Berlangganan via email

Seluruh tulisan, gambar, dan foto dalam blog ini di bawah lisensi: Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Tuesday, 24 June 2008

Bidang Kesenian Dalam Naskah Sunda Kuno

Oleh Undang A. Darsa

Tadaga carita angsa
Gajéndar carita banem
Matsyanem carita sagarem
Puspanem carita bangbarem (SSK)

‘Bila ingin tahu telaga tanyalah angsa
Bila ingin tahu hutan tanyalah gajah
Bila ingin tahu laut tanyalah ikan
Bila ingin tahu bunga tanyalah kumbang’

I

Ada sekitar 21 buah naskah yang telah tersedia dalam bentuk cetakan dan laporan hasil penelitian filologis, yang berisi teks-teks yang nampaknya berasal dari sebuah periode abad XV-XVII Masehi dan ditulis dalam sebuah model aksara Sunda Kuno dan aksara Buda/Gunung. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda Kuno dan Jawa Kuno. Bahasa Sunda Kuno yang dipergunakan untuk mengungkakan teks-teksnya itu pun sedikit banyak menunjukkan secara jelas perbedaan karakteristik dari bahasa Sunda saat ini.

Teks-teks tertulis tersebut telah diawetkan dalam naskah-naskah yang ditoreh di atas daun lontar, dan ditulis dengan tinta atau ditoreh di atas daun nipah. Sebagian dari teks-teks itu ada yang disajikan dalam bentuk prosa dan sebagian lagi berbentuk puisi khas bahasa Sunda. Naskah-naskah yang dimaksud adalah: Carita Parahyangan (CP), Fragmen Carita Parahyangan (FCP), Séwaka Darma (SD), Carira Ratu Pakuan (CRP), Carita PurnawijayaCPw), Kawih Paningkes (KP), Lesjes van Soenan Goenoeng Djati (Kosmologis), GemengdSilsilah Prabu Siliwangi, Mantera Ajicakra, Mantera Darmapamulih, Ajaran Islam), JatiragaJatiniskala (Jtr/Jtn), Darmajati, Bimasorga, Sanghiyang Siksakandang Karesian (SSK), Amanat Galunggung (AG), Serat Catur Bumi (Sang Hyang Hayu/SHH: edisi teks), Serat Buana Pitu (SHH), Serat Séwaka Darma (SHH), Serat Déwa Buda (SHH), Sang Hyang Raga Déwata (SRD), Kisah Keturunan Rama dan Rawana atau Pantun Ramayana (PRR), Kisah Perjalanan Bujangga Manik (BM), Kisah Sri Ajnyana (SA), dan Naskah Ciburuy I dan Naskah Ciburuy II. ( ( atau

Dari kedua puluh satu naskah Sunda kuno tadi, naskah Sanghyang Siksakandang KaresianSSK) merupakan naskah yang dapat dikategorikan sebagai semacam “Ensiklopedi Sunda Kuno”, karena telah mampu memberi gambaran tentang pedoman umum kehidupan masyarakat pada masa itu, termasuk berbagai ilmu yang harus dikuasai sebagai bekal kehidupan praktis sehari-hari. Secara garis besar, SSK itu terdiri atas dua bagian, yaitu bagian yang disebut dasakreta, isinya menekankan ajaran akhlak dan tugas serta kewajiban setiap orang; dan bagian yang disebut darma pitutur, isinya lebih banyak merupakan pengetahuan umum yang seyogyanyadiketahui orang banyak. (

II

Tentu saja bagian yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, khususnya bidang “kesenian” dengan sendirinya terdapat dalam bagian darma pitutur. Bagian ini dimulai dengan semacam pengantar:

Kitu kéh urang janma ini. Lamun dék nyaho di puhun suka lawan énak ma ingetkeun sang darma pitutur. Kalinganya, kita ja rang dék céta, ulah salah geusan nanya (SSK:15) ‘Demikianlah kita manusia ini. Bila ingin tahu sumber kesenangan dan kenikmatan, ingat-ingat kata sang Darma Pitutur. Maksudnya, bila kita akan bertindak, jangan salah mencari tempat bertanya’.

Setiap bidang ilmu mempunyai ahlinya masing-masing. Semuanya itu dapat diartikan agar kita tidak salah memilih tempat bertanya. Orang-orang tempat bertanya itu ialah: dalang ‘dalang’, paraguna ‘ahli seni musik’, hempul ‘ahli permainan rakyat’, prepantun ‘ahli ceritera/kisah’, lukis ‘ahli seni lukis’, panday ‘ahli perkakas’, marangguy ‘ahli seni ukir’, hareup catra ‘ahli masakah/kuliner’, pangeuyeuk ‘ahli membatik’, pratanda ‘ahli dalam jenjang keagamaan’, hulujurit ‘ahli strategi perang’, brahmana ‘ahli mantra’, janggan ‘ahli dalam hal pemujaan’, bujangga ‘ahli gejala alam’, pandita ‘ahli dalam hal isi pustaka’, ratu ‘ahli sistem pemerintahan’, mangkubumi ‘ahli sistem pertanahan’, puhawang ‘ahli sistem kelautan’, catrik byapari ‘ahli sistem harga’, wiku paraloka ‘ahli perilaku dewa’, dan jurubasa darmamurcaya ‘ahli bahasa’.

Dari kedua puluh satu bidang keahlian tersebut, sebanyak 5 buah yang jelas tergolong dalam bidang seni, yaitu: dalang, paraguna, hempul, lukis, marangguy.

1. Dalang adalah orang yang mengetahui berbagai kisah/ceritera pertunjukan, yaitu: Darmajati, Sanghyang Bayu, Jayaséna, Sédamana, Pu Jayakarma, Ramayana, Adiparwa, Korawasrama, Bimasor(g)a, Ranggalawé, Boma, Sumana(santaka), Kalapurbaka, Jarini, dan Tantri.

2. Paraguna adalah orang yang mengetahui berbagai macam lagu dan alirannya, yaitu: Kawih Bwatuha, Kawih Panjang, Kawih Lalaguan, Kawih Panyaraman, Kawih Sisindiran, Kawih Péngpélédan, Bongbongkaso, Pérérané, Porod Eurih, Kawih Babahanan, Kawih Bangbarongan, Kawih Tangtung, Kawih Sasambatan, dan Kawih Idgel-igelan.

3. Hempul adalah ahli permainan rakyat yang dapat menerangkan dengan baik berbagai jenis permainan, yaitu: Céta Maceuh, Tatapukan, Babarongan, Babakutrakan, Ubang-ubangan, Neureuy Penca, Munikeun Lembur, Ngadu Lisung, Asup kana Lantar, dan Ngadu Nini.

4. Lukis adalah ahli lukisan yang dapat menerangkan hal-hal yang berkenaan dengan bidang seni lukis, termasuk corak-coraknya, seperti: Pupujengan, Hihinggulan, Kekembangan, Alas-alasan, Urang-urangan, Mémétahan, Sisirangan, Tarukhata, dan Kembang Taraté.

5. Marangguy adalah ahli dalam bidang ukiran yang dapat menerangkan bermacam-macam seni ukir, seperti: Dinanagakeun, Dibarongkeun, Ditiru Paksi, Ditiru Wéré, Ditiru Singa.

Namun demikian, prepantun dan pangeuyeuk adalah 2 bidang yang cenderung bernuansa kesenian.

1. Prepantun adalah ahli ceritera pantun yang dapat menerangkan tentang kisah: Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, dan Haturwangi.

2. Pangeuyeuk adalah ahli di bidang kain dan berbagai coraknya, seperti: Kembang Muncang, Gagang Sénggang, Sameleg, Seumat Karuhun, Anyam Cayut, Sigeji, Pasi-pasi, Kalangkan Ayakan, Manginharis Silihganti, Boéhsiang, Bebernatan, Papakanan, Surat Awi, Parigi Nyéngsoh, Gaganjar, Lusin Bésar, Kampuh Jayanti, Hujan Riris, Boéh Alus, dan Ragén Pangantén.***
Undang A. Darsa, Dosen & Peneliti Fak. Sastra Unpad dalam bidang Filologi Sunda Kuno. Tulisan ini disampaikan dalam Diskusi Pusat Studi Sunda bulan Maret 2008.

dari Website Daluang.com

0 comments:

Post a Comment

Daftar Artikel