Berlangganan via email

Seluruh tulisan, gambar, dan foto dalam blog ini di bawah lisensi: Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Tuesday, 1 February 2011

Kala Purbaka

- DOK. ADITIA GUNAWAN -

NASKAH SUNDA KUNA koleksi Perpustakaan Nasional RI dengan nomor koleksi L 506 disimpan dalam peti 13, ditulis di atas daun lontar, berukuran 24, 5 cm. x 2,8 cm., terdiri dari 10 lempir, diapit oleh kayu berwarna hitam berukuran 25 cm x 3 cm, blok teks berukuran 21,5 cm x 2,2 cm., tiga baris tulisan tiap lempir, kecuali lempir akhir hanya satu baris, ditulis secara timbal balik (recto-verso) kecuali lempir awal hanya ditulisi bagian belakang (verso) dan lempir akhir yang ditulisi hanya bagian mukanya (recto). Penomoran halaman menggunakan angka asli, kemungkinan besar ditulis oleh penulis, terletak di sebelah kanan atas teks, ditulis secara vertikal (rotasi 90o dari teks) mulai dari halaman 1 sampai 8. Berbeda dengan aksara Sunda kuna yang biasa digunakan pada naskah Sunda kuna pada umumnya, aksara yang digunakan dalam naskah ini adalah aksara Buda atau aksara Gunung yang mirip dengan corak aksara Buda yang digunakan di wilayah Merapi-Merbabu.

Bahasa yang digunakan dalam naskah ini adalah bahasa Sunda kuna, yang sedikitnya masih dapat dikenali oleh sebagian pembaca awam orang Sunda. Kondisi naskah dalam keadaan baik dan dapat terbaca jelas, meskipun beberapa lempir berlubang dan rompang. Naskah berasal dari pemberian Dr. R. H. Th. Friederich, seorang pemerhati kebudayaan asal Jerman yang diberikan kepada lembaga Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen pada tahun 1869, naskahnya sendiri ia dapatkan dari sebuah wilayah di Pekalongan. Dalam label yang tertempel pada penjepit naskah tertera judul ‘Oud Sundanesche’. Agaknya, Dr. Friederich yang memberi judul pada naskah ini mengetahui bahwa naskah tersebut berbahasa Sunda kuno, tapi tidak menelaah lebih lanjut kandungan naskah tersebut.

Naskah berisi kisah kelahiran Batara Kala yang terlahir dari kama (sperma) Batara yang tidak tertahankan ketika mengejar-ngejar Batari. Dari kama tersebut lahirlah seorang anak yang sangat buruk rupa. Anak tersebut dibekali dengan berbagai kesaktian oleh Batara dan para dewata. Ketika suatu hari anak tersebut mendatangi Batara, sang ayah tercengang melihat anaknya yang buruk rupa. Setelah Batara meminta maaf atas kelakuannya yang dulu, sang ayah kemudian memberinya kesaktian dari semua golongan dewa, yaitu Iswara (putih), Brahma (merah), Mahadéwa (kuning), Wisnu (hitam). Batara kemudian memberikan nasehat pada anaknya sekaligus memberinya nama, yaitu Sang Bangbang, Sang Kama Salah, Sang Keteriti, Sang Buta Tuwa. Sang Kama Salah dinasehati tentang tempat-tempat yang semestinya menjadi tempat tinggalnya, yaitu tempat-tempat yang buruk. Teks diakhiri dengan jampé (mantra) yang menyebutkan nama-nama Ratu dan tempat berdiamnya.

1 comments:

  • Agus Wirabudiman says:
    Friday, 1 April 2016 at 12:27:00 GMT-7

    Sampurasuun, kang parantos aya terjemahan anu lengkepna?

Post a Comment

Daftar Artikel