Berlangganan via email

Seluruh tulisan, gambar, dan foto dalam blog ini di bawah lisensi: Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Thursday, 25 November 2010

TINJAUAN NAPAS KEAGAMAAN HINDU-BUDDHA DALAM BEBERAPA NASKAH SUNDA KUNO (ABAD KE-14—16 M)
















I

Di Tatar Sunda didapatkan sejumlah naskah kuno, ada yang sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan, namun lebih banyak lagi yang masih berupa manuskrip yang belum diteliti oleh para filolog naskah Sunda yang memang jumlahnya masih terbatas. Umumnya naskah-naskah Sunda Kuno digubah antara abad ke-14 hingga termuda dalam awal abad ke-16 M. Data kronologi tersebut dapat diketahui secara pasti melalui pencantumkan angka tahun di bagian akhir naskah oleh penggubahnya dahulu. Hal seperti misalnya terdapat dalam kitab Sang Hyang Siksakanda ng Karesian yang mencantumkan angka tahun 1440 Saka atau 1518 M, atau dalam masa pemerintahan raja Sri Baduga Maharaja yang berkuasa antara tahun 1482—1521 (Danasasmita dkk.1987: 6).

Ada juga kronologi naskah yang ditentukan secara relatif, karena naskah itu sendiri tidak mencantumkan angka tahun yang pasti. Contohnya adalah naskah Fragmen Carita Parahyangan, berdasarkan uraian isinya naskah tersebut diidentifikasikan berasal dari abad ke-16, mungkin kitab itu ditulis beberapa waktu sebelum runtuhnya Sunda Pajajaran dalam tahun 1579 M, atau beberapa tahun sesudahnya (Darsa & Edi S.Ekadjati 2003: 175). Dengan demikian naskah-naskah Sunda Kuno ada yang secara jelas mencantumkan kronologi diselesaikannya karya, ada juga yang tanpa kronologi, namun berdasarkan perbandingan isim, bahasa, dan aksara dengan naskah-naskah lain dapat diketahui berkisar dari periode perkembangan Kerajaan Sunda di Jawa bagian barat yang juga disebut Tatar Sunda.

Beberapa naskah Sunda kuno tersebut ada yang seringkali dijadikan bahan acuan atau dikutip uraiannya oleh para ahli ketika mereka memperbincangkan masalah kebudayaan Sunda Kuno, misalnya kitab Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ada juga naskah Sunda kuno yang telah dialihaksarakan dan diterjemahkan, namun para ahli langka menggunakan sebagai acuan, naskah seperti itu misalnya Serat Dewa Buda.

Keadaan itu disebabkan terdapatnya uraian yang berbeda dalam naskah-naskah tersebut, ada yang isinya mudah dipahami, mengandung beraneka data kebudayaan Sunda Kuno, dan masih berhubungan dengan keadaan masyarakat Sunda masa sekarang. Kitab Sang Hyang Siksa Kanda ng Karesian memang bersifat “ensiklopaedis”, kaya dengan uraian kebudayaan Sunda Kuno, dan jelas dalam penyampaiannya, sehingga acapkali diacu oleh para sarjana yang mempelajari sejarah kebudayaan Tatar Sunda. Lain halnya dengan Serat Dewa Buda, dari judulnya saja dapat disiratkan betapa isi dari naskah tersebut. Ternyata memang isi naskah Serat Dewa Buda merupakan uraian alam metafisika yang penuh dengan metafora hingga sukar untuk diartikan. Para ahli sangat kesulitan untuk memahami isinya, oleh karena itu hanya mereka yang berminat mendalami keagamaan Sunda Kuno saja yang akan menelisik kitab tersebut.

Kebanyakan naskah-naskah Sunda Kuno digolongkan ke dalam naskah keagamaan, karena memang banyak yang menguraikan tentang hakekat tertinggi, kuasa alam semesta, tujuan akhir kehidupan, cara melakukan pemujaan dan sebagainya. Oleh Karena itu layak jika para ahli filologi menggolongkan naskah-naskah tersebut sebagai naskah keagamaan. Kajian ringkas ini sebenarnya berkehendak untuk mengetahui lebih lanjut perihal “nafas keagamaan” yang terdapat dalam naskah-naskah Sunda Kuno. Dalam masa itu agama besar yang sedang berkembang di Pulau Jawa, baik dalam masyarakat Jawa Kuno atau pun Sunda Kuno adalah dua agama besar, yaitu agama Hindu dan Buddha, oleh karena itu kajian ini berupaya untuk mengungkapkan lebih lanjut perihal peranan ajaran atau konsep kedua agama besar itu dalam naskah-naskah keagamaan Sunda Kuno.

Sangat mungkin selain adanya ajaran dua agama besar Hindu-Buddha, terdapat pula ajaran lain yang lebih bersifat religi Sunda Kuno yang tidak bisa dikembalikan ke dalam konsepsi dan ajaran Hindu atau Buddha. Hipotesa tersebut agaknya dapat dibuktikan dalam kajian selanjutnya, mengingat beberapa naskah Sunda Kuno jusutru mendudukkan peranan Hyang lebih tinggi dari pada dewa-dewa Hindu-Buddha yang telah dikenal dalam kitab-kitab Jawa kuno. Hyang sangat mungkin adalah superhuman beings lokal yang telah dimuliakan sejak sebelum kedatangan pengaruh agama-agama India. Dengan demikian agaknya telah terjadi suatu pembauran dan juga redefinisi lagi ketika agama Hindu dan Buddha berkembang dalam masyarakat Sunda Kuno.

Keadaan seperti itulah yang dicoba untuk ditelusuri dan dijelaskan dalam kajian ini, walaupun hanya menggunakan sejumlah naskah Sunda Kuno saja, namun diharapkan hasilnya dapat mencerminkan gambaran sesungguhnya dari isi napas keagamaan dalam kitab-kitab Sunda Kuno. Sebagaimana diketahui bahwa kitab-kitab yang disebut bernapaskan keagamaan tersebut pastinya dihasilkan oleh kaum agamawan, oleh karena itu juga ditelusuri masyarakat kegamaan Sunda Kuno yang mungkin menghasilkannya.


II

Beberapa kitab Sunda kuno berikut ini ditinjau bagian-bagian ajaran yang bernafaskan agama Hindu dan Buddhanya, sehingga dapat diketahui resapan kedalaman kesapan kedua agama itu di dalamnya. Kitab pertama yang dibicarakan adalah Sang Hyang Siksa Kanda ng Karesian, sebagaimana telah dikemukakan bahwa kitab tersebut seringkali diacu oleh para peneliti Sunda Kuno karena sarat dengan berbagai informasi yang diperlukan.

Kitab Sang Hyang Siksa Kanda ng Karesian dinamai juga dengan Kropak 630, telah dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh Saleh Danasasmita dan kawan-kawan dalam tahun 1987, lewat Proyek Penelitian dan pengkajian kebudayaan Sunda (Sundanologi). Mengenai nafas agama Hindu di dalamnya antara lain menyebutkan adanya nama-nama dewa dalam kaitannya dengan arah mata angin sebagai berikut:
Purba, timur kahanan Hyang Isora, putih rupanya;
Daksina, kidul. kahanan Hyang Brahma, mirah rupanya,
Pasima, kulon kahanan Hyang Mahadewa, kuning (rupanya),
Utara, lor, kahanan Hyang Wisnu, hireng rupanya;
Madya, tengah kahanan Hyang Siwah, [aneka] aneka warna rupanya (Danasasmita dkk. 1987: 75).

Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bahwa napas agama Hindu-saiwa dikenal dalam Sang Hyang Siksa. Diuraikan bahwa Hyang Siwah (Śiwa) berkedudukan di tengah dan darinya memancar penjelmaannya di berbagai arah mata angin. Dalam konsep Jawa Kuno dinamakan dengan ajaran Nawasanga yang juga masih dikenal hingga sekarang di Bali. Dalam ajaran tersebut tempat kedudukan utama Wisnu di utara, Śiwa di tengah dan Brahma di arah selatan selatan masih dipertahankan, dan sama keadaannya dengan keadaan agama Hindu di Jawa bagian tengah dalam masa pembangunan percandian Prambanan. Di percandian Prambanan, Candi Wisnu berada di utara Candi Śiwa, dan Candi Brahma berada di selatannya.

Di bagian lain dari Sang Hyang Siksa dijumpai pula adanya napas lainnya dari agama Hindu-Śaiwa, misalnya dinyatakan:
Sakala Batara jagat basa ngretakeun bumi niskala. Basana: ‘Brahma, Wisnu, Isora, Mahadewa, Siwah, bakti ka Batara ! Basana: Indra, Yama, Baruna, Kowera, Besawarma, bakti ka Batara !’ (Danasasmita 1987: 86).

(Pesan Batara Jagat ketika menciptakan alam semesta. Ujarnya: ‘Brahma, Wisnu, Isora, Mahadewa, Siwah, berbaktilah kepada Batara. Ujarnya lagi: Indra, Yama, Baruna, Kowera, Besawarma berbaktilah kepada Batara !).

Dalam hal ini dinyatakan bahwa dewa-dewa Hindu itu harus berbakti dan memuja Batara Jagat, namun tidak dijelaskan siapa jatidirinya, artinya kedudukan dewa-dewa Hindu itu lebih rendah daripada Batara Jagat. Sepintas dewa-dewa Hindu itu memang disebutkan namun tidak berada dalam posisi yang penting, sebab kedudukannya lebih rendah dari Batara Jagat.

Kitab lainnya adalah Kawih Paningkes yang juga disebut Kropak 419, kitab ini telah dialihaksarakan dan diterjemahkan dalam tahun 1995 oleh Ayatrohaedi dan Munawar Holil. Napas keagamaan Hindu dalam Kawih Paningkes sukar untuk ditelusuri, namun setelah disimak dengan baik terdapat pula unsur kehinduannya, antara lain sebagai berikut:
“Samangkana hali[h](w)u[s](w)us haliwawar kulem kalawan rahina bulan bentang aditiya ku[w]wung-kuwung kawang-kawang katumbiri teja mentrang kalawan lwah halilar ahening nirawarana laget genina sri yama…”

(“Demikianlah topan dan badai tidur bersama siang, bulan, bintang, matahari, pelangi, teja, bianglala, lembayung senja dengan keadaan segalanya hening (tenang), jernih terang apinya Sri Yama…”)(Ayatrohaedi & M.Holil 1995: 15 dan 35).

Dalam Kawih Paningkes disebutkan nama Dewa Yama, dewa itu dalam Hinduisme dikenal sebagai dewa maut yang menjaga neraka. Yama dalam sistem Astadikpalaka (delapan dewa penjaga mata angin) berada di arah mata angin selatan. Tidak ada lagi nama dewa lain yang disebutkan di dalamnya, hanya ada istilah sansekerta yang bercirikan Hindu disebut dalam kitab itu, yaitu Mahāpuruśa (Paningkes 21b: 2) yang dapat diartikan adalah “makhluk yang paling agung”, diterjemahkan sebagai Tuhan (Ayatrohaedi & Holil 1995: 37). Mahāpuruśa walaupun diartikan sebagai Tuhan, dalam kitab itu tidak dapat diartikan sebagai dewa tertinggi dalam Hinduisme, yaitu Śiwa Mahādewa. Agaknya konsep tersebut justru mengacu kepada superhuman being yang bukan dari dewa India, melainkan mengacu konsep keIllahian tertinggi Sunda kuno asli.

Dalam kitab Amanat Galunggung atau juga disebut Kropak 632, malahan tidak ada penyebutan nama dewa-dewa Hindu. Jejak kehinduan pun tidak dapat ditemukan dalam Kropak 632, mungkin kitab tersebut memang bukan dimaksudkan sebagai kitab ajaran keagamaan. Kitab tersebut dapat dianggap pesan yang disampaikan oleh kaum agamawan di Kabuyutan Galunggung kepada mereka yang mampu dan menaruh perhatian, agar menjaga keberlangsungan kehidupan agama di tempat itu.

Kitab lainnya yang mungkin mengandung ajaran agama Hindu dan Buddha adalah Sewaka Darma atau Kropak 408. Kitab ini sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan juga oleh Saleh Danasasmita dan kawan-kawan dalam tahun 1987, melalui Proyek Penelitian dan pengkajian kebudayaan Sunda (Sundanologi). Kitab tersebut ternyata tidak hanya menyimpan konsep-konsep Hindu, melainkan juga Buddha dan penyatuan Sewa-Sogata (Śiwa-Buddha).

Disebutkan adanya Dewa Aditya/Surya (Sewaka, 29:12) dan Yama (Sewaka, 35: 3), lalu juga dinyatakan tentang kahiyangan para dewa Hindu sebagai berikut:
51…
Di timur Batara Isora
kahiyangan perak putih
tiangnya perak berukir
bahannya serba perak

52…
Rumah bertabur permata
bermacam-macam ukiran
ditata meniru bunga
tempat tinggal hiyang Isora
tujuan mereka yang lulus tapa
dalam kebahagiaannya

Di utara Batara Wisnu
kahiyangan meru hitam
tiangnya besi berukir
bahannya serba besi
beratap besi Cina
berlantai baja

53. …
tempat tinggal Batara Wisnu
tujuan mereka yang sempurna perbuatannya
dalam kebahagiaannya.

Di barat Batara Mahadewa
kahiyangan meru kuning
tiangnya emas berukir
bahannya serba emas


54. …
Di selatan Batara Brahma
kahiyangan warna merah
tiangya tembaga berukir
bahannya serba tembaga
beratap tembaga bening
berlantai tembaga Cina
berdinding tembaga Keling


55. …
Di tengah Batara Siwa
kahiyangan yang terang benderang
tiangnya baja berukir
bahannya aneka macam
beratap perak


56…
Rumah bertabur permata
bermacam-macam ukiran
diukir meniru bunga
tempat tinggal Batara Siwa
tujuan mereka yang sarat dengan amal baik
menyelesaikan tugasnya
tak urung mendapat kebahagiaan…
(Danasasmita dkk.1987: 64—67).

Dalam kitab Sewaka Darma itu, tidak seluruh dewa jelmaan Śiwa dalam Nawasanga disebutkan satu persatu. Dewa yang diungkapkan hanya Isora (Iswara) di arah Timur, Wisnu di arah utara, Brahma di selatan, dan Śiwa di titik tengah. Hanya dewa-dewa itulah yang disebut dalam Sewaka Darma, sementara itu dewa-dewa Nawasanga lainnya seperti Sambhu (timur laut), Maheśwara (tenggara), Rudra (barat daya), Mahādewa (barat), Sangkhara (barat laut) tidak disebutkan.

Adapun mengenai napas agama Buddha, hanya sedikit saja didapatkan dalam uraian kitab tersebut. Uraiannya pun bersifat perumpamaan, jadi tidak lugas menyatakan sifat Bauddhanya, sebagai berikut:
“sampangan mangregat lima
Na jalan pa[da]ti ageung” (Sewaka, 28: 8—9)

(“Simpang jalan terbagi lima, itu jalan pedati besar”)

Pernyataan tersebut sebenarnya merupakan perumpamaan bagi Panca Tathagata (lima Tathagata) yang terdiri dari Amitabha (barat), Amoghasiddhi (utara), Aksobhya (timur), Ratnasambhawa (selatan), dan Wairocana (tengah). Merekalah yang telah memperoleh jalan keBuddhaan, para Buddha tersebut hanya dikenal dalam ajaran Mahayana yang artinya pedati besar, atau juga golongan Mahasanghika yang menyetujui adanya perubahan-perubahan (Hadiwijono 1982: 67), oleh karena itu disebut dengan na jalan padati ageung.

Naskah Serat Dewabuda (SDB) atau dengan nama lain Serat Sewakadarma telah dialihaksarakan dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ayatrohaedi dalam tahun 1988. Naskah tersebut pada waktu itu disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta, sebagai salah satu koleksi naskah kuna yang diwariskan oleh J.L.A.Brandes kepada Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang menjadi lembaga Museum Nasional, namun naskah tersebut sekarang telah menjadi khasanah koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta.

Dalam uraian-uraiannya disebutkan adanya napas Hindu dan Buddha, namun hanya sekedar pelengkap saja dari ajaran tentang konsep kekuatan tertinggi masyarakat Sunda Kuno.
Keunikan SDB adalah menyatakan dengan jelas bahwa konsep kuasa tertinggi yang dijuluki Sanghyang (Taya) kedudukannya jauh lebih tinggi dari panteon dewa Hindu ataupun Buddha.SDB 26v : 1—2 menyatakan:
1.“…sanghyang tidak tergantung, siwa buddha tidak diajarkan, batara batari tidak dinamai, sunyata tidak diunggulkan. tidak ada
2.gelar puja, tidak dikaji yang serupa dengan teratai besar itu. tidak ada semuanya itu sebelumnya, hingga pada nafas, ujar, dan tujuan sampai berjumpa dengan kearifan” (Ayatrohaedi 1988: 163).
Demikianlah bahwa Sanghyang Taya lebih dirincikan lagi dalam SDB, bahwa pada akhirnya dapat ditafsirkan bahwa sanghyang tertinggi itu adalah kearifan yang mestinya harus dicapai dan dimiliki oleh setiap manusia. Dewa Śiwa, Buddha, Brahma, Wisnu, Raksasa, dan Pitara menurut SDB hanyalah gambaran yang dikeluarkan oleh manusia dari panca paramarta dan panca indranya belaka. Perhatikan uraian SDB 39r: 2—4 dan 39v: 1—2 berikut ini:
39r.
2.“…Ditemukannya tujuan namanya; apakah yang menjadi ukuran tujuan?, yaitu sebagai raga dalam
3.mimpi, tubuh kita pada waktu bermimpi; diwujudkan sebagai tujuan dalam impian, sebagai tempat berenang di danau, seperti melayang
4.di angkasa, sebagai parakul (?) di gunung, sebagai suami, sebagai istri, terjadi dalam impian. Demikianlah bermacam keluarnya tujuan dalam impian, diwujudkan semuanya
39v.
1.oleh tujuan ketika itu, dikeluarkan semuanya gambaran itu, meragakan Siwa, Buddha, Brahma, Wisnu, raksasa, pitara, ditempatkan dalam puspalingga dan
2.arca. Itulah sebabnya terdapat hyang dalam tujuan dunia seluruhnya dalam waktu…” (Ayatrohaedi 1988: 176).

SDB menyatakan bahwa prana adalah indra, adalah kehidupan adalah tujuan (acuan), dan acuan hidup itu ialah Hyang (Sang Hyang Taya). Dalam lingkungan seluruh dunia selalu terdapat Hyang sebagai acuan. Dewa-dewa Hindu dan Buddha dinyatakan hanyalah visualisasi dari tubuh (raga) dalam mimpi, jadi semu agar menjadi konkret kemudian “ditempatkan dalam puspalingga dan arca”. Berdasarkan uraian tersebut dapat ditafsirkan bahwa, (1) Sang Hyang Taya adalah kekuatan adikodrati tertinggi yang diseru dalam SDB, (2) Sang Hyang Taya sebenarnya terdapat di dalam setiap diri manusia apabila ia menyadarinya dan juga hadir diseluruh dunia, (3) Sang Hyang Taya harus menjadi tujuan (acuan) bagi semua makhluk, (4) Lingga dan arca dewa-dewa adalah wujud yang semu belaka, bagai raga yang tampil dalam mimpi.
Demikianlah dari beberapa kitab keagamaan dari masa Sunda Kuno dapat diketahui bahwa memang terdapat anasir agama Hindu dan Buddha di dalamnya, akan tetapi tidak dominan. Anasir agama Hindu-Buddha tersebut hanya disebutkan saja, tidak menjadi materi utama yang menjadi bahan pembicaraan.


III


Dalam kitab-kitab keagamaan Jawa Kuno, seperti Arjunawiwaha, Arjunawijaya, Sutasoma, Kŗşnayana, dan Śiwaratrikalpa, walaupun di dalamnya dikisahkan tentang petualangan para ksatrya, namun ajaran keagamaan Hindu atau Buddhanya tetap masih dirasakan. Misalnya ketika Arjuna diminta tolong para dewa untuk memusnahkan Niwatakawaca yang akan merebut kahyangan dalam Arjunawiwaha, Śiwa Mahādewa sendiri yang turun ke dunia dan menjelmakan dirinya menjadi ksatrya bernama Kirata. Kisah tersebut sarat dengan metafora pertemuan antara dunia manusia dan dewa-dewa.

Begitupun dalam kitab Sutasoma dikisahkan upaya sang pangeran untuk memusnahkan musuh-musuhnya, dan pada akhirnya dapat bertemu dengan hakekat keBuddhaan tertinggi, ia merasa berbahagia mencapai dan memahaminya. Dalam kitab tersebut juga dinyatakan dengan metafora narasi kisah tentang upaya pencapaian ajaran agama Buddha.

Kitab Śiwaratrikalpa sangat jelas membeberkan konsep keagamaan tentang pemujaan Lingga dalam malam Śiwa. Lubdhaka pemburu yang sangat berdosa karena pekerjaannya membunuh makhluk lain, pada akhirnya dapat masuk surga. Sebab Lubdhaka melakukan puja --walau secara tidak sengaja-- kepada Śiwa Mahādewa di malam keramat yang sangat disukai oleh dewa tertinggi itu.

Kembali kepada naskah-naskah keagamaan Sunda Kuno, ternyata tidak ada kandungan cerita tertentu di dalamnya. Tidak dijumpai adanya ajaran keagamaan yang dipadukan atau dibalut dengan rangkaian cerita yang berkenaan dengan tokoh-tokoh ksatrya, raja, atau brahmana. Uraian naskah-naskah tersebut apabila berkenaan dengan keagamaan, maka akan langsung menuturkan tentang hakekat tertinggi, atau upaya pertemuan dengan hakekat tertinggi, atau dinyatakan bahwa hakekat tertinggi Sunda Kuno (Hyang) lebih tinggi dari dewa-dewa India (Hindu dan Buddha). Sang Hyang Siksa menyatakan:

“Nihan sinangguh Dasa Prebakti ngaranya. Anak bakti di bapa, ewe bakti ka laki, hulun bakti kapacandaan, sisya bakti kaguru, wang tani bakti ka wado, wado bakti ka mantra, mantra bakti di nu nangganan, nu nangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang. Ya ta sinangguh Dasa Prebakti” (Siksa II).

(“Ini yang disebut Dasa Prebakti. Anak tunduk kepada bapak; istri tunduk kepada suami; hamba tunduk kepada majikan, siswa tunduk kepada guru, petani tunduk kepada Wado; Wado tunduk kepada mantri; mantri tunduk kepada nu nangganan, nu nangganan tunduk kepada mangkubumi, mangkubumi tunduk kepada raja; raja tunduk kepada dewata, dewata tunduk kepada Hyang. Ya itulah yang disebut Dasa Prebakti”) (Danasasmita dkk 1987: 74 dan 96).

Berdasarkan kutipan tersebut terdapat peringkat dalam hal pengabdian, dimulai dari seorang anak yang mengabdi kepada ayahnya, lalu ada mangkubumi (penguasa daerah) yang tunduk kepada raja, hingga akhirnya dinyatakan bahwa para dewa mengabdi kepada Hyang. Jelas sekali dinyatakan bahwa kitab Sang Hyang Siksa menjelaskan tentang tingginya kedudukan Hyang dari pada para dewa yang mengacu kepada dewa-dewa Hindu dan Buddha.

Kitab Kawih Paningkes tidak menjelaskan tentang konsep dewa-dewa Hindu-Buddha, justru yang diuraikan dengan segala perumpamaannya adalah upaya diri seseorang untuk mencapai pengetahuan yang sempurna. Pengetahuan atau keadaan yang sempurna itu dijelaskan sebagai berikut:
“Jika cantik tidak cantik, ada ucapan tak berucap, tak ada tekad tanpa tekad, tidak ada ujar tanpa ujar, tidak ada ketunggalan, tidak ada perasaan yang tunggal tanpa rasa. Tak ada raga tanpa kelihatan apa yang terjadi. Tidak ada orang yang terdengar, tak terbelai, tak tergarap. Tidak ada hidup yang terjangkau, tanpa cipat, tanpa warna… demikian yang menguasai hasil keutamaan yang sejati…” (Paningkes 2—3, Ayatrohaedi & M.Holil 1995: 29).

Tidak ada pernyataan lain yang mengarah kepada ajaran Hindu atau Buddha, kecuali yang telah dikemukakan adanya penyebutan Dewa Yama sebagai penguasa neraka, dan Mahapurusa yang bukan Śiwa. Konsep tertinggi dalam Kawih Paningkes disebutkan dengan julukan Batara Tunasaranta, konsep tersebut bukan Śiwa, bukan pula Buddha, karena dijelaskan lagi sebagai “pemburu agung yang menurunkan raga, menghadirkan kilat dan hujan, memberitahukan tentang awan yang bergulung-gulung,..di balik angkasa tersamarkan oleh cahaya, matahari, bulan, jika dipandang terlihat lenyap…”(Ayatrohaedi & M.Holil 1995: 45).

Hal yang sungguh menarik adalah apa yang diuraikan dalam kitab Bujangga Manik, kitab langka yang sangat penting bagi pengetahuan kebudayaan Sunda Kuno, sebab menyebutkan gunung-gunung dan berbagai tempat keramat di Pulau Jawa pada waktu kitab itu disusun. Kronologi naskah merupakan salah satu masalah yang menarik untuk diperbincangkan, oleh karena itu peneliti pertama naskah Bujangga Manik, yaitu J.Noorduyn menyatakan:
“More specifically the mention Majapahit, Malaka and Demak allow us, as we shall see, to date the writing of the story in the 15th century, probably the latter part of this century, or the early 16th century at latest” (1982: 414).

Noorduyn hanya memberikan kisaran waktu penulisan naskah itu dalam abad ke-15 atau paling akhir pada permulaan abad ke-16 M. Kisaran itu memang mungkin benar karena didasarkan pada penyebutan tempat-tempat yang secara politis sedang berkembang atau masih berkuasa dalam periode yang sama.

Kitab Bujangga Manik memang menguraikan data topografi Jawa dalam masanya, dan dapat dipandang sebagai uraian perjalanan ziarah, namun tidak semata-mata tentang hal itu belaka. Bujangga Manik tentunya bersusah payah menyusun naskahnya untuk tujuan yang lebih mendalam bukan sekedar catatan perjalanan. Mengenai hal tersebut sebenarnya telah dikemukakan oleh Noorduyn sebagai berikut:

“In this sense our story belongs to the category of religious literature and must have emanated from a religious community, even though it contains hardly any direct lessons on special religious topics, and in this way clearly differs from well-known Javanese stories of travelling mystics” (1982: 438).

Noorduyn dan A.Teeuw memang telah mengemukakan lebih lanjut tentang bagian-bagian mana yang memperbincangkan tema-tema keagamaan dalam Bujangga Manik. Dalam kitab itu diperbincangkan tentang kunjungan sang Bujangga Manik ke berbagai pertapaan, tempat-tempat keramat (sasakala), tempat pendidikan agama (mandala), bertemu dengan para guru-guru keagamaan yang tinggi ilmunya (mahapandita), berdiskusi dengan tokoh-tokoh bijak, akhirnya ketika Bujangga Manik kembali ke tatar Sunda ia membuat tempat suci, dan bertapa (Noorduyn & Teeuw 2006: 162—8). Menurut Noorduyn naskah perjalanan Bujangga Manik yang menyebutkan berbagai tempat keagamaan di Jawa mungkin dimaksudkan sebagai panduan bagi para pembaca yang ingin mengikuti jejak Bujangga Manik berkunjung ke pusat-pusat keagamaan di wilayah Jawa bagian tengah dan timur (Noorduyn 1982: 438). Dapat juga dipandang bahwa uraian naskah Bujangga Manik tersebut merupakan pengalaman pribadi dari tokoh penulisnya, namun perlu pula dipertimbangkan sebagai suatu bentuk karya fiksi yang bertujuan pendidikan, contohnya terlihat pada bagian akhir naskah terdapat deskripsi penyerahan diri tokoh penulis yang terangkat jiwanya melayang menuju surga. Apapun bentuknya --karya nyata pengalaman pribadi atau fiksi--, jelas naskah tersebut dapat menyenangkan bagi para pembacanya (Noorduyn & Teeuw 2006: 171).

Perjalanan Bujangga Manik yang cukup panjang dan melelahkan untuk ukuran masa itu memang bukanlah pengembaraan yang biasa. Mungkin Bujangga Manik menghabiskan waktu selama puluhan tahun, hanya saja tidak disebutkan secara jelas. Pada bagian awal naskah dinyatakan bahwa dia hendak dinikahkan dengan seorang perempuan pilihan ibundanya namun ia menolak, dapat ditafsirkan bahwa waktu itu usianya masih muda.

Ia kemudian melakukan perjalanan keliling Jawa dan kembali lagi ke Jawa bagian barat, mungkin pada waktu ia kembali usianya sudah relatif tua, karena ia menyatakan bahwa “nyiar lemah pamutian, nyiar cai pamorocoan, pigeusaneun aing paeh, pigeusaneun nu(n)da raga” (Bujangga.1320: 1—4), agaknya ia telah merasa mendekati akhir hayatnya. Naskah yang disusunnya bukanlah catatan perjalanan biasa, melainkan Bujangga Manik bermaksud membuat “perbuatan baik” yang diwujudkan dalam bentuk kitab yang dapat menjadi titik tolak perjalanan selanjutnya di alam kematian.

Nama Bujangga Manik menarik untuk diperbincangkan, mungkin itu bukan nama dirinya, melainkan epitet yang dipilihnya setelah ia mengambil jalan keagamaan. Kata bujangga atau bhujangga berarti brahmana pendeta, khususnya brahmana muda yang masih belajar (Zoetmulder 1995, I: 139), adapun kata mani atau manik artinya intan permata. Tetapi kata bujangga manik dapat dibaca juga menjadi pu + janggama + manik. Kata janggama + manik mengalami proses bahasa sandi luar, maka tercipta kata janggamanik dengan tidak perlu mengulang suku kata ma dua kali dalam janggama dan manik. Dalam hal ini pu atau mpu adalah kata Jawa Kuno yang berarti orang yang dihormati, janggama adalah kata dari bahasa sansekerta yang artinya bergerak, berpindah-pindah (Liebert 1976: 111) dan mani atau manik telah dijelaskan berasal dari kata Sansekerta yang artinya intan permata. Dengan demikian tokoh tersebut cukup cerdas dengan memadukan berbagai arti dalam epitetnya.

Kata Bujangga Manik dapat diartikan “permata pendeta yang masih belajar”, adapun kata Pu Janggamanik artinya kurang lebih “Pengelana yang dihormati”, atau dapat diartikan secara luas menjadi “Sang Pengelana Terhormat”. Arti kata pertama atau pun kedua sesuai dengan keadaan dirinya dan juga aktivitasnya. Ia berasal dari lingkungan istana Pakuan, artinya kerabat dekat raja, mungkin seorang pangeran atau putra raja. Aktivitasnya yang melakukan pengembaraan keliling Jawa dimetaforakan dengan kata janggama yang artinya selalu berpindah tempat, sesuai dengan pengembaraan yang dilakukannya mengunjungi tempat-tempat keagamaan dan melalui berbagai wilayah, ia berpindah-pindah tempat atau melakukan pengembaraan.

Dalam uraian kitab Bujangga Manik terdapat pula tata cara ritual dalam melaksanakan agama Sunda Kuna yang memuja adi kodrati berjuluk Jati Niskala, Sang Hyang Taya, Sang Hyang Manon atau lainnya. Diuraikan bahwa sang bujangga melakukan kegiatan keagamaan di suatu tempat bernama Gunung Sembung,
1280
“Sacu(n)duk ka gunung Se(m)bung,
eta hulu na Citarum,
di inya aing ditapa,
sa(m)bian ngeureunan palay,
Tehering puja nyangraha,

1285
puja (nya)pu mugu-mugu.
Tehering na(n)jeurkeun li(ng)ga,
tehering nyian hareca,
teher nyian sakakala.
Ini tu(n)jukeun sakalih

1290
tu(n)jukeun ku na pa(n)deuri,
maring aing pa(n)teg hanca //O//
A(ng)geus aing puja nyapu,
Linyih beunang aing nyapu,
Ku/macacang di buruan

1295
Nguliling asup ka wangun, ngadungduk di palu(ng)guhan,
Dibiwi samadi
Ku ngaing dirarasakeun,
Ku ngaing dititineungkeun


(sampailah ke Gunung Sembung,
itu merupakan hulu Sungai Citarum,
di tempat itu aku bertapa,
seraya menghentikan segala keinginan.
Kemudian aku membangun pemujaan
puja nyapu dengan sungguh-sungguh.
Lalu kudirikan lingga,
terus membuat arca, kemudian membuat bangunan suci.
Ini untuk menunjukkan kepada mereka
pertanda untuk mereka kelak
bahwa aku telah menyelesaikan tugas.
Setelah kutuntaskan puja nyapu,
bersihlah sudah kusapu,
bolak- balik di halaman,
berkeliling masuk ke dalam bangunan,
lalu berdiam diri di tempat duduk,
berdoa sambil tafakur.
Kuhayati semua itu,
Kurenungi segalanya

(Noorduyn & A Teeuw 2009: 309).

Selain urain tersebut terdapat juga pemerian lain bahwa Bujangga Manik juga melakukan kegiatan ritual keagamaan dengan membangun tempat peribadatan. Menurutnya sesampainya di hulu Sungai Cisokan, di kaki Gunung Patuha, Bujangga manik menemukan lokasi yang keramat, lalu:
“menghadap ke Bahu Mitra
Telah kubangun sebagai pedusunan,
disusun batu berundak-undak
disusun batu sekelilingnya,
dari bawah dengan batu datar,
menjulang ke atas dengan batu tegak,
di puncaknya dengan batu putih,
ditaburi batu permata indah,
Gemerlap berderet-deret
tujuh bangunan untuk keperluanku,
tempat makan dan kayu bakar,
dan juga tempat menumbuk,
terapian menyala-nyala,
Dua lumbung berdampingan,
taman mengapit pintu gerbang
…”
(Norrduyn & A.Teeuw 2009: 313)

Kiranya jelas bahwa melalui uraian kitab Bujangga Manik dapat diketahui bahwa bangunan keagamaan dan tata cara ritual keagamaan masa Sunda Kuno cukup berbeda dengan yang dikenal dalam ajaran Hindu-Buddha dalam masyarakat Jawa Kuno. Bujangga Manik menyatakan bahwa ia tidak membangun candi yang lengkap dengan bilik dan relungnya, tidak ada kemuncak dan candi-candi perwaranya, justru yang dibangun olehnya adalah punden berundak-undak, dengan batu tegak atau batu putih di puncaknya.

Ia juga melakukan upacara keagamaan Puja Nyapu yang kegiatannya mungkin menyapu sekeliling bangunan berundak tersebut sambil menghadapkan diri kepada kekuatan adi kodrati. Setelah melakukan puja nyapu, kemudian ia duduk bermeditasi, namun tempat bermeditasi tersebut tidak dijelaskan di arah mana dari punden. Dapat juga diketahui bahwa terdapat bangunan-bangunan lain jumlahnya 7 di dekat punden, dinyatakannya sebagai tempat untuk menyimpan kayu bakar, perapian, lumbung, dan juga tempat tinggalnya sementara.

Dalam kitab Sanghyang Raga Dewata (Ekajati & Undang A.Darsa 2004) terdapat pernyataan yang menjelaskan tentang siapa adi kodrati dalam masa Sunda Kuno.
16.“Tidak ada yang menjadikan aku ,
tidak ada yang menciptakan aku,
Aku menamai diri sendiri,
Sanghyang Raga Dewata,
Mengapa menamakan diri sendiri,
(sebagai) Sanghyang Raga Dewata ?
(karena) nama dewata juga.

Setelah itu terdengarlah ucapan sesungguhnya,
Perkataan yang benar,
(bahwa) dia adalah bayu, sabda, hedap
Karena dirinya berbeda,
Karena dirinya sakti,
Karena dirinya dewata,
Ucapannya senantiasa benar,
Itulah sebabnya sempurna,
Itulah sebabnya sakti,
Itulah sebabnya dewata…
(Ekadjati & Undang A.Darsa 2004: 165).

Dalam uraian tersebut justru yang dijelaskan adalah hakekat adi kodrati Sunda Kuno sendiri yang berjuluk Sanghyang Raga Dewata, bukannnya dewa tertinggi dalam Hinduisme atau pun Buddhisme. Kitab yang sama juga menyebut bahwa Sanghyang Raga Dewata tersebut dijuluki juga Sanghyang Manon dan Sanghyang Tunggal. Dewa-dewa lainnya ada yang dikenal dari ajaran Hindu dan ada juga dewa yang bukan dari Hindu, sebenarnya hanya pancaran saja dari Sanghyang Tunggal. Ia memancarkan dirinya menjadi Batara Mahadewa, Wisnu, Isora, Brahma (Ekadjati & Undang A.Darsa 2004: 177-178). Kiranya uraian seperti itu sama dengan yang diajarkan oleh berbagai kitab keagamaan Sunda kuno lainnya yang telah diperbincangkan di bagian terdahulu dalam kajian ini. Bahwa dewa-dewa dari kebudayaan India memang dikenal, namun konsep adi kodrati tertinggi Sunda Kuno bukanlah salah satu dewa India, melainkan Sanghyang tertinggi menurut kepercayaan masyarakat Sunda Kuno sendiri.



IV

Dalam kebudayaan Sunda Kuno dikenal sejumlah karya sastra, sekarang ada yang masih tersimpan di masyarakat, dikoleksi Perpustakaan Nasional, dan beberapa lagi disimpan oleh perpustakaan-perpustakaan luar negeri. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan selama ini dapat diketahui bahwa karya sastra keagamaan Sunda Kuno mempunyai ciri tersendiri yang membedakannya dengan karya sastra keagamaan sezaman dari kebudayaan Jawa dan Bali. Beberapa ciri tersebut antara lain adalah:
1.Menggunakan bahasa Sunda Kuno, namun ada yang berbahasa Jawa Kuno, sejauh ini yang baru diketahui adalah Serat Dewa Buda.
2.Penuh dengan kalimat-kalimat yang sukar untuk dimaknai, metafora yang sangat dalam sehingga pembacanya harus orang-orang yang paham betul dengan konsep tersebut.
3.Di dalamnya banyak yang menguraikan langsung ajaran pertemuan antara manusia dan konsep adi kodrati.
4.Tidak pernah ada deskripsi tentang sifat-sifat dewa Hindu atau Buddha, artinya tidak kental bernapaskan agama Hindu dan Buddha.
5.Tidak ada uraian data ikonografi dari dewa-dewa Hindu dan Buddha. Artinya tidak ada penggambaran tentang wujud sesosok arca dewa Hindu atau Buddha, misalnya dewa X harus bertangan 4, membawa benda apa saja, menaiki hewan tertentu, dan sebagainya. Bentuk lingga yang kerapkali disebutkan dan ditegakkan sebagai tanda pemujaan, juga tidak dirinci wujud sebenarnya, temuan arkeologis memperlihatkan bahwa bentuk lingga yang dimaksudkan hanya batu alami lonjong yang ditancapkan di permukaan tanah, jadi tidak sama dengan lingga Hindu yang dibagi menjadi Brahma bhaga, Rudra bhaga, dan Wisnu bhaga.
6.Berulangkali dinyatakan bahwa dewa-dewa Hindu dan Buddha hanya dewata yang kedudukannnya lebih rendah dari konsep adi kodrati Sunda Kuno. Dewata Hindu hanya disebutkan menjaga surge tertentu di arah tertentu, namun mereka adalah penjelmaan dari Sanghyang tertinggi, bukan dewata utamanya.
7.Berdasarkan uraian isinya agaknya karya-karya sastra Sunda kuno dibagi ke adalam dua jenis, yaitu (a) ditujukan untuk kalangan masyarakat luas, sehingga siapapun dapat mudah memahami uraiannya, walaupun tidak gambling benar, misalnya kitab Sang Hyang Siksakandang Karesian dan Amanat Galunggung; (b) kitab yang ditujukan bagi kalangan kaum agamawan belaka, bukan untuk masyarakat awam, oleh karena itu tidak mudah untuk dipahami secara lugas, misalnya kitab Sewaka Darma, Kawih Paningkes, Serat Dewa Buda, dan Sang Hyang Raga Dewata.

Demikianlah kajian terhadap beberapa naskah Sunda Kuno yang disebut-sebut sebagai kitab keagamaan ternyata menghasilkan temuan yang menarik. Berdasarkan telaah yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa religi yang berkembang dalam masa Kerajaan Sunda, bukan agama Hindu atau Buddha dan juga bukan perpaduan Hindu-Buddha, melainkan suatu bentuk religi tersendiri yang mengagungkan Sanghyang tertinggi dengan berbagai julukannya. Akibat dari temuan kajian ini agaknya akan membuka peluang lebih lanjut dalam hal penelisikan masyarakat Sunda Kuno di bidang sejarah politik dan sejarah kebudayaannya, sebab telah menjadi aksioma bahwa religi adalah dasar utama dari perkembangan kebudayaan masyarakat tertentu dalam era tertentu.


DAFTAR PUSTAKA
Ayatrohaedi, 1988. Serat Dewabuda: Alihaksara dan Terjemahan. Laporan Penelitian untuk Bagian Proyek Penelitian dan Pengajian Kebudayaan Sunda, Bandung.

Ayatrohaedi & Munawar Holil, 1995. Kawih Paningkes: Alihaksara dan Terjemahan Naskah K.419, Khasanah Perpustakaan Nasional Jakarta. Laporan Penelitian Dibiayai oleh Proyek DIP-OPF 1994/1995, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Danasasmita, Saleh, Ayatrohaedi, Tien Wartini, Undang Ahmad Darsa, 1987. Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632), Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi), Direktorat Jendral Kebudayaan, Depdikbud.

Darsa, Undang A. & Edi S.Ekadjati, 2003. “Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Prahyangan (Kropak 406)”, dalam Tulak Bala: Sistim Pertahanan Tradisional Masyarakat Sunda Kuno dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda. Sundalana 1. Bandung: Pusat Studi Sunda. Halaman173--208.

Ekadjati, Edi S.& Undang A.Darsa, 2004. “Sang Hyang Raga Dewata”, dalam Sundalana 2: Fatimah in West Java, Moral Admonitions to Sundanese Gentlewomen dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda. Bandung: Pusat Studi Sunda. Halaman 133--179.

Hadiwijono, Harun, 1982. Agama Hindu dan Buddha. Jakarta: BPK.Gunung Mulia.

NOORDUYN, J., 1982, ”Bujangga Manik’s Journeys Through Java: Topographical data from an old Sundanese source”, dalam Bijdragen tot de taal, land,-en volkenkunde. Deel 138 4e Aflevering. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff. Halaman 413—442.

------------------ & A.Teeuw, 2006, Three Old Sundanese poems. Leiden: KITLV Press.

Noorduyn, J & A.Teeuw, 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya.


Agus Aris Munandar
Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
dimuat dalam Jurnal Manuskrip Nusantara (JUMANTARA) Vol.1 No.1 terbitan Perpustakaan Nasional RI

0 comments:

Post a Comment

Daftar Artikel