Berlangganan via email

Seluruh tulisan, gambar, dan foto dalam blog ini di bawah lisensi: Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Thursday, 18 February 2010

BUJANGGA MANIK DAN INGATAN DUNIA

Sejak ditemukan dan kemudian diserahkan ke Perpustakaan Bodleian, Oxford pada tahun 1627 oleh Saudagar Andrew James, seorang Saudagar asal Newport, naskah ‘Bujangga Manik (BM)’ sempat ‘terlupakan’ selama kurun waktu tiga abad lamanya. Barulah kemudian pada tahun 1968 (341 tahun kemudian!), seorang peneliti Sunda asal Belanda, Jacobus Noorduyn, memanfaatkan data yang terdapat dalam naskah BM. Dan hanya seorang Noorduyn pula, yang selama berpuluh-puluh tahun mengabdikan dirinya bergelut dengan naskah ini. Upayanya berujung pada artikel singkatnya "Bujangga Manik Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source" (BKI, 138:413-42).

Sayangnya, Noorduyn berpulang sebelum sempat mengumumkan penelitiannya yang menyeluruh atas naskah ini. Untunglah, seorang sahabat yang juga peminat budaya Sunda dan Nusantara berkebangsaan Belanda, A. Teeuw melengkapi kajian-kajian Noorduyn atas tiga puisi Sunda kuna (termasuk Bujangga Manik) dan kemudian diterbitkan dalam bukunya ‘Three Old Sundanese Poem’ (2006). Noorduyn dan A Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung (atau ditulis?) pada masa Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Seperti umum diketahui, bahwa Malaka menguasai jalur perniagaan sejak tahun 1440. Dalam rentang waktu itulah kiranya, perjalanan suci Bujangga Manik berlangsung.

Dari hasil-hasil penelitian itulah kita bisa memperoleh gambaran, bahwa teks Bujangga Manik menceritakan seorang petapa Sunda-Hindu yang, meskipun berkedudukan sebagai Tohaan (Pangeran) di istana Pakuan, lebih memilih hidup sebagai petualang yang senantiasa mencari kepuasan rohaninya. Petualangannya menjelajahi tempat-tempat itulah, yang selalu kita ingat di masa kini. Tempat yang ia singgahi lebih dari 450 tempat, termasuk di antaranya ada sedikitnya 90 nama gunung dan 50 nama sungai, terbentang dari Sunda bagian barat (Pakuan) sampai pulau Bali. Singkatnya, sebagaimana diungkapkan Teeuw, selain mempunyai fungsi sastra yang indah dan menghibur, teks BM juga menjadi petunjuk ensiklopedis mengenai berbagai segi kehidupan kontemporer: baik budaya, geografi, sejarah, bahasa, dll. Keistimewaan lain dari naskah puisi yang berjumlah 1641 baris ini, ialah bahwa pada kenyataannya– seperti naskah-naskah Sunda kuno yang kebanyakan otentik dan tidak disalin – naskah BM tiada duanya dan hanya satu-satunya di dunia (codex uniqus).

Memory of the World

Memory of the World (MOW) merupakan salah satu program UNESCO yang mulai dirintis pada tahun 1992. Program ini dilatar-belakangi oleh kesadaran akan pentingnya kelestarian, dan akses ke, warisan dokumenter di berbagai belahan dunia. Perang dan pergolakan sosial, serta kurangnya sumber daya, telah memperburuk masalah yang signifikan terhadap koleksi di seluruh dunia: penjarahan, penyebaran, perdagangan ilegal, kerusakan, kurangnya sarana dan prasarana dan pendanaan menjadi cukang lantaran dibentuknya program ini.

Sejak Indonesia menjadi bagian dalam MOW pada tahun 2006 (dengan terbentuknya Komite Nasional MOW), sampai saat ini setidaknya telah didaftarkan tiga karya unggulan bangsa Indonesia, yaitu Negarakretagama (Manuskrip berbentuk Kakawin berbahasa Jawa Kuno), I La Galigo (Karya prosa lirik panjang asal bugis), dan Mak Yong (Kesenian Melayu). Pada tahun ini pun sedang diupayakan Babad Diponegoro untuk dijadikan Memory Of The World.

Menurut hemat penulis, naskah Bujangga Manik merenah pisan apabila terdaftar sebagai salah satu masterpiece melalui MOW ini. Bagaimanapun, BM merupakan salah satu kekayaan budaya masyarakat Sunda dan Nusantara yang mampu ‘mengembalikan’ ingatan urang Sunda pada masa lalunya, menyembuhkan amnesia terutama kepada tempat-tempat yang pernah ia singgahi. Simak saja catatannya dalam perjalanan melalui citarum: “leumpang aing ka baratkeun/ datang ka bukit Paténggeng/ Sakakala Sang Kuriang/ masa dék nyitu Ci-Tarum/ burung tembey kasiangan”. Dari sekelumit catatan itu jelas sudah bahwa kisah legenda Sangkuriang membuat bendungan telah ada sekurang-kurangnya pada abad ke 16, dan ingatan itu tetap melekat pada urang, Sunda, berabad-abad lamanya.

Naratas Jalan
Dari gambaran singkat diatas, kiranya kita bisa ngabungbang naratas jalan, menjadikan naskah ini bagian dari dunia melalui Memory of the World yang menjadi program UNESCO. Tarekah untuk itu bisa dimulai dengan membentuk komite local yang terdiri dari para ahli, praktisi, budayawan, dan pemangku kebijakan tingkat lokal. Dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud, bukan Disbudpar), peneliti, filolog, akademisi dan lembaga pendidikan seperti UNPAD, UPI, UNPAS, dan UIN bisa bersinergi merumuskan langkah-langkah strategis sekaligus mempersiapkan semua keperluan teknis yang dibutuhkan, untuk kemudian diajukan kepada Komite Nasional. Komite nasional sendiri terdiri dari lembaga-lembaga, baik pemerintah maupun swasta, seperti LIPI, Arsip Nasional, Perpustakaan Nasional, Musium, Media Cetak dan Elektronik, Swasta dan Perguruan Tinggi. Barulah kemudian, Komite Nasional melanjutkan pada Komite Internasional.

Secara formal, poin-poin justifikasi kelayakan terhadap naskah BM tidak perlu disangsikan. Keotentikan naskah ini telah dibuktikan dengan cukup memuaskan oleh telaahan Noorduyn dan Teeuw sejak tahun 1968, bahkan data-data yang terdapat di dalamnya telah dimanfaatkan oleh disiplin lain. Signifikansi dan keunikan naskah BM telah memenuhi syarat karena di dalamnya berisi rekaman perjalanan, gambaran geografis, sosial, kehidupan keagamaan, yang ditulis berdasarkan kesaksian seorang pribumi. Jangan lupa pula bahwa Bujangga Manik, layaknya Mpu Prapanca yang menggubah Nagarakretagama, dengan penuh kesadaran mempunyai visi jauh ke depan untuk generasi selanjutnya ketika ia menegakkan lingga dan membuat arca “(nu peundeuri).

Memang agak disayangkan, bahwa naskah Bujangga Manik pada kenyataannya bukan milik lembaga penyimpanan di Indonesia. Ia tersimpan dalam sebuah tempat penyimpanan nun jauh di Oxford, Inggris sana. Tapi ketika kita membaca kisahnya yang mengagumkan, dengan ungkapan Sunda bihari yang sebagian masih dapat dikenali oleh orang Sunda kiwari, membuat kita (baca: urang Sunda) bergumam dalam hati “Ini adalah milik kita”.

Aditia Gunawan

1 comments:

  • IndoBudaya says:
    Tuesday, 30 September 2014 at 05:45:00 GMT-7

    menarik sekali gagasannya...

Post a Comment

Daftar Artikel