Berlangganan via email

Seluruh tulisan, gambar, dan foto dalam blog ini di bawah lisensi: Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Tuesday, 6 October 2015

Catatan atas naskah-naskah Sunda (Jawa Barat)

Vivianne Sukanda-Tessier
Diterjemahkan oleh Aditia Gunawan 
Judul asli:  "Note sur les manuscrits soundanais (Java-Ouest)" dalam Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient. Volume 79 N°1, 1992. pp. 277-280.

Kenyataan bahwa sebagian besar naskah Nusantara tidak disimpan dalam koleksi publik, melainkan dimiliki secara individu, membuktikan bahwa di Indonesia, naskah-naskah koleksi pribadi, sama halnya dengan prasasti-prasasti dan berbagai temuan arkeologis, menjadi salahsatu tujuan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Sesungguhnya penemuan sebuah naskah sama pentingnya dan sama kompleksnya dengan penemuan-penemuan patung, tempayan, atau benda-benda yang dikultuskan. Sebagaimana halnya patung yang tidak akan « berbicara » tanpa kajian ikonografis, tanpa adanya kajian filologis, kita tidak akan mampu merekonstruksi kandungan naskah yang ditemukan di rumah penduduk atau di tempat keramat (kabuyutan). 

Sebuah penemuan arkeologis seringkali merupakan peristiwa kebetulan — pembajakan, pembongkaran, penggalian; demikian pula dengan naskah, penemuannya tidak dapat diperkirakan, sulit untuk mengetahui di mana naskah-naskah itu berada, siapa pemiliknya, serta sulit melakukan penyisiran sistematis pada wilayah etnis terkait. Naskah yang paling banyak ditemukan adalah yang masih menjadi pusaka leluhur yang dikeramatkan dan, karena itu, dilindungi secara ketat, hingga naskah tersebut hanya bisa dilihat setahun sekali, dalam kesempatan upacara tradisional, ketika dilantunkan mulai dari matahari terbenam hingga saat matahari terbit. Namun demikian, betapapun kegiatan inventarisasi lengkap bahkan masih belum memungkinkan dalam kondisi sekarang ini, inventarisasi terbatas yang telah saya lakukan mulai dari tahun 1980 di wilayah Jawa Barat, bekerja sama dengan Dr. Hasan Muarif Ambary (Direktur Puslit Arkenas), memungkinkan untuk mengumpulkan sejumlah besar naskah, lebih dari 950 teks muslim yang diperoleh dari 52 koleksi pribadi. 

Ada hubungan erat antara situs arkeologi terkenal dan keberadaan (biasanya diabaikan) naskah di daerah sekitarnya. Sebaliknya, daerah yang kaya akan naskah memungkinkan kita untuk menemukan kembali situs-situs yang terlupakan. Banyak contoh, seperti Gunung Padang, Bojong Galuh, Pamarican, Talaga dan tempat-tempat lainnya. Ini adalah hubungan yang samar, tetapi menjadi jelas bagi kami, yang membuat kami berbicara tentang « arkeo-filologi » .

Penelitian yang dilakukan bersama dengan Puslit Arkenas telah mengantarkan pada pembentukan sebuah koleksi penting (beberapa naskah telah disumbangkan atau dipinjamkan kepada Puslit Arkenas, dan, sedapat mungkin, semuanya telah difotokopi ; koleksi ini juga telah dimikrofilmkan oleh Ford Fondation pada bulan Juli-Agustus 1990), disertai penyusunan katalog yang tebal. Katalog ini akan terbit di Jakarta. Dalam kesempatan ini kami tidak akan memberikan sebuah deskripsi, tetapi kami akan membatasi diri pada pandangan yang lebih umum tentang naskah-naskah Sunda dan masalah-masalah yang muncul dari penelitian dan kajian terhadapnya. 

Tempat-tempatnya
Di samping naskah-naskah yang berasal dari kelompok menak yang sebagian besar dirawat oleh keturunan kaum menak terdahulu di pusat-pusat pemerintahan, dan secara umum tidak lagi dibacakan atau dilantunkan, misalnya Cariosan Prabu Silihwangi dan Babad Ratu Galuh,  naskah-naskah lain berada di tempat-tempat keramat (kabuyutan), di tempat seorang juru kunci (kuncen) yang memiliki hak untuk merawat pusaka, atau di tempat penduduk, yang kemudian, dalam berbagai kondisi, dianggap sebagai pusaka bersama.

Meski secara alamiah, sama halnya dengan tosan aji (keris, bedog, kujang) dan batik (kain sinjang), naskah-naskah diwariskan oleh leluhur umumnya kepada anak tertua, naskah-naskah itu sering dipinjamkan untuk kegiatan ritual keluarga atau kelompok masyarakat. Dengan demikian kita menemukan tradisi yang masih hidup, dan dapat kita bayangkan betapa susahnya meminjam naskah kepada orang-orang yang memiliki peran sosio-kultural yang sangat penting bagi keberadaan sebuah komunitas. 

Pemilik naskah kebanyakan adalah petani, yang melestarikan adat istiadat, sehingga naskah hanya dibacakan dan dilantunkan pada kesempatan upacara-upacara pertanian. Inilah yang menjelaskan bahwa kita terkadang harus pergi jauh ke gunung agar dapat menemukannya dan bahwa tradisi naskah berkaitan dengan seni suara yang hampir punah, yaitu beluk, yang hanya terdapat pada masyarakat pegunungan.

Akhirnya, naskah-naskah keagamaan (fikih, kisah para Nabi, karya-karya tarekat, cerita-cerita Islam, dan lain-lain) lebih sering dipelihara secara pribadi, baik di rumah penduduk, di rumah tokoh agama (lebé, ajengan, kiyai), maupun di sekolah-sekolah agama (pasantrénmadrasah).

Pelestarian dan « penghancuran »
Akibat penggunaan rutin dan pemeliharaan yang seadanya,  pemeliharaan yang dilakukan oleh perorangan menghadapi tantangan. Naskah-naskah mengalami penurunan kualitas secara cepat, biasanya dua atau tiga kali dalam satu abad, menjadi objek produksi sebuah salinan, atau beberapa salinan, ketika eksemplar lebih tua sudah tidak dapat terbaca, terlipat, menghitam oleh waktu, terasapi oleh api, terkotori sidik jari, serta memucat dimakan jaman. Naskah salinan, seringkali proses menyalin itu sendiri, adalah hal yang mahal, sementara profesi penyalin masih berkembang. Salinan dalam aksara arab (pegon) lebih banyak dibandingkan dengan salinan dalam aksara jawa atau sunda, sejak akhir paruh pertama abad ke-20. 

Naskah-naskah yang tidak lagi digunakan tidak dibuang ataupun disingkirkan. Dalam upacara kuno yang sulit ditentukan asal-usulnya, selain yang disimpan di tempat keramat (kabuyutan), naskah dibakar secara ritual, naskah yang baru saja disalin ditempatkan di dekatnya, sementara asap dupa dibumbungkan dan pemiliknya atau kepala adat (puun) membacakan doa-doa (rajah) untuk dewa Hindu-Budha. Abu-abu dikumpulkan secara agama, sebagian dipersembahkan kepada dewa dan yang lainnya disimpan dalam cangkir, yang ke dalamnya dituangkan air mendidih, kemudian diminum oleh pemimpin upacara.  Ayah Nata, berusia hampir seratus tahun, tinggal di Baros (Bandung selatan), menjelaskan kepada saya bahwa aksara-aksara itu tidak dapat hilang, melainkan akan kembali ke asalinya, satu sisi kepada sang pencipta, sisi lainnya kepada manusia, yaitu orang yang diberikan amanah. Itulah sebabnya pemilik dapat meminumnya, atau mewakilkan haknya kepada pemuka adat apabila dia tidak dapat mengetahui mantra-mantra untuk dilafalkan. 

Ayah Nata telah memilih untuk meminum ramuan (ci kopi) ini, setelah membaca mantra sebagai berikut:

Ahung (tujuh kali),
Ampun, ampun wahai Sang Asal
Aku memohon ampun segala ampun
Asap dupa membumbung tinggi ke atas
Ke atas, kepada Sang Asali
Ke bawah, kepada Sang Batara
Kepada dewa dan dewi
Kepada dewa Naga Raja
Kepada dewi Naga Umpi [bawah tanah]
Kepada Pohaci, putih, suci [Sri]
Putra Siwa, Tuhan angin
Aku memohon ampun, ya, ampun
semua yang di kahyangan, aku mohon perlindungan
Ahung! [tiga kali]

Kemudian beliau menjelaskan bahwa dalam tegukan penghujung ini, tulisan menjadi, dalam arti harfiah, makanan bagi jiwa dan tubuhnya. Tradisi ini diamati pada tahun 1981 di Baros, yang juga tergambar dalam naskah (ms. no. 66). Tanpa mengatakan bahwa ada pinjaman, meskipun hanya identitas, kita dapat melihat sebuah kedekatan dengan « pengorbanan karya-karya tulis » yang dipraktekkan dalam ritual Taoisme pada masa Cina kuno sebagaimana dikutip K. Schipper,  yang terdiri dari pembakaran serta pelarutan abu-abu naskah. 

Tetapi jenis pengrusakan lebih banyak terjadi akibat gejolak politik. Perang kemerdekaan (1945-1949), kemudian pemberontakan Kartosuwiryo (1951-1962) telah menciptakan suasana ketidaknyamanan dan, ketika laki-laki yang sehat secara fisik jauh dari kampung halamannya, telah memicu terjadinya penjarahan, pembakaran dan pencurian. Kemudian, tepatnya pada tahun 1965-1970, sektarianisme otoritas muslim tradisional, yang menganggap bahwa tulisan-tulisan leluhur sebagai bid’ah, juga menjadi penyebab pemusnahan. Untungnya beberapa universitas, yang salah satunya dilaksanakan oleh M. Atmamihardja, menjadi aktor yang mengambil peran, dengan menempatkan kajian naskah-naskah lokal dalam program tugas akhir di Universitas Padjadjaran dan Universitas Pendidikan Indonesia.

Peran sosio-kultural
Di samping naskah-naskah berbahan « kertas » yang diproduksi secara tradisional dari kulit kayu (daluwang), naskah-naskah Islam, yang katalognya baru saja kami selesaikan, ditulis pada kertas Eropa. Kami memahami bahwa, dengan keadaan iklim dan proses konservasi yang rentan, menjadi sangat langka untuk menemukan naskah-naskah dari sebelum abad ke-18. Bagaimanapun tampaknya naskah-naskah tersebut merupakan hasil dari tradisi baru. Meskipun masyarakat Sunda di Jawa Barat tidak selantang tetangganya Jawa, teks-teks pra-Islam rupanya sangat melimpah, terlebih lagi teks-teks yang lebih kontemporer dari berbagai gelombang islamisasi.

Pada masa yang lebih silam (abad ke-14-15), kronik-kronik mengabadikan reaksi dan perjuangan para pangeran untuk tetap memegang erat agama Buddha mereka yang gagal menghadapi proses Islamisasi yang pertama. Ada banyak contoh dari teks-teks ini, yang penting untuk mengetahui sejarah salah satu daerah di Jawa, bukan hanya bersandar pada cerita barat dan interpretasi yang tergesa-gesa, seperti yang terdapat pada « sejarah » Banten, Pajajaran dan Cirebon, untuk menyebut beberapa di antaranya.

Pada periode pertama kesultanan, sebuah aktifitas sastra yang intensif berusaha menghubungkan kembali sebuah silsilah penguasa muslim pada keturunan kerajaan pra-Islam, yang kekuasaannya mencakup segalanya, untuk tetap didalami, untuk mengklaim legitimasi yang dipinjam dari dinasti agung yang terakhir. Dengan demikian Prabu Silihwangi menjadi salah satu penguasa karismatik di mana orang Jawa dan Sunda tidak kehilangan klaim tentang asal-usul yang sama. 

Kegiatan sastra ini dapat ditandai sampai akhir abad ke-18, berkat silsilah-silsilah dan karya-karya sastra, dalam bahasa Arab dengan daftar kata Jawa atau Sunda, kitab-kitab fikih, dasar-dasar Islam (tauhid), legenda orang-orang suci islam, tarekat dan mistik-sufisme. 

Naskah-naskah ini, dalam tradisi yang masih berlangsung di pesisir Jawa termasuk Banten dan Cirebon, menggambarkan sebuah halo prestisius di sekitar keyakinan baru, pada saat merayakan pahlawan-pahlawan keturunan orang suci (seringkali keturunan dari: Adam, Musa, Iskandar Agung, Nabi Hidir, atau Silihwangi) yang diubah perannya, yang menunjukkan rasa adil dan murah hati sebagai sebuah model manusia sempurna (insan kamil), menghadapi musuh-musuhnya yang perannya juga telah diubah. 

Setelah kesultanan yang fana ini jatuh, kegiatan sastra berlanjut sampai abad ke-20, sehingga kita dapat berbicara tentang gelombang ketiga dalam proses islamisasi, baik secara populer maupun secara akidah. Karya-karya ini terdiri dari karya-karya keagamaan, ketekismus (Islam), hagiografi (kisah orang suci), kronik-kronik islamisasi, siklus fiktif (seperti Suryaningrat-Naganingrum), kisah yang dipinjam dari korpus besar melayu-islam, termasuk juga adat, ditulis dalam aksara arab (pégon), hasil pengetahuan pra-islam yang diserap oleh islam: perhitungan penanggalan, perbintangan (dalam hal ini menunjukkan keasliannya), kalender, mantra-mantra (jangjawokan), doa (rajah) dan formula magis lainnya (mantra) atau kutukan, dan teks yang terkait dengan pengultusan Nyi Pohaci Sanghyang Sri, dewi padi dan tumbuhan. Menahbiskan tempat-tempat suci dan memperingati tentang bagaimana Islam kesulitan menancapkan pengaruhnya, teks-teks memberikan kesaksian dari sejarah kecil ini;  teks-teks tersebut merupakan sebuah kekayaan historiografis, yang melengkapi tradisi lisan. 

Dipuja sebagai pusaka leluhur dan seringkali dikeramatkan, naskah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga dan kelompok masyarakat. Tidak ada peristiwa besar — upacara pribadi, panen, penyucian rumah atau kampung, penebusan, peringatan hari keagamaan — dapat terjadi tanpa naskah-naskah yang menjadi saksi hidup mereka dalam kebersamaan sebuah kelompok masyarakat.

Dibacakan oleh seorang pembaca, naskah-naskah lalu dinyanyikan bersama oleh semua hadirin. Kegiatan pembacaan atau penyalinan membuat seorang yang dapat membaca teks-teks dalam aksara Arab berada pada sebuah posisi sosial yang diidamkan: mereka adalah penjaga pengetahuan, menjadi pesan dari tulisan suci. 

Elemen filologis
Hanya studi perbandingan teks, di samping analisis karakteristik eksternal naskah, yang memungkinkan kita untuk memutuskan apakah terdapat salinan atas suatu naskah ataukah naskah tersebut merupakan naskah tunggal (unicum). Naskah-naskah yang sampai pada kami relatif baru, tetapi dalam beberapa kasus, warisan linguistik dan budaya memungkinkan kita untuk menentukan waktu penyusunan teks asli. Dari sudut pandang ini, naskah-naskah Nusantara memerlukan sebuah pendekatan spesifik, dengan memperhitungkan aksara, bahan, aturan puitis dan berbagai karakterisik budaya dari etnis yang bersangkutan. 

Dalam kasus naskah-naskah Sunda baru, mukadimah (manggala) dan kolofon, terlepas dari ketidak-akuratannya, memberikan keterangan pada kita tentang waktu penyalinan, penulis dan sponsornya, termasuk juga harganya. Naskah-naskah sering juga mengandung perintah yang ditujukan bagi pembaca, mendesaknya untuk merawat naskah serta berkonsentrasi dengan cara melafalkan mantra, sebelum mengenalkan isinya lebih jauh kepada khalayak luas, dan agar jangan pernah memindahtangankannya kepada peminjam yang lain. 

Karya-karya pengajaran teks-teks dasar keislaman pada umumnya ditulis secara tepat dan dengan gaya kaligrafis. Teks-teks dalam bahasa Arab biasanya ditulis dengan hati-hati; sebaliknya, naskah yang ditulis dalam bahasa Sunda dan aksara Arab (Pegon), tata-tulisnya seringkali diabaikan serta mengandung banyak kesalahan ejaan. 

Ketika kita dihadapkan pada sejumlah salinan dari berbagai daerah, perbandingan yang cermat dari karakteristik-karakteristik dan isinya diperlukan untuk menentukan naskah mana yang lebih layak disunting secara kritis. Dalam ketiadaan hasil inventarisasi, kita sepatutnya berterima kasih kepada penemuan baru, yang akan meruntuhkan hasil kajian yang sudah mapan sebelumnya berkat tersedianya naskah salinan. Dalam hal apapun, penyusunan stema, dalam kondisi seperti ini, sangat tidak pasti dan berisiko. 

Di atas semua kajian filologis, baik secara sastra maupun sejarah, berdasarkan naskah yang tak terhitung jumlahnya, yang disimpan dalam jumlah yang lebih besar dari yang ada dalam koleksi publik, sebuah tugas inventaris, sesistematis mungkin, dengan demikian menjadi penting. Tugas yang berat dan melelahkan, memang, tetapi harus dihargai karena,  sebagaimana dalam arkeologi, setiap penemuan baru kaya akan makna.

4 comments:

  • Moch Gaos says:
    Sunday, 1 November 2015 at 08:54:00 GMT-8

    maaf mengganggu sebentar..
    jika saya ingin mengetahui asal usul senjata keris, kujang, dan bedog dalam budaya sunda.. harus pergi kemana dan bertemu dengan siapa saja..
    terima kasih atas perhatiannya..

  • Aditia Gunawan says:
    Monday, 2 November 2015 at 01:07:00 GMT-8

    Untuk bedog, bapak bisa menghubungi Bapak Mamat Sasmita di Rumah baca buku sunda. Alamatnya http://rumahbacabukusunda.blogspot.fr

  • Anonymous says:
    Wednesday, 20 January 2016 at 12:15:00 GMT-8

    Kang adit bisa sy minta no kontak nama sy ahmad

  • Cara Tradisional Mengobati Neuropati says:
    Wednesday, 3 August 2016 at 00:32:00 GMT-7

    terus update ya.!!

Post a Comment

Daftar Artikel