Seluruh tulisan, gambar, dan foto dalam blog ini di bawah lisensi: Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Saturday, 26 October 2013

A. Teeuw dan Kajian Sunda Kuna

NOORDUYN, J. & A. TEEUW (2009). Tiga Pesona Sunda Kuna (Judul Asli: Three Old Sundanese Poems). Bahasan diterjemahkan oleh HAWÉ SETIAWAN; Teks Naskah Sunda Kuna langsung diterjemahkan oleh TIEN WARTINI DAN UNDANG AHMAD DARSA. Jakarta: Kerjasama KITLV-Jakarta dan Pustaka Jaya. Tebal: 568 hlm. ISBN 978-979-419-356-3. Harga: Rp. 123.000, - Tidak seperti kajian terhadap teks Jawa Kuna, kajian terhadap teks-teks Sunda Kuna sungguh sangat terbatas. Meski para sarjana Belanda seperti K.F. Holle dan C.M. Pleyte telah memulai penelitian terhadap teks-teks tersebut sejak lama, tetapi aspek-aspek penting dari teks seperti bahasa, sejarah, dan bentuk kesusastraan belum terungkap dengan memadai. Hingga pada tahun 1960-an, hadirlah Jacobus Noorduyn (1926–1994), sarjana Belanda yang mulai melakukan kajian terhadap teks-teks Sunda kuna, di antaranya tiga puisi yang disajikan dalam buku yang akan kita bahas, yaitu Para Putera Rama dan Rahwana (PRR), Pendakian Sri Ajnyana (SA), dan Kisah Bujangga Manik: jejak langkah peziarah (BM). Sangat disayangkan, penyakit fatal Noorduyn merintanginya menyelesaikan penelitian atas ketiga puisi Sunda Kuna tersebut. Sejumlah aspek dari ketiga puisi tersebut memang sempat dicatat oleh Noorduyn dalam beberapa artikel, tetapi edisi lengkapnya belum sempat diselesaikan dan dipublikasikan. Di sinilah peran Prof. Dr. A. Teeuw (1921–2012), sahabat dan kolega Noorduyn, patut kita catat. Ia berhasil menyelesaikan edisi lengkap ketiga puisi Sunda kuna tersebut dan menerbitkannya dengan judul Three Old Sundanese Poems (KITLV Press, 2006). Untuk keperluan pembaca Indonesia, pada tahun 2009 buku tersebut diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia.
A. Teeuw dan kajian Sunda Kuna Setelah Prof. Teeuw menyelesaikan edisi baru Kamus Indonesia-Belanda pada tahun 1996, barulah ia menggarap naskah-naskah yang sebelumnya dikerjakan Noorduyn. Butuh waktu sekitar lima tahun baginya untuk menyelesaikan kajiannya itu secara menyeluruh. Meski demikian, pada tahun 1999 Prof. Teeuw telah berhasil menulis artikel tentang salah satudari ketiga puisi Sunda Kuna yang digarapnya, yaitu Bujangga Manik. Artikel tersebut diselesaikan oleh Prof. Teeuw dengan menggunakan bahan-bahan yang dikumpulkan oleh Noorduyn. Dengan sangat bijak Prof. Teeuw menempatkan namanya setelah nama Noorduyn sebagai penulis artikel tersebut. Akhirnya, pada tahun 2001, draft buku yang telah lengkap diserahkan kepada KITLV untuk diterbitkan. Sebetulnya Prof. Teeuw berharap bukunya dapat terbit pada tahun 2002, tetapi ternyata buku tersebut baru dapat terbit empat tahun kemudian (2006). Beberapa bulan setelah menyelesaikan draft final bukunya, tepatnya 23 Agustus 2001, Prof. Teeuw menyempatkan memberikan ceramah tentang hasil kajiannya berdasarkan bahan-bahan Noorduyn atas ketiga puisi Sunda Kuna tesebut pada Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) di Bandung. Bagi para peserta konferensi waktu itu, kehadiran Prof. Teeuw cukup mengejutkan, terlebih ia menulis makalah tentang kesusastraan Sunda pada periode yang masih ‘gelap’. Dapat dikatakan bahwa Prof. Teeuw adalah seorang ‘mualaf’ dalam jagat pernaskahan Sunda Kuna, tetapi berkat pengalamannya yang luas dalam meneliti naskah Melayu dan Jawa Kuna, banyak pertanyaan seputar teks Sunda kuna dapat terjawab melalui perbandingan intertekstualnya baik dengan teks-teks Melayu maupun Jawa Kuna. Catatan atas naskah Buku ini terdiri dari sembilan bab; mencakup Pendahuluan (Bab I), Bentuk Bahasa dan Puisi (Bab II), Isi Teks dan Analisis (Bab III), Penyajian Teks dan Terjemahan (Bab IV–VI), Kata Akhir (Bab VII), Catatan atas Teks dan Terjemahan (Bab XIII), dan Daftar Istilah (Bab IX). Tidak dapat disangkal, bahwa sejauh ini penelitian Noorduyn dan Teeuw adalah penelitian naskah Sunda Kuna yang terbaik. Dengan tidak kurang dari 170 judul buku dan artikel didaftarkan dalam bibliografi dan daftar kosa kata yang berlimpah, pembaca dapat menikmati uraian terperinci dari tiga puisi Sunda Kuna yang disajikan. Ulasan ini tidak menyajikan ringkasan seluruh isi buku, melainkan hanya mencatat tiga hal yang menurut penulis perlu dikedepankan. Pertama catatan atas uraian tentang ketiga naskah yang disunting. Dalam Pendahuluan, Teeuw memberikan gambaran tentang naskah berdasarkan catatan Noorduyn (hlm.18–20). Dari ketiga naskah, hanya naskah yang memuat BM yang, meski masih diselimuti keraguan, asal-usulnya dapat diketahui dari beberapa artikel Noorduyn (1985). Dua naskah lainnya, yaitu naskah yang berisi teks PRR dulu disimpan di Jakarta (Musium Pusat) dengan nomor koleksi kropak 1102 dan kini dialihkan ke museum Sri Baduga di Bandung (hlm. 15). Naskah terakhir, yaitu yang memuat teks SA, terdapat dalam kropak yang seharusnya masih ada di Perpustakaan Nasional, Jakarta, dengan nomor 625; namun, dewasa ini teks tersebut tidak lagi dapat ditemukan dalam koleksi Jakarta (hlm. 16). Naskah yang disebut terakhir perlu mendapat perhatian, karena tidak diketahui apa yang mendasari Prof. Teeuw menyatakan bahwa naskah SA tidak lagi di tempatnya. Mungkin saja Prof. Teeuw berpedoman pada draft yang dibuat Noorduyn atau pada katalog-katalog naskah Sunda yang memang tidak mendaftarkan naskah ini dan tidak berkesempatan untuk menelusuri naskahnya di Jakarta. Naskah 625 hanya terdaftar dalam Katalog Induk Naskah Nusantara, Jilid 4: Perpustakaan Nasional RI yang disunting oleh Behrend (1996). Dalam katalog tersebut terdapat keterangan bahwa naskah lontar 625 berjudul Serat Pangruwatan (tertulis pada label), beraksara Bali dan berbahasa Jawa Kuna. Ketika saudara Munawar Holil (Universitas Indonesia) dan saya melakukan penelusuran terhadap naskah Sunda Kuna koleksi Perpusnas pada tahun 2010, kami melihat bahwa naskah lontar 625 yang tercatat dalam Katalog Behrend tidak lain dari naskah yang berisi teks Sri Ajnyana. Teks SA ditulis diatas daun lontar berukuran 28 × 3,2 cm, terdiri dari 27 lempir, sesuai dengan draft transliterasi yang dikerjakan Noorduyn. Berdasarkan notulen dan catatan kepurbakalaan Krom & Bosch, naskah SA diperoleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappendari ahli waris Bupati Bandung, R.A.A Wiranatakusumah IV (w. 1874), pada tahun 1875. Jadi, naskah diserahkan setahun setelah kematian Bupati, dengan berbagai syarat dari ahli waris. Dengan pembuktian bahwa naskah SA tidak hilang dan masih tersedia bagi kita, maka penelitian lebih lanjut, setidaknya tinjauan aksara dan paleografis, dapat dilakukan dalam rangka melengkapi telaah Noorduyn dan Teeuw. Catatan atas terjemahan teks Catatan saya yang kedua, menyangkut terjemahan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam edisi ini, terdapat keterangan bahwa teks Sunda Kuna diterjemahkan langsung oleh Tien Wartini dan Undang Ahmad Darsa, sedangkan bahasan diterjemahkan oleh Hawé Setiawan. Dengan kata lain, pengertian ‘diterjemahkan langsung’ berarti diterjemahkan dari teks Sunda Kuna tanpa melalui terjemahan dalam bahasa Inggris yang telah dihasilkan Noorduyn dan Teeuw. Tentu saja, implikasinya, bahwa dalam banyak bagian teks, terdapat perbedaan antara terjemahan Noorduyn dan Teeuw dengan terjemahan Tien Wartini dan Undang Darsa. Beberapa diantaranya cukup mencolok. Dengan demikian, kita berhadapan dengan dua versi tejemahan atas tiga teks puisi Sunda Kuna yang sama. Keadaan ini dapat menyulitkan pembaca, setidaknya ketika pembaca merujuk terjemahan kepada daftar kosa kata. Terdapat kasus, meski tidak terlalu banyak, makna suatu kata dalam terjemahan teks berbeda dengan makna yang terdapat dalam daftar kosa kata. Sejumlah contoh berikut kiranya dapat memberikan gambaran. (1) PRR 70 Pala-pala panten tandang, melarang putri kerajaan, Dalam daftar kosa kata, pala-pala (s.v. pala II) berarti ‘menyimpan, melindungi’, band. Jawa kuna (JwK) pāla (hlm. 443) dan panten tandang (sv. panten) berarti ‘penguasa (kerajaan)’, paralel dengan panghulu tandang (RR 188, 992). Terjemahan Noorduyn dan Teeuw ‘If I can protect the royal mistresses’, lebih baik dipertahankan. (2) PRR 150 “Aduh ila-ila teuing!”, “Aduh, betapa herannya!”, Dalam daftar kosa kata, ila-ila teuing (sv. ila-ila) diartikan ‘betapa mengerikan! sungguh memalukan!” dikaitkan dengan JwK hila-hila ‘terlarang, tabu, dosa’. Jika melihat konteks cerita, kalimat tersebut diucapkan Sombali ketika menemukan putra Rahwana yang lahir dari luka serta sedang mengulum darah, maka kata ‘heran’ agaknya kurang tepat. Kalimat di atas sebaiknya diterjemahkan “Aduh, betapa mengerikan!” atau persis dengan terjemahan Noorduyn dan Teeuw “Alas, what a shame!” (“Aduh, sungguh memalukan!”). (3) PRR 240 isun hirup aing éra, selama hidupku akan menanggung malu, ja éta sida jeung bapa. karena dia hidup bersama ayahnya. Dalam daftar kosa kata, makna sida diterangkan sebagai ‘bersetubuh’ (hlm. 467). Terjemahan ini dipastikan oleh Noorduyn melalui perbandingan intertekstual dengan teks Carita Parahyangan yang di dalamnya terdapat ungkapan sida sapilanceukan ‘bersetubuh dengan saudara’ (CP.11a) dan sida pasanggaman ‘bersenggama’ (CP.43a). Terjemahan ‘bersenggama’ lebih baik dibandingkan dengan ‘hidup’. Hidup bersama ayah adalah keniscayaan, sedangkan bersenggama dengan ayah adalah hal yang sangat tabu. Noorduyn dan Teeuw menerjemahkan kalimat tersebut ‘because she cohabited with (her) father’ dengan pengertian bahwa cohabited adalah hidup sebagai ‘suami-istri’. (4) SA 71 Hilang na cipta nirmala hilang dalam jiwa tidak bersih Kasilihan cipta mala diganti oleh jiwa yang tidak murni Di atas terdapat nirmala dan mala. Dua kata tersebut diartikan hampir sama: ‘tidak bersih dan tidak murni’, padahal kata mala merupakan kata pinjaman dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘kotor, cela’, jika ditambah kata awalan Sanskerta nir menjadi sebuah negasi yang berarti ‘tanpa kotoran, bersih, murni’. Dengan demikian kalimat di atas seharusnya diterjemahkan “Hilanglah pikiran yang bersih, tergantikan oleh pikiran yang kotor”. Ini sesuai dengan terjemahan Noorduyn dan Teeuw, yang menerjemahkan kedua kata tersebut menjadi ‘pure’ dan ‘impure’: the pure spirit disappeared, being replaced by the impure spirit. Masalah transliterasi Masalah ketiga, yang menurut hemat saya merupakan kontribusi paling penting Prof. Teeuw dalam buku ini adalah terbukanya ruang diskusi bagi pengembangan metodologi penelitian Sunda Kuna, terutama dalam bab yang disebut Masalah transliterasi (Bab I, hlm. 22–26). Patut dipahami bahwa Prof. Teeuw berhadapan dengan draft kasar dari Noorduyn, sementara di bagian lain ia pun mengakui keterbatasannya dalam bidang paleografi Sunda (hlm.18). Sebagai pembaca yang tidak sempat memeriksa naskah lontar asli, ia menyoal pembedaan antara dua huruf hidup yang ditransliterasikan menjadi e dan eu. Dengan memperhatikan kecermatan Noorduyn, siapapun, termasuk Prof. Teeuw sendiri, akan beranggapan bahwa Noorduyn membedakan kedua huruf hidup tersebut dengan bertopang pada oposisi grafis di antara huruf-huruf itu. Sebaliknya, dalam sejumlah kecil publikasi naskah Sunda Kuna, para penyunting tidak membedakan antara e dan eu. Noorduyn sendiri menyebut bahwa dalam Carita Parahyangan, tulisan Sunda Kuna tidak membedakan antara e dan eu. Kita mendapatkan kesan bahwa, untuk kasus ini, sebagian besar penyunting Sunda Kuna membuat transkripsi bukan berpegang pada tanda yang bersangkutan dalam naskah, tetapi pada tanda-tanda yang diharapkan dalam ejaan bahasa Sunda Modern. Undang A. Darsa, setelah mengadakan pemeriksaan lebih cermat atas naskah yang memuat Bujangga Manik dan beberapa naskah lainnya, berpendapat bahwa memang ada perbedaan paleografis yang sangat kecil, dalam bentuk tambahan cakra kecil pada tanda pepet (ĕ) yang menunjukkan paneuleung (eu) (hlm.23). Jika penemuan ini terbukti oleh penelitian-penelitian selanjutnya, maka perlu ada evaluasi besar-besaran untuk memeriksa kembali naskah Sunda Kuna yang sudah disunting. Ini adalah persoalan yang cukup mendasar dalam filologi Sunda Kuna. Tanpa menyangkal standar tinggi yang diterapkan baik oleh Noorduyn dan terutama Prof. Teeuw dalam edisi tiga puisi Sunda Kuna yang disajikan dalam buku ini, edisi teks atas tiga puisi Sunda Kuna ini kurang memperlihatkan naskah ‘seperti adanya’. Pembaca seolah kehilangan jejak untuk mendapat kesan: bagaimana naskah itu ditulis atau bagaimana ejaannya? Apakah susunan lempir naskahnya sudah benar, bagaimana merunutnya? Adakah penyalin mengoreksi kata-kata yang sudah ditulisnya? Jumlah naskah Sunda Kuna yang tersedia saat ini tidak lebih dari seratus. Sebagai sumber yang langka (bahkan banyak di antaranya merupakan codex unicus), perlu dipikirkan bagaimana wujud edisi yang paling baik dalam menyajikan teks-teks dari naskah kuno itu. Dalam kondisi yang kita hadapi ini, perlu dipikirkan kembali edisi diplomatis yang secara ideal dihadirkan bersama edisi faksimil naskah, dan jika memungkinkan dilengkapi oleh edisi kritis dan terjemahan. Ini adalah sarana terbaik dalam menyajikan ‘dokumen’ Sunda Kuna sebagaimana adanya di satu sisi dan memperlihatkan langkah demi langkah intervensi filolog dalam menyunting ‘karangan’ dari dokumen tersebut di sisi lain. Penutup Upaya penerjemahan hasil kajian filologi para pakar asing ke dalam bahasa Indonesia sangat penting dilakukan demi keperluan pembaca yang lebih luas di Indonesia. Karenanya, upaya Pustaka Jaya dan KITLV-Jakarta untuk menerjemahkan buku Three Old Sundanese Poems karya Noorduyn dan Teeuw ini perlu mendapat apresiasi. Meski demikian, akan lebih baik jika terjemahan tersebut sedapat mungkin mengikuti versi aslinya dalam bahasa Inggris, sehingga pembaca dapat benar-benar mengikuti secara intens jalan pikiran dan argumen yang dibangun oleh penulisnya. Bagaimanapun, usaha A. Teeuw menerbitkan tiga puisi Sunda Kuna yang belum sempat diselesaikan karibnya, J. Noorduyn, adalah sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan kajian kesusastraan Sunda Kuna pada khususnya, dan filologi Indonesia pada umumnya. Sudah genap setahun sejak Prof. Teeuw meninggalkan kita semua (beliau wafat 18 Mei 2012), tetapi setiap orang yang mau meneliti sumber-sumber lama dari Nusantara (khususnya Jawa Kuna, Melayu, dan tentu saja Sunda Kuna), niscaya selalu bertemu dengan namanya.

Read more »

Monday, 21 January 2013

Sinurat Ring Merega; Tinjauan atas Kolofon Naskah Sunda Kuna

Atep Kurnia
(Bergiat di Pusat Studi Sunda)

Menurut hasil rekatalogisasi Holil dan Gunawan (2010), Perpustakaan Nasional mengoleksi 63 Naskah Sunda Kuna (NSK). Di samping menerakan jumlah NSK, kedua penulis itu juga melampirkan pemerian NSK yang ada di Perpusnas RI. Dari lampiran tersebut dapat diketahui ada beberapa puluh NSK yang mengandung kolofon di akhir teksnya, karena kedua penulis itu juga menyeertakan manggala atau awal teks NSK dan  kalimat-kalimat yang ada di akhir teksnya. Oleh karena itu, untuk keperluan tulisan ini penelusuran keduanya sangat membantu. 

Saya juga menggunakan berbagai sumber bacaan untuk menambah luas pemahaman, termasuk di dalamnya, transkripsi, transliterasi, dan terjemahan NSK yang selama ini telah dikerjakan para filolog dan peneliti NSK. Selain itu, bahan-bahan bacaan mengenai perikehidupan kegiatan literasi di Jawa Tengah dan Timur, Bali, dan India, sejauh yang saya  baca, juga digunakan sebagai perbandingan untuk membaca identitas penulis-penyalin, tempat, dan waktu penulisan NSK.

Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin, serta tempat dan waktu penulisan NSK, pertama-tama saya  menyajikan tabel yang berisi kode, judul, nama penulis-penyalin, tempat, dan waktu penulisan NSK sebagaimana yang saya baca pada tulisan Munawwar Holil dan Aditia Gunawan serta bahan-bahan dari bacaan lainnya, yang pada gilirannya ditambahkan pada tabel  yang telah dibuat. Kedua, saya  melakukan analisis atas penulis-penyalin, tempat, dan waktu penulisan.



“Beunang Diajar Nulis ”
Dari tabel di atas, kita berkenalan dengan tujuh nama penulis-penyalin NSK, yakni Buyut Ni Dawit, Kai Raga, Cucu Sang Sida/Buyut Tejanagara, Euncu nu Ngaherang, Buyut Tejanagara, Sang Bujangga Resi Laksa, dan Sang Guguron.

Ketujuh nama di atas, dengan jelas menunjukkan jenis kelamin berbeda. Ada penulis perempuan dan ada juga laki-laki. Penulis perempuan diwakili Buyut Ni Dawit, sementara penulis laki-laki diwakili Kai Raga dan Sang Bujangga Resi Laksa. Sedangkan Cucu Sang Sida/buyut Téjanagara, Euncu nu Ngahérang, Buyut Téjanagara, dan Sang Guguron belum dapat dipastikan jenis kelaminnya. Mengenai Buyut Ni Dawit, ada keterangan menarik mengapa ia diasumsikan sebagai perempuan. Menurut Saleh Danasasmita, dkk , Buyut Ni Dawit adalah seorang wanita. Selengkapnya Danasasmita menyatakan:

Bila kata “buyut” berarti cicit, bukan gelar kehormatan untuk pertapa ulung, tentu penyusunnya adalah cicit Ni Dawit tanpa diketahui siapa namanya. Ada petunjuk bahwa pengarangnya wanita, sebab ia bertapa di Gunung Kumbang di pertapaan Ni Teja Puru Bancana. Pada halaman 39 iapun asyik mengisahkan sebuah gisa (lesung) dengan istilah-istilah yang khas untuk wanita seperti “dyangiran”, “dikasayan”, dan “dipesekkan”. Di samping itu, iapun paham benar kelengkapan pakaian bidadari yang tentu dikhayalkannya dari pakaian wanita bangsawan dalam zamannya.

Untuk memperluas bahasan mengenai keterlibatan perempuan dalam kegiatan baca-tulis dalam NSK, ada baiknya dilihat sumber lain yang terkait dengan hal tersebut. NSK Bujangga Manik, misalnya, dapat kita jadikan salah satu rujukan. Pada baris ke-850 hingga 868 naskah itu, digambarkan Bujangga Manik “digoda” oleh rahib perempuan. Inilah gambarannya:

850 Datang tiagi (wa)don,             Datang seorang pertapa perempuan,
      na rua mamarayaeun.            rupanya ingin menjalin persaudaraan.
      Téka béka mulung lanceuk,    Hingga terus-terang menganggap kakak,
      carékna: ‘Kaka lanceuking,     katanya: ‘Kakandaku,
      Rakaki Bujangga Manik,         Yang mulia Bujangga Manik,
855 haup aing ebon-ebon,            kemarilah, aku ini rahib perempuan,
      aing na pitiagieun,                 aku calon biarawati,
      manan hésé ku mamanéh,     daripada sulit-sulit memikirkan diri sendiri,
      rusuh ku na panga/wakan,  /16r/ repot karena penampilan badan,
      héman ku na karuaan.’          sayang sekali akan ketampananmu.’
860 Carékna Bujan(ga) Manik:      Bujangga Manik berkata:
      ‘Ku ngaing dirarasakeun.         ‘Biarlah kupertimbangkan    dahulu.
      Bawaing apus sata(m)bi,          Kubawa kitab  selengkapnya,
      Ngaran(n)a na Siksaguru.        Yang berjudul Siksaguru.
      Carék di na apus téa:                 Menurut kitab itu:
865 “Kadiangganing ring geni,       "Bagaikan kobaran api,
      lamun padeukeut deung eu(n)juk,     jika berdekatan dengan  ijuk,
      mu(ng)ku burung éta seungeut,        sudah pasti terjadi     kebakaran,
      kitu lanang deungeun wadon”.’          begitulah antara laki-laki    dengan perempuan .”

Di samping Bujangga Manik, tulisan H.I.R. Hinzler perihal naskah-naskah lontar di Bali  bisa juga dijadikan rujukan. Ketika membahas para penulis atau penyalin naskah (scribes), Hinzler (1993: 464) menyatakan:

There was no caste or sex restriction on learning to write. References to males and females being able to read and write are to be found in literary texts as well as in the colophons of manuscripts. Literary sources show this as early as the sixteenth century, but data in texts from the nineteenth century are the most abundant.

Dari uraian Hinzler, tidak ada pembatasan yang jelas [dalam hal kasta dan jenis kelamin]  penulis dan pembaca naskah ketika tradisi itu hidup di Bali, dan agaknya hal itu dapat diparalelkan dengan kehidupan para pembaca dan penulis yang hidup di Jawa Timur, Tengah, dan Jawa Barat, sekiranya tradisi menulis dan membaca naskah masih hidup di wilayah yang bersangkutan. Sebagaimana kita ketahui, tradisi menulis manuskrip di Bali sangat terpengaruh budaya literasi India dan Jawa Timur, terutama setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit, di penghujung abad ke-15. Bila diterapkan pada tradisi menulis NSK, maka hal tersebut pun agaknya tidak akan jauh berbeda.

Selanjutnya, yang menarik adalah Kai Raga. Nama penulis-penyalin ini agaknya bukan nama sebenarnya. Bisa jadi nama itu adalah nama gelaran. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa naskah yang ditulisnya. Dari keempat naskah yang diakhiri dengan keterangan Kai Raga, terselip naskah yang berisi unsur keislaman, yakni NSK “Wirid” (KBG 75). Menurut Holil dan Gunawan (2010: 146), naskah kertas daluang, bersampul kertas marmer berwarna merah dan berjumlah 12 halaman itu berisi perihal asal-usul terciptanya alam dan manusia, ditulis Kai Raga pada hari Jum’at Kliwon, bulan Muharram.

Karya yang ditulis Kai Raga tersebut bisa jadi sangat kontras dengan naskah lain yang tertulis atas namanya, misalnya NSK Kropak 420 yang ditulis di atas lontar, beraksara dan berbahasa Sunda Kuna dan berisi dialog yang bersifat moral-religius antara pendeta dengan Pwah Batari Sri sebagai penguasa alam kahyangan. Di dalamnya, diterangkan pula tentang persiapan dan pelaksanaan kegiatan peribadatan. Demikian pula dengan NSK L 423 yang juga ditulis oleh  Kai Raga, di atas daun lontar, beraksara Sunda Kuna dan Cacarakan, berbahasa Sunda kuna, yang  isinya hampir sama dengan NSK L 420.

Hal tersebut mengindikasikan, bahwa Kai Raga melintasi zaman yang sangat panjang. Kalau dikaitkan dengan  nama satu orang pasti mengandaikan orang  yang berumur sangat panjang, hingga beratus tahun. Oleh karena itu, saya yakin Kai Raga tidak merujuk pada nama seseorang, melainkan kepada nama gelaran. Mengenai hal ini, penelusuran Pleyte mengenai Kai Raga dan tulisan Hinzler dapat digunakan untuk membaca perihal tidak dipentingkannya nama pribadi bagi para penulis-penyalin naskah yang masih berada di bawah bayang-bayang budaya literasi Hindu-Budha.

C.M. Pleyte menelusuri identitas Kai Raga . Menurut penemuannya, Kai Raga yang menyerahkan beberapa NSK kepada Raden Saleh yang pada tahun 1865 ditugaskan untuk berkeliling Priangan untuk mengumpulkan peninggalan purbakala, termasuk NSK. Kai Raga yang dianggap menyerahkan naskah kepada Raden Saleh adalah cucu Kai Raga yang menjadi pemuka kelompok keagamaan, yang pertapaannya terletak di Gunung Cikuray, Garut. Selain itu, pada 1904, Pleyte berkunjung ke Cikuray. Saat itu, ia mendapat keterangan dari lurah Desa Ciburuy bahwa,  menurut cerita rakyat di sana, pada mulanya nama Cikuray adalah Sri Manganti, yang didasarkan pada nama sebuah kampung yang terletak di lereng sebelah barat gunung tersebut.  Menindaklanjuti perjalanan itu, Pleyte mengirim surat kepada Asisten Residen Garut, C.F.K. Huls van Taxis. Dalam jawabannya, van Taxis menerangkan bahwa Cikuray memang mulanya biasa disebut Sri Manganti. Pada mulanya Kampung Sri Manganti termasuk dalam wilayah Desa Cigedug, namun kampung tersebut tidak dikenal lagi karena telah ditinggalkan penduduknya. Van Taxis juga menyatakan bahwa orang tidak ingat lagi mengenai keberadaan pertapa di tempat tersebut. Mengenai ihwal cucu Kai Raga, sejak tahun 1856, tidak ada lagi keterangan yang lebih lanjut. Pleyte meyakini orang tersebut dipastikan telah meninggal dan tidak meninggalkan keturunan.
Uraian Kai Raga dapat pula dibandingkan dengan Kiai Windusana yang memelihara dan menuliskan kembali sejumlah naskah Jawa Kuna, Jawa Pertengahan, dan Jawa Modern di lereng Gunung Merbabu sebagaimana yang ditelusuri I. Kuntara Wiryamartana dan Willem van der Molen . Menurut kedua filolog itu, Windusana hidup di sekitar abad ke-18. Ia dikenal sebagai pendeta tinggi dalam agama Budha dan dilaporkan memiliki ribuan naskah yang aneh. Namun saat Bataviaasch Genootschap mengambil naskah-naskahnya pada tahun 1852, jumlahnya hanya berkisar empat ratusan naskah. 

Selain menyatakan para penulis naskah itu bisa laki-laki maupun perempuan, Hinzler menyatakan dua hal lain yang berkaitan dengan para penulis-penyalin naskah. Pertama, berkaitan dengan kriteria dan profesi penulis-penyalin naskah. Menurut Hinzler, di Bali:
A Scribe, usually man, was a person of distinction. This is apparent from the colophons of eighteenth and nineteenth-century manuscripts. The rulers of the kingdom employed scribes (manghuri, panyarikan, panulisan) not only of high-caste families, but also of low-caste families . ...

Bila pernyataan tersebut kita tarik kepada kegiatan literasi NSK, maka sebenarnya mengindikasikan bahwa para penulisnya cenderung menyembunyikan nama mereka sebenarnya karena mereka justru sedang menyembunyikan diri dari dunia luar atau cenderung mengasingkan diri, bahkan menolak dunia luar sebagaimana yang dapat kita temukan sosoknya pada diri Bujangga Manik. Mereka kebanyakaan berasal dari kalangan agamawan dan ada juga yang berasal dari kalangan istana. Tidak terbatas hanya pada laki-laki semata, melainkan perempuan pun ikut terlibat di dalamnya, baik karena mereka menjadi anggota kelompok agamawan maupun karena termasuk kalangan istana.

Giri Sunya
Dari tabel di atas kita juga dapat berbicara mengenai tempat NSK ditulis. Dari tabel itu nampak bahwa gunung dan sekitarnya, seperti bukit dan puncak gunung (hulu), menjadi pilihan para penulis-penyalin NSK untuk menulis. Dari tabel itu kita juga  mendapatkan nama Gunung Kumbang (Kawih Panyaraman), Gunung Larang Sri Manganti (Carita Ratu Pakuan, Ratu Pakuan, Carita Purnawijaya, Carita Purnawijaya), Gunung Larang Sela (Kawih Panyaraman), Gunung Cikuray (Pitutur ning Jalma, Bimaswarga/Bimaleupas, Sanghyang Swawar Cinta, Kaluputan Sanghyang Darma), Gunung Jedang (Sanghyang Sasana Maha Guru, Sanghyang Hayu, Sanghyang Hayu, Siksa Guru), Giri Sunya (Sanghyang Hayu), dan Gunung Cupu (Sanghyang Hayu). 

Sebagai catatan, sebagaimana yang termaktub pada pembahasan mengenai penulis, dapat diketemukan keterangan bahwa Larang Sri Manganti adalah nama lama Gunung Cikuray. Dengan demikian, kalau dihitung, maka kita mendapatkan delapan naskah yang dalam kolofonnya diterangkan ditulis di Gunung Cikuray.

Meski banyak yang berlatar gunung, namun ternyata ada dua naskah yang merujuk ke daerah dekat atau di sekitar laut., seperti Naskah Kropak 1 Peti 85 Sanghyang Siksa Kandang Karesian ternyata ditulis di Nusakrata? Dan Carita Jati Mula ditulis di Sagara Wisésa. Kata nusa dan sagara  dengan jelas mengindikasikan daerah yang paling tidak berdekatan dengan lautan.  Namun tetap saja dengan banyaknya nama yang berkaitan dengan gunung mengindikasikan sentralnya tempat tersebut sebagai tempat penulisan NSK. Oleh karena itu, dalam bagian berikut disajikan ulasan mengenai peran gunung dalam peri kehidupan orang Sunda atau Jawa Barat. 

Menurut Agus Aris Munandar , gunung memang dijadikan sebagai tempat keramat bagi kalangan masyarakat yang ada di Jawa Barat. Keyakinan ini tidak saja hidup ketika ke daerah ini hadir pengaruh agama Hindu-Budha, melainkan telah ada sebelumnya, yakni ketika masyarakatnya berada di masa prasejarah. Dari masa prasejarah, terutama dari masa bercocok tanam dan perundagian, di Jawa Barat banyak peninggalan megalitik yang terdapat di wilayah yang bergunung-gunung. Tradisi megalitik ini berkaitan dengan konsep kultus leluhur, yakni pemujaan pada arwah nenek moyang. Adapun tempatnya yang berada  di daerah ketinggian, seperti gunung, menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah di Jawa bagian barat percaya bahwa leluhur bersemayam di puncak-puncak gunung, bukit, dan dataran tinggi lainnya. Situs-situsnya, misalnya, situs Gunung Padang di Cianjur, Pangguyangan, Salak Datar, Lebak Sibedug, Arca Domas di pusat Kanekes, Banten Selatan, Batu Lulumpang di Garut, Cipari, Cireme, dan sebagainya. 

Saat memasuki periode pengaruh Hindu-Budha (kurang lebih abad ke-9 hingga abad ke-16), gunung juga begitu sentral perannya. Karena dalam keyakinan kosmologis Hindu-Budha, Gunung Mahameru yang mempunyai empat puncak lain yang lebih rendah dan terletak di tengah benua yang bernama Jambhudwipa dipercaya sebagai pusat alam semesta. Sementara alam semestanya berbentuk pipih melingkar seperti cakram. Gunung tersebut dikelilingi tujuh lautan dan tujuh pegunungan berselang-seling. Di puncaknya terdapat tempat tinggal para dewa, yang dikepalai Dewa Indra. Di kedelapan arah mata anginnya dijaga dewa Astadikpalaka sebagai pelindung alam semesta.

Demikian pula yang terjadi pada keyakinan kosmologis Budha. Di Gunung Meru terdapat alam berlapis-lapis. Bedanya, di luar lingkaran tujuh pegunungan itu terdapat lagi samudera, yang di tengahnya, pada keempat arah mata angin utama, terdapat empat benua. Benua yang terletak di sebelah selatan Gunung Meru dinamakan Jambudwipa, tempat hidup manusia dan hewan, sementara ketiga benua yang ada di timur, utara, dan barat dihuni oleh mahluk ajaib. 

Keyakinan ini terbawa ke Pulau Jawa, dan tentu saja ke Tatar Jawa Barat, dan kemudian diterapkan pemeluk agama Hindu-Budha yang ada di sana ke dalam lingkungan mereka. Dalam hal ini, Munandar, misalnya, menafsirkan Prasasti Kawali I, terutama baris ke-5 sampai ke-7, berkaitan dengan keinginan Prabu Raja Wastu untuk menyelaraskan purinya dengan gambaran alam semesta menurut ajaran Hindu-Budha. Demikian pula Sri Baduga Maharaja yang membangun gugunungan, seperti yang termaktub dalam Prasasti Batutulis, atau dalam NSK Sewaka Darma terdapat  uraian bahwa para dewata Hindu mempunyai istana yang indah di Gunung Kendan, Medang, dan Menir. 

Oleh karena kekeramatan itulah, gunung dan tempat-tempat di sekitarnya dijadikan tempat tinggal, pengamalan keagamaan, dan penyebaran ilmu oleh kalangan agama Hindu dan Budha, yang disokong serta dilindungi kekuasaan kerajaan yang ada di Tatar Jawa Barat. Dalam beberapa hal, bagaimana penguasa melindungi situs yang ada di gunung dan sekitarnya, yang dijadikan tempat penyebaran ilmu keagamaan khususnya dapat terlihat dari sepak terjang Rakeyan Darmasiksa, Prabu Jayadewata, dan Prebu Niskala Wastukancana. Rakeyan Darmasiksa dalam NSK Kropak 632 (Amanat Galunggung) menegaskan pentingnya memelihara kabuyutan atau tempat yang dikeramatkan karena menjadi pusat pengamalan serta penyebaran ilmu keagamaan, terutama Kabuyutan Galunggung. Ia menyatakan:  

“Waspadalah, kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan kekuasaan) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda, Jawa, Lampung, Baluk, para pedagang (orang asing) yang akan merebut Kabuyutan di Galunggung ”
Hal itu karena dengan dikuasainya Kabuyutan Galunggung, maka orang yang menguasainya akan beroleh manfaat dari sana, seperti: memperoleh kesaktian dari tapa, unggul dalam berperang, dan lama berjaya. Kabuyutan itu akan dikuasai orang lain karena telah ditinggalkan rama dan resi, dua dari tiga unsur “trias politika” Sunda kuna. Dengan demikian, kabuyutan itu harus dipertahankan sekuat tenaga, bahkan sampai titik darah penghabisan. Nasihat Rakeyan Darmasiksa juga sekali lagi menekankan pentingnya Kabuyutan Galunggung:
“Bila terjadi perang (memperebutkan) kabuyutan di Galunggung, pergilah ke kabuyutan, bertahanlah kita di sana....Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah daripada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain .”
Hal ini pun diperjelas dalam NSK Kropak 406 (Carita Parahyangan), yang menyatakan bahwa Rakeyan Darmasiksa adalah raja Sunda yang mendirikan lembaga pendidikan bernama Sanghyang Binayapanti, dengan kompleks pendidikannya yang  disebut kabuyutan. Selain itu, Rakeyan Darmasiksa, yang digambarkan sebagai titisan Dewa Wisnu, menjamin keberlangsungan kehidupan keagamaan, baik  yang menganut kepercayaan kepada leluhur (ngawakan jati Sunda) maupun yang memeluk agama lainnya. Dan yang lebih penting, ia mendorong berlangsungnya tradisi baca-tulis atau literasi di kalangan agamawan, sekaligus juga di kalangan istana .

Hal serupa juga dilakukan Prabu Jayadewata. Pada Prasasti Kabantenan (E.42-43) ia mengamanatkan kepada rakyatnya untuk menjaga dan memelihara Jayagiri, Sunda Sembawa, dan tanah Dewa Sasana yang berada di Gunung Samaya sebagai  daerah yang tidak boleh diganggu gugat. Wilayah tersebut juga tidak boleh dikenai pajak karena merupakan daerah larangan, tempat tinggal para wiku. Yang mencoba mengganggu daerah-daerah tersebut diperintahkan untuk dibunuh. Dalam Prasasti E-44 daerah larangan itu disebut dengan nama kabuyutan dan kawikuan. 

Dalam Kropak 406 (Carita Parahyangan) pun ada gambaran penguasa Sunda yang berdedikasi tinggi pada kehidupan keagamaan sekaligus kegiatan literasinya, yaitu Prebu Niskala Wastukancana. Pada masa Kerajaan Sunda diperintah oleh raja yang merupakan adik Dyah Citraresmi yang gugur di Bubat, Kerajaan Sunda mengalami kejayaan. Salah satu bukti kejayaannya: sang resi dapat tenteram melaksanakan tugas kependetaannya, menjalankan kebiasaan leluhur ... dan sang wiku tenteram melaksanakan atau menunaikan undang-undang dewa (Sang resi  enak ngaresianana, ngawakan na purbatisti purbajati .... Sang wiku enak ngadewasasana, ngawakan sanghyang Watangageung,  enak ngadeg manurajasunyia). 

Kabuyutan-kabuyutan yang dikenal selama ini antara lain: Kanekes (Banten), Koleang, Jasinga (Bogor), Sanghyang Tapak (Sukabumi), Sunda Sembawa dan Jayagiri (Bekasi?), Cisanti (Bandung), Wanareja dan Ciburuy (Garut), Galunggung (Tasikmalaya), dan Kawali (Ciamis). Dari sekian nama kabuyutan itu yang dikenal sebagai tempat penulisan NSK, karena secara jelas atau tertulis dalam NSK atau tempat diperolehnya sejumlah NSK seperti yang diinventarisasi oleh Gunawan dan Holil (2010), yakni Kabuyutan Ciburuy dan Kabuyutan Wanareja di Garut, Kabuyutan Kawali di Ciamis, Kabuyutan Cisanti di Bandung, dan Kabuyutan Koléang, Bogor.

Dari Kabuyutan Koleang antara lain ditemukan NSK Kropak 1095 (Langgeng Jati), 1097 (Carita Jati Mula), 1099 (Pakéeun Raga), 1101 (Sasana Sang Pandita), 1102 (Para Putera Rama dan Rahwana), 1103 (Serat Jati Niskala), 1104 (Primbon), jeung Kropak 105. Ti Cisanti, Bandung, aya Kropak 620 (Tutur Bwana), 621 (Sanghyang Sasana Maha), 622 (Warugan Lemah), 623 (Bimaswarga), 624 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian), 625 (Sri Ajnyana), dan Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). 

Dari kabuyutan yang ada di Garut, antara lain ditemukan NSK Kropak 610 (Pitutur ning Jalma), 633 (Siksa Guru), 634 (Sanghyang Hayu), 635 (Sanghyang Hayu), 636 (Sanghyang Hayu), 637 (Sanghyang Hayu), 638 (Sanghyang Hayu), 639 (Serat Buana Pitu), 641 (Arjunawiwaha), dan Kropak 642 (Siksa Guru). Ke sebelah timurnya, ke Ciamis, ditemukan Kropak 406 (Carita Parahyangan & Fragmen Carita Parahyangan), 407 (Carita Raden Jayakeling), 408 (Kawih Panyaraman), 409 (Kapaliasan), 412 (Fragmen Carita Parahiyangan), 413 (Ajaran Islam), 414, 415 (Mantra Darma Pamulih), 416 (Carita Purnawijaya), 418 (Nur Illahi), 422 (Jatiniskala), 423 (Carita Purnawijaya), Naskah Bambu 426 B (Kaleupasan), Naskah Bambu 426 C (Sanghyang Jati Maha Pitutur), 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian), dan Kropak 631 (Candrakirana). 

Pada tataran praktisnya, menurut Edi S. Ekadjati , ada tiga jenis kegiatan yang dilakukan di kabuyutan. Pertama, melakukan upacara ritual. Kedua, melaksanakan pendidikan. Ketiga, mendalami dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan (agama). Jenis kegiatan pertama antara lain dalam bentuk mendoakan raja serta pejabat negara dan rakyat pada umumnya, menyelenggarakan dan memimpin upacara ritual, dan membaca teks-teks keagamaan. Untuk keperluan itu pejabat negara dan masyarakat umum sering datang ke kabuyutan dan sebaliknya penghuni kabuyutan sering pula diundang ke wilayah negara. Mengajarkan pengetahuan agama, mendidik anak-anak calon pendeta, memberi nasihat orang, memberi contoh cara hidup di mandala termasuk jenis kegiatan kedua (pendidikan).
Anak-anak dan orang muda yang memilih kegiatan keagamaan sebagai jalan hidupnya memasuki kompleks dan menjadi siswa (sisya) di kabuyutan untuk menerima berbagai ilmu pengetahuan (agama) dan tata cara hidup sebagai penghuni kabuyutan. Mendalami ilmu pengetahuan (agama), mengarang suatu ilmu pengetahuan, dan menulis naskah (asli atau salinan) tergolong kegiatan intelektual.

Selanjutnya Ekadjati menjelaskan mengenai bahan ajar dan spesialisasi guru-guru yang ada di kabuyutan. Ia menjelaskan bahwa bahan ajarnya berupa berbagai pengetahuan agama (Hindu-Budha) dan ajaran hidup yang berasal dari intisari pengalaman, aturan, dan renungan para leluhur (patikrama). Berbagai pengetahuan tersebut telah dikuasai oleh para guru yang kemudian disampaikannya secara lisan dan tertulis kepada siswa-siswanya. Di antara guru-guru itu ada yang memiliki spesialisasi pengetahuan, seperti: brahmana menguasai aneka macam mantra, pendeta menguasai pustaka, janggan menguasai berbagai jenis upacara ritual, pratanda menguasi ilmu agama dan parigama.

Sebagaimana uraian Ekadjati di atas, hasil akumulasi ilmu pengetahuan tersebut, baik yang ada di kabuyutan sendiri maupun yang datang dari luar, kemudian diwujudkan dalam bentuk karya tulis. Media tulisnya terdiri atas beberapa jenis bahan (lontar, nipah, kelapa, aren, pandan, bambu), sedangkan alat tulisnya berupa pisau pangot, kalam, dan tinta. Penulisan itu merupakan tugas pendeta yang menjadi penanggungjawabnya. 

Di sana juga terlihat lalu-lintas naskah antar satu kabuyutan dengan kabuyutan lainnya. Hal ini dimungkinkan oleh adanya rahib atau pendeta pengelana yang (berkelana?) sambil belajar dari satu kabuyutan ke kabuyutan lain, yang tidak hanya berada di Jawa Barat saja, namun ada juga yang berada di luar Jawa Barat. Jadi, memang terjadi penulisan, penyalinan, penerjemahan, penyaduran naskah-naskah yang dihasilkan dari daerah lain dan kemudian dibawa oleh para rahib pengelana tersebut ke Tatar Jawa Barat. Contoh rahib pengelana ini adalah tokoh Bujangga Manik atau Perebu Jaka Pakuan atau Ameng Layaran yang berkeliling Pulau Jawa dan Bali. Dari Jawa Barat, ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan melintasi Pulau Bali untuk belajar keagaamaan. Dalam perjalanan tersebut memang Bujangga Manik tidak terlepas dari naskah-naskah yang dibawa dan dibacanya. 

Dengan kehadiran nama-nama tempat yang berkaitan dengan pulau dan laut dapat diduga bahwa, pada prinsipnya, yang diutamakan adalah keberjarakan dari dunia ramai. Seperti yang kita saksikan dari peri kehidupan Bujangga Manik yang dalam perjalanannya senantiasa mencari tempat-tempat sepi, karena keramaian itu akan terasa mengganggunya. Dalam beberapa adegan, misalnya, ia memang mencari tempat-tempat sepi.

Titimangsa
Dari tabel di atas juga dapat dibahas mengenai titimangsa atau waktu penulisan NSK, karena  nampak bahwa pada NSK terdapat keterangan hari, bulan, dan tahun.
Pada praktiknya, para penulis-penyalin NSK ada yang hanya menyertakan hari saja, seperti yang dapat kita temukan pada NSK sebagai berikut: Kropak 622 (Warugan Lemah), Rabu Manis. Namun ada juga yang menyertakan hari dan bulan, yakni Kropak 1** (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-10, Selasa Manis dan Kropak KBG 75 (Wirid), Jum’at Kliwon, bulan Muharam. Yang menyertakan bulan saja bisa dikatakan merupakan yang paling banyak bila dibandingkan dengan yang menyertakan hari maupun tahun. NSK berikut memakai bulan saja sebagai titimangsa penulisan NSK: Kropak 621 (Sanghyang Sasana Maha Guru) ditulis pada bulan ke-4;  Kropak 623 (Bimaswarga/Bimaleupas), bulan ke-1; Kropak 625  (Sri Ajnyana), bulan ke-8; Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta), bulan ke-8; dan Kropak 633 (Siksa Guru), bulan ke-10.

Sementara yang memakai keterangan tahun ada: Kropak 634 (Sanghyang Hayu), 1445 S (± 1523 M); Kropak 641 (Arjuna Wiwaha), 1256 S (1334 M); dan Kropak 642 (Siksa Guru), Tahun Saka hlar twa ya wu? Ada pula yang hanya campuran antara bulan dan tahun, yang terdapat pada Kropak 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-3, 1440 Saka (1518 M). Sementara Kropak 638 (Sanghyang Hayu) terbilang yang paling lengkap menyertakan hari, bulan, dan tahun penulisannya, yaitu dimulai Selasa Kliwon, bulan ke-7, selesai hari Pon bulan ke-9, 1357 S (± 1435 M); 

Dari paparan di atas nampak beberapa kenyataan yang patut dibahas secara luas dan  mendalam. Pertama, nampaknya tidak ada aturan yang ketat, dalam artian tidak ada keharusan atau kewajiban untuk mencantumkan  titimangsa pada umumnya NSK, sehingga   terkesan arbitrer alias sewenang-wenang, tergantung pada penulis-penyalin naskahnya.
Kedua, kesewenang-wenangan itu juga terjadi pada pemilihan unsur waktu yang dicantumkan ketika penulis-penyalin NSK memberikan keterangan waktu penulisan. Hal itu terbukti dari tabel di atas. Pemilihan unsur waktu penulisan NSK sangat acak, dalam artian bahwa ada yang  hanya yang memakai hari, bulan, atau tahun saja, namun ada juga yang mencantumkan campuran dua sampai tiga unsur waktu, dan ada yang mencantumkan  campuran hari dengan bulan, hari dengan tahun, bulan dengan tahun. Ada juga yang bisa dikatakan lengkap menyebutkan ketiganya. 

Ketiga, penggunaan candrasangkala atau kronogram. Penggunaan kode-kode ini memang biasa dilakukan oleh para penulis-penyalin naskah-naskah di India. Para penulis-penyalin naskah di India biasanya memberikan catatan penomoran dengan menggunakan kata-kata dan huruf-huruf. Mengenai hal ini George Buhler menyatakan :
In many manuals of astronomy, mathematics and metrics, as well as in the dates of inscriptions and of MSS, the numerals are expressed by the names of things, beings or ideas, which, naturally or in accordance with the teaching of the Sastras, connote numbers.
Sementara untuk penomoran yang menggunakan huruf, Buhler menyatakan:
Two system of numeral notation, according to Burnell originally South-Indian, which both employ the phonetically arranged characters of the alphabet, have still to be described, as they are not without interest for paleography.
Dalam hal ini Buhler memberikan contoh dari angka 0 hingga 49, meskipun ada yang ia lewati. Angka 0 bisa diwakili oleh kata Sunya,  Ambara, Akasa, dan Ananta. Angka 1 diekspresikan dengan rupa, indu, sasi, sitarasmi, bhu, mahi,  adi, nayaka, dan tanu. Angka 9 digambarkan dengan anka, nanda, cidra.

Pada penomoran menggunakan huruf, Buhler menyatakan ada dua sistem yang dipakai. Sistem pertama dianggap hanya huruf-huruf konsonan yang tak mempunyai huruf vokal yang penting, seperti pada huruf k=1, kh=2,  t=6, th=7, y=1, dan m=5. Sistem kedua memakai konsonan bervokal untuk penomoran, seperti huruf  ka  hingga ke  la  yang berarti sama dengan 1 hingga 34, atau ka sampai kah yang sama dengan 1 hingga 12.

Baik penggunaan kata-kata maupun huruf, keduanya, selain digunakan untuk penonoran halaman naskah, juga digunakan untuk memberikan titimangsa penulisan naskahnya. Untuk contoh penggunaan dari kata-kata, Buhler memberikan contoh dari Pancasiddhantika, 4, 44: kha – kha- veda- samudra= 0-0-4-4-1=14400. Sementara untuk penggunaan huruf, Buhler memberikan contoh dari Sarvanukramani:
                                             2 3     1    565     1
                                             khago=ntyan=mesam=apa

Penggabungan angka-angka di atas nilainya sama dengan 1565132, yang mengandung arti penulis-penyalinnya memaksudkan angka-angka itu pada masa-masa selepas masa awal Kaliyuga, yang menghasilkan pada musim semi yang siang maupun malamnya hampir sama waktunya (vernal equinox), 24 Maret 1184 Masehi, sebagai tanggal diselesaikannya. 
Keterangan ini bisa menjadi jalan memahami kehadiran kata-kata maupun huruf-huruf yang digunakan pada akhir sejumlah NSK. Untuk Kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian), misalnya, di akhir naskahnya terdapat kata-kata nora catur sagara wulan yang sama dengan tahun 1440 Saka atau, bila dikonversi ke penanggalan masehi, menjadi 1518 Masehi. Demikian juga pada naskah NSK Kropak 634 (Sanghyang Hayu) terdapat kata-kata panca warna catur bumi  yang artinya 1445 Saka, atau 1523 Masehi. Dalam NSK ditemukan juga kata-kata yang belum ditemukan artinya, seperti NSK Kropak 408 (Sewaka Darma) yang mengandung kata-kata akhir nanu namas haba jaja atau NSK Kropak 642 (Siksa Guru) yang diakhiri dengan kata-kata hlar twa ya wu?
Sugan aya sastra leuwih suda baan, kurang wuwuhan.

Cibiru, Maret-April 2012

Daftar Pustaka 
Atja (1968). Tjarita Parahijangan Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi. Bandung: Jajasan Nusalarang.
Atja (1970). Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikuraj. Bandung: Lembaga Bahasa dan Sedjarah.
Buhler, George (1980). Indian Paleography. New Delhi: Oriental Books Reprint Corporation
Danasasmita, Saleh dkk. (1987). Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632): Transkripsi dan Terjemahan”. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). Direktorat Jendral Kebudayaan Dep. Pendidikan Dan Kebudayaan Nasional
Darsa, Undang A.  dan Edi S. Ekadjati (2003). “Fragmén Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan (Kropak 406)”. Séri Sundalana 1: Tulak Bala. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda (PSS).
Darsa, Undang A. (2007). “Carita Ratu Pakuan (Kropak 410): Suntingan dan Terjemahan Naskah Sunda”. Seri Sundalana 6: Menyelamatkan Alam Sunda. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda .
Edi S. Ekadjati (2004, 20 Nopember). “Pendidikan di Tatar Sunda I”. HU Pikiran Rakyat.
Gunawan, Aditia & Munawwar Holil (2010). “Membuka Peti Naskah Sunda Kuna di  Perpustakaan Nasional RI: Upaya Rekatalogisasi”. Seri Sundalana 9: Perubahan Pandangan Aristokrat Sunda. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda
Hinzler, H. (1993). “Balinese Palm-Leaf Manuscripts”. BKI 149 No. 3.
Molen, W. Van der dan I. Wiryamartana (2001). “The Merapi-Merbabu Manuscripts: A Neglected Collection”. BKI 157 No. 1.
Munandar, Agus Aris (1991). “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra”. Makalah pada Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran, Bogor, 11-13 Nopember.
__________ (2001). “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan”. Makalah Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I, Bandung, 22-24 Agustus 2001, dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006).
Noorduyn, J. & A. Teeuw (2009). Tiga Pesona Sunda Kuna. Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan, teks Sunda kuna oleh Tien Wartini dan Undang A. Darsa,  dari Three Old Sundanese Poems (2006). Jakarta: Pustaka Jaya.
Pleyte, C.M. (1914). “Poernawidjaja’s Hellevaart of de Volledige Verlossing”. TBG No. 56. Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Read more »

Identifikasi Bahan Naskah (Daluang) Gulungan Koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang dengan Metode Pengamatan Langsung dan Uji Sampel di Laboratorium

Tedi Permadi
(Dosen dan Peneliti di Universitas Pendidikan Indonesia)

Naskah dibedakan atas adanya fisik dan kandungan teks, fisik naskah adalah medium yang mewadahi teks sebagai kandungannya (Baried, 1985: 4-5; Sudardi, 2001: 18-20; Sudjiman, 1994: 11). Medium dalam naskah dapat dibedakan pula atas dua hal, yaitu bahan dan teknik. Dalam identifikasi naskah, yang pertama kali dapat dilakukan di antaranya adalah pendeskripsian medium. Terkait dengan bahan naskah, daluang merupakan salah satu dari sekian banyak bahan naskah yang digunakan dalam tradisi tulis Nusantara.

Namun patut dicatat bahwa masih terdapat beberapa kekeliruan dalam memahami daluang, di antaranya Lubis (1996:37) yang menyatakan bahwa “daluang adalah kertas yang digunakan di Pulau Jawa yang terbuat dari kulit kayu sebagai campuran”. Contoh kesalahan dalam pendeskripsian naskah yang memakai daluang sebagai bahannya adalah pendeskripsian bahan naskah pada koleksi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat (BPMNSBJB), yang menyatakan bahwa dari 137 buah koleksi naskah yang ada terdaftar, 74 buah di antaranya berbahan “daluang”, 2 buah berbahan saéh, dan 1 naskah berbahan daluang saéh. Dalam hal ini digunakan tiga istilah untuk satu jenis bahan naskah yang sama, yaitu daluang, saéh, dan daluang saéh. 

Di samping itu, terdapat pula kekeliruan dalam pendeskripsian bahan naskah pada materi pameran tetap di BPMNSBJB, yaitu  naskah Babad Pajajaran yang kemungkinannya besar berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit binatang. Kasus serupa terjadi pada pendeskripsian naskah gulungan CBCC di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Naskah berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit kambing.

Terjadinya kesalahan dalam identifikasi naskah berbahan daluang, baik dari segi peristilahan, pengenalan karakteristik bahan, dan aspek-aspek lainnya, bisa jadi disebabkan oleh hilangnya tradisi pembuatan daluang, yang secara otomatis menyebabkan informasi mengenai daluang menjadi terputus. Kini banyak orang, termasuk para petugas yang menangani naskah, tidak mengenal wujud dan ciri-ciri daluang dengan baik.
Sehubungan dengan hal itu, daluang sebagai bahan naskah yang dihasilkan oleh tradisi tulis Nusantara menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut. Dalam hal ini peran kajian kodikologi untuk mengenali bahan, teknik, serta fungsinya diperkirakan dapat memberi jalan bagi pendalaman kajian terhadap naskah serta pengembangan bagi disiplin ilmu filologi.

Di antara sekian banyak naskah yang berhasil dihimpun dalam berbagai katalog naskah Nusantara, naskah CBCC ternyata belum banyak diteliti, bahkan dalam berbagai katalog naskah pun belum tercantum. Adapun informasi mengenai koleksi naskah CBCC dapat dilihat pada buku Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya yang disusun oleh Zaki Munawar (2002). 

Naskah koleksi CBCC seluruhnya berjumlah tujuh belas naskah dan seluruh bahan naskahnya diperkirakan berupa daluang. Kemasan naskahnya terdiri dari dua bentuk, berupa buku (binding) dan gulungan (scroll). Naskah-naskah koleksi CBCC disimpan di tiga lemari kaca yang berbeda, lima belas buah naskah berbentuk buku disimpan berjajar dalam dua lemari kaca dan dua naskah disimpan terpisah dalam sebuah lemari kaca lainnya, termasuk di dalamnya naskah berbentuk gulungan. Kondisi fisik naskah berbentuk buku umumnya sudah mulai rusak (dari enam belas naskah hanya tiga naskah yang kondisinya masih cukup baik); lembar halamannya terurai dari jilidannya sehingga halaman demi halamannya tercecer, lembab, berjamur, dan aksaranya sudah tidak terlalu jelas, sehingga menyulitkan ketika akan dibaca. 

Buruknya kondisi naskah-naskah berbentuk buku bisa jadi disebabkan oleh tingginya  tingkat penggunaan pada masa naskah itu digunakan atau karena kurang baiknya teknik penjilidan, penyimpanan, dan perawatan naskah, atau karena kurang baiknya pemeliharaan masyarakat pendukung berikutnya. Berbeda dengan yang  berbentuk buku, naskah gulungan kondisinya lebih baik; lembarannya relatif masih utuh, tidak terlalu lembab, tidak terlalu berjamur, dan aksaranya terlihat jelas sehingga memudahkan pembacaan teks.
Kondisi naskah berbentuk gulungan yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi naskah berbentuk buku mengundang beberapa pertanyaan, di antaranya: apakah naskah yang dikemas dalam bentuk gulungan lebih baik daripada naskah berbentuk buku atau apakah ada kaitan antara bahan naskah dan bentuk kemasan naskah dengan tingkat kekuatan fisik naskah?

Naskah gulungan koleksi CBCC mempunyai ukuran 176 X 23 cm., kedua permukaannya ditulisi dengan teks beraksara Arab,; tinta yang digunakan untuk menuliskan aksara berwarna hitam dan tinta yang digunakan untuk menuliskan tanda baca berwarna merah.
Identifikasi bahan naskah gulungan koleksi CBCC pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan berdasarkan pengujian di laboratorium. Pengamatan secara langsung di lapangan dapat dilakukan dengan bantuan alat ukur dan peralatan lainnya yang diperlukan. Alat ukur yang digunakan di lapangan memberikan hasil ukur secara langsung, seperti panjang dan lebar bahan naskah, ketebalan bahan naskah, warna bahan naskah, jenis aksara, dan warna tinta tulis yang digunakan. Adapun pengujian bahan di laboratorium dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan laboratorium dan didasarkan pada metode dan standar yang sudah diakui secara nasional, yaitu SNI.

Pengamatan Langsung
Pengamatan terhadap bahan naskah gulungan koleksi CBCC yang bisa dilakukan secara langsung di lapangan adalah berupa pengukuran dimensi panjang dan lebar bahan naskah dengan menggunakan mistar, pengukuran ketebalan bahan naskah dengan menggunakan mikrometer digital, dan pengukuran warna dengan menggunakan tabel warna; di samping itu dilakukan pula pengambilan gambar dengan menggunakan kamera digital untuk keperluan dokumentasi penelitian.

Setelah dilakukan pengukuran, hasilnya menunjukkan bahwa  ukuran bahan naskah adalah 176 X 23 cm., sama dengan informasi yang diberikan oleh juru pelihara CBCC. Ukuran bahan naskah seperti itu termasuk jarang digunakan dalam penulisan naskah, hal ini dapat di antaranya dapat dilihat pada data dalam Katalogus Naskah Sunda (1988), yang menunjukkan bahwa naskah-naskah Sunda umumnya mempunyai ukuran di bawah ukuran bahan naskah gulungan koleksi CBCC dan umumnya berbentuk buku.

Kelangkaan ukuran bahan naskah tersebut juga dapat mengindikasikan bahan baku yang digunakannya. Dalam hal ini bisa diyakini bahwa naskah gulungan koleksi CBCC bukan terbuat dari kulit kambing seperti yang dideskripsikan oleh petugas juru pelihara CBCC, berangkat dari asumsi panjang kulit kambing dari bagian leher sampai dengan bagian ekor berkisar antara 90 sampai dengan 120 cm. Di samping itu tidak terdapat bintik-bintik bekas pori-pori dan bekas tumbuhnya bulu seperti pada lembaran kulit binatang pada umumnya. Serat pembentuk lembarannya pun serat panjang seperti halnya serat pembentuk lembaran kulit kayu. Mengenai kepastian jenis serat pembentuk bahan, selanjutnya  akan dipastikan melalui uji laboratorioum.


Mengenai ketebalan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, setelah dilakukan pengukuran ternyata bahwa ketebalan bahannya tidak sama, paling tipis adalah 0.29 mm dan paling tebal adalah 0.48 mm. Berpijak pada adanya variasi ketebalan bahan dan dikaitkan dengan jenis serat pembentuk lembaran yang diduga berasal dari serat kulit kayu, maka dapat dipastikan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dibuat secara tradisional; bukan dibuat secara modern dengan menggunakan mesin pembuat kertas yang dapat menghasilkan kertas dengan ketebalan yang sama karena dibentuk oleh sebuah mekanisme pembentuk lembaran (sheet former) yang presisi. 

Dengan adanya kenyataan serat pembentuk bahan naskah berupa jenis serat panjang yang berasal dari kulit kayu, penentuan bahan naskah pun bisa dirujuk pada adanya daluang sebagai bahan naskah Nusantara.  

Mengenai warna bahan naskah gulungan CBCC, agar keterukurannya lebih akurat, maka pengukuran warna disandarkan pada tabel warna C/M/Y/K. Setelah diukur secara acak berdasarkan kesamaan dan perbedaan warna yang mencolok, didapatkan hasil ukur warna dengan pola (1) 10/20/50/0, (2) 40/40/50/0, (3) 5/5/50/0, (4), 5/20/50/0 (5), 0/10/50/0, dan (6) 5/10/50/0. Jika keseluruhan pola warna tersebut dikonversikan ke tabel warna yang dikeluarkan oleh Winsor & Newton, maka warna bahan naskah gulungan CBCC dapat termasuk ke dalam warna naples yellow, yellow ochre, atau raw sienna.



Adanya perbedaan atau gradasi warna yang terdapat pada naskah gulungan CBCC menunjukkan bahwa, jika pada saat pembuatan warna bahan naskah adalah sama, maka perbedaan warna yang dapat disaksikan saat ini adalah perbedaan warna yang dihasilkan atau diakibatkan oleh perjalanan waktu serta perlakuan terhadap naskah itu sendiri.


Hasil Uji Laboratorium
Untuk melakukan identifikasi  bahan naskah di labotatorium, berdasarkan informasi studi lapangan yang dilakukan pada tanggal 3 Pebruari 2011 di Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) yang berlokasi di Jalan Raya Dayeuhkolot 132 Bandung; Nina Elyani, Kepala Bidang Pengujian, Sertifikasi, dan Kalibrasi, menyatakan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dapat diidentifikasi berdasarkan uji atas (1)  pH atau kadar asam,  (2)  jenis serat,  (3) panjang serat, (4) daya serap tinta atau penetrasi minyak IGT, (5) daya serap air atau Cobb 60, dan  (6) ketahanan lipat. Seluruh pengujian tersebut metodenya didasarkan pada standar yang telah ditetapkan BSNI, yaitu: pengujian pH didasarkan pada SNI 14-0479.2-1998, pengujian jenis serat didasarkan pada SNI 0441-2009, pengujian panjang serat didasarkan pada SNI ISO 16065.2-2010, pengujian daya serap tinta didasarkan pada SNI 14-9584-1989, pengujian daya serap air didasarkan pada SNI 0449-2008, dan pengujian ketahanan lipat didasarkan pada SNI 0491-2009. 

Untuk melakukan uji kualitas bahan naskah diperlukan bahan atau sampel dengan ukuran minimum 15 X 20 cm yang akan hancur setelah proses pengujian berlangsung. Ukuran minimun bahan untuk uji kualitas tersebut nampaknya tidak dapat dipenuhi karena naskah gulungan CBCC merupakan benda koleksi dilindungi oleh Undang-Undang Cagar Budaya. Keberadaannya harus senantiasa dijaga dan harus tetap berada di lokasi CBCC. Etika keilmuan filologi juga tidak memperkenankan untuk pengambilan bahan naskah karena akan merusak naskah itu sendiri. 

Namun demikian, ternyata masih terdapat peluang untuk melakukan uji pH atau kadar asam, penentuan jenis serat, dan panjang serat bahan naskah karena contoh bahan naskah yang diperlukan untuk pengujian tersebut tidak terlalu besar, yaitu sekitar 1 X 1 cm untuk uji kadar asam dan 1 X 1 cm untuk uji jenis serat dan panjang serat. Sampel bahan diambil dari bagian naskah gulungan CBCC yang koyak, yang selanjutnya disebut sampel utama.
 

Pengujian kadar asam serta penentuan jenis dan panjang serat bahan naskah gulungan CBCC menjadi sangat penting untuk dilakukan karena melalui pengujian ini akan dapat diketahui apakah bahan naskah tersebut termasuk kertas yang kuat, dengan permanensi (kekuatan) dan durability (ketahanan) tinggi, atau bahkan sebaliknya seperti yang dipaparkan Lukman (2009: 55).

“permanensi adalah kemampuan kertas untuk tetap stabil dan tahan terhadap aksi kimia, baik dari dalam maupun dari lingkungan sekitarnya. Sementara itu, ketahanan (durability) merupakan sifat ketahanan kertas terhadap perlakuan fisik yang dapat menyebabkan rusaknya kertas, contohnya goresan dan lipatan. Permanensi berhubungan dengan stabilitas kimia kertas, sedangkan ketahanan berhubungan dengan kekuatan fisik.”

Adapun menurut Harvey, dalam Lukman (2009: 56), dinyatakan bahwa ukuran terpenting yang menjadi penentu kertas bersifat permanen adalah kadar pH, yaitu kadar keasaman atau kebasaan suatu kertas dengan skala 0 – 14, di mana skala pH 0 menunjukkan derajat asam, skala pH 7 menunjukkan sifat netral, dan  skala pH 14 menunjukkan derajat basa.
Selanjutnya, mengenai unsur asam pada yang terdapat dalam kertas (termasuk daluang), Wan Mamat (1988:62--63) memaparkan bahwa,

“unsur asam atau lignin, pada dasarnya merupakan salah satu bahan baku pembuatan kertas dan sudah dipergunakan sejak kira-kira seratus tahun yang lalu, lignin juga merupakan kandungan dari serat kayu itu sendiri. Di samping lignin, penggunaan zat-zat kimia seperti clorine untuk pemutih kertas, potassium alumunium sulphate untuk penghalus permukaan kertas (bahan kimia dalam proses pembuatan kertas pabrikan) dan penggunaan tinta tulis yang mengandung unsur iron gallotannate (garam besi) juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan tingkat keasaman (acid sulfurik) bahan naskah menjadi tinggi”.
Secara kebetulan, di sekitar lokasi CBCC, tepatnya di Desa Cangkuang Kecamatan Leles, ditemukan naskah yang bahannya diperkirakan sejenis dengan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, yang oleh pemiliknya, Zaki Munawwar, diserahkan kepada penulis agar bahannya dapat dimanfaatkan untuk uji laboratorium. Sampel ini selanjutnya disebut sampel pembanding. Di samping itu, diuji pula sampel daluang hasil rekonstruksi, selanjutnya disebut sampel rekonstruksi, agar didapatkan gambaran mengenai kualitasnya guna pemanfaatan praktis selanjutnya.
 

Berdasarkan laporan hasil uji atas ketiga sampel yang dikeluarkan BBPK tertanggal 17 Pebruari 2012, dari sampel utama didapatkan hasil uji pH sebesar 4,81 ± 0,01, hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood, dan hasil uji panjang serat sepanjang 2,725 mm; dari sampel pembanding didapatkan hasil uji pH sebesar 5,96 ± 0,02,  hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood, dan hasil uji panjang serat sepanjang 2,985 mm,  daya serap tinta permukaan atas 48,5 ± 2,9, daya serap tinta permukaan bawah 53,3 ± 3,6, daya serap air permukaan atas 15,4 ± 2,1, dan daya serap air permukaan bawah 17,0 ± 0,7; adapun dari sampel rekonstruksi didapatkan hasil uji pH sebesar 6,82 ± 0,01,  hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood, dan hasil uji panjang serat sepanjang 3,575 mm,  daya serap tinta permukaan atas 50,2 ± 9,1, daya serap tinta permukaan bawah 77,5 ± 29,2, daya serap air permukaan atas 150,0 ± 3,5, dan daya serap air permukaan bawah 193,1 ± 1,4, ketahanan lipat arah serat sebesar 4246 ± 935, dan ketahanan lipat silang serat 496 ± 333.  Seluruh hasil uji tersebut didasarkan pula pada kondisi ruang pengujian dengan suhu 23 ± 10 C, kelembaban ruangan pada RH 50 ± 2 %. Untuk memudahkan pembahasan, berikut ini adalah tabel hasil uji dimaksud.


Tabel di atas memuat hasil uji atas tiga parameter yang dapat dibandingkan dari sampel utama, sampel pembanding, dan sampel rekonstruksi, yaitu pH, jenis serat, dan panjang serat. Derajat pH sampel utama 4,81 ± 0,01, derajat pH sampel pembanding 5,96 ± 0,02, dan derajat pH sampel rekonstruksi 6,82 ± 0,01; jenis serat ketiga sampel adalah softwood; dan panjang serat sampel utama 2,727 mm, panjang serat sampel pembanding 2,985 mm, dan panjang serat sampel rekonstruksi 3,575 mm.

Hasil perbandingan atas tiga parameter di atas menunjukkan bahwa untuk derajat pH, sampel utama memiliki derajat keasaman paling tinggi, diikuti oleh sampel pembanding, dan sampel rekontruksi. Tingkat derajat keasaman yang didapat dari perbandingan hasil uji tersebut, untuk sampel utama dan sampel pembanding, secara objektif menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian; sedangkan untuk sampel rekonstruksi, di samping menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian, juga menunjukkan tingkat kadar asam pada waktu selesai pembuatan. Ross Harvey, dalam Lukman (2009: 59), menyatakan bahwa kadar pH kertas pada waktu pembuatan tidak boleh kurang dari 6,5 agar dapat dikategorikan sebagai kertas permanen.

Melihat kenyataan bahwa kadar pH bahan naskah gulungan koleksi CBCC termasuk ke dalam kategori di bawah netral atau cenderung asam, maka penanganan naskah-naskah koleksi CBCC selanjutnya menjadi sangat penting untuk diperhatikan; karena jika penanganannya tidak dilakukan secara baik, maka tingkat penurunan kualitas bahan naskah akan berlangsung dengan cepat dan mengakibatkan kerusakan naskah-naskah itu sendiri.
Selanjutnya untuk jenis serat, ketiga sampel menunjukkan jenis serat yang sama, yaitu jenis softwood. Namun demikian, setelah melakukan penelusuran lebih lanjut atas penggolongan jenis serat, softwood adalah pengolongan jenis serat untuk kayu dan bukan untuk jenis serat kulit kayu. Menurut Iswanto (2008: 1) dan Sucipto (2009: 1), secara umum kayu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu hardwood (kayu keras atau kayu daun lebar) dan softwood (kayu lunak atau kayu daun jarum); dan yang membedakan keduanya adalah keberadaan sel pembuluh yang hanya terdapat pada kayu daun lebar. 

Mengenai kulit kayu, Batubara (2008) menyatakan bahwa pada dasarnya kulit kayu dan kayu adalah dua bagian yang berbeda, kayu adalah jaringan xylem dan kulit kayu adalah jaringan phloem; kedua jaringan ini merupakan pembentuk struktur kayu secara utuh. Dengan demikian, untuk penentuan jenis serat ketiga sampel di atas, karena dikategorikan sebagai jenis yang sama, maka  akan lebih baik jika digolongkan ke dalam jenis serat kulit kayu (daluang); Teygeler (1995) menyarankannya dengan menyatakan bahwa “ finally dluwang can be defined as beaten treebark (tapa) of paper – mulberry tree (Broussonetia papyrifera Vent.) from Java or Madura.”

Adapun untuk panjang serat, sampel utama memiliki panjang serat yang paling pendek, selanjutnya diikuti oleh sampel pembanding, dan sampel rekonstruksi. Hal ini dapat menunjukkan bahwa ketahanan lipat sampel utama dan sampel pembanding lebih rendah dari sampel rekonstruksi, karena panjang serat berbanding lurus dengan ketahanan lipat dan kekuatan kertas, seperti yang dipaparkan Budi (1995: 105).

“Secara umum panjang serat mempunyai peranan langsung terhadap sifat-sifat kekuatan kertas, hal ini dikarenakan panjang serat erat hubungannya dengan banyaknya kontak perkesatuan sel. Selain itu kekuatan internal dalam serat atau sel, lebih besar dari pada ikatan antar sel. Selain itu lembaran kertas yang terdiri dari kumpulan sel-sel yang terpisah terikat kembali satu sama lain secara lamai tanpa adanya tambahan bahan perekat, sehingga kekuatan kertas lebih didasarkan atas exobond dari luas permukaan setiap selnya. Semakin panjang sel serat akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kekuatan pada kertas, artinya semakin panjang serat, maka kekuatan kertasnya semakin baik.”

Namun demikian, panjang serat ketiga sampel di atas, masih lebih panjang jika dibandingkan dengan panjang serat dari empat jenis kayu yang diteliti oleh Budi (1995: 103) yaitu, kayu terap 1,413 mm, kayu meranti merah 1,345 mm, kayu kapur 1,410 mm, dan kayu keruing 1,689 mm. Dengan demikian, kekuatan kertas berbahan baku kulit kayu seperti yang terdapat pada ketiga sampel yang diuji di BBPK masih lebih tinggi tingkat kekuatan kertasnya jika dibandingkan dengan kertas berbahan baku kayu terap, kayu meranti merah, kayu kapur, dan kayu keruing.

Penyimpanan dan Perawatan Naskah
Penyimpanan dan perawatan naskah memerlukan penanganan yang baik, karena pada dasarnya bahan naskah mudah rusak jika tidak ditangani dengan baik. Di beberapa tempat penyimpanan koleksi naskah yang sudah maju, naskah disimpan di ruangan khusus dengan suhu  dan kelembaban udara tertentu. Naskah pun ditempatkan dalam lemari, rak, dan kotak yang terbuat dari kertas bebas asam. 

Mengenai suhu ruangan untuk penyimpanan naskah, Wan Mamat (1988:57--58) menyatakan bahwa suhu ideal berkisar antara 550F (130C) sampai dengan 650F (180C) dengan kondisi udara yang mengalir, sedangkan kelembaban berkisar 50%. Alat untuk mengatur suhu ruangan dikenal sebagai air conditioning (AC) dan alat untuk mengatur kelembaban dikenal sebagai higrometer. Dengan memperhatikan hal tersebut, laju kerusakan bahan naskah dapat diperlambat dan kondisi fisiknya dapat dipertahankan sehingga suatu naskah dapat bertahan lebih lama.

Naskah gulungan koleksi CBCC dengan dimensi 176 X 23 cm. saat ini tampak disimpan dalam sebuah lemari kaca yang cukup baik sehingga terbebas dari debu dan serangga yang dikhawatirkan akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada naskah. Pengemasan dan penyimpanan naskah dalam bentuk gulungan diperkirakan ada sudah sejak lama, diperkirakan sejak bahan naskah dibuat sampai saat ini. 

Pengemasan naskah dalam bentuk gulungan sepertinya merupakan pengemasan yang cukup baik untuk dimensi panjang 176 cm, karena dalam bentuk gulungan serat-serat pembentuk lembaran bahan akan lebih  terjaga dibandingkan jika dikemas dalam bentuk lipatan, memungkinkan serat pembentuk lembaran bahan akan putus sebagai akibat dari proses buka tutup lipatan yang berulang.

Walaupun saat ini penyimpanan dan perawatan naskah sudah cukup baik, yaitu naskah disimpan dalam lemari kaca sehingga terhindar dari kontak langsung dengan udara luar, debu, dan terbebas dari jamahan tangan, namun secara kasat mata terlihat bahwa pada permukaan bahan naskah masih terdapat beberapa kerusakan yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut. 

Faktor penyebab kerusakan naskah yang nampak, di antaranya, adalah faktor lingkungan. Hal ini tampak dari adanya bagian naskah yang lembab karena terhidrolisis oleh udara basah. Bagian naskah yang lembab ini kemudian menimbulkan kerusakan lebih lanjut, yaitu mendorong tumbuhnya jamur. Di samping itu terdapat pula kulit telur kecoa yang menempel di permukaan bahan naskah dan beberapa lubang kecil yang diperkirakan disebabkan serangga sejenis kutu buku. Adanya jamur, kulit telur kecoa, dan lubang-lubang pada naskah menunjukkan adanya faktor biologis sebagai penyebab kerusakan naskah.


Atas dasar hal tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa kerusakan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, di antaranya, disebabkan oleh faktor usia, faktor lingkungan, faktor biologis, dan faktor mekanis.

Pada kalangan masyarakat tertentu di Indonesia saat ini, khususnya masyarakat tradisional, terdapat kegiatan penyimpanan dan perawatan naskah secara tradisional. Berdasarkan pengamatan sepintas, upaya yang dilakukan masyarakat tradisional dalam melakukan penyimpanan dan perawatan naskah memberikan keuntungan bagi kondisi naskah, sehingga keberadaan naskah masih dapat disaksikan sampai saat ini. Upaya yang dilakukan masyarakat tradisional di antaranya dengan menyimpan naskah pada kotak kayu, menyimpan naskah di atas tempat yang agak tinggi pada bagian dinding rumah agar tidak terjangkau anak-anak, membungkus naskah dengan kain, dan ada kalanya di dalam kotak kayu dan bungkusan kain tersebut disertakan pula beberapa batang cerutu, biji cengkih, bunga melati, dan sebagainya.


Cerutu, biji cengkih, dan bunga melati yang disimpan di dalam kotak kayu ataupun kain pembungkus naskah ternyata dapat menghindarkan serangan rayap, kutu buku, semut, ataupun serangga pengganggu lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan pada naskah. hal ini dapat dipahami karena ternyata baik cerutu, biji cengkih, dan bunga melati masing-masing mempunyai aroma khas yang tidak disukai serangga.


Di beberapa tempat tertentu, yang masyarakat pendukungnya masih memegang teguh adat istiadat, naskah dan benda-benda koleksi lainnya hanya boleh dibuka dan dilihat satu tahun sekali, biasanya pada bulan-bulan yang dianggap sakral, seperti bulan Mulud sekaligus dengan melakukan prosesi pembersihan pusaka. Pengaturan waktu untuk membuka dan membersihkan naskah beserta benda-benda yang dianggap keramat (termasuk mengkeramatkan naskah), ternyata ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah memberikan ketahanan bagi naskah itu sendiri, dalam hal ini naskah tidak sembarang waktu dijamah tangan dan dibuka tutup. Sisi negatifnya adalah kandungan informasi naskah tidak diketahui masyarakat banyak sehingga, jika terjadi penurunan kualitas kondisi naskah, maka tingkat kerusakannya tidak cepat diketahui dan kerusakannya tidak akan dapat dicegah.

Daftar Pustaka
Baried, Siti Baroroh (1985). Pengantar Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Batubara, Ridwanti (2008). Kimia Kulit Kayu, Potensi dan Peluang Pemanfaatannya. Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Budi, Agus Sulistyo (1995). “Morfologi Serat Pulp dari Empat Jenis Kayu Daun Lebar dalam Hubungannya dengan Kekuatan Kertasnya”. Jurnal FRONTIER Nomor 17. September 1995.
Ekadjati, Edi S. (1988). Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation.
Lubis, Nabilah (1996). Naskah, Teks, dan Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Forum Kajian Bahasa & Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah.
Lukman (2009). “Penggunaan Kertas Permanen sebagai Pencegahan Kerusakan Kertas”. Jurnal BACA Vol. 30, No. 1, Agustus 2009 (01-72).
Munawar, Zaki (2002). Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya. Garut: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya.
Sudjiman, Panuti (1994). Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya.
Teygeler, René (1995). “Dluwang, a Javanese/Madurese Tapa from The Paper-mulberry Tree” dalam www\IIAS Newsletter\IIASN-6\Southeast Asia. Dikunjungi pada tanggal 14 April 2004.
Wan Mamat, Wan Ali Hj. (1988). Pemuliharaan Buku dan Manuskrip. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Edisi cetak tersedia dalam Jumantara Vol. 3 No. 1 (2012) hlm. 128 - 147. File Pdf dapat diunduh di sini


Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 3.0 Tanpa Adaptasi.

Read more »

Daftar Artikel