan interaksi jeung alamna.&lt;br /&gt;Bwah (hasil) téh salasahiji poténsi nu aya dina diri manusa. Lir ibarat dunya, nu teu ingkah sanajan dikakaya ku manusa tetep ngamalkeun pancénna. Hasil gé teu bina ti kitu, moal obah najan diganggu ku rupa-rupa perkara, gumantung kana tékad jeung ngalaksanakeun tékadna téa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paksa (maksud) manusa kudu kawas cai, mangpaatna bisa kaala saupama bijil ti huluna, tina sirah cai nu can kalimpudan ku kokotor. Tujuan manusa kudu bersih wening kawas cai ti mimiti migawé hiji hal nepi ka réngséna lir ibarat kamalirna cai nu tetep hérang ti sirahna nepi ka ngamuara di sagara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huning (pangaweruh) téh kudu saperti angin, nu bijilna ti béh kulon. Angin nu datangna ti béh kulon sok disebut ogé angin musim barat, nyaéta angin nu mawa berkah hujan ti bulan Désémber nepi ka Februari. Manusa nu huning hartina geus mampuh méré pangaweruh nu mangpaat pikeun jalma-jalma sabudeureunana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temen (enya-enya) téh dipapandékeun kana seuneu jeung ganggaman (pakarang). Seuneu mangrupa élemen nu kuat pikeun nyieun pakarang. Pakarang nu dipeupeuh jadi simbol kadariaan pandayna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daék (kahayang) nu henteu kapalang téh dipapandékeun jeung panon poé nu salawasna medal ti béh wétan. Sanajan kapindingan halimun atawa méga nu ceudeum tetep pengkuh nyumponan kawajibanana ku sabab kasadaranana kana pancén.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagian 1 - Pañcawédani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Téks:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ndeh Sanghya(ng) Sasana Maha Guru ngaran sanghyang pustaka. Sasana ma ngaranya urut nu ti heula. Maha ma nu leuwih ti leuwih, tina dunya. Guru ma [ma] ngara(n)na puhun nikang rat kabéh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hana upadyanta kadya(ng)ga ning manik kanarga, lawan manik sawéstra. Yéka puhuning suka duka, hala hayu. Byaktanya nihan: Bwah paksa, huning t(e)men, daék mwa kapalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalinganya: bwah ma sanghya(ng) pratiwi, basana dipahayu, diturunkeu(n), ditaék(k)eun, dicamahan, dicampuran, hanteu susut hanteu pu(n)dung hanteu geurah hanteu bijah, keu[deu]deung deung langgeng ngawakan na kapratiwian. Iya kéh! Éta na awak(eu)neun sang séwaka darma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paksa ma cai, alaeunana ma, basana biji[h]l ti huluna. Téka bwar hérang tiis rasana. Geus ma hanteu kawurungan, teka ri sagara. Sa/4v/kitu na turutk(eu)neun sang séwaka darma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huning ma ngaran angin, alaeunana ma, basana m(e)tu ti barat, téka hir tiis, leuleus datangna ka awak urang. Geus ma hanteu kawurunganan, basana bijil medeng di bwana. Sakitu na turutk(eu)neun, ku sang séwaka darma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T(e)men ta ma ngaraning ka apuy deungeun ga(ng)gaman. Ti iña éta dipipakeunnakeun ku nu réya, ku geui(ng) na temen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daék éka ma ngaranya, Sanghyang Aditya, basana m(e)tu ti bwana wétan, hanteu kawurunganan, ku méga ku hujan, (ku) kukus ku sanghub, teka ri(ng) kulwan, ku geui(ng) éka laksana. Kitu kéh na turutk(eu)neun, ku sang séwaka darma. Mulah mwa iyatna-yatna di Sanghya(ng) Pasangkanan. Nihan sina(ng)guh pañcawédani ngaranya.  Panca /5v/ ma watek lima, wé ma cai, dani ma sapu ñéré.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarjamahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nya ieu pustaka suci Sanghyang Sasana Maha Guru téh. Sasana hartina titinggal ti nu ti heula. Maha hartina nu leuwih ti nu leuwih, ti (saamparan) dunia. Guru hartina sumber pikeun sakumna manusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya jalan tindakan nu kudu dituturkeun ku anjeun, nu dipapandékeun jeung perhiasan mutiara, ogé mutiara nu moncorong. Nya éta wiwitan tina kaayaan suka jeung dukana, cilaka jeung salametna. Ieu écésna mah: hasil maksud, mikaweruh enya-enya, daék hanteu kapalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudna: bwah (hasil) téh bumi nu suci, nalika disalametkeun, diturunkeun, ditaékkeun, dikotoran, dicampuran, hanteu tisusut hanteu pundung hanteu motah hanteu ingkah, sakeudeung jeung salawasna ngamalkeun kapratiwian (aturan kaduniawian). Enya kitu! Éta nu kudu diamalkeun ku nu ngabdi kana darma (hukum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paksa (maksud) téh nyaéta cai, alaeunana mah nalika bijil ti huluna. Karasa ngamalir hérang tur tiis. Jeungna hanteu kahalangan nepi ka sagara. Sakitu nu kudu diturut ku nu ngabdi kana darma (hukum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huning (pangaweruh) mah nyaéta angin, alaeunana mah, basa bijil ti kulon, karasa ngahiliwir tiis, leuleus nebak awak urang. Jeungna hanteu kahalangan, nalika bijil di alam dunia. Sakitu nu kudu diturut ku nu ngabdi kana darma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temen (enya-enya) téh nyaéta seuneu jeung ganggaman. Nya ti dinya nu matak dimangpaatkeun ku jalma réa, ku nu pikiranna soson-soson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daék (kahayang) mah nyaéta panon poé, nalika medal ti buana béh wétan, hanteu kahalangan, ku méga ku hujan, ku haseup jeung halimun, nepi ka (surup) di béh kulon, ku sabab kasadaran kana hiji lampah. Sakitu nu kudu diturut, ku nu ngabdi kana darma. Mangka jeung iyatna kana Sanghyang Pasangkanan (Ajaran Awal). Nya ieu nu disebut pañcawédani téh.  Panca hartina watek lima, wé hartina cai, dani hartina sapu nyéré.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kabeungharan Kecap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndeh &lt;/span&gt;‘tah!’ (kecap panyeluk) = JwK&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nihan &lt;/span&gt;‘ieu’ (kecap panuduh) = JwK&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sang hyang&lt;/span&gt; ‘suci’ saupama ditempatkeun saméméh kecap barang pikeun nuduhkeun yén éta barang téh suci, ump. – aditya ‘panonpoé suci’, - pasangkanan ‘ajaran wiwitan anu suci’, jst.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sasana &lt;/span&gt;‘ajaran, doktrin, sarana.’ Dina SSKK sanghyang sasana kreta ‘sarana pikeun karaharjaan’.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maha &lt;/span&gt;tina Skt ‘badag, gedé, agung’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;puhun &lt;/span&gt;‘awal, wiwitan, sumber.’ Band. Mal. Pohon. Di baduy pupuhu kaagamaan disebut puun. ngandung ogé harti séjén ‘emang (adi indung atawa bapa)’ dina teks Para Putera Rama jeung Rawana.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kadyangga &lt;/span&gt;= kadi + anggan ‘minangka, lir ibarat’. JwK ‘id.’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rat &lt;/span&gt;‘manusa, jalma’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;upadyanta &lt;/span&gt;= upadéya –nta ‘jalan tindakan nu kudu dituturkeun –ku anjeun’ = JwK (Z 1337)&lt;br /&gt;• manik ‘mutiara’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kanarga &lt;/span&gt;tina &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kana &lt;/span&gt;(Skt &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kangkana&lt;/span&gt;) ‘perhiasan dina leungeun up. gelang, cingcin’ jeung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;arga&lt;/span&gt; ‘ajen, harga’ atawa ‘gunung’. Manik kanarga = perhiasan nu hargaan, perhiasan nu ajénan.&lt;br /&gt;• sawéstra = tina sawé (JwK) ngalaya. manik sawéstra = manik nu ngalayah&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hala &lt;/span&gt;‘cilaka, mamala’ = JwK&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hayu &lt;/span&gt;‘salamet’, band. SdM rahayu ‘id.’ = JwK. dipahayu = dijieun jadi hayu = dijieun jadi salamet = ‘disalametkeun’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;byakta &lt;/span&gt;‘écés, jéntré’ = JwK&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bwah &lt;/span&gt;‘hasil’ = SdM &amp;amp; JwK buah&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;paksa &lt;/span&gt;‘tujuan, maksud, bisa ogé kahayang nu kuat’ = JwK. Dina SdM paksa, maksa ‘ngarahkeun (batur) pikeun migawé luyu jeung kahayang subjék’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;huning &lt;/span&gt;‘mikanyaho, mikaweruh’. Band. SdM uninga.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;temen &lt;/span&gt;‘enyaan, enya-enya’ = JwM.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalinganya &lt;/span&gt;= ka + ling +-an + -iya. ling  ‘ucap’ = JwK, kalinganya = ‘maksud tina ucapan’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pratiwi &lt;/span&gt;Skt ‘bumi’, sanghyang pratiwi ‘bumi nu suci’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dicamahan &lt;/span&gt;= dijieun jadi camah = dijieun jadi rujit = ‘dirurujit’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;susut &lt;/span&gt;‘labuh’ band. SdM tisusut&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;geurah &lt;/span&gt;dina SdM ‘gumbira, suka bungah’, dina konteks kalimah jigana nuduhkeun harti ‘kaayaan motah’.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bijah &lt;/span&gt;‘motah, mijah’ dina SdM ngan dipikawanoh wangun rarangkén nasal mijah ‘id.’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;téka &lt;/span&gt;= ta + ika = nya éta = JwK&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bwar &lt;/span&gt;= &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bor&lt;/span&gt;, dina SdM nu dipikawanoh kecap balobor. Jigana parobahan tina bor  + ‘rajékan dwi purwa’ bobor + infiks -al- = balobor, mangrupa kecap panganteur pagawéan pikeun nu ngamalir, ump. cai, getih, késang, jst.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;geus ma&lt;/span&gt; ‘anggeus mah, jeungna’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kawurungan &lt;/span&gt;= ka- + wurung + -an = ka + batal + an = kahalangan.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;teka &lt;/span&gt;= nepi ka. Ulah pahili jeung téka (tina ta + ika) ‘nyaéta’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ri &lt;/span&gt;= di, ka (kecap pangantét) = JwK&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;séwaka darma &lt;/span&gt;= sebutan pikeun nu ngabdi kana tugas (hukum)na di alam dunia.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hir &lt;/span&gt;= SdM hiliwir. Kecap panganteur pikeun angin.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;medeng &lt;/span&gt;tina sedeng + n- ‘meujeuhna’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;apuy &lt;/span&gt;‘seuneu’. SdM parupuyan jigana mangrupa obahan tina apuy+ pa-an -&amp;gt; paapuyan -&amp;gt; parupuyan.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ganggaman &lt;/span&gt;‘sanjata, pakarang’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dipipakeunakeun &lt;/span&gt;= dipi – + pikeun + na + keun = ‘di(pigawé) pikeun’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nu réya&lt;/span&gt; ‘jalma réa’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;geuing &lt;/span&gt;‘kasadaran, pikiran’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sanghyang Aditya&lt;/span&gt; ‘panon poé’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kukus &lt;/span&gt;‘haseup, kabut’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sanghub &lt;/span&gt;‘halimun’ JwK&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mulah mwa&lt;/span&gt; ‘ulah hanteu, kudu’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;iyatna-yatna&lt;/span&gt; ‘merhatikeun enya-enya’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sanghyang pasangkanan&lt;/span&gt; ‘ajaran wiwitan, ajaran awal’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pañcawédani &lt;/span&gt;‘lima jalan pikeun mersihkeun jiwa’&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wé &lt;/span&gt;‘cai’ = JwK&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dani &lt;/span&gt;‘jadi caang, lénglang, béngras’ = JwK. Dina téks mah dipapandékeun jeung sapu nyéré, nu sapopoé dipaké alat pikeun mersihkeun runtah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kat:&lt;br /&gt;Band = Bandingkeun, id. = idem, JwK = Jawa Kuna, JwM = Jawa Modéren, Mal = Malayu, SdM = Sunda Modéren, Skt = Sangskreta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dimuat dina Cupumanik Bulan Mei taun 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-7054063654071326369?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/7054063654071326369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/05/pancawedani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7054063654071326369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/7054063654071326369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/05/pancawedani.html' title='Pancawédani'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-2806681275476808783</id><published>2010-04-01T00:46:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T21:58:41.258-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Sunda'/><title type='text'>Kawih dina Naskah Sunda Kuna</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_zuCmmCvQ9bk/TKX2xTFDD9I/AAAAAAAAGnQ/lo2iT7jvcfg/s400/nano+s.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 195px; height: 258px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zuCmmCvQ9bk/TKX2xTFDD9I/AAAAAAAAGnQ/lo2iT7jvcfg/s400/nano+s.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aditia Gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kataji pisan maca tulisan Mang Nano. S (ngaemangkeun baé nya, siga ka Mang Koko) nu dimuat dina Cupumanik édisi 78 No. 6 Januari 2010 nu dijudulan ‘Uyuhan Sakieu Gé’. Idé tulisan Mang Nano sanggeus maca buku Semangat Baru beunangna Mikihiro Moriyama (2005). Dina kateranganana, sajeroning maca téh susuganan anjeunna manggihan informasi ngeunaan lalaguan Sunda. Aya kahanjakal ti Mang Nano, nalika Mikihiro nyieun babandingan antara kawih jeung tembang. Éta cenah, pédah conto nu diasongkeun keur kawih téh nyaéta kawih-kawih kabéhdieukeun, nepi ka Miki boga kacindekan nu sarua jeung Van Zanten, yén kawih leuwih basajan batan tembang. Ieu cenah nu ceuk Mang Nano perelu dibuktikeun deui téh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peun lebah dinya mah, moal papanjangan. Nu rék dijieun pamiangan nu nulis pikeun ngabuktikeun naha enya kawih leuwih basajan batan tembang nyaéta tina naskah Sunda kuna (NSK) baé. Pangna kitu, taya lian, da asa saéta-étana nu sakurang-kurangna katalingakeun ku nu nulis. Kaduana, niat nuturkeun alur pikiran Mang Nano baé, anu ngarasa hanjakal kusabab babandingan Miki ngan dina kawih kadieunakeun baé lain kawih nu leuwih buhun sakumaha nu kaunggel dina Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kawih dina Naskah Sunda Kuna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina bagian ka-9 naskah lontar koropak 621, nu dijudulan Sanghyang Sasana Maha Guru (SSMG), kaunggel konsép ngeunaan caturupaya. Ieu bab téh dimimitian ku siloka dina basa Sangskreta:&lt;br /&gt;‘alékiem sitem getem, jrebanem kadaranem&lt;br /&gt;Sudem palaharasiem, nakabatéh guru mwatéh’ (Siloka ka-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teu kaharti puguh ogé, da mémang lain kalimah nu ngaleunjeur sintaksisna, ukur gabungan kecap-kecap Sangskreta (disangskretakeun?) nu dibéjérbéaskeun dina paragraf-paragraf satuluyna. Tegesna, dina paragraf satuluyna dipedar naon anu disebut alékiem, sitem, getem, jrebanem, jsté. Husus dina pedaran ngeunaan getem ditétélakeun kieu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getem ngaranya, hanteu ngidung, ngawih, humaleuang, mangka nguni mikwanwakeun manéh bisa, preña wijaksana, di nu réya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihartieunana leuwih kurang kieu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu disebut getem téh, henteu ngidung, ngawih, ngahaleung, sumawonna akon-akon manéh bisa, rumasa wijaksana hareupeun jalma réa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tah, éta nu disebut getem. Salasahiji upaya tina opat upaya (caturupaya) nu kudu diupayakeun ku nu ngarabdi kana hukum (darma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecap getem tangtu tina basa Sangskreta gīta nu hartina ‘lalaguan atawa nyanyian’, nu luyu jeung pedaran satuluyna. Dina éta pedaran kapanggih dua kecap nu ngahudang kapanasaran, nyaéta kecap ngidung jeung ngawih. Ngawih kecap asalna tina kawih, nu dina basa Sunda kiwari mah ngarujuk kana istilah ‘sora nu ngandung rumpaka sisindiran, sa’ir, atawa sajak boh kalawan ngagunakeun waditra boh henteu’ (Ensiklopédi Sunda, 2000: 334).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pananyana, naha kecap kawih dina basa Sunda buhun ogé mibanda harti téknis sakumaha dina basa Sunda kiwari (ngandung metris rumpaka, sarat-sarat wirahma, jsté), lain lalaguan sacara umum? Tangtuna, pikeun ngarumuskeunana perelu ningali sababaraha data nu nyampak, dina ieu perkara mah nya naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina koropak 408 (nu dijudulan Séwaka Darma) atra pisan dina padalisan awalna ditulis ‘Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung’. Kawih panyaraman kapan kaasup salasahiji kawih nu dipidangkeun ku paraguna (juru kawih?) sakumaha nu kaunggel dina SSKK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayang nyaho di sakweh ning kawih ma: kawih bwatuha, kawih panjang, kawih lalanguan, kawih panyaraman, kawih sisi(n)diran, kawih pengpeledan, bongbong kaso, pererane, porod eurih, kawih babahanan, kawih ba(ng)barongan, kawih tangtung, kawih sasa(m)batan, kawih igel-igelan; sing sawatek kawih ma, paraguna tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain koropak 408 waé nu awalna disebutkeun kalawan teges yén éta karya téh mangrupa kawih. Koropak 615 dina awal téksna oge nyebutkeun yén ‘Ini Kawih Mahanyana, pikawiheun buat mangkuk’, samalah koropak 419 mah dijudulan ‘kawih paningkes atawa kawih panikis’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks-teks Sunda kuna nu ditataan di luhur, sakaterang nu nulis mah, ditulis dina wangun puisi. Dina émprona, upama nyieun transkripsi, umumna bisa dipilah-pilah jadi dalapan engang sapadalisan. Metris puisi dalapan engang bawirasa méré kamungkinan nu gedé pikeun dilisankeun, dipidangkeun, dilagukeun, atawa dikawihkeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina katerangan di luhur bisa dicindekkeun, yén dina basa Sunda buhun, kawih ogé mangrupa istilah téknis, lain istilah lalaguan sacara umum. Kecap pagawéanna tina kawih nyaéta ngawih (ngalagukeun kawih), tur istilah pikeun jalma nu paham kana kawih disebut paraguna. Wangunna ogé henteu ‘basajan’ (copélna mun dibandingkeun jeung tembang), saupama ningali kanyataan yén téks Kawih Panyaraman (Séwaka Darma), Kawih Mahanyana, jeung Kawih Paningkes, rumpakana paranjang, mibanda fungsi nu béda (pikawiheun ubar keueung, pikawiheun buat mangkuk) tur ngandung eusi nu ragem deuih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keun sa deui éta mah, kitu ceuk Mang Nano ogé. Nu jadi kapanasaran deui téh, naha kecap ngidung dina teks SSMG tina kecap kidung dina harti téknis ogé, sakumaha nu harita geus dipikawanoh ku masyarakat Jawa jeung Bali umumna. Kidung dina harti téknis ogé mangrupa lalaguan nu kauger pola metris nu tangtu, turta polana téh méh sarua jeung naon nu ku urang (Sunda) disebut dangding! Éta hal bisa katitén tina ayana karya-karya kidung saperti Kidung Sunda, Kidung Wangbang Widéya, Kidung Rumeksa ing Wengi, jsté. nu diwangun maké patokan pupuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara ngaraos seueulna mah, sed saeutik meureun jeung nu karaos ku Mang Nano. Komo narima kanyataan, yén kakara dina abad ka-19, urang Walanda kakara engeuh di Urang (Sunda) horéng boga basa sorangan. Komunikasi ménak nu geus kabawah ku Jawa (Mataram) meureun jadi salasahiji cukang lantaran tina salasaratusna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kéla deuih, dihenteu-henteu saméméh Mataram ngabawah ka tatar Sunda, pangaruh basa Jawa (kuna) geus nerekab di Sunda. Copélna mun ningali basa dina naskah Sunda kuna nu geus aya saméméh Mataram. Bujangga Manik sorangan siga nu boga anggapan, yén basa Jawa (kuna) jadi salasahiji simbol kareueus, sabab upama geus ngawasa basa Jawa kuna, hartina weruh dina bab agama. Da risalah buhun kaagamaan réa nu ditulis dina basa Jawa kuna, upamana waé Sang Hyang Hayu (koropak 634, 1523 Maséhi), Serat Déwa Buda (koropak 638, 1435 Maséhi), Bimaswarga (koropak 623). Ceuk Bujangga Manik gé:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘teher bisa carék Jawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    weruh dina eusi tangtu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    aing bisa carék Jawa&lt;/span&gt; (baris 327-328)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegesna, meureun kajaba ti lingkungan pangagung birokrasi, méméhna ogé dina lingkungan kaagamaan téh geus kapangaruhan ku Jawa, nu matak teu anéh mun dina ulikannana kana tilu puisi Sunda buhun (Three Old Sundanese Poem, 2006 wedalan KITLV), Noorduyn jeung A. Teeuw merenahkeun Sunda kuna dina pigura ‘Jawa nu leuwih lega’. Deuh, jadi réa pisan kapanasaran téh, angot mun disanghareupkeun kana kanyataan yén réa kénéh sumber-sumber ngeunaan Sunda mangsa bihari nu can kaguar. Nu matak sapuk jeung Mang Nano, uyuhan sakieu gé.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nu nulis, filolog, digawe di Perpustakaan Nasional R.I.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-2806681275476808783?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/2806681275476808783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/04/kawih-dina-naskah-sunda-kuna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/2806681275476808783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/2806681275476808783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/04/kawih-dina-naskah-sunda-kuna.html' title='Kawih dina Naskah Sunda Kuna'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zuCmmCvQ9bk/TKX2xTFDD9I/AAAAAAAAGnQ/lo2iT7jvcfg/s72-c/nano+s.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-3774001179344797302</id><published>2010-03-14T23:51:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T21:58:08.441-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedi Naskah'/><title type='text'>Dasaindria</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.crustpunks.com/images/anatomi71.gif" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://www.crustpunks.com/images/anatomi71.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepuluh alat indra manusia. Kesepuluh indra itu terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pancabudi indria&lt;/span&gt; terdiri dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;srota indria&lt;/span&gt; atau indra pendengar (telinga), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;twak indria &lt;/span&gt;atau indra peraba (kulit), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;caksu indria&lt;/span&gt; atau indra pelihat (mata), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jihwa indria&lt;/span&gt; atau indra pengecap (lidah), dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grana indria&lt;/span&gt; atau indra pencium (hidung). Kelompok kedua disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pancakarma indria&lt;/span&gt;, terdiri dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wak indria &lt;/span&gt;yang berhubungan dengan perbuatan mulut, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pani indria&lt;/span&gt; yang berhubungan dengan perbuatan tangan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pada indria&lt;/span&gt; yang berhubungan dengan perbuatan kaki, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;payu indria &lt;/span&gt;yang berhubungan dengan perbuatan pelepasan, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;upasta indria &lt;/span&gt;yang berhubungan dengan perbuatan kelamin. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dasaindria &lt;/span&gt;dikenal masyarakat Sunda sekitar 500 tahun yang lampau, tercantum dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesiyan (1518).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya&lt;/span&gt; (2000). Jakarta: Pustaka Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-3774001179344797302?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/3774001179344797302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/03/dasaindria.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/3774001179344797302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/3774001179344797302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/03/dasaindria.html' title='Dasaindria'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-943607835671887599</id><published>2010-03-14T21:11:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T21:57:43.080-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedi Naskah'/><title type='text'>Darmapitutur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagian kedua naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Berisi pengetahuan umum yang seyogianya diketahui orang banyak. Dimulai dengan semacam "pengantar": Demikianlah kita manusia ini. Bila ingin tahu sumber kesenangan dan kenikmatan, ingat-ingatlah kata Sang Darmapitutur. Maksudnya, demikianlah bila kita akan bertindak, janganlah salah mencari tempat bertanya. Pengantar itu kemudian diikuti dengan berbagai keterangan yang meliputi kehidupan flora, fauna, cerita, lagu, permainan, carita pantun, lukisan, hasil tempaan, ukiran, masakan, kain, agama dan darigama, perang dan siasat perang, mantra dan jampi, puja dan sanggar, perhitungan waktu, pustaka, kesempurnaan negara, cara mengukur tanah, pelabuhan danpelayaran, harga, kehidupan para dewa, dan bahasa yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bidang mempunyai ahlinya masing-masing, yang mungkin orang mungkin bukan. Jika ahlinya itu orang, memang demikianlah adanya. Jika bukan orang, yang disebut ahli itu pada dasarnya adalah makhluk yang pasti tahu dengan lebih baik daripada orang kebanyakan. Demikianlah, bila ingin tahu tentang taman yang jernih, danau berair sejuk, tanyalah angsa; bila ingin tahu isi laut, tanyalah ikan; bila ingin tahu isi hutan, tanyalah gajah; bila ingin tahu harum dan manisnya bunga, tanyalah kumbang. Semuanya dapat diartikan agar tidak salah memilih tem-pat bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu, orang atau ahli tempat bertanya itu terdiri atas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mémén &lt;/span&gt;(dalang), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;paraguna, hempul, prepantun, lukis, panday, marangguy, hareup catra, pangeuyeuk, pratanda, hulu jurit, brahmana, janggan, bujangga, pandita, ratu, mangkubumi, puhawang, citrik byapara, wiku paraloka, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jurubasa darmamurcaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalang adalah orang yang mengetahui semua cerita, yaitu cerita-cerita Damarjati (Darmajati), Sanghyang Bayu, Jayaséna, Sedamana, Pu Jayakarma, Ramayana, Adiparwa, Korawasarma (Korawasrama), Bimasorga, Ranggalawé, Boma, Sumana (Sumanasantaka), Kalapurbaka, Jarini, dan Tantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Paraguna &lt;/span&gt;adalah orang yang mengetahui berbagai macam lagu, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kawih bwatuha, kawih panjang, kawih lalaguan, kawih panyaraman, kawih sisindiran, pererane, peureud eurid, kawih babahanan, kawih bangbarongan, kawih tangtung, kawih sasambatan, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kawih igel-igelan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hempul &lt;/span&gt;(ahli "permainan rakyat") dapat menerangkan dengan baik berbagai jenis permainan, misalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ceta maceuh, ceta nirus, tatapukan, babarongan, babakutrakan, ubang-ubangan, neureuy panca, muni¬keun lembur, ngadu lisung, asup kana lancar, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngadu nini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu prepantun sebagai ahli carita pantun dapat dimintai keterangan mengenai carita pantun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Haturwangi&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukis sebagai ahli lukisan dapat menerangkan hal-hal yang berkenaan dengan seni lukis, ter-masuk coraknya, a.l. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pupunjengan, hihinggulan, alas-alasan, kekembangan, urang-urangan, memetahan, sisirangan, taruk hata, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kembang taraté&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang dapat ditanyakan kepada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;panday &lt;/span&gt;(pandai) adalah berbagai macam perkakas, misalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pedang, abet, pamuk, golok, péso teundeut, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keris&lt;/span&gt; yang semuanya itu termasuk kelompok genggaman sang prabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu ada senjata yang digunakan oleh petani, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kujang, baliung, koréd, patik, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadap&lt;/span&gt;; dan senjata kaum pendeta, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kala katri, péso raut, péso dongdang, pangot, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pakisi&lt;/span&gt;. Setiap kelompok memiliki dewanya masing-masing: kelompok pertama berdewakan raksasa karena senjata itu digunakan untuk membunuh; kelompok kedua berdewakan Detya karena digunakan untuk mencari makan dan minum; dan kelompok ketiga berdewakan Danawa karena biasanya digunakan untuk mengiris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin mengetahui berbagai macam ukiran, a.l. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dinanagakeun, dibarongkeun, ditiru paksi, ditiru were, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ditiru singa&lt;/span&gt;, maka tempat bertanyanya adalah marangguy yang memang ahli ukiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kembang muncang, gagang senggang, sameleg, seumat sahurun, anyam cayut, sigeji, pasi-pasi, kalangkang ayakan, poleng rengganis, jayanti, cecempaan, paparanakan, mangin haris sili ganti, boéh siang, bebernatan, papakanan, surat awi, parigi nyengsoh, gaganjar, lusian besar, kampuh jayanti, hujan riris, boeh alus, dan ragén pangantén&lt;/span&gt;, yaitu segala jenis kain dan coraknya, keterangannya dapat diperoleh dari pangeu¬yeuk sebagai ahlinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu, keterangan yang jelas mengenai bermacam masakan dapat diperoleh dari hareup catra yang ahli masakan, a.l. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyupar-nyapir rara mandi, nyocobék, nyopong konéng, nyanglarkeun, nyarengseng, nyeuseungit, nyayang ku pedes beubeuleuman, panggangan, kakasian, hahanyangan, rarameusan, diruruum, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;amis-amis&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana "jenjang" dalam bidang keagamaan? Jika kita ingin mengetahui mengapa acara kalah oleh adigama, adigama kalah oleh gurugama, gurugama kalah oleh tuhagama, tuhagama kalah oleh satmata, satmata kalah oleh surahloka, sedangkan surahloka kalah oleh nirawerah, kita harus menanyakannya kepada pra tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan mengenai siasat perang, a.l. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;makarabihwa, katrabihwa, lisangbihwa, singhabihwa, garudabihwa, cakrabihwa, suci muka, braja panjara, asu maliput, merak simpir, gagak sangkur, luwak maturut, kidang sumeka, babah buhaya, ngalingga manik, lemah mrewasa, adipati, prebu sakti, paké prajurit, tapak sawetrik&lt;/span&gt;, dapat diperoleh dari ahlinya yang disebut hulu jurit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan mengenai segala macam mantra dapat dipelajari dari brahmana yang dapat menjelaskan apa yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jampa-jampa, geugeuing, susuratan, sasaranaan, kaseangan, pawayagahan, puspaan, susudaan, huriphuripan, tunduk iyem, pararasen, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pasakwan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Patah puja daun, gelar palayang, puja kembang. nyampingan lingga, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngomean sanghyang &lt;/span&gt;yang semuanya merupakan bentuk-bentuk pemujaan di sanggar, keterangannya dapat diperoleh dari ahlinya yang disebut janggan. Sementara itu bujangga yang merupakan ahli dawuh nalika (pertanda zaman) dapat memberikan keterangan mengenai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bulan gempa, tahun tanpa tenggek, tanpa sirah, sakala lumaku, sakala mandeg, bumi kapendem, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bumi grempa&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menghubungi dan meminta keterangan kepada pandita yang dianggap paling banyak mengetahui isi pustaka, akan diperoleh pengetahuan mengenai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;darmasiksa, siksa kandang, pasuktapa, padinaan, mahapawitra, siksa¬guru, dasasila, tato bwana, tato sarira, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tato ajnyana&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita menginginkan pengetahuan mengenai kesempurnaan di seluruh negara, maka tempat bertanya yang paling tepat adalah ratu. Ia dapat menjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kamulyaan, kautamaan, kapremanaan, kawisésaan&lt;/span&gt;. Dalam pada itu, pejabat di bawah raja, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mangkubumi&lt;/span&gt;, sangat banyak pengetahuannya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan ukur-mengukur tanah, misalnya saja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngampihkeun bumi, masinikeun na urang sajagat, parin pasini, ngadengdeng, maraspade, ngukur, nyaruakeun, nyipat, midana, lamun luhur dipidatar, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ancol dipakpak&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Puhawang &lt;/span&gt;yang sehari-hari hidup bergelut dengan lautan, dapat menerangkan dengan sangat baik hal-hal yang ada kait-hubungannya dengan laut dan pelabuhan, misalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gosong, gorong, kabua, ryak mokprok, ryak maling, alun agung, tanjung, hujung, nusa, pulo, karang nunggung, tunggara, dan barat daya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan mengenai berbagai macam harga, misalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;telu sayuta, telu saketi, telu salaksa. telu sariwu, telu satak, telu saratus, telu sapuluh, karobelah, katelubelah, kapatbelah, kalimabelah, kanembelah, kapitubelah, kawolubelah&lt;/span&gt;, akan dapat diperoleh dari ahlinya yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;citrik byapari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan terakhir yang disebutkan jenis dan ahlinya, ialah pengetahuan yang berkenaan dengan tingkah dan kelakuan para dewa. Hal-hal yang berkenaan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sandi, tapa, lungguh, pratyaksa. putus tangkes, kaleupaseun, tata hyang, tata dewata, rasa carita, kalpa carita &lt;/span&gt;dengan ahlinya yang disebut wiku paraloka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu, kalau suatu ketika kita "terpaksa" menjadi orang bisu karena tidak dapat bertalimarga dengan seseorang yang berbeda bahasa dengan kita, tidak usah gelisah; kita dapat meminta pertolongan jurubasa darmamurcaya yang memang kasabnya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jurubasa darmamurcaya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian ini jelas bahwa ilmu dan pengetahuan orang Sunda di masa lampau erat kaitannya baik dengan kehidupan kemasyarakatan (senjata, masakan, siasat perang, kain, tanah, pelayaran, harga, dan pemerintahan) maupun dengan kehi¬dupan keruhanian, kebudayaan, dan keterampilan (carita pantun, lagu, permainan, lukisan, agama dan parigama, mantra, pemujaan, pustaka, bahasa, kedewataan, dan pertanda zaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat bahwa lebih banyak pengetahuan yang berkenaan dengan segi kehidupan kerohanian disebutkan dalam naskah itu, barangkali dapat juga dipertimbangkan untuk menduga bahwa nampaknya orang Sunda di masa lampau lebih mementingkan pengetahuan kerohanian dan kebudayaan daripada pengetahuan kemasyarakatan yang praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya&lt;/span&gt; (2000). Jakarta: Pustaka Jaya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-943607835671887599?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/943607835671887599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/03/darmapitutur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/943607835671887599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/943607835671887599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/03/darmapitutur.html' title='Darmapitutur'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-3267896908773745355</id><published>2010-03-08T20:35:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T21:57:14.855-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kliping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Indonesia'/><title type='text'>Kai Raga dan Karya-karyanya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Atep Kurnia&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;PADA tradisi menulis naskah kuno yang ada di tatar Sunda, nama pengarang maupun penyalin adalah sesuatu hal yang langka. Berbeda dengan budaya Jawa yang banyak mengenal nama pengarang dan penyalin seperti Mpu Tantular, Mpu Tanakung, Mpu Sedah, dan Mpu Kanwa, di tatar Sunda hingga saat ini hanya dikenal tiga nama: Buyut Ni Dawit, Sang Bujangga Resi Laksha, dan Kai Raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buyut Ni Dawit adalah pertapa perempuan. Berdasarkan data pada kolofon naskah Sewaka Darma (Kropak 408), ia bertapa di Pertapaan Ni Teja Puru Bancana. Pertapaan ini berada di Gunung Kumbang, yang menurut beberapa keterangan ada di wilayah Priangan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Sang Bujangga Resi Laksha menurut kolofon naskah Serat Buwana Pitu (Kropak 636) besar kemungkinan juga se-orang pertapa atau bahkan raja yang mundur dari kerajaannya dan menjadi seorang resi. Naskah Serat Buwana sendiri ditulis di Giri Sunya (Gunung Sunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang penting dicatat di sini adalah peran Kai Raga. Mengapa penting dicatat? Karena sejauh ini, Kai Raga telah menuliskan lebih dari tiga naskah Sunda kuno. Bahkan bisa jadi bertambah banyak lagi, mengingat naskah-naskah Sunda kuna yang belum diteliti banyak. Hingga kini 50-an naskah Sunda kuna yang ada di Perpustakaan Nasional dan Kabuyutan Ciburuy, Garut, masih belum tergarap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adapun profil Kai Raga dapat kita baca keterangannya dari Ratu Pakuan (1970) karya Atja dan Tiga Pesona Sunda Kuna (2009) susunan J. Noorduyn dan A. Teeuw. Berdasarkan kedua buku tersebut, Kai Raga adalah pertapa yang tinggal di sekitar Sutanangtung, Gunung Larang Srimanganti. Gunung ini merupakan nama kuno Gunung Cikuray, Garut, dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui penelusuran dan penafsiran Pleyte yang ada pada Ratu Pakuan dan Tiga Pesona Sunda Kuna, Kai Raga diperkirakan hidup pada awal abad ke-18. Penelusuran dan penafsiran Pleyte ini didasarkan atas perbandingan naskah-naskah yang ditulisnya dengan naskah Carita Waruga Guru yang menunjukkan kesamaan corak huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya tulis dan koleksi Kai Raga diturunkan kepada kerabatnya. Ia sendiri tidak meninggalkan keturunan. Dan, ketika Raden Saleh pada tahun 1856 mencari-cari peninggalan purbakala atas inisiatif Masyarakat Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia (BGKW), naskah-naskah peninggalan Kai Raga diserahkan kepada pelukis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kolofon&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini baru ada lima naskah Sunda yang dinisbatkan kepada Kai Raga. Kelima naskah tersebut adalah: Carita Ratu Pakuan (Kropak 410), Kropak 411, Carita Purnawijaya (Kropak 416), Kawih Paningkes (Kropak 419), Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), dan Darmajati (Kropak 423).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti kepenulisan Kai Raga dinyatakannya dalam bentuk kolofon pada masing-masing naskah di atas dan posisinya biasanya berada di akhir teks. Pada Kropak 410 dan 411, ada keterangan: sadu pun, sugan aya sastra leuwih sudaan, kurang wuwuhan. Beunang diajar nulis di Gunung Larang Srimanganti dan beunang nganggeuskeun di sukra wage gununglarang srimanganti. Ini carik kai raga. (Maaflah, bila ada tulisan berlebih, mohon dikurangi, jika kurang tambahi. Hasil belajar menulis di Gunung Larang Srimanganti dan telah selesai dituliskan pada hari Jumat wage di Gununglarang Srimanganti. Ini juru tulis Kai Raga) (Atja, 1970 dan Undang A. Darsa, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Carita Purnawijaya (Kropak 416) dan Darmajati (Kropak 423), keduanya menunjukkan keterangan yang sama. Kata-kata yang dimaksud adalah: sugan aya sastra ala de ma, sugan salah gantian, sugan kurang wuwuhan. Beunang Kai Raga nulis, di gunung Larang Sri Manganti (kalaulah ada tulisan jelek dan sia-sia, jika keliru perbaikilah, apabila kurang harap dilengkapi. Tulisan hasil Kai Raga, di Gunung Larang Srimanganti) (Undang A. Darsa, dkk. 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara menurut Atja (1970), Kawih Paningkes (Kropak 419) diakhiri dengan kata-kata: ini kang nulis kai raga nu keur tapa di sutanangtung. Sedangkan Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), menurut Undang A. Darsa dan Edi S. Ekadjati (2006) diakhiri dengan kata-kata: ini kang anulis Kai Raga, eukeur tapa di Sutanangtung. Sugan kurang wuwuhan, leuwih sudaan (inilah penulis bernama Kai Raga, tengah bertapa di Suta Nangtung. Bila ada kekurangan mohon ditambah, jika berlebihan mohon dikurangi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Isi Karya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, karya tulis Kai Raga dapat dibagi ke dalam dua bagian. Pertama, yang masuk ke rumpun sejarah. Kedua, masuk ke rumpun keagaamaan. Naskah Sunda kuno karya Kai Raga yang mewakili rumpun sejarah adalah Carita Ratu Pakuan (Kropak 410). Sementara yang mewakili keagaamaan adalah Carita Purnawijaya (Kropak 416), Kawih Paningkes (Kropak 419), Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), dan Darmajati (Kropak 423).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Kropak 411, sejauh ini belum diketahui keberadaannya. Karena dalam Perpustakaan Nasional Republik Indonesia: Katalog induk naskah-naskah Nusantara jilid 4 (1998), naskah tersebut tidak didapatkan lagi datanya. Akan tetapi, catatan Pleyte dalam Poernawidjaja’s Hellevaart, of de Volledigeverlossing, Vierde bijdrage tot de kennis van het oude Soenda (1914), jelas menyebutkan keberadaan naskah tersebut. Dengan demikian, besar kemungkinan naskah tersebut telah raib dari koleksi Perpustakaan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carita Ratu Pakuan, sebagaimana catatan Atja (1970), dibagi dua bagian. Pertama, me-ngenai gunung-gunung pertapaan para pohaci yang akan menitis kepada para putri pejabat calon istri Ratu Pakuan atau Prabu Siliwangi. Kedua, mengenai kisah Putri Ngambetkasih diperistri Ratu Pakuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carita Purnawijaya (Poernawidjaja’s Hellevaart) merupakan adaptasi naskah Jawa kuno yang bernapaskan agama Buddha, Kunjarakarna. Isinya menerangkan Purnawijaya yang mendapatkan pencerahan dari Dewa Utama, perjalanannya ke neraka, dan serta uraian masalah-masalah filosofis yang dia dapatkan. Naskah ini mirip sekali isinya dengan Darmajati, meski di beberapa bagian ada yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, naskah Kawih Paningkes dan Gambaran Kosmologi Sunda pada dasarnya berisi tentang segala macam renungan mengenai masalah-masalah keagamaan. Gambaran Kosmologi Sunda berisi dialog antara Pendeta Utama dengan Pwah Batari Sri me-ngenai bagaimana semua mahluk menjalankan tugasnya masing-masing sesuai bayu, sabda, dan hedap anugerah dari Sang Pencipta. Selain itu, juga ada disebutkan me-ngenai tuntunan peribadatan yang harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, Kawih Paningkes, menurut Ayatrohaedi, dkk. (1987), berisi embaran mengenai ajaran agama yang bercampur antara kepercayaan Hindu dengan kepercayaan pribumi. Hal tersebut terbukti dengan disebutkannya nama dewa dan dewi agama Hindu dengan nama-nama pohaci dan apsari yang khas Pasundan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Kai Raga dan karya-karyanya. Dengan gambaran tersebut, tampak pentingnya pembacaan, transkripsi, serta alih bahasa naskah-naskah Sunda kuno. Upaya penggalian naskah-naskah Sunda kuno, yang kini masih banyak yang belum tergarap, bisa jadi kita akan memperoleh sejumlah data yang menyangkut nama penulis dan penyalin, wilayah, serta titimangsa kapan naskah ditulis. Dengan demikian akan kian jelaslah pemetaan literasi orang Sunda di masa lalu.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;(Atep Kurnia, penulis lepas, bergiat di Pusat Studi Sunda/PSS)***&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-3267896908773745355?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/3267896908773745355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/03/kai-raga-dan-karya-karyanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/3267896908773745355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/3267896908773745355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/03/kai-raga-dan-karya-karyanya.html' title='Kai Raga dan Karya-karyanya'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-4555748589895960808</id><published>2010-03-05T19:49:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T21:56:50.898-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kliping'/><title type='text'>”Quo Vadis” Keberadaan ”Basa” Sunda Kuna</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahasa Sunda kuna hidup pada naskah-naskah dan prasasti Sunda kuna. Dengan demikian, bagaimana sikap orang Sunda sekarang terhadap bahasa Sunda kuna? Menurut saya, ada dua pilihan. Pertama, menghidupkannya kembali secara umum, secara massal, dan menjadikannya bahasa lulugu. Kedua, menghidupkannya di kalangan terbatas, seperti di lingkungan universitas yang mengajarkan filologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opsi pertama memang terasa muluk. Namun, bila ada kebijakan bahasa atau politik bahasa dari pemerintah yang mewajibkan pemakaian bahasa daerah dari tingkat paud (pendidikan anak usia dini), TK (taman kanak-kanak), hinggga perguruan tinggi berikut pemakaiannya di semua lini literasi, hal tersebut, saya pikir, bisa saja dilakukan, mengapa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opsi ini dapat kita lihat contohnya dari keterangan yang disampaikan Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru (2005). Dalam buku ini ada bagian yang membahas tentang kebijakan pemerintahan kolonial Hindia Belanda untuk merevitalisasi bahasa Sunda. Sebagaimana yang dapat kita baca dari buku tersebut, pada mulanya para filantrop dan ilmuwan Belanda yang ada di Hindia Belanda berpemikiran romantis yang memandang bahwa tiap suku bangsa pasti mempunyai bahasa asli (purisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, entah mengapa mereka kemudian memilih bahasa Sunda yang digunakan di lingkungan kadaleman Priangan sebagai bahasa Sunda yang resmi, basa lulugu. Mereka tidak memilih bahasa Sunda yang hidup di pedalaman Kanekes, nun jauh di daerah Banten kini misalnya yang bisa disebutkan cenderung ”bersih” dari anasir-anasir bahasa luar yang memengaruhi bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai pada pemilihan dialek Priangan, para ilmuwan Belanda itu mengumpulkan kosa kata Sunda, membuatkan tata bahasanya, mencari perbedaaannya dengan bahasa Jawa -- karena mula-mula bahasa Sunda dianggap sebagai hanya varian dari bahasa Jawa, membuatkan sistem ejaannya, mencetak buku-buku berbahasa Sunda -- terutama dirintis oleh K.F. Holle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencetakan dan penerbitan buku Sunda ini kemudian disebarkan. Bahasa Sunda diwajibkan untuk diajarkan kepada murid-murid sekolah rakyat. Buku-buku berbahasa Sunda wajib dibaca. Ilmu-ilmu pengetahuan pun untuk keperluan itu dibuatkan dalam bahasa Sunda. Semuanya jadi serbabahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kini kita dapat memikirkan bahwa sebenarnya ada agenda tersembunyi (hidden agenda) pemerintah Hindia Belanda manakala memilih bahasa Sunda Priangan. Tentu terang maksudnya, mereka ingin melanggengkan kekuasaannya di sini. Dengan menggunakan bahasa Sunda Priangan, kadaleman, panta-panta orang, undak-usuk akan abadi. Dengan demikian, pandangan kepada orang pun akan tetap berbeda-beda pula. Ada yang tinggi derajatnya, ada yang rendah derajatnya, ada yang mulia, ada yang hina.&lt;br /&gt;\Maka, Belanda yang memerintah secara tidak langsung, hanya melalui kaki tangannya, akan terus menyebabkan mereka memerintah dengan cara demikian. Mereka akan tetap membiarkan saja pribumi yang eksklusif dan elitis memerintah pribumi yang inklusif dan lemah. Tetap membiarkan saja orang pribumi memeras orang pribumi. Itu memang disengaja, saya kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal bahasa Sunda kuna, bila opsi menghidupkan kembali secara keseluruhan tidak diambil karena dianggap cenderung muluk-muluk dan tidak realistis, sikap kita tatkala berhadapan dengan bahasa Sunda kuna, saya pikir, yang paling dekat dan mungkin adalah mengajarkannya di universitas yang ada di Jabar dan Banten --apalagi universitas yang memakai nama-nama Sunda beserta variannya -- terutama yang mempunyai mata kuliah filologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa ini, saya pikir mutlak diperlukan bila suatu ketika para mahasiswa ingin melanjutkan studi lebih lanjut mengenai naskah-naskah atau prasasti yang berbahasa Sunda kuna. Oleh karena itu, mutlak sekali untuk mengajarkan mata kuliah bahasa Sunda kuna selama beberapa semester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opsi ini diambil tentu saja ada latar belakangnya. Saya pikir karena hingga kini yang dapat membaca serta menerjemahkan baik prasasti maupun naskah berbahasa Sunda kuna tinggal sedikit.  (Atep Kurnia, bergiat di Pusat Studi Sunda/PSS) ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-4555748589895960808?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/4555748589895960808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/03/quo-vadis-keberadaan-basa-sunda-kuna.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4555748589895960808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4555748589895960808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/03/quo-vadis-keberadaan-basa-sunda-kuna.html' title='”Quo Vadis” Keberadaan ”Basa” Sunda Kuna'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-2405451952488034640</id><published>2010-02-18T22:29:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T21:56:30.439-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akses'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Bahasa Indonesia'/><title type='text'>BUJANGGA MANIK DAN INGATAN DUNIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak ditemukan dan kemudian diserahkan ke Perpustakaan Bodleian, Oxford pada tahun 1627 oleh Saudagar Andrew James, seorang Saudagar asal Newport, naskah ‘Bujangga Manik (BM)’  sempat ‘terlupakan’ selama kurun waktu tiga abad lamanya. Barulah kemudian pada tahun 1968 (341 tahun kemudian!), seorang peneliti Sunda asal Belanda, Jacobus Noorduyn, memanfaatkan data yang terdapat dalam naskah BM. Dan hanya seorang Noorduyn pula, yang selama berpuluh-puluh tahun mengabdikan dirinya bergelut dengan naskah ini. Upayanya berujung pada artikel singkatnya "Bujangga Manik Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source" (BKI, 138:413-42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Noorduyn berpulang sebelum sempat mengumumkan penelitiannya yang menyeluruh atas naskah ini. Untunglah, seorang sahabat yang juga peminat budaya Sunda dan Nusantara berkebangsaan Belanda, A. Teeuw melengkapi kajian-kajian Noorduyn atas tiga puisi Sunda kuna (termasuk Bujangga Manik) dan kemudian diterbitkan dalam bukunya ‘Three Old Sundanese Poem’ (2006). Noorduyn dan A Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung (atau ditulis?) pada masa Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Seperti umum diketahui, bahwa Malaka menguasai jalur perniagaan sejak tahun 1440. Dalam rentang waktu itulah kiranya, perjalanan suci Bujangga Manik berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil-hasil penelitian itulah kita bisa memperoleh gambaran, bahwa teks Bujangga Manik menceritakan seorang petapa Sunda-Hindu yang, meskipun berkedudukan sebagai Tohaan (Pangeran) di istana Pakuan, lebih memilih hidup sebagai petualang yang senantiasa mencari kepuasan rohaninya. Petualangannya menjelajahi tempat-tempat itulah, yang selalu kita ingat di masa kini. Tempat yang ia singgahi lebih dari 450 tempat, termasuk di antaranya ada sedikitnya 90 nama gunung dan 50 nama sungai, terbentang dari Sunda bagian barat (Pakuan) sampai pulau Bali. Singkatnya, sebagaimana diungkapkan Teeuw, selain mempunyai fungsi sastra yang indah dan menghibur, teks BM juga menjadi petunjuk ensiklopedis mengenai berbagai segi kehidupan kontemporer: baik budaya, geografi, sejarah, bahasa, dll. Keistimewaan lain dari naskah puisi yang berjumlah 1641 baris ini, ialah bahwa pada kenyataannya– seperti naskah-naskah Sunda kuno yang kebanyakan otentik dan tidak disalin – naskah BM tiada duanya dan hanya satu-satunya di dunia (codex uniqus).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Memory of the World&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memory of the World (MOW) merupakan salah satu program UNESCO yang mulai dirintis pada tahun 1992. Program ini dilatar-belakangi oleh kesadaran akan pentingnya kelestarian, dan akses ke, warisan dokumenter di berbagai belahan dunia. Perang dan pergolakan sosial, serta kurangnya sumber daya, telah memperburuk masalah yang signifikan terhadap koleksi di seluruh dunia: penjarahan, penyebaran, perdagangan ilegal, kerusakan, kurangnya sarana dan prasarana dan pendanaan menjadi cukang lantaran dibentuknya program ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Indonesia menjadi bagian dalam MOW pada tahun 2006 (dengan terbentuknya Komite Nasional MOW), sampai saat ini setidaknya telah didaftarkan tiga karya unggulan bangsa Indonesia, yaitu Negarakretagama (Manuskrip berbentuk Kakawin berbahasa Jawa Kuno), I La Galigo (Karya prosa lirik panjang asal bugis), dan Mak Yong (Kesenian Melayu). Pada tahun ini pun sedang diupayakan Babad Diponegoro untuk dijadikan Memory Of The World.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis, naskah Bujangga Manik merenah pisan apabila terdaftar sebagai salah satu masterpiece melalui MOW ini. Bagaimanapun, BM merupakan salah satu kekayaan budaya masyarakat Sunda dan Nusantara yang mampu ‘mengembalikan’ ingatan urang Sunda pada masa lalunya, menyembuhkan amnesia terutama kepada tempat-tempat yang pernah ia singgahi. Simak saja catatannya dalam perjalanan melalui citarum: “leumpang aing ka baratkeun/ datang ka bukit Paténggeng/ Sakakala Sang Kuriang/ masa dék nyitu Ci-Tarum/ burung tembey kasiangan”. Dari sekelumit catatan itu jelas sudah bahwa kisah legenda Sangkuriang membuat bendungan telah ada sekurang-kurangnya pada abad ke 16, dan ingatan itu tetap melekat pada urang, Sunda, berabad-abad lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Naratas Jalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran singkat diatas, kiranya kita bisa ngabungbang naratas jalan, menjadikan naskah ini bagian dari dunia melalui Memory of the World yang menjadi program UNESCO. Tarekah untuk itu bisa dimulai dengan membentuk komite local yang terdiri dari para ahli, praktisi, budayawan, dan pemangku kebijakan tingkat lokal. Dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud, bukan Disbudpar), peneliti, filolog, akademisi dan lembaga pendidikan seperti UNPAD, UPI, UNPAS, dan UIN bisa bersinergi merumuskan langkah-langkah strategis sekaligus mempersiapkan semua keperluan teknis yang dibutuhkan, untuk kemudian diajukan kepada Komite Nasional. Komite nasional sendiri terdiri dari lembaga-lembaga, baik pemerintah maupun swasta, seperti LIPI, Arsip Nasional, Perpustakaan Nasional, Musium, Media Cetak dan Elektronik, Swasta dan Perguruan Tinggi. Barulah kemudian, Komite Nasional melanjutkan pada Komite Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara formal, poin-poin justifikasi kelayakan terhadap naskah BM tidak perlu disangsikan. Keotentikan naskah ini telah dibuktikan dengan cukup memuaskan oleh telaahan Noorduyn dan Teeuw sejak tahun 1968, bahkan data-data yang terdapat di dalamnya telah dimanfaatkan oleh disiplin lain. Signifikansi dan keunikan naskah BM telah memenuhi syarat karena di dalamnya berisi rekaman perjalanan, gambaran geografis, sosial, kehidupan keagamaan, yang ditulis berdasarkan kesaksian seorang pribumi. Jangan lupa pula bahwa Bujangga Manik, layaknya Mpu Prapanca yang menggubah Nagarakretagama, dengan penuh kesadaran mempunyai visi jauh ke depan untuk generasi selanjutnya ketika ia menegakkan lingga dan membuat arca “(nu peundeuri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang agak disayangkan, bahwa naskah Bujangga Manik pada kenyataannya bukan milik lembaga penyimpanan di Indonesia. Ia tersimpan dalam sebuah tempat penyimpanan nun jauh di Oxford, Inggris sana. Tapi ketika kita membaca kisahnya yang mengagumkan, dengan ungkapan Sunda bihari yang sebagian masih dapat dikenali oleh orang Sunda kiwari, membuat kita (baca: urang Sunda) bergumam dalam hati “Ini adalah milik kita”.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; "&gt;Aditia Gunawan&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-2405451952488034640?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/2405451952488034640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/02/bujangga-manik-dan-ingatan-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/2405451952488034640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/2405451952488034640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/02/bujangga-manik-dan-ingatan-dunia.html' title='BUJANGGA MANIK DAN INGATAN DUNIA'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-6332742581883293771</id><published>2010-02-09T18:36:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T21:55:52.448-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kliping'/><title type='text'>”Sakola” Sunda Kuno</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Garut adalah salah satu kabupaten di wilayah Provinsi Jawa Barat yang terletak ± 63 kilometer di sebelah tenggara Kota Bandung dengan ketinggian ± 717 meter di atas permukaan laut sehingga wilayah Garut ini rata-rata berhawa sejuk. Adapun batas wilayah Kabupaten Garut di sebelah barat ialah Kabupaten Bandung dan Cianjur, di sebelah utara ialah Kabupaten Sumedang, di sebelah timur ialah Kabupaten Tasikmalaya, dan di sebelah selatan ialah Samudra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Garut termasuk salah satu daerah yang memiliki peninggalan tradisi budaya masa lampau cukup kaya. N.J. Krom dalam laporannya yang berjudul Rapporten van den Oudheidkundigen Diens in Nederlandsch Indie (ROD, 1914), antara lain mencatat tentang adanya benda-benda sisa kepurbakalaan budaya megalitik, benda-benda tinggalan masa pra-Islam dan masa awal Islamisasi, dan salah satunya adalah situs Kabuyutan Ciburuy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs Kabuyutan Ciburuy dikenal karena berada di Kampung Ciburuy, Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. Kabuyutan Ciburuy ini dapat ditempuh dari Terminal Ciawitali Kota Garut dengan kendaraan angkutan kota jurusan Bayongbong antara 30-50 menit, kemudian dari jalan raya ke lokasi situs Kabuyutan Ciburuy berjarak sekitar 3 kilometer yang dapat ditempuh melalui jalan kecamatan/desa menggunakan ojek dengan ongkos Rp 5.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs Kabuyutan Ciburuy ini terletak di sebuah perbukitan di kaki Gunung Cikuray dengan batas arah, Desa Saderang di barat, Desa Sindangsari di utara, Desa Batuageung di timur, dan Desa Cicayur di Selatan. Situs Kabuyutan Ciburuy ini pun dilewati tiga aliran sungai kecil, yaitu Sungai Ciburuy di sebelah barat, Sungai Cisaat di sebelah timur, dan Sungai Baranangsiang di sebelah utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas area lokasi situs Kabuyutan Ciburuy sekitar satu hektare, berpagar kawat berduri. Pintu gerbang utamanya terbuat dari tembok dan besi yang berada di sebelah selatan, serta dilengkapi dengan sarana mandi cuci kakus. Area lokasi situs ini pernah dilakukan pemugaran yang selesai pada tanggal 21 Mei 1982 dan diresmikan oleh Prof. Haryati Soebadio yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Kabuyutan Ciburuy Garut telah sejak lama diberitakan, antara lain oleh K.F. Holle (1867) bahwa di situ tersimpan naskah-naskah Sunda Kuno yang berbahan lontar dan daun nipah, ditulis menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno, serta isinya cenderung menyangkut hal-hal kehidupan yang berkaitan dengan masa pra-Islam di wilayah Sunda. Pada masa lalu, Kabuyutan Ciburuy merupakan sebuah mandala, yaitu sebuah model lembaga pendidikan sebelum berdirinya tradisi pesantren di Tatar Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabuyutan Ciburuy bukan hanya sebagai tempat koleksi naskah semata, tetapi dapat dipastikan merupakan skriptorium Sunda, yaitu salah satu tempat kegiatan kaum intelektual untuk belajar serta mengembangkan beragai bidang ilmu pengetahuan dalam bentuk tradisi tulis berupa bundelan naskah-naskah berbahan lontar dan nipah. Hal ini didukung dengan adanya tinggalan benda budaya yang masih tersimpan berupa sebilah péso pangot, rangka kaca mata berbahan tanduk, gunting, piring logam, tabung logam berkaki, yang semuanya termasuk kelengkapan alat tulis masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.M. Pleyte dalam kunjungannya pada tahun 1904 mendapat informasi dari lurah di situ bahwa menurut cerita rakyat dahulu Cikuray itu biasa disebut Srimanganti, berdasarkan nama sebuah kampung di lereng sebelah barat gunung tersebut. Di samping itu, Pleyte pun pernah berkirim surat kepada asisten residen di Garut, C.F.K. van Huis van Taxis. Dalam surat jawabannya, asisten residen itu menerangkan bahwa Cikuray itu memang disebut pula Srimanganti, sebuah nama kampung yang termasuk Desa Cigedug. Namun, kampung itu sudah tidak ada lagi karena sudah ditinggalkan penduduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs Kabuyutan Ciburuy ini adalah salah satu saksi pernah adanya ”produsen kaum intelektual” di Tatar Sunda di masa lampau sehingga membuat para pakar Belanda pada paruh kedua akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, antara lain K.F. Holle dan C.M. Pleyte tertarik memfokuskan penelitian mereka ke wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lokasi Kabuyutan Ciburuy ini ditempati lima bangunan berdinding bilik bambu beratap daun rumbia (Sunda: hateup kiray) yang masing-masing adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Patamon merupakan bangunan berkolong ± 40 sentimeter yang berukuran 8 meter x 6 meter berserambi 8 meter x 4 meter dengan empat tiang utama berukuran sekitar 4 meter dan berlantaikan palupuh. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat musyawarah adat dan menerima tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam patamon ini tersimpan sebuah peti berisi beberapa lembaran naskah berbahan saeh beraksara pegon dan benda-benda pusaka berupa sebatang rotan ± 40 sentimeter dibungkus kain warna merah-putih, dua bilah golok panjang, beberapa buah keris, sebuah cambuk, rantai logam keemasan, alat kecantikan, bokor tembaga, dan gamelan. Menurut penuturan kuncen Ujang Suryana, benda-benda budaya tersebut merupakan peninggalan Prabu Siliwangi dan putranya, yakni Prabu Keansantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Leuit atau lumbung padi berkolong ± 1 meter yang berukuran 4 meter x 2ﬁ meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Saunglisung adalah bangunan tempat menumbuk padi yang berukuran 9 meter x 3 meter, berdinding bilik bambu setengah terbuka tanpa daun pintu, dan berlantai tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Padaleman, yaitu sebuah lahan berpagar dinding anyaman bambu berukuran sekitar 10 meter x 50 meter, terbagi ke dalam tiga ruangan berundak sama besar yang disekat dengan dinding anyaman bambu pula dan tiap-tiap ruangan itu dihubungkan dengan pintu anyaman bambu. Pada ruangan ketiga, yakni ruangan terdalam yang menempati lokasi paling atas di lokasi itu terdapat sebuah bangunan berkolong ± 40 sentimeter - 100 sentimeter, berukuran 9 meter x 5 meter. Di dalam bangunan ini tersimpan tiga peti kayu yang masing-masing berisi kropak dan bundelan naskah berbahan lontar dan nipah beserta benda pusaka berupa kujang, trisula, genta, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan padaleman ini merupakan inti dari situs kabuyutan yang berfungsi sebagai sebuah mandala, semacam lembaga pendidikan sebelum adanya tradisi pesantren pada masa Islam atau tradisi sekolah pada masa kini. Pada tingkat bawah, yaitu ruang pertama tempat para pelajar yang biasa disebut catrik atau sastrim; tingkat kedua, yaitu ruang tengah tempat para pelajar yang biasa disebut ajar; dan tingkat ketiga, yaitu ruang atas tempat para pelajar yang biasa disebut resi. Ketiga tingkat pelajar tersebut biasanya diasuh atau dibimbing oleh resiguru atau mahakawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Panyarangan atau pasigaran adalah sebuah bangunan berkolong ± 75 sentimeter yang berukuran 1,5 meter x 1,5 meter, berdinding palupuh bambu dan bagian mukanya ditutup daun enau bertangkai dijepit bilahan bambu. Bangunan ini berada di luar lokasi padaleman dan terletak pada tempat paling atas/tinggi. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara seluruh peti sambil mengganti anyaman janur yang dinamakan sinjang/samping sebagai pembungkus kropak bundelan naskah lontar/nipah, khususnya yang terdapat di dalam peti ke-2, menjelang dilakukan upacara tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun diselenggarakan rangkaian upacara tradisional yang dinamakan upacara séba, sejenis upacara tradisi tahunan. Waktunya jatuh pada setiap hari Rabu minggu ketiga pada bulan Muharam yang dilangsungkan pada malam Kamis (Rabu malam) setelah waktu salat Isya. Seluruh kropak dan bundelan naskah dikeluarkan dari dalam peti penyimpanannya. Hal itu dimaksud untuk mengganti anyaman daun kelapa muda (janur) pembungkus naskah yang dibuat setahun yang lalu dengan anyaman janur yang masih segar. Upaya perawatan tradisional terhadap naskah semacam ini agak mengkawatirkan karena cenderung dapat meningkatkan kelembapan temperatur dalam setiap peti tempat penyimpanan naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara séba yang dipimpin oleh kuncen Ujang Suryana, putra bungsu Engkon, putra Aki Cudi, putra Aki Rasdi, putra Aki Rasidi, dan kuncen yang sebelumnya tidak dapat ditelusuri lagi. Sementara Ujang Suryana saat ini mengaku sebagai kuncen ke-149.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upacara séba dilakukan pencucian benda-benda atau barang-barang pusaka yang dianggap sebagai benda peninggalan dari masa Prabu Siliwangi dan Prabu Keansantang. Acara ini dilakukan sebagai tanda penghormatan kepada kedua tokoh itu yang telah mewariskan harta pusaka, di samping mendoakan arwah mereka beserta arwah para leluhur lainnya, sekaligus sebagai wujud permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dan kealpaan selama menjaga serta merawat pusaka budaya tersebut. (Undang Ahmad Darsa, dosen/peneliti Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)***&lt;br /&gt;Diambil dari: &lt;a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=126666"&gt;http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=126666&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-6332742581883293771?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/6332742581883293771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/02/sakola-sunda-kuno.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/6332742581883293771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/6332742581883293771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/02/sakola-sunda-kuno.html' title='”Sakola” Sunda Kuno'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-1232026787593253614</id><published>2010-02-08T19:34:00.000-08:00</published><updated>2011-01-31T02:02:40.425-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kliping'/><title type='text'>Keberadaan Naskah Ciburuy Garut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/S5HTWQZlOAI/AAAAAAAAAJQ/swuSh_XQzow/s1600-h/2633619604_4a0d5ec292_o.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/S5HTWQZlOAI/AAAAAAAAAJQ/swuSh_XQzow/s320/2633619604_4a0d5ec292_o.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5445365803780487170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada sebagian benda budaya berupa pusaka dan lembaran naskah di Kabuyutan Ciburuy yang bernuansa islami, yakni yang tersimpan dalam sebuah peti kayu di patamon. Sementara itu, keberadaan kropak dan bundelan naskah Sunda kuno berbahan lontar dan nipah yang bernuansa pra-Islam tersimpan di dalam tiga peti berjajar arah timur-barat pada pago dalam bangunan tradisional di lokasi padaleman. Tidak ada penomoran peti secara eksplisit di situ, tetapi peti yang terletak paling timur biasa disebut sebagai peti pertama, peti kedua yang terletak di tengah, dan peti yang ketiga yang terletak paling barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis sendiri pertama kali mengenal Situs Kabuyutan Ciburuy pada bulan Juni 1984, sebagai anggota tim peneliti naskah-naskah Lontar Sunda Kuno yang diketuai (alm.) Saleh Danasasmita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kuncen saat itu adalah Engkon (65). Memang, tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam lokasi padaleman tanpa seizin kuncen, tetapi berhubung kondisi penyimpanan yang kurang memenuhi standar sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik naskah di dalamnya. Bahkan, ada salah satu peti tempat penyimpanan kropak-kropak naskah sudah rusak karena termakan usia dan kena gigitan tikus hingga berlubang. Tidak heran jika ada bundelan naskah yang rusak dimakan tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekitar dua tahun yang lalu, alhamdulillah berkat seorang dermawan dari Bandung yang sangat menaruh perhatian terhadap warisan nenek moyang dengan secara tulus telah menyumbangkan dua peti kayu yang salah satunya untuk mengganti peti pertama yang rusak itu dan yang satunya lagi dipergunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka di ruang patamon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 16 Juli 2009 dilakukan kunjungan bersama Kapolwil Priangan saat itu, Komisaris Besar Drs. Anton Charliyan, M.P.K.N. bersama jajarannya. Setelah kunjungan itu, beliau menyumbang peti pelat besi sesuai ukuran yang bisa diisi peti-peti kayu yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kuantitatif, jumlah naskah yang terdapat dalam ketiga peti tersebut, masing-masing: dalam peti pertama berisi sebelas kropak triplek yang masing-masing terbungkus sarung kain putih. Kesebelas kropak ini semuanya berisi naskah berbahan lontar digores dengan pisau pangot. Kropak triplek ini tampak dibuat sekitar tahun 1990-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peti kedua berisi enam kropak kayu aslinya yang bercat warna merah jingga, tigakropak di antaranya berhias motif tanaman rambat. Adapun bahan naskahnya terdiri atas dua kropak berbahan lontar digores dengan pisau pangot beraksara Sunda, dan empat kropak berbahan nipah ditulis dengan tinta beraksara Budis/Gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peti ketiga berisi empat kropak berwarna merah jingga bermotif tanaman rambat, dan empat bundel naskah dengan penjepit kayu, jadi berjumlah delapan naskah yang semuanya berbahan lontar digores dengan pisau pangot beraksara Sunda. Selain berisi delapan naskah, peti ketiga berisi pula benda-benda budaya berupa sebilah péso pangot, sebilah kujang, satu gunting, satu kerangka kaca mata berbahan tulang tanduk binatang, satu genta, satu piring besi, satu dudukan tombak, dan dua trisula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, total ada 25 kropak naskah yang dianggap masih ”utuh”. Namun sesungguhnya, apabila dicermati secara lebih teliti naskah-naskah dalam koleksi kabuyutan Ciburuy ini berjumlah 27 buah karena terdapat dua bundel naskah yang tersimpan dalan satu kropak. Jumlah tersebut masih tetap sejak penulis melakukan penelitian tahun 1984 hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bundel-bundel naskah dalam koleksi kabuyutan Ciburuy memang sudah tidak memiliki benang/tali pengikat sehingga kemungkinan terjadinya perbauran lempir-lempir halaman lontar sangat besar. Hal ini akan mengakibatkan kesulitan untuk dilakukannya rekonstruksi teks tiap-tiap naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi naskah dalam Kabuyutan Ciburuy ini keberadaannya kurang begitu dikenal masyarakat masa kini. Padahal Kabuyutan Ciburuy-Bayongbong Garut merupakan peninggalan satu-satunya skriptorium Sunda Kuno yang masih bertahan hingga sekarang. Kondisi naskah-naskah Sunda Kuno yang berada di kabuyutan tersebut saat ini agak mengkhawatirkan dari segi perawatannya, berbeda dengan kondisi naskah Sunda kuno yang berada di Perpustakaan Nasional Jakarta yang tersimpan dalam ruangan dengan temperatur yang standar.  (Undang Ahmad Darsa)***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dari: &lt;a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=126665"&gt;http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=126665&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-1232026787593253614?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/1232026787593253614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/02/keberadaan-naskah-ciburuy-garut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1232026787593253614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/1232026787593253614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/02/keberadaan-naskah-ciburuy-garut.html' title='Keberadaan Naskah Ciburuy Garut'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/S5HTWQZlOAI/AAAAAAAAAJQ/swuSh_XQzow/s72-c/2633619604_4a0d5ec292_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-8686890058180533101</id><published>2010-01-25T19:02:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T21:55:23.794-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kliping'/><title type='text'>Kitab Alquran Kuno di Kabuyutan Ciburuy</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     Menakjubkan! Mungkin itulah kata-kata disertai decak kagum yang terlontar dari mulut para kiai dan alim ulama, yang berasal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota dan Kabupaten Tasikmalaya serta ulama dari Garut, ketika mendatangi dan menyaksikan ’skriptorium’ naskah Sunda buhun (kuno) yang berada di Kabuyutan Ciburuy Bayongbong Kabupaten Garut.  Di lokasi itu tersimpan naskah Sunda berupa lontar yang ditulis dengan menggunakan aksara dan bahasa Sunda kuno, ataupun naskah-naskah Sunda lainnya yang ditulis dengan menggunakan aksara Pegon (naskah Sunda yang beraksara Arab tetapi berbahasa  Sunda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan alim ulama dan kiai serta ilmuwan dan budayawan pada tanggal  7-8 Januari 2010 di Cipanas Garut, digagas atas prakarsa mantan Kapolwil Priangan Komisaris Besar Drs. Anton Charliyan, M.P.K.N. yang sebentar lagi  menjabat  Wakapolda Kalimantan Tengah. Tujuan mulia beliau intinya sebenarnya silaturahim, sekaligus mempertemukan para alim ulama dan kiai dengan ilmuwan dan budayawan se-Polwil Priangan untuk duduk bersama, urun rembug, serta membedah kitab atau yang secara filologis disebut naskah (kitab/buku yang ditulis tangan) peninggalan karuhun orang Sunda masa lampau, yang bernuansa Islami serta terungkap di Kabuyutan Bayongbong Garut, yang disinyalir merupakan peninggalan para wali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kabuyutan Ciburuy” yang berada di Bayongbong Garut, sampai saat ini belum  diketahui banyak orang. Baru segelintir ilmuwan, khususnya filolog yang mengetahui ada apa, di mana, dan menyimpan khazanah apa saja di  Kabuyutan Ciburuy tersebut? Mungkin para pelaku budaya, lembaga swadaya masyarakat, serta para pejabat Garut sendiri belum begitu tahu dan mengerti bahkan belum paham benar, terkait keberadaan ”Kabuyutan Ciburuy” sebagai ”skriptorium” naskah Sunda kuno di Garut,  Jawa Barat, Indonesia, bahkan di dunia, yang sudah barang tentu harus kita pelihara dan kita lestarikan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sayang memang, di era globalisasi canggih saat ini, masyarakat lebih memperhatikan dan menghargai  budaya asing ketimbang budaya pituin sendiri. Untuk itu, sudah saatnya kita sebagai pewaris  bangsa ”ngeuh”  dan memperhatikan warisan peninggalan budaya kita sendiri, dalam upaya ngaraksa, ngariksa, tur ngamumule  budaya Sunda, terutama naskah-naskah Sunda kuno, baik naskah dalam bentuk lontar berbahasa Sunda kuno maupun naskah-naskah beraksara Arab  dan berbahasa Sunda (Pegon) berbahan saeh,  yang ditengarai sebagai  jejak-jejak peninggalan para wali masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa naskah-naskah Sunda perlu diraksa, diriksa, tur dimumule bahkan harus dikembangkan? Karena jika kita teliti secara seksama, naskah sebagai dokumen budaya  berisi berbagai data dan informasi ide, pikiran, perasaan, dan pengetahuan sejarah, serta budaya dari bangsa atau sekelompok sosial budaya tertentu. Sebagai sumber informasi, dapat dipastikan bahwa naskah-naskah kuno termasuk salah satu unsur budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang melahirkan dan mendukungnya, yang ditulis pada kertas, daun lontar, kulit kayu, saeh, bilahan bambu, atau rotan. Secara umum isinya mengungkapkan peristiwa masa lampau yang menyiratkan aspek kehidupan masyarakat, terutama tentang keadaan sosial dan budaya, yang meliputi: sistem religi, teknologi, ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan, bahasa, dan seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garapan ilmiah dalam bidang naskah Sunda kuno hingga saat ini masih sangat sedikit. Hal ini terbukti dari hasil para filolog yang telah dipublikasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Benar adanya, jika dikatakan bahwa banyak  kendala yang dihadapi dalam menggarap naskah-naskah Sunda Kuno. Akan tetapi, harus disadari bahwa di dalam naskah-naskah Sunda kuno tersebut  terdapat nilai-nilai kehidupan bangsa yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat masa kini. Dengan demikian, penggarapan naskah-naskah kuno perlu dilakukan secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan, dari berbagai sudut pandang ilmu secara integral dan menyeluruh, termasuk kajian dari para alim ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika naskah-naskah Sunda kuno  tidak digarap dan ditangani dengan segera, melalui transliterasi (alihaksara) dan terjemahan, dikhawatirkan akan semakin rusak, akhirnya musnah ditelan zaman, sehingga tidak bisa diketahui  isi yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, sebagian orang yang menyimpan naskah, dapat dikatakan seperti  layaknya monyet ngagugulung kalapa, sekadar menyimpan dan melestarikan, tetapi tanpa mengetahui apa isinya. Dengan mengkaji sebuah naskah, kita akan tahu isi yang dikandung oleh naskah tersebut, di samping ikut serta merumat dan melestarikan  intelektualitas, kecerdasan, serta kearifan budaya generasi pendahulu kita yang sangat berharga, serta tidak bisa diukur dengan materi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tujuan itulah pertemuan para alim ulama dengan para ilmuwan dan budayawan kemarin di Cipanas Garut itu digelar,  yang dihadiri oleh K.H. Achef Nur Mubaroq, Ketua MUI Kota Tasikmalaya K.H. Amin, K.H. Udin, K.H. Faqih, K.H. Akiq, K.H. Heri, K.H. Ma’mun, K.H. Aef Saefulah, Pontren Cintawana, K.H. Ae Bunyamin, K.H. Dudung M.H., H. Dedi Tamansari, Hj. Momoh Fatimah, dkk., Majelis Taklim Masjid Agung Tasikmalaya, K.H. Aceng Naufal Minar, sesepuh Pontren Al Faizin Garut dan para santri, K.H. A.  Baehaqy, dan Dodi dari Graha Liman Kencana, Perintis Padepokan Rakean Sancang, Radio Satria, filolog dan pembahas dari Universitas Padjadjaran yakni Undang Ahmad Darsa dan penulis, serta Majelis Taklim Polwil Priangan,  dalam upaya membuka wawasan dan cakrawala serta  adanya kesepahaman untuk lebih mengenal, mengetahui, dan memahami isi dari naskah Islami yang ditengarai sebagai  jejak peninggalan para wali yang berada di Kabuyutan Ciburuy, yang merupakan syiar Islam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para wali, sesuai dengan tradisi dan adat istiadat budaya pada zamannya. Yang tentu saja, bila dihubungkan dengan keadaan masa kini masih sangat relevan, karena selama ini belum ada syiar  Islam yang berdasar budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah-naskah Sunda kuno selain tersimpan di Kabuyutan Ciburuy dan di perpustakaan serta museum-museum, tersimpan juga di beberapa tempat secara perseorangan ataupun kelompok, seperti halnya naskah/ Kitab Alquran kuno yang masih tersimpan di Maqom Prabu Keansantang alias Sunan Rachmat di Godog Garut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan pemeliharaan dan pelestarian naskah-naskah Sunda Kuno di Kabuyutan Ciburuy dan Ciela Bayongbong Garut, atas inisiatif, prakarsa, dan kecintaan mantan Kapolwil Priangan terhadap peninggalan karuhun budaya Sunda, agar tetap  aman dan terpelihara, kini naskah-naskah itu berada dalam ”peti besi tahan api”, yang merupakan sumbangan dari Anton Charliyan sendiri. Hal ini sebagai antisipasi yang sangat baik terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, sebagaimana pernah terjadi pada naskah-naskah warisan karuhun pendahulu kita masa lalu, yang terbakar seperti di Kampung Adat Naga Tasikmalaya dan Kampung Adat Dukuh Garut pada masa DI/TII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah digagas dan dilakukan mantan Kapolwil Priangan beserta para alim ulama, kiai, kaum cendekia, ilmuwan, dan budayawan se-Polwil Priangan tersebut dapat membuka jalan dan mengungkap isi yang terkandung dalam ”Kitab Alquran Kuno” ataupun naskah syiar/islami lainnya yang tersimpan di Kabuyutan Ciburuy khususnya, dan Jawa Barat pada umunya. Selain itu, mudah-mudahan dapat menjadi contoh dan diikuti oleh tempat lainnya di seluruh nusantara. Karena sebagaimana kita ketahui, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang  menghargai sejarah dan budayanya sendiri. (Elis Suryani N.S., dosen dan peneliti Universitas Padjadjaran Bandung)***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-8686890058180533101?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/8686890058180533101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/01/kitab-alquran-kuno-di-kabuyutan-ciburuy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/8686890058180533101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/8686890058180533101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/01/kitab-alquran-kuno-di-kabuyutan-ciburuy.html' title='Kitab Alquran Kuno di Kabuyutan Ciburuy'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-4183440830213915522</id><published>2010-01-25T18:42:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T21:55:03.114-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Sunda Kuna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kliping'/><title type='text'>Naskah Sunda Kuno Belum Banyak Diterjemahkan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sabtu, 17 Oktober 2009 | 10:56 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG, KOMPAS &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/S15X1yCM_II/AAAAAAAAAJI/mkhXWf_aEd4/s1600-h/Jatiraga.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 212px; height: 102px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/S15X1yCM_II/AAAAAAAAAJI/mkhXWf_aEd4/s320/Jatiraga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430874782131092610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;– Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat mengoleksi 145 naskah Sunda kuno. Sebanyak 76 naskah sudah dan sedang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Adapun sisanya belum dialihbahasakan sebab anggaran yang tersedia relatif terbatas dan ketiadaan filolog di museum itu. Padahal, Jabar merupakan salah satu gudang naskah kuno Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk alih aksara dan alih bahasa naskah itu, kami mengandalkan biaya yang bersumber dari APBD Jabar tiap tahun,’ kata Pramaputra MM, Kepala Museum Negeri Sri Baduga Jabar, Jumat (16/10) di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramaputra tidak menyebut jumlah anggaran yang dijatahkan setiap tahun untuk penerjemahan itu. Namun, anggaran yang disediakan selama 1996-2004 hanya mampu membiayai penerjemahan satu sampai dua naskah per tahun dan sejak tahun 2005 lima naskah per tahun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan pendekatan dengan berbagai instansi terkait, museum mendapat dukungan anggaran lebih banyak. Maka, pada tahun 2008 sebanyak 25 naskah dialihaksarakan dari aksara cacarakan (hanacaraka-Jawa) dan dialihbahasakan dari bahasa Sunda Kuno menjadi aksara Latin dan bahasa Indonesia. “Tahun 2009 ada 20 naskah yang sedang dialihaksarakan dan dialihbahasakan,” ujar Nita Julianita, Kepala Seksi Perlindungan Museum Negeri Sri Baduga Jabar. Filolog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ada naskah yang tak utuh dan sulit dibaca, museum itu umumnya masih mengoleksi naskah yang dalam kondisi baik dan bisa dibaca. Naskah itu antara lain beraksara cacarakan, Jawa kuno, Pegon (Arab Sunda), yang ditulis dalam bahasa Jawa Cirebon, Arab, Jawa kuno, dan Sunda kuno. Isinya berupa agama, sejarah, politik, sastra, silsilah, pedoman hidup, pengobatan, adat istiadat, dan aspek kehidupan sosial lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala lain adalah masih banyak naskah yang disimpan masyarakat tanpa perawatan yang baik. Naskah itu disimpan di sembarangan tempat, seperti di atap rumah, sehingga gampang dimakan rayap dan basah terkena air hujan. Naskah kuno itu juga dianggap sebagai benda pusaka sehingga untuk menyerahkan sebagai koleksi museum, misalnya, harus melalui persetujuan keluarga. Saat ini tercatat 6.500 barang koleksi, termasuk koleksi naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lain adalah tak adanya tenaga ahli seperti filolog di museum itu. Seorang filolog yang dimiliki selama ini sudah pensiun dari pegawai negeri sipil. Itu sebabnya penerjemahan ditangani filolog dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara. “Bagi kami, filolog menjadi kunci untuk merawat koleksi naskah,” ujar Pramaputra, selain juga fungsi-fungsi konservasi, seperti merawat dan menjaga naskah, yang menjadi salah satu tugas agar itu bisa berjalan dengan baik. (RUL)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8117188495499292607-4183440830213915522?l=naskah-sunda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/feeds/4183440830213915522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/01/naskah-sunda-kuno-belum-banyak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4183440830213915522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8117188495499292607/posts/default/4183440830213915522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskah-sunda.blogspot.com/2010/01/naskah-sunda-kuno-belum-banyak.html' title='Naskah Sunda Kuno Belum Banyak Diterjemahkan'/><author><name>Urang Naskah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06238763950649163868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_9LusCaPWfEo/SHxS0Hi53hI/AAAAAAAAAB0/uiA_RRbw9Wc/S220/Adit.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/S15X1yCM_II/AAAAAAAAAJI/mkhXWf_aEd4/s72-c/Jatiraga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8117188495499292607.post-3153328096314228738</id><published>2010-01-24T19:44:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T21:54:45.860-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review Buku dan Penelitian'/><title type='text'>Pulung Karaton Pajajaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/S10V4xcjzZI/AAAAAAAAAJA/NAQGR9EXAqw/s1600-h/Sundalana.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 157px; height: 206px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9LusCaPWfEo/S10V4xcjzZI/AAAAAAAAAJA/NAQGR9EXAqw/s320/Sundalana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430520790768668050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pusat Studi Sunda (PSS) kembali menerbitkan buku ‘Seri Sundalana’ terbarunya. Pada edisi ke-8 kali ini, tersaji dua telaah karya dua intelektual Sunda yang berkaitan dengan sejarah masyarakat Sunda. Selain itu, seperti biasa, disajikan pula transkrip dan terjemahan naskah Sunda Kuna yang kali ini diusahakan oleh dua peneliti muda, Aditia Gunawan dan Agung Kriswanto.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kedua telaah tersebut adalah tulisan Suhamir mengenai pandangan seputar legitimasi peralihan kekuasaan di lingkungan Kerajaan Pajajaran dan tulisan Rabin Hardjadibrata mengenai sepak terjang Dipati Ukur, tokoh historis sekaligus legendaris di Tatar Sunda abad ke-17.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Suhamir (Pulung Karaton Pajajaran), memperlihatkan kesanggupan dan kemampuannya dalam menelaah sejarah dengan pendekatan ilmiah. Ia menggali berbagai sumber pengetahuan, baik yang berupa artefak maupun yang berupa naskah kuna, mempertimbangkan pendapat para sarjana sebelumnya secara kritis, serta mengandalkan ilmu sosial, misalnya dengan mengacu pada konsep ‘political formula’ dari Gaetano Mosca untuk menjelaskan pola kepemimpinan raja dan pemuka agama di Tatar Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tulisan Rabin (Dipati Ukur: Was it the Week that Ushered 350 Years of Dutch Rule?), merupakan salah satu telaah terbaru atas sejarah dan cerita Dipati Ukur. Yang menarik dari telaah Rabin, ialah spekulasinya mengenai apa yang mungkin terjadi bila pasukan pimpinan Dipati Ukur dan pasukan pimpinan Bahureksa benar-benar tergabung dalam serangan terhadap benteng VOC sebagaimana yang telah direncanakan? Mungkinkah VOC dapat berkuasa sedemikian lamanya di Nusantara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Aditia Gunawan dan Agung Kriswanto, menulis transkripsi dan terjemahan atas naskah Sunda Kuna berjudul ‘Kala Purbakala’ (Kisah Batara Kala dalam Teks Sunda Kuna). Naskah ini antara lain bercerita tentang Batara Kala, salah satu figur kahyangan yang amat dikenal oleh masyarakat Sunda dahulu kala. Upaya intelektual yang dilakukan oleh dua peneliti muda ini sungguh telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi pemeliharaan dan pengembangan pengetahuan kolektif mengenai masyarakat dan kebudayaan Sunda, mengingat masih banyaknya naskah Sunda Kuna dari ratusan tahun silam yang belum terbaca. Sementara kondisi fisik naskah-naskah tersebut kian hari kian mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini baik dibaca oleh para pemerhati sejarah dan 
