Berlangganan via email

Seluruh tulisan, gambar, dan foto dalam blog ini di bawah lisensi: Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Friday, 20 March 2009

Berkunjung Ke Perpusnas


Kalau anda berkunjung ke Perpusnas, sempatkanlah berkunjung ke lantai 5 di Gedung Pusat Jasa. Di situlah tempat penyimpanan naskah kuno nusantara. Naskah Sunda juga disimpan di ruangan ini.

Penelusuran Naskah Sunda
Untuk menelusuri naskah Sunda, pembaca dapat menggunakan panduan Katalog Manual dan Katalog Digital. Untuk katalog Manual, disarankan pembaca terlebih dahulu membaca Katalog Naskah Sunda karangan Eddy S. Ekadjati (terbitan LKUP, 1998) atau Katalog Induk Naskah Nusantara Koleksi Perpusnas (Behrend, ed., 1998 Terbitan Yayasan Obor), di ruang baca juga tersedia. Pengunjung juga bisa memanfaatkan katalog digital PNRI di
http://opac.pnri.go.id/opac/. Dengan demikian, pencarian naskah akan lebih mudah.




Penyimpanan Naskah Sunda
Naskah Sunda Koleksi Perpusnas disimpan di rak dan peti, untuk koleksi kertas yang sudah berjilid, disimpan di rak. Sedangkan untuk koleksi Lembaran yang belum dijilid dan koleksi daun lontar, nipah, dan bambu disimpan dalam peti.

Pengkodean (Nomor Panggil) naskah Sunda
Naskah Sunda diklasifikasikan sebagai berikut:
SD : Koleksi inti Naskah Sunda (Naskah kertas)
P... L ..: P berarti No peti, L nomor kropak (untuk naskah lontar, nipah, dan bambu)
PLT : Naskah yang dulunya milik C.M. Pleyte (Orang Belanda yang banyak menaruh perhatian
terhadap Sunda). Semuanya naskah kertas
KFH : Naskah yang dulunya milik K.F. Holle. Kebanyakan berupa surat-surat dari bangsa pribumi
kepada beliau, dan banyak catatan-catatan mengenai budaya Sunda. semuanya naskah
kertas.
NBR : Arsip Brandes, hampir sama dengan KFH.
LBR : Lemari Brandes, naskah lembaran yang disimpan dalam lemari Brandes

Naskah-naskah di atas sebagian belum dimikrofilmkan atau didigitalkan, yaitu naskah kode PLT dan sebagian naskah SD. Naskah lontar, nipah, bambu juga hampir semuanya belum dimikrofilm dan didigitalkan.

Selain dari koleksi utama tersebut, terdapat juga salinan (bentuk mikrofilm) naskah dari lembaga-lembaga di Jawa Barat, seperti EFEO, YAPENA, Museum Sri Baduga, dll. Khusus penelusuran koleksi ini menggunakan Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 5, Jawa Barat Koleksi Lima Lembaga (Edi S. Ekadjati dan Undang A. Darsa. Mikrofilm Jawa Barat ini diisimpan dengan kode ROLL UNPAD 1-50.
Google book: http://books.google.com/books?id=RheSrkiK2zYC&printsec=frontcover&dq=Katalog+induk+naskah-naskah+Nusantara&lr=#PPA6,M1

Sebagian kecil naskah telah didigitalkan, pengunjung bisa mengunjungi situs halaman http://opac.pnri.go.id/digicol/default.aspx

dan contoh naskah yang sudah dialihmediakan dalam bentuk digital dapat dilihat di
http://opac.pnri.go.id/opac/UploadedFile/manuskrip/sd030/Default.html

Bahan naskah Sunda
Lontar, nipah, bambu, kertas eropa dan kertas pabrik

Aksara
Buda/Gunung => naskah yang ditulis dalam nipah hampir semuanya ditulis dengan aksara ini.
Sunda Kuno => naskah Lontar hampir semuanya ditulis dengan aksara ini.
Cacarakan => biasanya untuk naskah setelah periode Mataram berkuasa di tanah Sunda. Kebanyakan ditulis oleh kalangan menak.
Pegon => biasanya untuk naskah keagamaan, sastra, dll. Kebanyakan naskah wawacan dan yang berasal dari pesantren
Latin => naskah-naskah yang agak baru atau salinan dari naskah dari aksara yang lain.

Isi Naskah
Keagamaan (Suluk, Doa, Mantra, dll), Sastra (Wawacan, Carita Pantun, dll), Kemasarakatan (Pertanian, Hukum, Obat-obatan, dll), Sejarah, Surat-surat, dll.

Pembaca bisa mendapat layanan dari pukul 09.00-16.00 WIB.
Naskah tidak bisa dipinjam dan difoto kopi. Jika pembaca ingin mendapat kopiannya, bisa memesan print out dari mikrofilm.

Semoga bermanfaat.

0 comments:

Post a Comment

Daftar Artikel