Berlangganan via email

Seluruh tulisan, gambar, dan foto dalam blog ini di bawah lisensi: Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Wednesday, 20 January 2010

Sanghyang Sasana Maha Guru: Sumber Baru Penelitian Sunda Kuna

Aditia Gunawan

Agaknya kita (baca: Sunda) belum tamat membaca sejarahnya sendiri. Setidaknya seperti itulah keadaannya, apabila kita menyadari masih begitu banyaknya naskah Sunda kuna yang belum terbaca. Naskah sunda kuna yang tersimpan di Perpusnas RI umpamanya. Dari sekitar 55 naskah Sunda kuna yang disimpan di Perpusnas, hanya 15 naskah saja yang sudah diteliti, dan itu dilakukan dalam rentang waktu satu abad (dari akhir abad ke-19 sampai awal abad 21). Singkat kata, kertas kerja sejarah Sunda kita masih menumpuk di meja.

Salah satu dari sekian banyak naskah Sunda kuna yang belum terbaca itu ialah Sanghyang Sasana Maha Guru (selanjutnya disingkat SSMG). Naskah ini disimpan di Perpustakaan Nasional Ri di Jakarta dengan nomor koleksi L 621 dalam Peti 15. Naskah ditulis diatas daun lontar, terdiri dari 36 lempir atau 72 halaman, beraksara Sunda kuna, berbahasa Sunda kuna dan Jawa kuna. Teks SSMG berbentuk prosa didaktis, berupa ajaran dari Sang Pandita kepada muridnya, Sang pengabdi darma. Berdasarkan catatan kepurbakalaan Krom (1914), naskah ini didapatkan dari RAA Martanagara (Bupati Bandung, 1893-1918) yang disumbangkan ke Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen (BGKW). Teks ini pernah diteliti oleh C.M Pleyte pada tahun 1914, meski secara fragmentaris, dan dijadikan lampiran untuk melengkapi artikelnya yang diberi judul ‘Poernawidjaja’s Hellevaart of de Volledige verlossing; Vierde bijdrage tot de kennis van het oude Soenda’. Pleyte memberi judul ‘Sanghyang Pustaka’ terhadap naskah ini.


Mengapa naskah ini demikian penting untuk diteliti lebih dalam? Setidaknya ada beberapa alasan. Pertama, naskah ini tiada duanya alias tunggal. Jika terus menerus didiamkan di laci kabinet atau di peti tanpa ada upaya untuk membacanya, niscaya lama-lama bisa hancur, dan kita tidak bisa mengharapkan lagi kedatangan Brandes untuk menyelamatkan naskah ini seperti yang ia lakukan di Lombok ketika menyelamatkan naskah Pararaton.

Kedua, di dalam teks SSMG sedikitnya mengandung 49 bab yang berisi konsep kepercayaan orang Sunda pada masa lalu (sekitar abad ke 16), seperti yang terkandung dalam teks Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK). Dasasila (Sepuluh tingkah laku yang baik), dasakalésa (sepuluh keadaan kotor), dasamala (sepuluh noda), dasawisésa (sepuluh kekuasaan), pañcaiyatna (lima peringatan), caturupaya (empat usaha), trikaya (tiga tindakan jasmani) adalah sebagian kecil konsep-konsep yang diuraikan dengan cukup rinci dalam teks SSMG. Kedua teks ini memang saling melengkapi.

Ketiga, dalam naskah inilah rupanya, konsep istilah ‘sastra’ tergambarkan dengan cukup rinci. Konsep sastra (tulisan) terdapat pada bagian ke-3 yang disebut dasawredi ‘sepuluh kemajuan’. Pada bagian ini diterangkan berbagai istilah tulisan yang tertera pada berbagai media: emas, perak, tembaga, baja, besi, batu, papasan kayu bambu, lontar, dan gebang. Keterangan yang terdapat dalam bagian ini setidaknya dapat menjawab pertanyaan dari kapan orang Sunda mengenal istilah sastra. Selain itu juga menerangkan fungsi dan peranan dari masing-masing tulisan tersebut.

Keempat, naskah ini mengandung lebih kurang delapan siloka berbahasa Sangskerta Nusantara. Jumlah ini lebih banyak bila dibandingkan dengan siloka yang terkandung dalam Siksa Kandang Karesian yang hanya terdiri dari satu siloka. Bagian ini setidaknya bisa menerangkan bagaimana Siloka India berusaha dipertahankan oleh masyarakat Sunda pada masa lalu.

Kelima, dalam teks ini terdapat 35 istilah untuk mata pencaharian masyarakat Sunda pada waktu teks ini ditulis (sekitar awal abad ke-16). Meski tidak serinci seperti yang terdapat dalam teks SSKK, tetapi kiranya teks SSMG akan melengkapi bagian-bagian yang tidak tercatat dalam SSKK. Umpamanya, dalam teks SSMG disebut ‘kalapa bajra ma na panyadap’ (yang bekerja dengan pohon aren disebut panyadap) (Lempir 18r), atau leutak sibalagada ma na panyawah (yang bekerja dengan lumpur disebut panyawah) (Lempir 18r). Tentu data tersebut bisa dijadikan pijakan, bahwa mata pencaharian menyadap nira dan bersawah telah (atau masih) dilakukan setidaknya ketika teks ini ditulis.

Keenam, dalam kolofon disebutkan bahwa teks ini ditulis di Desa Mahapawitra di sekitar Gunung Jedang. Penyebutan Desa Maha Pawitra dan Gunung Jedang sebagai nama tempat dalam kolofon identik dengan tempat penulisan teks-teks ‘Sanghyang Hayu’ yang terdapat dalam kropak 634 (Serat Catur Bumi, 1523 M) dan kropak 637 (Serat Séwaka Darma, tanpa tahun) yang telah diteliti oleh Undang A Darsa tahun 1998 dalam tesisnya. Artinya, apabila Desa Mahapawitra ini dapat teridentifikasikan, tentu akan menjadi sumbangan berharga bagi kajian skriptorium naskah Sunda kuna dan kabuyutan-kabuyutan menghasilkan karya-karya untuk anak cucunya.

Ketujuh, dalam kaitannya dengan kajian kebahasaan Sunda kuna, naskah SSMG dapat memberikan sumbangan data yang luar biasa, terlebih lagi bila diupayakan perbandingan dengan bahasa Sunda yang digunakan sekarang. Beberapa contoh menarik kiranya bisa disebutkan. Kata hiwang ‘cemas, gelisah’ dalam Sunda kuna mengalami perubahan menarik menjadi hariwang dengan arti yang sama. Kata ‘borang’ yang dalam Sunda kuna berarti ‘takut’ dalam Sunda modern hanya dikenal borangan ‘penakut’, kata borang sendiri sudah tidak digunakan. Kata bangah yang dalam Sunda kuna berarti ‘lengah’, dalam Sunda modern hanya dikenal balangah (sisipan –al-) dengan arti yang sama. Ini menjadi penting, karena kajian leksikografi Sunda yang terlihat pada kamus-kamus bahasa Sunda saat ini, kurang optimal dalam menelusuri asal-usul sebuah leksem. Bila seorang penyusun kamus bahasa Sunda bisa menulis Skt di depan kata satia (artinya penyusun kamus mengetahui bahwa kata satia berasal dari bahasa Sangskerta!), mengapa tidak (atau belum) bisa mencantumkan SdK (Sunda Kuna) di depan kata borangan, hariwang, atau balangah yang memang berasal dari bahasa Sunda kuna?

Ketujuh alasan diatas tentu belumlah lengkap dan bisa bertambah apabila dilakukan kajian yang lebih mendalam terhadap naskah ini.

0 comments:

Post a Comment

Daftar Artikel