Berlangganan via email

Seluruh tulisan, gambar, dan foto dalam blog ini di bawah lisensi: Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Tuesday, 9 September 2008

Saleh Danasasmita (1933 – 1986)

Sejarawan, sastrawan, budayawan Sunda. Perhatiannya lebih besar terhadap sejarah Sunda. Meskipun secara formal Saléh adalah lulusan jurusan sajarah IKIP Bandung éksténsion Bogor, tapi di luar itu ia mempelajari ilmunya secara otodidak, seperti bahasa Kawi, bahasa Sunda Kuno, juga mempelajari huruf-huruf dalam prasasti dan naskah Sunda. Selain perhatiannya yang besar terhadap sejarah, Saleh juga sering menulis mengenai wayang dan kesenian.

Penelitian yang diterbitkan dalam bentuk buku yang telah terbit semuanya tentang sejarah Sunda yang bersumber pada naskah Sunda, di antaranya: Séwaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karsian, Amanat Galung­gung (Ketua Tim, 1987), Babad Pakuan atau Babad Pajajaran (dua jilid, 1977), Sejarah Jawa Barat (opat jilid, 1984), Sejarah Bogor (1983) dan lain-lain.

Saleh Danasasmita dilahirkan di Sumedang (7 Juni 1933), meninggal dunia di Bogor (8 Agustus 1986). Sempat menjadi guru di Bogor, mulai dari SMP, dilanjutkan di SMA dan SPG. Pernah pula menjadi Kepala Seksi Kebudayaan Kandepdikbud Bogor (1975-84), lalu menjadi Kepala Seksi Kebudayaan Kandepdikbud Bogor (1975-84), dan menjadi Kepala Seksi Tenaga Teknis Bidang Muskala Kanwil Depdikbud Jawa Barat (1984-86). Pernah juga menjadi anggota DPRD Kodya Bogor (1964-67).

Saleh Danasasmita merupakan salah satu pendiri sekaligus redaktur majalah Manglé di Bogor juga mendirikan dan memimpin majalah Baranangsiang (1961-63).

Dari Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya (Termasuk Budaya Betawi dan Cirebon). 2000. Jakarta: Pustaka Jaya.

0 comments:

Post a Comment

Daftar Artikel