Berlangganan via email

Seluruh tulisan, gambar, dan foto dalam blog ini di bawah lisensi: Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Thursday, 17 February 2011

Cerita Dari Gedung Arca



Buku ini saya beli dari Kantor Penerbit Komunitas Bambu yang terletak di Beji Timur, Depok. Tempatnya cukup ‘tersembunyi’, sehingga, menurut pegawainya, saya bukan orang yang pertama kali tersesat untuk sampai ke sana. Buku “Cerita dari Gedung Arca” ini ditulis oleh Wahyono Wartowikrido, pensiunan pegawai Museum Pusat dan diberi pengantar oleh S.J.H Damais, sahabatnya. Ketertarikan saya pada buku ini muncul setelah membaca bagian belakang sampul buku. Di situ terdapat catatan, bahwa istilah “gedung arca” adalah nama julukan Museum Nasional, Jakarta dan pernah populer tempo doeloe. Sebagai seorang pegawai perpustakaan, saya menganggap buku ini penting, karena bagaimanapun, koleksi yang kini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional tempat saya bekerja, dahulunya merupakan koleksi Perpustakaan Museum Pusat juga. Ternyata informasi yang ada dalam buku ini sangat berharga. Dengan gaya penulisannya yang segar, penulis merekam pengalamannya selama menjadi kurator di Museum Pusat Jakarta (kini Museum Nasional).



Banyak hal menarik yang dapat diperoleh dengan membaca buku ini, terutama untuk pegawai perpustakaan nasional seperti saya. Ada cerita tentang Ibu Mastini, yang ketika itu menjadi pemimpin perpustakaan museum, sampai mengatakan “Kalau malu mengembalikan sendiri, kirimkan saja kepada kami tanpa membayar dendanya yang sudah bertumpuk-tumpuk, daripada orang lain tidak bisa ikut memanfaatkan isinya.” Hal itu dikatakannya akibat kesal dengan pengunjung – biasanya peminjamnya pun bukan orang sembarangan – yang tidak juga mengembalikan buku yang dipinjamnya.

Buku ini memperlihatkan keluasan sudut pandang penulis yang mampu merekam berbagai peristiwa di Museum, baik dari sudut pandang orang-orangnya maupun koleksinya. Ada kisah Ghazali, pegawai museum yang jujur dan memiliki pengetahuan luas tentang koleksinya. Muncul juga sosok Naiman, saksi sekaligus korban perampokan Museum yang pernah terjadi tahun 1963, yang meski tidak mengenyam pendidikan, tetapi sangat hapal tentang koleksi museum dan menjaganya mati-matian. Ironisnya, apa yang didapatkan Naiman tidak berbanding lurus dengan pengabdiannya. Ia menjadi sakit-sakitan akibat perampokan itu, dan tidak ada yang memperhatikan nasibnya.

Sosok Dulloh sang pedagang barang antik juga tidak kalah serunya. Ia adalah penjual “berkala” barang antik untuk museum. Proses jual beli barang antik untuk museum kala itu berlangsung unik dan menarik. Meski setelah kemerdekaan barang-barang yang dijualnya lebih murah dibandingkan ketika dijualnya pada orang Belanda, tetapi selalu pada akhirnya ia rela menjual barang-barang antik yang didapatnya dari komplek Buni-Bekasi ke pihak museum. Melalui sosok-sosok yang ditampilkan dalam buku ini, sepertinya penulis sengaja ingin mengingatkan kembali nilai-nilai kejujuran, ketulusan, dan pengabdian, nilai-nilai yang mungkin selalu merah dalam rapot kita sekarang ini.

Bukunya tidak terlalu tebal, hanya memuat 161 halaman, berisi kumpulan artikel yang ditulis dengan gaya humanis, populer, dan enak dibaca. Beberapa tulisannya kebanyakan telah dimuat dalam majalah Intisari, antara tahun 1964 - 1975. Wahyono Wartowikrido bekerja di Museum Nasional sejak tahun 1964-1998. Jabatan terakhirnya di Museum Nasional adalah Kepala Bidang Pembinaan Koleksi Sejarah dan Arkeologi. Dari tahun 2003 hingga sekarang beliau bekerja sebagai Kurator Museum Bank Indonesia. Buku ini menampilkan sisi-sisi humanis dari museum yang selama ini terkesan angker, sepi, dan kaku. Pokoknya, sangat disayangkan kalau kita tidak membaca buku ini, apalagi yang sekarang bekerja di museum dan perpustakaan.

Aditia Gunawan

0 comments:

Post a Comment

Daftar Artikel