Berlangganan via email

Seluruh tulisan, gambar, dan foto dalam blog ini di bawah lisensi: Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Thursday, 9 February 2012

Membuka Peti Naskah Sunda Kuna di Perpustakaan Nasional RI: Upaya Rekatalogisasi


Naskah Sunda kuna (selanjutnya NSK) tersebar di beberapa tempat penyimpanan, baik di dalam maupun di luar negeri, baik tersimpan dengan sistem baku dan sistematis di lembaga penyimpanan maupun yang masih tersebar di masyarakat umum (lih. Ekadjati, 1988; Chambert-Loir & Fathurahman, 1999: 181-188). Berdasarkan penelusuran katalog, baik yang sudah maupun belum diterbitkan, jumlah NSK tidak sebanyak naskah Sunda baru dan naskah Jawa kuna, misalnya. Lembaga yang menyimpan NSK di antaranya adalah Perpustakaan Nasional RI (selanjutnya PNRI) di Jakarta, Museum Sri Baduga di Bandung, Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda, dan Bodleian Library di Inggris (band. Ekadjati, 1988; Rickleff & Voerhoeve, 1977).
Selain di lembaga-lembaga tersebut, NSK juga disimpan di kabuyutan: daerah yang disucikan kelompok masyarakat tertentu di Tatar Sunda, seperti Kabuyutan Ciburuy-Garut dan Kabuyutan Koleang, Jasinga-Bogor. Pada saat ditemukan, dapat diketahui bahwa naskah Sunda kuna bukan lagi menjadi tradisi yang hidup di masyarakat, karena tidak ada seorang pun yang dapat membacanya . Di Ciburuy diketahui ada sekitar 30 naskah yang telah dialih-mediakan oleh Andrea Acri melalui program British Library dan saat ini sedang diusahakan deskripsi singkatnya oleh Undang A. Darsa . Sebelumnya Saleh Danasasmita dkk (1986) melaporkan 27 naskah dari Kabuyutan Ciburuy. Kabuyutan Koléang Cicanggong di Jasinga Bogor rupanya masih menyimpan beberapa NSK, meskipun belum ditelusuri lebih jauh. Seperti diketahui, pada awal abad ke-20, beberapa naskah daun dari wilayah ini diberikan kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) dan saat ini menjadi koleksi PNRI (Krom, 1914: 32). Selain itu, tercatat pula beberapa NSK yang disimpan oleh masyarakat perorangan yang tersebar di beberapa daerah, seperti Cianjur dan Bandung .

Di antara yang mengumpulkan dan menyimpan NSK, PNRI bisa disebutkan yang paling banyak. Koleksi naskah PNRI yang sebelumnya disimpan di Museum Pusat, Jakarta (kemudian menjadi Museum Nasional). Menurut catatan Noorduyn (1971: 151), jumlah NSK yang disimpan di Museum Pusat Jakarta berjumlah sekitar empat puluhan naskah.

Namun demikian, hingga saat ini penelitian-penelitian teks-teks Sunda kuna nampak tersendat. Salah satu penyebabnya adalah tidak tersedianya katalog NSK yang informatif. Padahal, penelitian NSK telah dimulai sejak pertengahan abad ke-19. Untuk pertama kalinya, keberadaan NSK diumumkan oleh Netscher (1853: 469-479). NSK tersebut berasal dari Cilegon, Garut (dulu Timbanganten), yang kemudian oleh Bupati Bandung, R. Tumenggung Suria Kerta Adi Ningrat, diberikan kepada BGKW.

K.F. Holle (1867) mengumumkan tiga NSK pemberian Raden Saleh, dalam artikelnya yang berjudul Vlugtig Berigt omtrent Eenige Lontar-Handschriften Afkomstig uit de Soenda-landen, door Radhen Saleh aan het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ten Geschenke gegeven met toepassing of de inscriptie van Kawali (TBG 1867). Tentu, yang diupayakan Holle waktu itu sebenarnya merupakan upaya awal pendeskripsian NSK yang diakuisisi BGKW.

Pada tahun 1872, Cohen Stuart, konservator naskah saat itu, menerbitkan katalog pertama yang memuat deskripsi naskah BGKW, termasuk naskah kropak. Jumlah NSK yang didaftarkan ada 21 naskah, yaitu kropak nomor 406–426 yang berasal dari Bupati Galuh. Namun, deskripsi NSK yang dibuatnya hanya sebatas nomor naskah, ukuran, jumlah halaman, dan judul.

Upaya katalogisasi NSK baru diusahakan kembali oleh Edi S Ekadjati pada tahun 1988. Beliau mendaftarkan 89 NSK koleksi PNRI, termasuk NSK yang sudah diteliti. Sayangnya, deskripsinya sangat ringkas, hanya berupa tabel yang memuat informasi tentang judul , kode naskah, dan jumlah halaman. Deskripsinya belum disertai informasi lain yang dibutuhkan seperti bahasa, aksara, ringkasan isi, dll. Kiranya penyusun katalog mendaftarkan NSK berdasarkan asumsi bahwa peti nomor 15, 16, 17, 18, dan 25 diperkirakan berisi NSK. Ternyata setelah ditelusuri, dalam peti nomor 17, 18, dan 25 tidak terdapat satu pun NSK.

Demikian juga dengan Behrend (1998) yang mendaftarkan hampir semua naskah yang disimpan di PNRI, termasuk di dalamnya NSK. Tetapi hasil inventarisnya perlu diperiksa kembali terutama berkenaan dengan deskripsi NSK yang diberikannya. Di situ, NSK sendiri tidak dimasukkan ke dalam kelompok yang terpisah dalam indeks bahasa yang disusunnya, sehingga dapat menyulitkan upaya penelusuran terhadap NSK yang terdapat di PNRI (Behrend, 1998: 459-596).

Dari uraian di atas, memang upaya katalogisasi NSK telah dilakukan. Namun, karena deskripsi naskah yang diberikan demikian sederhana, sehingga tidak cukup memberikan akses yang memadai bagi para peneliti dalam melakukan penelusuran naskah. Selain itu, deskripsi NSK koleksi PNRI selama ini ditempatkan bersama-sama dengan naskah lain, tidak ditempatkan secara khusus. Padahal, NSK memiliki karakteristik yang berbeda dengan naskah-naskah dari daerah lain, bahkan dengan naskah Sunda (baru). Oleh karena itu, kami menganggap bahwa upaya rekatalogisasi NSK yang ada di PNRI, perlu dilakukan.

Isi Makalah
Pusat perhatian kami dalam tulisan ini hanya tertuju pada NSK koleksi PNRI. Tujuannya pun sangat sederhana, yaitu menyajikan deskripsi NSK di PNRI sejauh pengetahuan kami. Tetapi sebelum kita mendiskusikan lebih jauh topik di atas, sebaiknya kami sampaikan beberapa pertimbangan yang kami lakukan dalam menentukan naskah yang dikategorikan sebagai NSK. Beberapa pertimbangan yang kami lakukan dalam menentukan NSK adalah berdasarkan pada:
  1. Aksara. Aksara yang kami maksud adalah aksara Sunda kuna yang memiliki karakter yang mandiri, yang bisa dibedakan dengan jenis-jenis aksara dari daerah lain.
  2. Bahasa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda kuna yang dapat dibedakan dengan bahasa Sunda moderen.
  3. Media. Media yang kami pilih adalah lontar, nipah, bambu, dan daluwang. Meski beberapa naskah nipah berbahasa Jawa kuna, namun kami kategorikan sebagai NSK karena hampir semua naskah berasal dari Jawa Barat. Naskah kertas Eropa hasil alih-aksara atas NSK tidak dideskripsikan, tetapi ditambahkan pada NSK yang dideskripsikan sebagai keterangan bahwa NSK tersebut telah ditransliterasikan.
  4. Kolofon yang mencantumkan tempat penulisan naskah.
  5. Asal naskah, yang memberikan informasi diperolehnya naskah tersebut menjadi koleksi BGKW dan kemudian PNRI.
Pada kesempatan yang baik ini, hal yang akan kita diskusikan terkait dengan hasil penelusuran kami terhadap NSK di PNRI adalah sebagai berikut: (a) gambaran umum NSK di PNRI, (b) bahan tulis NSK, (c) aksara dan NSK, dan (d) waktu dan tempat penulisan NSK berikut pengarang/penyalinnya.

Tentu masalah-masalah tersebut bukan persoalan sederhana, karenanya uraian yang disajikan dalam makalah ini lebih merupakan gambaran umum saja, dan semoga pada akhirnya, menjadi petunjuk bagi siapa saja yang berminat mengkaji NSK secara lebih mendalam.

a. Gambaran umum
Pada umumnya NSK berasal dari wilayah Priangan, seperti Bandung, Sumedang, Garut, Ciamis, dan Majalengka. Tetapi ada sejumlah kecil NSK yang berasal dari luar wilayah Priangan, seperti dari Jasinga, Tangerang, dan Pekalongan. NSK diperoleh melalui beberapa cara, yakni dengan cara pembelian melalui perantaraan para asisten residen di wilayah yang dipimpinnya. Selain itu, para bangsawan Sunda pada paruh kedua abad ke-19, seperti Bupati Galuh R.A.A. Kusumahdiningrat (1839-1886) dan Bupati Bandung Wiranatakusumah IV (1846-1874) memberikan NSK kepada BGKW dalam jumlah yang cukup banyak, selain NSK pemberian Raden Saleh dari wilayah Galuh (Holle, 1867). Ada pula NSK yang berasal langsung dari kabuyutan di wilayah Wanareja Garut dan Jasinga Bogor. Proses akuisisi NSK dari wilayah Priangan kepada lembaga BGKW dimulai dari pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Sejak saat itu, setelah mengalami beberapa perubahan kelembagaan sampai menjadi PNRI, koleksi NSK belum bertambah.

NSK koleksi PNRI disimpan dalam laci kabinet (dahulunya peti) yang bernomor koleksi. Penomoran koleksi tidak mengalami perubahan yang berarti, sesuai dengan pengkodean awal yang dilakukan oleh lembaga sebelumnya (BGKW). Dahulunya naskah-naskah lontar disebut ‘kropak’. Sebagian naskah disimpan di kotak kayu, sebagian lagi diapit oleh pengapit kayu. Kebanyakan naskah dibungkus kertas jepang, dan disimpan dalam kotak karton bebas asam.
Dari hasil penelusuran dapat diketahui bahwa NSK yang terdapat di PNRI berjumlah 63 naskah. Lima naskah tidak diketahui lagi keberadaannya, yaitu KBG 74 (Waruga Guru) L 410 (Ratu Pakuan), L 411 (Ratu Pakuan), L 419 (Kawih Paningkes), dan L 639 (Serat Buana Pitu). Artinya, naskah yang ditemukan di PNRI berjumlah 58 naskah. Semua NSK belum dibuatkan mikrofilm , tetapi tahun 2010 sedang diusahakan digitasinya oleh Pusat Studi Sunda bekerja sama dengan PNRI atas prakarsa Ajip Rosidi.

Susunan lempir sebagian naskah telah acak. Apakah ketidak-urutan ini sudah terjadi ketika pertama kali naskah diterima oleh BGKW atau mengalami perubahan kemudian, sulit dipastikan. Tetapi apabila melihat salinan-salinan yang dilakukan Holle, Pleyte, dan Brandes, pada umumnya urutan lempir masih berurutan.

Kondisi fisik naskah bervariatif, tetapi umumnya dalam keadaan cukup baik dan terawat. Naskah-naskah tanpa pengapit kebanyakan telah lapuk, bahkan hampir hancur. Penempatannya pun kadang bercampur dengan naskah lain, seperti naskah L 1** peti 88 yang tercampur dengan naskah lontar dari Bali.

Hanya ada satu NSK yang berilustrasi, yaitu L 626 yang berjudul ‘Sanghyang Swawar Cinta’. Ilustrasi berupa gambar ular dan manusia. Teks Sanghyang Swawar Cinta berisi rajah panjang serta petunjuk peribadatan dan tapa.

Para peneliti Belanda sekaligus kolektor naskah di PNRI seperti K.F. Holle, C.M. Pleyte dan J.L.A Brandes telah mengalihaksarakan beberapa NSK dalam aksara Jawa dan Latin diatas kertas Eropa. Alih-aksara yang dibuat oleh ketiga sarjana tersebut bermanfaat sebagai perbandingan teks, terutama ketika berhadapan dengan naskah yang susunan lempirnya telah acak. Dapat diketahui bahwa beberapa hasil alih-aksara tersebut dilakukan ketika kondisi lempir naskah masih berurutan.

Anggapan umum bahwa kebanyakan NSK merupakan codex uniqus atau berupa naskah tunggal perlu dipertanyakan kembali, karena setelah dilakukan penelusuran ternyata sebagian NSK memiliki salinan pada naskah lain. Salah satu contohnya adalah teks Séwaka Darma yang terdapat dalam naskah L 408, L 424.I, dan L 425; teks Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang terdapat dalam L 1**, L 624 dan L 630; demikian pula teks Carita Purnawijaya (L 416, L 423, dan L 424.II). Untuk lebih jelasnya pembaca dapat melihat lampiran makalah ini.
NSK koleksi PNRI yang telah diteliti berjumlah 16 naskah, dan memiliki keragaman dalam proses penggarapannya. Dengan demikian, jalan untuk meneliti NSK, setidaknya secara kuantitatif, masih sangat terbuka.

b. Bahan
Bahan yang digunakan sebagai media tulis NSK di PNRI ada empat jenis, yaitu: lontar, nipah, bambu, dan kertas daluang. Bahan yang paling banyak ditemukan di PNRI adalah lontar (33 naskah), kemudian nipah (20 naskah), bambu (3 naskah) dan daluwang (2 naskah).
Lontar dan nipah yang digunakan sebagai media menulis sempat tercatat dalam teks Sanghyang Sasana Maha Guru (L 621), sebuah teks dari abad ke-16, sebagai salah satu di antara sepuluh media yang digunakan untuk menulis karya pada jamannya.

Diturunkeun deui, sa(s)tra mu(ng)gu ring taal, dingaranan ta ya carik, aya éta meunang utama, kénana lain pikabuyutaneun. Diturunkeun deui, sa(s)tra mu(ng)gu ring gebang, dingaranan ta ya ceumeung, ini ma iña pikabuyutaneun. (Lempir 14v)
(Diturunkan lagi, tulisan di atas daun lontar, dinamakan carik ‘goresan’, jika ada itu akan mendapat keutamaan, karena bukan untuk (disimpan) di kabuyutan. Diturunkan lagi, tulisan di atas gebang, dinamakan ceumeung ‘hitam’, inilah yang disimpan untuk kabuyutan).

Dari kutipan di atas dapat diketahui dua hal penting yang membedakan antara lontar dan gebang. Pertama, tulisan di atas lontar dinamakan carik (goresan), karena ditulis menggunakan péso pangot (pengutik) dengan cara digores. Sementara tulisan di atas gebang yang dinamakan ceumeung ‘hitam’. Jelas kiranya, bahwa yang dimaksud gebang adalah nipah, yang menunjukkan ciri yang sama karena ditulis menggunakan tinta hitam. Menurut Holle (1882: 17) naskah daun nipah ditulis menggunakan tinta organik yang berasal dari hasil olahan nagasari dan damarsela, sedangkan pena yang digunakan adalah batang lidi pohon aren (Sunda: harupat).
Kedua, perbedaan penggunaan media rupanya turut membedakan fungsi tulisannya. Naskah lontar bukan untuk kabuyutan (lain pikabuyutaneun), melainkan bagi pembaca (atau pendengar) sebagai sarana memperoleh keutamaan (meunang utama), sedangkan naskah nipah memang untuk kabuyutan (pikabuyutaneun). Keterangan ini sesuai dengan kenyataan, karena umumnya naskah lontar berbentuk puisi yang pola metrumnya berkaitan erat dengan carita pantun , tradisi lisan Sunda di masa lalu. Artinya, teks-teks di atas daun lontar, lebih memungkinkan untuk ditampilkan secara lisan dalam sebuah pertunjukan carita pantun, sehingga menjadi pertunjukan yang dikenal luas oleh masyarakat. Sementara naskah nipah, yang hampir semuanya berbentuk prosa didaktis, berisi risalah keagamaan yang diajarkan sang pandita kepada sang séwaka darma. Hal ini diperkuat dengan pengaruh penggunaan bahasa Jawa kuna, sebagai bahasa pengantar keagamaan, yang cukup dominan dalam naskah nipah.
Naskah bambu pada umumnya berisi teks pendek. Dari ketiga naskah bambu yang ditemukan, semuanya berisi teks ringkas keagamaan. Teks Kaleupasan (L 426 B), contohnya, hanya berisi satu baris/ bilah, dan berisi mantra pendek untuk mencapai pembebasan terakhir. Selain itu, tidak ada naskah bambu yang berkolofon. Dan sayangnya sampai sejauh ini, belum ada satupun naskah bambu yang telah diumumkan dan diteliti.

Sedangkan NSK yang ditulis di atas kertas daluwang diperkirakan berasal dari masa yang lebih muda. Hal tersebut terlihat dari penggunaan bahasa Jawa (baru) dan isi naskah yang berupa risalah keagamaan (Islam). Sejauh ini hanya satu naskah daluwang yang telah diumumkan, yaitu teks Waruga Guru (WG) oleh Pleyte (1913:362-404). Teks WG diperkirakan berasal dari abad ke-18. Isinya cukup menarik, yaitu mengemukakan sesuatu dari zaman pra-Islam, tetapi unsur-unsur budaya Islam telah mempengaruhi teks tersebut. Hal tersebut terlihat dari penggunaan kosakata alam, gaib, nabi, dunya; dan penyebutan nama Nabi Adam, Sis, dan Nuh. Itulah kiranya naskah WG dikelompokkan oleh Ekadjati ke dalam naskah dari ‘masa peralihan’ (Ekadjati, 2006: 205).

c. Aksara dan bahasa
Aksara yang digunakan untuk menulis NSK di PNRI dapat dibedakan menjadi tiga jenis aksara. Menurut Noorduyn ketiga aksara tersebut termasuk anggota aksara yang berasal dari India (1971: 151-2). Jenis yang pertama adalah aksara yang diterakan dengan tinta pada daun nipah dan berkaitan erat dengan aksara dalam prasasti-prasasti Jawa kuna. Aksara tipe ini memiliki sistem bunyi yang lebih banyak dibandingkan kedua tipe aksara yang akan dibicarakan kemudian, karena terdapat bunyi retofleks ţ dan đ disamping bunyi dental t dan d; bunyi sibilan ś (palatal) dan ş (retofleks), disamping s (dental). Aksara tipe ini tersedia dalam tabel aksara Holle, yang memerikan aksara naskah daun nipah yang berasal dari Ciburuy, Talaga, dan Galuh (1882), Pigeaud (1967-1970, III: 21 plate 22), dan Undang A Darsa dalam edisi teks Sanghyang Hayu (1998: 135-139).

Aksara tipe kedua, yang diterakan diatas daun lontar, bambu, dan kertas daluwang memiliki kekhasan tersendiri. Bentuk grafisnya menunjukkan perkembangan yang menarik di Tatar Sunda. Prasasti di Jawa Barat yang menggunakan aksara ini adalah prasasti Astana Gede-Kawali yang berasal dari abad ke-14 (Pleyte, 1911: 165). Sistem bunyi yang diwakili oleh aksara tipe ini lebih sederhana dibandingkan dengan tipe yang disebut pertama. Dalam aksara ini tidak ditemukan aksara yang mewakili bunyi ţ, đ, ş, ņ, dan ś. Karena ciri khasnya yang bisa dibedakan dengan jenis aksara daerah yang lain, para peneliti NSK menyebut aksara ini sebagai aksara Sunda kuna. Aksara ini telah digambarkan pada tabel Holle (1882), Pleyte (1913: 423), Atja (1970: 26), Saleh Danasasmita (1987: 175), dan Noorduyn & Teeuw (2006:433-435).
Aksara jenis ketiga agaknya merupakan pengecualian, karena sejauh ini hanya diwakili oleh satu naskah, yaitu L 506 yang berjudul Kala Purbaka. Aksara tipe ini dituliskan di atas daun lontar yang bentuk grafisnya menunjukkan kemiripan dengan aksara pada naskah-naskah yang berasal dari Merapi-Merbabu (Band. Molen, 1983: 293-294 dan Wiryamartana, 1990: lampiran II). Menariknya, naskah ini berasal dari wilayah Pekalongan, bukan dari Jawa Barat, tetapi menggunakan bahasa Sunda kuna. Aksara tipe ini telah digambarkan dalam tabel aksara yang dibuat Gunawan dan Kriswanto (2009: 125).

Bahasa yang digunakan dalam NSK adalah bahasa Sunda kuna dan bahasa Jawa kuna. Di samping itu digunakan juga bahasa Jawa, bahasa Arab, dan bahasa Sansekerta. Bahasa Sunda kuna dan Jawa kuna lebih banyak digunakan. Bahasa-bahasa tersebut tidak berdiri sendiri dalam sebuah teks, melainkan bahasa yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Setiap naskah menunjukkan ciri-ciri bahasa yang dominan digunakan.

Bahasa Sunda kuna yang secara dominan digunakan ditemukan dalam teks Carita Parahyangan (L 406), Carita Purnawijaya (L 416 dan L 423), Sanghyang Siksa Kandang Karesian (L 630 & L 624), Séwaka Darma (L 408), Carita Ratu Pakuan (L 410), Kawih Paningkes (L 419 & L 420), dll. Bahasa Sunda kuna memiliki ciri khas kebahasaan tersediri yang bisa dibedakan dengan bahasa Sunda moderen.

Kajian-kajian bahasa Sunda kuna, terutama kajian leksikologi, telah dilakukan. Hal tersebut ditandai dengan diterbitkannya beberapa kamus dwi-bahasa Sunda kuna-Indonesia (Hermansoemantri, dkk, 1987; Suryani & Undang A. Darsa, 2003; dan ). Noorduyn dan Teeuw mengkaji sistem bunyi dan morfologi Sunda kuna, dan mendaftarkan kata-kata Sunda kuna yang terdapat pada tiga teks puisi Sunda kuna yang disuntingnya (2006: 30-72 dan 331-429). Para peneliti kebahasaan Sunda kuna mengarahkan perhatiannya terutama pada tataran fonologi dan morfologi. Kajian sintaksisnya nyaris tidak ada, hal ini mungkin disebabkan sedikitnya sumber teks prosa Sunda kuna yang telah tersedia.

Penggunaan bahasa Jawa kuna yang dominan antara lain terdapat pada teks Sanghyang Hayu (L 634, L 637, dan L 638), Siksa Guru (L 633), Arjunawiwaha (L 641), dan Bimaswarga (L 623). Yang layak dicatat, pada umumnya penggunaan bahasa Jawa kuna yang dominan terdapat pada naskah nipah dan pada teks yang berbentuk prosa. Kedudukan bahasa Jawa kuna dalam khasanah Sunda kuna telah didiskusikan secara singkat oleh Darsa (1998: 41-48), Ayatrohaédi (1988), dan Noorduyn & Teeuw (2006: 65-68).

Penggunaan bahasa Arab yang dominan terdapat dalam teks Bacaan Shalat (L 421) berisi bacaan shalat dari mulai niat shalat hingga mengucapkan salam dalam bahasa Arab tanpa disertai terjemahan. Meski demikian, terdapat sejumlah kecil kosakata Arab dalam teks-teks Hindu-Buda, seperti dalam teks Carita Parahiyangan (L 406.I), dimana ditemukan kata dunya dan niat.

Bahasa Jawa (baru) ditemukan pada naskah daluwang (KBG 75 dan 76) yang berisi ajaran agama Islam. Pengaruh bahasa Jawa, walaupun tidak dominan, juga terdapat dalam teks Kala Purbaka (L 506).

Bahasa Sansekerta digunakan terutama dalam kosakata serapan dan terdapat dalam siloka-siloka pendek dalam teks prosa, seperti yang terdapat dalam Sanghyang Sasana Maha Guru (L 621) dan Sanghyang Siksa Kandang Karesian (L 630).

d. Waktu, tempat, dan pengarang
Para penulis NSK jarang mencantumkan angka tahun penulisan dalam kolofon. Berdasarkan NSK yang menyebut angka tahun, naskah paling tua adalah Arjunawiwaha (1256 Ś/1344 M) dan yang paling muda adalah Sanghyang Hayu (1445 Ś/1523 M). Tetapi bila ditambah dengan teks tanpa angka tahun, seperti teks Waruga Guru yang diperkirakan ditulis pada abad ke-18 (Pleyte: 1913), artinya tradisi penulisan NSK telah berlangsung paling tidak selama empat abad (abad 14–18).

Cara penulis NSK menuliskan waktu karyanya, cukup beragam. Beberapa naskah mencantumkan waktu penulisan secara lengkap (hari, bulan, dan angka tahun), seperti yang terdapat dalam teks Arjunawiwāha (L 641) dan Sang Hyang Hayu (L 638). Ada pula naskah yang hanya mencantumkan angka tahunnya, seperti Sang Hyang Hayu (L 634). Naskah yang hanya mencantumkan bulan penulisan cukup banyak, di antaranya teks Pitutur ning Jalma (L 610), Sanghyang Sasana Maha Guru (L 621), Bimaswarga (L 623), Sri Ajnyana (L 625), Sanghyang Swawar Cinta (L 626), dan Siksa Guru (L 633). Sedangkan teks yang hanya mencantumkan nama hari saja ditemukan dalam Warugan Lemah (L 622). Yang menjadi catatan menarik, teks yang ditulis di daun lontar tidak ada yang mencantumkan angka tahun.
Ada kecenderungan bahwa NSK ditulis di sebuah batur (petapaan) dan mandala (tempat tinggal kalangan agama) yang terletak di gunung, kecuali teks Carita Jati Mula (L 1097) yang ditulis di laut (sagara wisésa?). Hal ini terlihat dari cukup banyaknya penggunaan kata bukit, gunung, dan giri pada kolofon. Nama gunung tersebut kebanyakan merupakan nama purba, dan umumnya belum teridentifikasi dengan pasti letak geografisnya. Beberapa gunung telah diidentifikasi, seperti Gunung Larang Sri Manganti yang diidentifikasi sebagai nama lama dari Gunung Cikuray (Garut) saat ini . Namun, Gunung Cikuray pun cukup banyak disebut dalam kolofon naskah.
Apabila keterangan dari teks Bujangga Manik (BM) dapat diandalkan, maka beberapa gunung atau daerah penulisan NSK dapat ditelusuri lebih jauh. Contohnya adalah wilayah Mahapawitra, tempat penulisan teks Sanghyang Sasana Maha Guru (L 621), Sanghyang Hayu (L 634 & L 637), dan Siksa Guru (L 642) yang juga tercatat dalam teks BM (baris 1261) sebagai tanggeran ‘poros’ na panahitan ‘di panahitan’ (sekarang Pulau Panaitan). Demikian juga Gunung Kumbang, tempat penulisan teks Séwaka Darma (L 408), yang tercatat dalam teks BM (baris 1192-1193) sebagai tanggeran ‘poros’ alas Maruyung ‘daerah Maruyung’. Noorduyn & Teeuw menduga bahwa Gunung Kumbang kemungkinan terletak di belahan barat Jawa Tengah, yang di sekitarnya ada Gunung Maruyung (2006: 153).

Dari sumber yang tidak banyak, terbatas pula informasi tentang pengarang (atau penyalin) NSK. Sangat sedikit nama yang dapat diperoleh dari kolofon. Para penulis teks Sunda kuna cenderung menyembunyikan identitasnya. Cukuplah bagi seorang penulis untuk menyebut dirinya sebagai cucu atau buyut seseorang yang sedang bertapa di suatu tempat, seperti cucu Sang Sida (L 610), buyut dari Ni Dawit (L 408), dan buyut Téjanagara (L 626).
Tetapi terdapat satu nama yang cukup menonjol, yaitu Kai Raga. Dia disebut dalam kolofon naskah L 410, L 419, L 423, dan KBG 75. Apakah Kai Raga seorang pengarang atau penyalin naskah-naskah tersebut, belum dapat dipastikan. Tetapi apabila kita melihat bahwa NSK yang berisi teks agama Islam (KBG 75) juga menyebutkan nama Kai Raga sebagai penulis, maka hipotesis sementara mengarahkan kita pada kemungkinan kedua. Atau mungkinkah Kai Raga itu bukan nama, melainkan istilah jabatan ‘juru tulis’ pada masanya?

Penutup
Apa yang kami kemukakan pada kesempatan kali ini hanyalah gambaran umum dari NSK yang tersimpan di PNRI. Ibarat melukis lautan, mungkin upaya kami hanyalah menampilkan permukaan air laut dengan riak-riak kecil yang tampak tenang, tidak menjangkau relung-relung keindahan dari samudera kebudayaan Sunda pada masa lalu. Karena itu kami berharap adanya ‘juru selam’ baru yang mampu menjelajahi lebih dalam khasanah NSK yang kaya akan warna itu.
Leuwih lwangan, kurang tinabeuhan. Pun.

Depok/Salemba, Mei-Juli 2010
Munawar Holil & Aditia Gunawan


Bibliografi
  • Atja, 1968, Tjarita Parahijangan: Naskah Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi. Bandung: Jajasan Kebudajaan Nusalarang.
  • --------, 1970, Ratu Pakuan: tjerita Sunda-kuno dari lereng Gunung Tjikuraj. Bandung: Lembaga Bahasa dan Sedjarah.
  • Atja dan Saleh Danasasmita, 1981a, Sanghyang Siksa Kandang Karesian; (Naskah Sunda Kuno tahun 1518 Masehi). Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.
  • --------, 1981b, Amanat dari Galunggung (Kropak 632 dari Kanuyutan Ciburuy Bayongbong-Garut). Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.
  • --------, 1981c, Carita Parahiyangan (transkipsi, terjemahan dan catatan). Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.
  • Ayatrohaédi, 1988, Serat Dewabuda; Laporan Penelitian. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Ayatrohaédi dan Munawar Holil, 1995, Kawih Paningkes; Alihaksara dan Terjemahan Naskah K. 419 Khasanah Perpustakaan Nasional Jakarta. Laporan Penelitian Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  • Behrend (ed.), T.E., 1998, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia: Katalog induk naskah-naskah Nusantara Jilid 4. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Ecole Francaise d’Extreme Orient.
  • Chambert-Loir, Henri dan Oman Fathurahman, 1999, Khasanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-naskah Indonesia Sedunia. Jakarta: Ecole française d’Extrême-Orient dan Yayasan Obor Indonesia.
  • Danasasmita, Saleh et.al., 1986, Kropak 408 (Sewaka Darma) dan Kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian): Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) Direktorat Jendral Kebudayaan Dep. Pendidikan Dan Kebudayaan.
  • Danasasmita, Saleh et.al., 1987, Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632): Transkripsi dan Terjemahan”. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jendral Kebudayaan Dep. Pendidikan Dan Kebudayaan.
  • Darsa, Undang A., 1998, Sanghyang Hayu: Kajian Filologi Naskah Bahasa Jawa Kuno di Sunda pada Abad XVI. Tesis. Bandung: Universitas Padjadjaran.
  • Darsa, Undang A., Edi S Ekadjati, Mamat Ruhimat, 2004, Darmajati (naskah lontar kropak 423): Transliterasi, Rekonstruksi, Suntingan, dan Terjemahan Teks. Bandung: Universitas Padjadjaran.
  • Darsa, Undang A. dan Edi S. Ekadjati, 2006, Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420)Silsilah Prabu Siliwangi, Mantera Aji Cakra, Mantera Darma Pamulih, Ajaran Islam (Kropak 421), Jatiraga (Kropak 422); Studi Pendahuluan, Transliterasi, Rekonstruksi, Suntingan, dan Terjemahan Teks. Bandung: PT Kiblat Buku Utama.
  • Ekadjati, Edi S., 1988, Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dengan The Toyota Foundation.
  • Ekadjati, Edi S. dan Undang A. Darsa, 1999, Jawa Barat: Koleksi Lima Lembaga. Katalog induk naskah-naskah Nusantara Jilid 5. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Ecole Francaise d’Extreme Orient.
  • Ekadjati, Edi S, 2001, ‘Naskah Sunda: Sumber Pengetahuan Budaya Sunda’. Prosiding Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) Jilid I. Diterbitkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancagé bekerjasama dengan Kiblat Buku Utama. Cetakan pertama (2006).
  • Gunawan, Aditia, 2009, Sanghyang Sasana Maha Guru dan Kala Purbaka (suntingan dan terjemahan). Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
  • Gunawan, Aditia & Agung Kriswanto, 2009, ‘Kala Purbaka: Kisah Batara Kala dalam Teks Sunda Kuna’, Sundalana 8: 94-133. Bandung: Pusat Studi Sunda.
  • Hadish, Yetty Kusmiyati, dkk., 1985, Naskah Sunda Lama di Kabupaten Cianjur. Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Jawa Barat: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Hermansoemantri, Emuch, A. Marzuki, Elis Suryani, 1987, Kamus bahasa Sunda kuna Indonesia. Proyek penunjang Sundanologi Dinas P dan K Prop. Daerah Tingkat 1 Jawa Barat.
  • Holle, K.F., 1867, ‘Vlugtig Berigt Omtrent Eenige Lontar-Handschriften afkomstig uit de Soenda-landen’. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (TBG) 16:450-70.
  • --------, 1882, Tabel van Oud-en Nieuw-Indische Alphabetten. Bijdrage tot de Paleographie van Nederlandsch-Indie. Batavia: s’Hage.
  • Krom, N.J & F.D.K. Bosch, 1914, Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch Indie. Weltevreden: Albrecht & co.
  • Molen, Wilem v.d, 1983, Javananse Tekskritiek: Een Overzicht en een nieuwe benadering geillustreerd aan de Kunjarakarna. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde.
  • Netscher, E., 1853, ‘Iets over eenige in de Preanger-regentschappen gevonden Kawi-handschriften’, Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap 1: 469-479.
  • Noorduyn, J., 1962a, ‘Over het eerste gedeelte van de Oud-Soendase Carita Parahyangan’, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 118:374-83.
  • --------, 1962b, ‘Het begingedeelte van de Carita Parahyangan; Tekst, vertaling, commentaar’, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 118:405-32.
  • --------, 1971, ‘Traces of an Old Sundanese Ramayana Tradition’. Indonesia 12:151-7.
  • --------, 1982, ‘Bujangga Manik’s journeys through Java; Topographical data from old Sundanese source.’ Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 138: 413-42.
  • Noorduyn, J. dan A. Teeuw, 2006, Three old Sundanese poems. Leiden: KITLV Press.
  • Notulen van de algemeene en directievergaderingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (NBG), Deel IV, 1867, Batavia: Lange & Co.
  • --------, Deel XIII, 1875, Batavia: Bruining & Wijt.
  • --------, Deel XV, 1878, Batavia: W. Bruining.
  • --------, Deel XVIII, 1881, Batavia: Bruining & Co.
  • --------, Deel XXI, 1884, Batavia: W. Bruining & Co.
  • --------, Deel XXII, 1885, Batavia: W. Bruining & Co.
  • --------, Deel XXIII, 1886, Batavia: Albrecht & Co.
  • --------, Deel XXVIII,1891, Batavia: Albrecht & Rusche.
  • --------, Deel XXIX, 1892, Batavia: Albrecht & Rusche.
  • --------, Deel XXXI, 1894, Batavia: Albrecht & Rusche.
  • --------, Deel XXXII, 1895, Batavia: Albrecht & Rusche.
  • --------, Deel XLIX, 1897, Batavia: Albrecht & Co; ‘s Hage: M. Nijhoff.
  • --------, Deel L, 1913, Batavia: G. KOLFF & Co; ‘s Gravenhage: M. Nijhoff.
  • --------, Deel LI, 1914, Batavia: G. KOLFF & Co; ‘s Gravenhage: M. Nijhoff.
  • --------, Deel LII, 1914, Batavia: G. KOLFF & Co; ‘s Gravenhage: M. Nijhoff.
  • --------, Deel LIII, 1915, Batavia: G. KOLFF & Co; ‘s Gravenhage: M. Nijhoff.
  • Pigeaud, Theodore G.Th., 1967-70, Literature of Java; Catalogue raisonné of Javanese manuscript in the library of the University of Leiden and other public collection in the Netherlands. The Hague: Nijhoff. Three vols. [KITLV.]
  • Pleyte, C.M., 1913, ‘De Patapaan Adjar Soeka Resi: ander gezegd de kluizenarij op den Goenoeng Padang: Tweede bijdrage tot de kennis van het oude Soenda’. TBG LV: 321-428.
  • --------, 1914a, (met medewerking van Raden Ngabei Poerbatjaraka), ‘Een pseudo-Padjadjaransche kroniek; Derde bijdrage tot de kennis van het oude Soenda’, Tijdschrift voor Indische Taal, Land-en Volkenkunde (TBG) 56:257-80.
  • --------, 1914b, ‘Poernawidjaja’s Hellevaart of de Volledige Verlossing. Vierde bijdrage tot de kennis van het oude Soenda.’ Tijdschrift voor Indische Taal, Land-en Volkenkunde (TBG) 16:450-70.
  • Poerbatjaraka, R.M.Ng., 1926, Arjuna-Wiwāha. Tekst en Vertaling. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
  • --------, 1933, ‘Lijst der Javaansche Handscriften in de Boekerij van het Kon. Bat. Genootschap Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.’ Jaarboek 1933.
  • Ricklefs, M.C. dan P. Voorhoeve, 1977, Indonesian Manuscripts in Great Britain. A catalogue of manuscript in Indonesian languages in British public collections. Oxford: Oxford University Press.
  • Setyawati, Kartika et.al., 2002, Katalog naskah Merapi-Merbabu Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Azie en Ocianie Universitiet Leiden.
  • Stuart, Cohen, 1872, Eerste Vervolg Catalogus der Bibliotheek en Catalogus der Maleische, Javaansche en Kawi Handschriften van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Batavia: ‘s Hage, Bruining & Wijt, M. Nijhoff.
  • Suryani, Elis N.S. dan Undang A. Darsa, 2003, ‘KBSKI: Kamus Sunda Kuno Indonesia’. Sumedang: Alqaprint Jatinangor.
  • Wiryamartana, I. Kuntara, 1993, ‘The scriptoria in Merbabu-Merapi area’. Bijdragen tot de taal-, Land- en Volkenkunde 149: 503-9.
  • Wiryamartana, I. Kuntara, dan W. Van der Molen, 2001, ‘The Merapi-Merbabu manuscripts. A negleted collection.’ Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 157: 51-64.
  • Zoetmulder, P.J., 2006, Kamus Jawa kuno – Indonesia. Cetakan kelima. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


3 comments:

  • galuh2012 says:
    Friday, 15 June 2012 at 09:10:00 GMT-7

    hatur nuhun kang kana informasina...abdi kataji pisan ku karya sastra titinggal karuhun sunda.....nambihan pangaweruh simkuring nu masih bolostrong kana kasundaan

  • Aditia Gunawan says:
    Sunday, 17 June 2012 at 06:03:00 GMT-7

    Sami sami. Mugia mangpaat. Urang sami-sami diajar.

  • DENI SUWARDI says:
    Tuesday, 19 June 2012 at 08:45:00 GMT-7

    Jempol lah... salam pangwanoh.

Post a Comment

Daftar Artikel